Friday, January 31, 2014

Teruntuk para pendaki.

Aku adalah gadis biasa yang iri akan segala aktivitas kalian yang begitu memukau. Pada angin aku menitip harap agar satu kali bolehlah aku dibawa terbang menyusuri satu demi satu puncak-puncak gunung yang berebut ditaklukkan. Pada langit dan awan, aku juga suka bergumam sendiri menanyakan sebagus apa sebenarnya jika dilihat dengan ketinggian yang berbeda. Masih sama kan?
 
Betapa asyiknya menenteng carrier, menggunakan jaket tebal, penutup kepala, membawa sleeping bag, menyalakan api unggun, mengambil momen dengan lensa-lensa ajaib. Dan pasti lega sekali rasanya saat mendaratkan langkah pertama di puncak gunung. Bahagia yang terlampau sederhana dari usaha yang tidak bisa dibilang sederhana. Gunung selalu menemukan ruang di hati para pendaki. Pun sebenarnya di hati perempuan penulis ini.

Apaboleh buat, dia hanyalah gadis penuh khayal yang ingin sekali dikuatkan untuk itu. Tapi Tuhan selalu tahu porsinya, aku sadar, masih banyak hal-hal memukau yang dapat kujalani penuh perjuangan, dengan senang hati, dan berlandasrasa tekad. Seperti cinta para pendaki pada gunung.
Satu saat kutemukan gunungku sendiri, yang akan kutaklukkan dengan segera.

Wednesday, January 29, 2014

Kamu

Aku jatuh cinta pada waktumu. Pada kesediaanmu menjadi pundak saat aku butuh sandaran. Pada luang yang selalu kau sediakan untuk sekedar mendengar ocehanku meski kaupun tahu : tidak semuanya penting.


Aku jatuh cinta pada pertanyaanmu. Saat kata "apa" mulai keluar : Apa kamu sakit? Apa ada cerita? Apa ada masalah? Apa kamu sudah pulang? Kamu selalu memiliki berbagai "apa" untuk mewakili perhatian, kecemasan, pengertian, dan segala perasaan yang aku tunggu-tunggu hadirnya.

Aku jatuh cinta pada bijakmu. Yang selalu menjadi air tenang saat aku membuat riak-riak. Yang selalu menjadi jernih saat aku mencipta keruh. Layaknya air, kamu selalu mengalir memenuhi segala ruang.

Saturday, January 18, 2014

Jodoh

Dulu pernah ada yang mengirimiku gambar ini, ya dia sahabatku. Sekarang, negara api menyerangnya. Mudah sekali, dengan dikirimkan sesosok ksatria manis yang menawarkan masa depan, tapi masih belum berani memintanya menjadi bagian dari hidupnya saat ini hingga nanti di masa depan.

Semoga ada avatar yang datang, dan kembali menjaga hatinya.

I miss you then. Just be the old you.

Saturday, January 4, 2014

Firasat

Kemarin ku lihat awan membentuk wajahmu
Desah angin meniupkan namamu
Tubuhku terpaku

Semalam bulan sabit melengkungkan senyummu

Tabur bintang serupa kilau auramu
Aku pun sadari, ku segera berlari

Cepat pulang, cepat kembali, jangan pergi lagi

Firasatku ingin kau tuk cepat pulang
Cepat kembali, jangan pergi lagi

Alirnya bagai sungai yang mendamba samudera

Ku tahu pasti kemana kan ku bermuara
Semoga ada waktu (sayangku) sayangku

Ku percaya alam pun berbahasa

Ada makna di balik semua pertanda
Firasat ini rasa rindukah ataukah tanda bahaya
Aku tak peduli, ku terus berlari -Firasat.


aku tak bisa sepuitis itu mengungkapkan rasaku yang berantakan. tidak ada awan, desah angin, bulan sabit, atau bintang. Aku hanya tetiba mendamba seulas senyum sederhanamu yang melengkung sempurna. Aku hanya tetiba merasa perlu untuk jatuh cinta. Dan aku hanya tetiba merasa semuanya ingin tumpah. Rindu, resah, pertanyaan yang tanpa muara, seakan seperti kaleng soda yang sudah dikocok begitu lama, siap meledak entah siapapun yang membukanya. Tinggal membuncah.


Kamu tahu? sudah cukup kamu pergi sejauh itu. Jangan kamu tambah lagi.
Jangan kamu tambah dengan hilangmu, dinginmu, ubahmu, apapun tentangmu yang beringsut menjadi begitu menjengkelkan. Seolah mengejek kaleng soda ini. Kaleng soda ini masih berisi, bisa saja tumpah tiba-tiba.

hai yang di seberang sana, bagaimanapun kabarmu semoga semesta selalu menjagamu. Lewat awannya yang barangkali membentuk wajahku, desah angin yang meniupkan namaku, bulan sabit yang melengkungkan senyumku, dan tabur bintang yang serupa kilau auraku. Tapi jangan khawatir, kalau kamu tidak pernah sedetikpun melihat pertanda semesta yang demikian, cukup lihatlah ke dalam dirimu. Disana ada doaku.

Wednesday, January 1, 2014

Dibalik Bilik

dibalik tiupan terompetmu itu, ada yang sedang meniupi api-api di tungku
sang suami baru datang tengah malam, ia baru selesai bekerja
sembari mengetuk masuk dengan kantung plastik biru muda dan segenggam beras

dibalik irama musik khas musisi perkotaan, ada yang diam meratap irama pilu
tangisan bayi yang tiada berhenti, merintih kesakitan dan tak ada obat
rumah sakit menutup pintunya bagi si miskin yang tak berkantong upah


dibalik euforia menghitung menit yang berangsur mundur
ada yang ingin segera bergerak maju
sudah tak betah lagi dalam rumah-rumah kardus

sudahkah kamu mengintip dibalik bilik-bilik kehidupan lain?
dibalik riuh ramai pesta pora, ada yang senyap sepi terlunta-lunta
kemarikan, kemarikan jemarimu yang sedang bertepuk-tepuk menyaksikan kembang api
berbagilah sejenak pada mereka-mereka yang tertawapun susah