Seperti yang kamu tahu, aku ini buku yang selalu terbuka. Jujur dari
kata perkata. Meski kadang kau enggan membacanya, aku tetaplah aku. Si
buku yang selalu terbuka.
Mudah untuk menebakku, tidak sulit menyimpulkan rasa
kehilanganku--atau bagaimana usahaku membuat semuanya seperti dulu lagi.
Alurku, kau tentu tahu : akhirnya Sang Pangeran datang kembali– mereka
berdua hidup bahagia, selamanya.
Tapi kamu tetap mengunci pintu. Tak mau keluar, pun menengok buku yang terbuka di atas meja beranda rumahmu.
Saat ini akhirnya datang, dimana aku memutuskan untuk menutup
semuanya. Maka berakhirlah. Kau tidak lagi berhak menyentuhnya,
melihatpun tidak. Karena kau tahu? Aku sudah cukup lama bertahan menjadi
kata-kata yang takpernah kaumengerti maknanya.
Kututup. Cerita. Kita.
Eh. Ceritaku. Maksudnya.
Tentang seorang pejuang, yang tak tahu diri. Tak tahu tentang dirinya
sendiri. Siapa musuhnya? Apa yang dia perjuangkan? Siapa yang dia bela
dengan kesungguhan?
Kini tamatlah.
Sudah.
Aji Nur Afifatul Hasna
Malang, 20 Juni 2015
No comments:
Post a Comment