Hari ini langit masih sayu, dia mulai meredakan tangisnya dan kini matahari dibiarkan perlahan ikut campur. Mendung mulai terusir dengan sendirinya. Bau hujan masih menyisa dimana-mana. Aku mulai berani duduk di bawah halaman terbuka, sembari menghabiskan waktu menunggu moodku datang untuk membelikan ayam goreng pesanan Ibu tiba.
Sesosok laki-laki mulai tampak beberapa meter di depanku. Aku yang taksiap berhadapan dengannya lebih baik membuang muka dan berlindung di balik novelku.
"Hei, Sarah!" Ck, dia menyapa dan berhasil membuatku tampak berantakan.Baru saja aku menata kembali hati dan penampilanku, Alifa (perempuan yang selalu aku cemburui karena tingkah laku, keanggunan, dan pesonanya) lewat dan berhenti di depanku.
"Eh?"
"Kok sendirian? Nggak pulang?" tanyanya.
"Engga van, enakan disini dulu." Sial ini jawaban macam apa.
"Yaudah, aku duluan ya. Assalamu'alaikum."
Mau kemana? adalah kata-kata yang tidak sempat terucap dan tertahan begitu saja.
"Lihat Ipang?"Ipang? Aissshh itu panggilan unyu kalian?
"Iya, barusan aja lewat sini. Ke arah sana." Jawabku sambil menunjuk ke arah Ivan pergi.
"Oh, makasih."
Terakhir kudengar kabar burung, setelah wisuda nanti Ivan akan menikah. Dan pasangan yang didengung-dengungkan adalah Alifa. Tidak adakah yang mau mendengungkan namaku? Aku yang mengenal Ivan lebih dahulu, dan barangkali tidak ada yang percaya dulunya kami pernah saling kenal begitu dalam. Ya, orang sealim dan sebaik Ivan mana mungkin bisa bersanding denganku? Yang kata orang jilbabnya masih gaya-gayaan, yang tutur katanya masih bercampur dengan logat Malang yang asal ceplos begitu saja?
Aih dan akulah awan mendung itu, Ivan Langit dan Alifa sang matahari. Langit dan matahari tampak begitu serasi dan mau tidak mau aku terusir pergi.
Aku mengagumi Ivan jauh sebelum kita pernah dekat dulu, lalu rasanya begitu singkat saat kami merasa saling membutuhkan, dan setelah itu meskipun Ivan meniadakan ketersalingannya, aku masih tetap kagum meski kini artinya kekagumanku itu harus dibalut dengan kata diam-diam. Alasan kami berpisah cukup sederhana, klasik, mungkin tidak hanya aku yang mengalaminya. Banyak orang di luar sana yang terlanjur basah mencintai orang yang tiba-tiba berubah. Aku, gadis biasa, mencintai akhi-akhi.
"Kita ini apa sih? Pacaran bukan, sahabat juga tidak mungkin sedekat ini." ini adalah asal muasal percakapan terakhir dengan Ivan-ku (yang hingga detik ini aku berusaha melupakannya tapi sama sekali tidak terhapus dari ingatanku).Aku hanya diam, sambil menghela nafas. Aku tahu kemana arah pembicaraan ini. Jadi kubiarkan dia memegang kemudi karena aku juga tidak sanggup mengendalikannya.

"Rah, kamu tahu kan aku diamanahi apa tahun ini?"Aku mendongak ke arahnya, kelewat katanya? Bahkan kami jalan berduapun tidak pernah. Inipun kami bertemu tanpa sengaja di depan dekanat dan dia mengajakku duduk sejenak di tepi halaman parkir.
"Kadep SDM sama entah bagian apalah itu namanya di organisasi ekstrakampusmu."
"Aku juga ngerasa kita udah kelewat Rah."
