Saya melihat anda disitu, tepat dibawah gulungan-gulungan kain sifon yang terjajar rapi di rak. Anda berdiri dengan tangan diletakkan ke dalam saku celana jeans. Perlu beberapa detik untuk menguasai diri, mengenali anda, dan memahami maksud Tuhan mempertemukan kita saat ini. 1…2…entah berapa hitungan lagi kita sejenak beradu pandang sampai akhirnya anda membuang muka. Saya bingung hendak menyapa atau tidak, nama anda tercekat tepat di tengah-tengah. Saya seperti kehabisan tenaga meski hanya tiga suku kata.
Lalu momen kita berlalu begitu saja. Dan langkah kaki anda terdengar begitu menyedihkan bagi saya. Seakan tapak-tapak itu mengejek saya,
"Bagaimana rasanya saya tinggal pergi?” begitu katanya.Saya mengutuki diri sendiri. Tidak, anda yang salah! Kenapa harus datang dua tahun lalu? Andai kejadian itu terulang kembali saat ini, saya tak ambil pusing untuk menerima. Anda seharusnya paham, penerimaan beriringan dengan kesiapan. Dan waktu itu? Waktu tiba-tiba anda berdiri di depan rumah dengan ibu? Saya masih belum mengerti apa-apa soal hidup bersama. Ah sudahlah, saya juga seharusnya tahu diri, orang baik tidak akan datang dua kali.
Brakk. Tanpa sengaja gulungan kain sifon yang saya turunkan dari rak terjatuh dan menghantam lantai cukup keras. Barangkali itu sanggup membuat anda kembali menoleh ke belakang—sekedar berlari dan menolong saya mengangkat gulungan kain itu. Tapi tetap saja, anda melangkah dengan tegas ke depan. Mungkin semenyakitkan itu penolakan saya tempo hari.
Seperti Rangga pada Cinta : Saya minta maaf.
