Sunday, December 28, 2014

Lari

Tuhan, maafkan hari ini aku memaki keadaan. Hujan taklagi menenangkan bagiku, bahkan mengantarku pada cemas, sedang masalahku adalah gerbangnya. Pada akhirnya aku hanyalah aku yang tanpaMu bak debu yang hilang dalam sekali tiupan. Aku tak bisa berkata-kata, tak mampu mendengar kejujuran, tak sanggup melihat kenyataan.

Jika danau hijau itu adalah aku, maka saat ini dasarnyalah yang tampak di permukaan. Kerontang, dan tak ada lagi yang menggenang, sudah tak ada air mata yang bermuara. Dikuras habis oleh masa, hingga aku lesu, lelah menggugu.

Aku tak lagi berkawan dengan tawa lepas di sore hari saat minum teh ataupun dengan kehangatan di sela selimut saat musim dingin bergelayut manja di atap rumah dan turun di pangkuan, aku sendirian. Lalu dengan takut-takut aku bersembunyi di balik kotak kayu, kesedihan dan kehilangan itu berebut ingin memelukku. Dan parahnya, saat ini kalut melamarku menjadi pasangan hidup. Aku menolak, kini kabur dari resepsi.

Lalu aku berlari menuju gelap malam berharap bisa menghilang dibalik kabut. Tapi malam terlalu terang karena lampu jalan. Kemudian kuputuskan untuk berlari hingga pagi, berharap aku bisa melebur bersama kokok ayam. Tapi awan mendung menyamarkan matahari, dan bunda lupa memukul lesung padi saat subuh tiba. Mungkin aku memang tidak ditakdirkan lari dari semua masalah ini ya, Tuhan?