Tuhan, maafkan hari ini aku memaki keadaan. Hujan taklagi menenangkan
bagiku, bahkan mengantarku pada cemas, sedang masalahku adalah
gerbangnya. Pada akhirnya aku hanyalah aku yang tanpaMu bak debu yang
hilang dalam sekali tiupan. Aku tak bisa berkata-kata, tak mampu
mendengar kejujuran, tak sanggup melihat kenyataan.
Jika danau
hijau itu adalah aku, maka saat ini dasarnyalah yang tampak di
permukaan. Kerontang, dan tak ada lagi yang menggenang, sudah tak ada
air mata yang bermuara. Dikuras habis oleh masa, hingga aku lesu, lelah
menggugu.
Aku tak lagi berkawan dengan tawa lepas di sore hari
saat minum teh ataupun dengan kehangatan di sela selimut saat musim
dingin bergelayut manja di atap rumah dan turun di pangkuan, aku
sendirian. Lalu dengan takut-takut aku bersembunyi di balik kotak kayu,
kesedihan dan kehilangan itu berebut ingin memelukku. Dan parahnya, saat
ini kalut melamarku menjadi pasangan hidup. Aku menolak, kini kabur
dari resepsi.
Lalu aku berlari menuju gelap malam berharap bisa
menghilang dibalik kabut. Tapi malam terlalu terang karena lampu jalan.
Kemudian kuputuskan untuk berlari hingga pagi, berharap aku bisa melebur
bersama kokok ayam. Tapi awan mendung menyamarkan matahari, dan bunda
lupa memukul lesung padi saat subuh tiba. Mungkin aku memang tidak
ditakdirkan lari dari semua masalah ini ya, Tuhan?