Friday, May 30, 2014

Jika Kau Maka Aku


Jika kau suka pada rintangan, maka akulah tebing curammu. Akan kubuat pijakan-pijakanmu licin dan terjal supaya kau terus tenggelam dalam rasa penasaran. Lalu jika kau jatuh, aku akan segera menjadi tumpukan kapas yang akan menangkapmu dengan selamat.

Jika kau tak pernah lelah dalam pendakian, maka aku akan menjadi gunung tertinggi yang bakal susah payah kau taklukkan, biar saja kau kelelahan. Lalu seketika aku akan menjadi pohon rindang dan ranu kecil dengan air-air yang jernih. Jika kau merasa sudah takkuat meneruskan perjalanan, kau bisa beristirahat sejenak meluruskan kaki dan menegukku.

Jika kau suka makanan pedas, aku bakal menjadi bakso granat, sambal hijau, mi setan, nasi goreng kaplokmu, dan menu-menu menyiksa perut lainnya. Setelah mukamu memerah dan rasa ingin meledak sudah mampir, aku akan berusaha menjadi segelas air putih dan teh hangat yang bisa kau teguk dengan cepat.

Jika kau penggila buku-buku, aku akan menjadi perpustakaanmu. Lalu jalan-jalan sepanjang kakimu melangkah didalamnya, akan kusulap menjadi sebuah lorong labirin dengan buku sastra, ensiklopedi, kumpulan esai, lembaran nonfiksi, biografi, dan novel-novel favoritmu. Setelah kau merasa matamu mulai berat, aku akan menjadi meja tempatmu menelungkupkan kepala dengan nyaman atau bahkan kasur empuk dengan musik klasik guna melepas penatmu.

Wednesday, May 28, 2014

Mungkin Bukan Mendung

Cer(super)pen

Hari ini langit masih sayu, dia mulai meredakan tangisnya dan kini matahari dibiarkan perlahan ikut campur. Mendung mulai terusir dengan sendirinya. Bau hujan masih menyisa dimana-mana. Aku mulai berani duduk di bawah halaman terbuka, sembari menghabiskan waktu menunggu moodku datang untuk membelikan ayam goreng pesanan Ibu tiba.

Sesosok laki-laki mulai tampak beberapa meter di depanku. Aku yang taksiap berhadapan dengannya lebih baik membuang muka dan berlindung di balik novelku.
"Hei, Sarah!" Ck, dia menyapa dan berhasil membuatku tampak berantakan.
"Eh?"
"Kok sendirian? Nggak pulang?" tanyanya.
"Engga van, enakan disini dulu." Sial ini jawaban macam apa.
"Yaudah, aku duluan ya. Assalamu'alaikum."
Mau kemana? adalah kata-kata yang tidak sempat terucap dan tertahan begitu saja.
Baru saja aku menata kembali hati dan penampilanku, Alifa (perempuan yang selalu aku cemburui karena tingkah laku, keanggunan, dan pesonanya) lewat dan berhenti di depanku.
"Lihat Ipang?"
"Iya, barusan aja lewat sini. Ke arah sana." Jawabku sambil menunjuk ke arah Ivan pergi.
"Oh, makasih."
Ipang? Aissshh itu panggilan unyu kalian?

Terakhir kudengar kabar burung, setelah wisuda nanti Ivan akan menikah. Dan pasangan yang didengung-dengungkan adalah Alifa. Tidak adakah yang mau mendengungkan namaku? Aku yang mengenal Ivan lebih dahulu, dan barangkali tidak ada yang percaya dulunya kami pernah saling kenal begitu dalam. Ya, orang sealim dan sebaik Ivan mana mungkin bisa bersanding denganku? Yang kata orang jilbabnya masih gaya-gayaan, yang tutur katanya masih bercampur dengan logat Malang yang asal ceplos begitu saja?

Aih dan akulah awan mendung itu, Ivan Langit dan Alifa sang matahari. Langit dan matahari tampak begitu serasi  dan mau tidak mau aku terusir pergi.

Aku mengagumi Ivan jauh sebelum kita pernah dekat dulu, lalu rasanya begitu singkat saat kami merasa saling membutuhkan, dan setelah itu meskipun Ivan meniadakan ketersalingannya, aku masih tetap kagum meski kini artinya kekagumanku itu harus dibalut dengan kata diam-diam. Alasan kami berpisah cukup sederhana, klasik, mungkin tidak hanya aku yang mengalaminya. Banyak orang di luar sana yang terlanjur basah mencintai orang yang tiba-tiba berubah. Aku, gadis biasa, mencintai akhi-akhi.
"Kita ini apa sih? Pacaran bukan, sahabat juga tidak mungkin sedekat ini." ini adalah asal muasal percakapan terakhir dengan Ivan-ku (yang hingga detik ini aku berusaha melupakannya tapi sama sekali tidak terhapus dari ingatanku).
Aku hanya diam, sambil menghela nafas. Aku tahu kemana arah pembicaraan ini. Jadi kubiarkan dia memegang kemudi karena aku juga tidak sanggup mengendalikannya.
"Rah, kamu tahu kan aku diamanahi apa tahun ini?"
 "Kadep SDM sama entah bagian apalah itu namanya di organisasi ekstrakampusmu."
"Aku juga ngerasa kita udah kelewat Rah."
Aku mendongak ke arahnya, kelewat katanya? Bahkan kami jalan berduapun tidak pernah. Inipun kami bertemu tanpa sengaja di depan dekanat dan dia mengajakku duduk sejenak di tepi halaman parkir.
"Kita nggak mau pacaran kan, tapi hubungan kita ini apa? Aku malu sama diriku sendiri, aku seperti memakan omonganku. Aku menyetujui dan meyakini tidak ada yang namanya pacaran, tapi kita ini apa? Bagaimana caraku menyampaikan kepada teman-temanku? Aku malu Rah. Bagaimana nanti kuceritakan posisimu saat ada yang menanyakan?"
"Aku temanmu. Jawab saja begitu Van."
Kami terdiam. Sama-sama faham arti dari pembicaraan ini, tapi...tidak ada yang berani berkata, "sudahi saja."
"Jawab saja  begitu Van. Aku hanya temanmu." Kataku sembari berdiri, dan beranjak pergi.
Setelah itu, masing-masing dari kami tidak saling berkirim pesan kecuali soal organisasi atau kuliah. Tidak juga tiba-tiba membuka obrolan di facebook atau twitter. Seakan dua tahun ke belakang tidak ada yang terjadi diantara kami. Diamlah yang lebih banyak bicara. Dan di hatiku, diam-diam aku menangisi langkahnya yang pergi secepat itu. Menahan rindu dan perasaan ingin mengulang semuanya kembali.

Friday, May 23, 2014

Hujan

Suara merdu
Turun menenangkan
Membasahi hati
Menghapus kelelahan
Menumbuhkan keyakinan

Desir rintik
Sore hari
Mengelus jiwa
Membuang luka
Memasang asa

Ini hujan

Bukan hujan bulan Juni
Bukan juga hujan bulan ini
Ini hujan di dalam diri
Ini hujan yang membersihkan hati