Saturday, November 15, 2014

Toko Kain di Minggu Kedua November


Saya melihat anda disitu, tepat dibawah gulungan-gulungan kain sifon yang terjajar rapi di rak. Anda berdiri dengan tangan diletakkan ke dalam saku celana jeans. Perlu beberapa detik untuk menguasai diri, mengenali anda, dan memahami maksud Tuhan mempertemukan kita saat ini. 1…2…entah berapa hitungan lagi kita sejenak beradu pandang sampai akhirnya anda membuang muka. Saya bingung hendak menyapa atau tidak, nama anda tercekat tepat di tengah-tengah. Saya seperti kehabisan tenaga meski hanya tiga suku kata.

Lalu momen kita berlalu begitu saja. Dan langkah kaki anda terdengar begitu menyedihkan bagi saya. Seakan tapak-tapak itu mengejek saya,
"Bagaimana rasanya saya tinggal pergi?” begitu katanya.
Saya mengutuki diri sendiri. Tidak, anda yang salah! Kenapa harus datang dua tahun lalu? Andai kejadian itu terulang kembali saat ini, saya tak ambil pusing untuk menerima. Anda seharusnya paham, penerimaan beriringan dengan kesiapan. Dan waktu itu? Waktu tiba-tiba anda berdiri di depan rumah dengan ibu? Saya masih belum mengerti apa-apa soal hidup bersama. Ah sudahlah, saya juga seharusnya tahu diri, orang baik tidak akan datang dua kali.

 Brakk. Tanpa sengaja gulungan kain sifon yang saya turunkan dari rak terjatuh dan menghantam lantai cukup keras. Barangkali itu sanggup membuat anda kembali menoleh ke belakang—sekedar berlari dan menolong saya mengangkat gulungan kain itu. Tapi tetap saja, anda melangkah dengan tegas ke depan. Mungkin semenyakitkan itu penolakan saya tempo hari.
 Seperti Rangga pada Cinta : Saya minta maaf.

Teman Berlari

Gadis ini masih berlari di bawah langit sore. Mengikuti alur sembari mengatur nafas, menjaga ritme agar kecepatannya selalu konstan. 1…2…3… 1…2…3…

Ada yang ditunggunya seperti sore-sore yang lalu—seseorang disisinya. Yang selalu menjaga langkahnya, yang selalu ada membawakan minum, yang selalu mengingatkannya untuk istirahat atau malah menyemangati untuk terus berlari. Ada yang ditunggunya; yang enggan beranjak dari sisinya seperti sore-sore yang lalu.

Tapi dia tidak ada.

Gadis ini terus konsentrasi pada ayunan kakinya. Meminta tubuhnya terus berlari agar menemukan. Siapa tahu dia ada di depan sana?

Tapi seketika dia berhenti. Bagaimana jika dia ternyata tertinggal di belakang? Bagaimana jika dia sudah terlewatkan?

Gadis ini diam sambil menunggu bahkan hingga langit menghitam. Mana? Sosok itu tidak ada. Dalam perasaan kalut dia memutuskan untuk tetap berada disitu, mengelilingi jalan setapak yang biasa mereka tempuh, berharap sosok itu tetiba hadir. Seketika dia sadar, menunggu itu menyakitkan.
Apa sebaiknya dia berhenti? Tapi bukannya itu juga sama-sama menyakitkan? Bagaimana jika saat dia memutuskan untuk berhenti, sosok itu ternyata ada di depan sana? Dan menjadi perkara—tak ada pertemuan—karena ia menghentikan langkah.

Kini ia sadar : menunggu ataupun berhenti adalah dua hal yang sama-sama menyakitkan.
Tapi bukannya menjadi lebih sakit ketika ia tidak tahu kapan ia harus menunggu dan kapan ia harus berhenti?

Saturday, November 8, 2014

Sudah Hujan



http://s-lane1114-dc.blogspot.com/2012/02/dandad-design-is-about-doing-rain_22.html


Lama tak kutuliskan bait berderet menyirat namamu
Lalu kini, setelah hilang bulan-bulan dalam kemarau, aku kembali
Mengekangmu dalam gemulai sajakku
Karena hujan kembali membanjiriku dengan rindu dan rindu dan rindu dan rindu
Hingga mual

Sudah hujan.
Sudah terhapus kerontang panjang
Sudah hujan.
Sudahlah percuma
 kau juga sudah pergi

Puisi tetaplah puisi
Sesudah hujan tak ada yang kembali
Meski aromamu selalu tinggal bersama payung warna-warni yang kau beri
Puisi tetaplah puisi
Tak bisa mengundangmu datang menggenggamku lagi
Lalu kita berlarian menyibak rinai yang berebut membasahi bumi

Plap! Itu hanya mimpi

Sudah hujan.
Hujan air mata.