"Kita nggak mau pacaran kan, tapi hubungan kita ini apa? Aku malu sama diriku sendiri, aku seperti memakan omonganku. Aku menyetujui dan meyakini tidak ada yang namanya pacaran, tapi kita ini apa? Bagaimana caraku menyampaikan kepada teman-temanku? Aku malu Rah. Bagaimana nanti kuceritakan posisimu saat ada yang menanyakan?"Kami terdiam. Sama-sama faham arti dari pembicaraan ini, tapi...tidak ada yang berani berkata, "sudahi saja."
"Aku temanmu. Jawab saja begitu Van."
"Jawab saja begitu Van. Aku hanya temanmu." Kataku sembari berdiri, dan beranjak pergi.Setelah itu, masing-masing dari kami tidak saling berkirim pesan kecuali soal organisasi atau kuliah. Tidak juga tiba-tiba membuka obrolan di facebook atau twitter. Seakan dua tahun ke belakang tidak ada yang terjadi diantara kami. Diamlah yang lebih banyak bicara. Dan di hatiku, diam-diam aku menangisi langkahnya yang pergi secepat itu. Menahan rindu dan perasaan ingin mengulang semuanya kembali.
Tapi aku telah memutuskan untuk mencintainya, ketika tetap keukeuh untuk bersama berarti melukai perasaan, prinsip, dan harga dirinya, maka aku lebih baik mengalah, dan kini melepaskan adalah hal paling baik yang bisa aku lakukan untuk selalu mendukungnya.
Sekarang, sudah dua tahun berselang dari percakapan yang sangat ingin aku skip dalam hidupku, perlahan kedinginan mulai mencair. Kami sudah berani bertegur sapa atau membuka pembicaraan singkat bila bertemu. Tidak secanggung dulu. Mungkin juga, karena perasaannya sudah berubah, mungkin dia tidak lagi menyimpanku dalam hati, mungkin sudah ada orang lain yang menggantikan posisiku empat tahun lalu. Mungkin.
Tapi seharusnya Ivan tahu, walaupun waktu sudah berputar begitu hebat,walaupun langit sudah berubah cerah, walaupun blackberry sudah tergantikan oleh Iphone, perasaan ini tidak ada berubahnya. Aku masih Sarah-nya. Aku masih Sarah yang begitu kagum pada sosok Ivan, yang diam-diam mendoakannya, yang dalam hati menenangkan ribuan rindu yang menjerti-jerit.
Ah, sudahlah. Bukannya bila dia benar mencintaiku, dia akan kembali padaku?
Tapi yang kutahu, baginya menikah tidak hanya soal mencintai seseorang. Semua adalah perkara saling membahu menuju kehidupan yang lebih baik, baginya adalah bagaimana mendapatkan pasangan yang sanggup mendampinginya dunia akhirat. Lalu bagaimana caraku mendampinginya jika penampilanku masih seperti ini? Bila sikapku masih liar dan tidak sesholehah Alifa?
Sial. Pertanyaanku ini akan semakin menjadi-jadi bila tidak menemukan tuannya.
Sudahlah, Rah, kamu harus move on Rah. Kamu tidak pantas.
Aku menutup novel yang menjadi pemain figuran di adegan-adeganku karena aku juga tidak berniat membacanya. Setelah lelah membuang waktu dan membiarkan pikiranku berkelana, saatnya aku kembali ke realita. Mungkin pulang adalah waktu yang tepat sekarang, moodku sudah terkumpul untuk membeli pesanan ibu. Baru saja beberapa langkah, ponselku bergetar, tertulis Ibu di layarnya.
"Halo assalamu'alaikum bu."Aku tidak tahu apa kisah macam apa ini. Dan aku tidak bisa menjelaskan betapa cerahnya langit di dalam hatiku. Aku....Ya Allah Ya Rabb :""") ***
"Aya dimana?" tanya ibu tanpa menjawab salamku.
"Di kampus bu, ini mau pulang. Aya belum beli ayam goreng pesanan ibu. Habis ini Aya mampir kok, tenang."
"Kamu pulang saja, cepat. Ada Ivan di rumah."
No comments:
Post a Comment