Saturday, November 15, 2014

Teman Berlari

Gadis ini masih berlari di bawah langit sore. Mengikuti alur sembari mengatur nafas, menjaga ritme agar kecepatannya selalu konstan. 1…2…3… 1…2…3…

Ada yang ditunggunya seperti sore-sore yang lalu—seseorang disisinya. Yang selalu menjaga langkahnya, yang selalu ada membawakan minum, yang selalu mengingatkannya untuk istirahat atau malah menyemangati untuk terus berlari. Ada yang ditunggunya; yang enggan beranjak dari sisinya seperti sore-sore yang lalu.

Tapi dia tidak ada.

Gadis ini terus konsentrasi pada ayunan kakinya. Meminta tubuhnya terus berlari agar menemukan. Siapa tahu dia ada di depan sana?

Tapi seketika dia berhenti. Bagaimana jika dia ternyata tertinggal di belakang? Bagaimana jika dia sudah terlewatkan?

Gadis ini diam sambil menunggu bahkan hingga langit menghitam. Mana? Sosok itu tidak ada. Dalam perasaan kalut dia memutuskan untuk tetap berada disitu, mengelilingi jalan setapak yang biasa mereka tempuh, berharap sosok itu tetiba hadir. Seketika dia sadar, menunggu itu menyakitkan.
Apa sebaiknya dia berhenti? Tapi bukannya itu juga sama-sama menyakitkan? Bagaimana jika saat dia memutuskan untuk berhenti, sosok itu ternyata ada di depan sana? Dan menjadi perkara—tak ada pertemuan—karena ia menghentikan langkah.

Kini ia sadar : menunggu ataupun berhenti adalah dua hal yang sama-sama menyakitkan.
Tapi bukannya menjadi lebih sakit ketika ia tidak tahu kapan ia harus menunggu dan kapan ia harus berhenti?


Sosok itu tidak pernah datang menjawab.

No comments:

Post a Comment