The number one rule of love; you can never be just friends with someone that you’re in love with. anonimMencintai sahabat sendiri kadangkala menjadi sebuah dilema untuk masing-masing hati. Barangkali lebih baik diam dan mengelak dari perasaan—alasannya sederhana; pada akhirnya cinta hanya akan merusak. Merusak siapa-siapa yang tidak siap pada kenyataan, bahwa kita bisa jatuh cinta pada siapa saja.
Kita bisa saja terjatuh ditengah kebaikan hatinya, kerelaan waktunya, humor renyahnya, tingkah usilnya, pundak dan telinganya, cerewet dan tingkah annoyingnya. Kita bisa saja terjatuh ditengah sesi nongkrong bareng, sharing knowledge seputar keprofesian, debat-debat kecil, chat-chat tidak penting, dan rutinitas sederhana tiap harinya.
Kita bisa saja terjatuh ditengah keadaan "persahabatan lebih penting dari perasaan yang penuh omong kosong ini" atau "aku tidak ingin merusak persahabatan kita". Kita bisa saja terjatuh di tengah-tengah janji yang kita ucapkan sendiri, "kita bakal sahabatan sampai tua nanti. No matter what." Bisa.
Dan sampailah kita di satu titik pada diam memendam perasaan atau malah mengungkapkannya tapi saling menolak. Pada akhirnya kita terjebak diantara pikiran-pikiran kita sendiri. Membuat garis patah-patah yang membatasi perasaan bahwa mencintai sahabat sendiri adalah sebuah kesalahan, adalah sebuah larangan, adalah sesuatu yang tabu. Padahal? Ah siapa yang bisa memutuskan untuk tidak mencintai ketika hati sudah terlanjur memilih?