Kemarin ku lihat awan membentuk wajahmu
Desah angin meniupkan namamu
Tubuhku terpaku
Semalam bulan sabit melengkungkan senyummu
Tabur bintang serupa kilau auramu
Aku pun sadari, ku segera berlari
Cepat pulang, cepat kembali, jangan pergi lagi
Firasatku ingin kau tuk cepat pulang
Cepat kembali, jangan pergi lagi
Alirnya bagai sungai yang mendamba samudera
Ku tahu pasti kemana kan ku bermuara
Semoga ada waktu (sayangku) sayangku
Ku percaya alam pun berbahasa
Ada makna di balik semua pertanda
Firasat ini rasa rindukah ataukah tanda bahaya
Aku tak peduli, ku terus berlari -Firasat.
Desah angin meniupkan namamu
Tubuhku terpaku
Semalam bulan sabit melengkungkan senyummu
Tabur bintang serupa kilau auramu
Aku pun sadari, ku segera berlari
Cepat pulang, cepat kembali, jangan pergi lagi
Firasatku ingin kau tuk cepat pulang
Cepat kembali, jangan pergi lagi
Alirnya bagai sungai yang mendamba samudera
Ku tahu pasti kemana kan ku bermuara
Semoga ada waktu (sayangku) sayangku
Ku percaya alam pun berbahasa
Ada makna di balik semua pertanda
Firasat ini rasa rindukah ataukah tanda bahaya
Aku tak peduli, ku terus berlari -Firasat.
aku tak bisa sepuitis itu mengungkapkan rasaku yang berantakan. tidak ada awan, desah angin, bulan sabit, atau bintang. Aku hanya tetiba mendamba seulas senyum sederhanamu yang melengkung sempurna. Aku hanya tetiba merasa perlu untuk jatuh cinta. Dan aku hanya tetiba merasa semuanya ingin tumpah. Rindu, resah, pertanyaan yang tanpa muara, seakan seperti kaleng soda yang sudah dikocok begitu lama, siap meledak entah siapapun yang membukanya. Tinggal membuncah.
Kamu tahu? sudah cukup kamu pergi sejauh itu. Jangan kamu tambah lagi.
Jangan kamu tambah dengan hilangmu, dinginmu, ubahmu, apapun tentangmu yang beringsut menjadi begitu menjengkelkan. Seolah mengejek kaleng soda ini. Kaleng soda ini masih berisi, bisa saja tumpah tiba-tiba.
hai yang di seberang sana, bagaimanapun kabarmu semoga semesta selalu menjagamu. Lewat awannya yang barangkali membentuk wajahku, desah angin yang meniupkan namaku, bulan sabit yang melengkungkan senyumku, dan tabur bintang yang serupa kilau auraku. Tapi jangan khawatir, kalau kamu tidak pernah sedetikpun melihat pertanda semesta yang demikian, cukup lihatlah ke dalam dirimu. Disana ada doaku.
jaga kesehatan, jangan lupa makan ya :)
No comments:
Post a Comment