Sunday, January 4, 2015

Telaga Air Mata



Di sebuah hutan, dibalik pinus-pinus dan bukit semak, ada sebuah telaga jernih. Telaga itu berwarna hijau muda, dikelilingi bunga-bunga putih dan rerumputan hijau yang segar. Tak jarang ada kuda liar dengan anggunnya bermain di tepian. Konon meneguk airnya dapat membuat siapapun memiliki harapan-harapan baru.

Penduduk di sekitar percaya, bahwa telaga itu dahulu menyimpan satu cerita, sesuai namanya Telaga Air Mata. Entah kapan kisah itu mulai dipercaya penduduk desa. Tapi setiap senja di hari kesebelas setiap bulannya telaga ini seperti menangis. Serangga-serangga bernyanyi dengan bahasa mereka. Pepohonan dan semak bergesekan. Kunang-kunang selalu terbang menyebrangi telaga dari ujung ke ujung kemudian menghilang. Begitu seterusnya hingga tengah malam dan hari berganti. Telaga itu menangis. 

Tangisan seorang puteri. 

Pada zamannya, ada seorang puteri raja, yang kecantikannya masih kalah dibanding kakak-kakak dan adiknya. Tapi dia memiliki hati yang lembut dan dicintai semua orang. Rakyat istana memanggilnya Puteri Bulan. Karena setiap bulan nyaris purnama, Puteri Bulan membuka pintu besar kerajaan dan memersilakan rakyatnya untuk masuk memenuhi alun-alun bundar istana. Untuk merayakan persaudaraan dan suka cita. Sebuah perayaan sederhana untuk seluruh rakyat kerajaan.

Akan ada nyanyian dan tarian persembahan dari masing-masing pemukiman. Biasanya pemukiman pangan membawa gabah-gabah dan beberapa kantung beras lalu mereka memainkan musik lesung. Beberapa diantaranya membagi buah-buah segar yang sengaja disisihkan. Pemukiman seniman—tentu saja, mereka melatih yang lain untuk menari bersama. Pemukiman tambang, papan, dan kehutanan, mereka duduk diam menikmati, melepas lelah setelah sekian hari bekerja keras. Pemukiman sandang sukarela mendekor dan menjahit kostum-kostum. Di akhir acara, ketujuh puteri kerajaan termasuk Puteri Bulan akan memainkan musik khas kerajaan.

Satu saat, ada tamu kerajaan dari negeri seberang yang mampir di Negeri Singgah, kerajaan asal Puteri Bulan, tepat di hari kesebelas. Puteri Bulan sempat meminta ayahanda untuk memulangkan tamu kerajaan lebih awal karena kereta kuda mereka memakan tempat untuk menari. Tapi ayahanda raja menolak karena raja negeri seberang harus tinggal hingga esok hari. Jalan tengahnya, tamu negeri seberang akan ikut dalam perayaan dan kereta kuda mereka dijadikan tempat sementara untuk meletakkan buah-buah hasil panen pemukiman pangan. Tempat yang awalnya digunakan untuk meletakkan buah-buah itu, yang digunakan untuk menari.
Acara tetap berlangsung seperti biasa. Yang berbeda adalah saat penampilan dari tamu negeri seberang. Ada seorang pangeran menawarkan diri dengan sopan memainkan musik untuk penduduk kerajaan. Seseorang dengan penampilan sederhana tetapi tetap menawan. Mengenakan pakaian kebangsaan negeri seberang yang memerlihatkan kegagahannya.

Siapa yang sanggup menolak? Seluruh rakyat mengiyakan, pun Puteri Bulan. Pangeran negeri seberang memainkan sebuah alat musik yang tidak pernah dilihat penduduk Negeri Singgah. Guitre. Begitu nama alat itu kata pangeran. Puteri Bulan jatuh cinta pada permainan alat itu dan meminta pangeran untuk memainkannya sekali lagi. Seluruh rakyat bersorak menyetujui. Lalu dari ujung alun-alun seseorang menyeru, “Puteri Bulan, mainkanlah musikmu bersama pangeran!”. Ide bagus itu diamini sekian ratus penduduk. Semua bersorak Puteri Bulan harus memainkannya bersama pangeran.

Mereka berdua bermain. Membuat harmoni yang tidak pernah didengar sebelumnya. Sungguh indah. Semua tertegun, dan terenyuh. Yang tadinya bicara sendiri, menghentikan bicaranya. Yang sedari tadi hanya diam dan melamun mulai menemukan fokus baru. Sebuah lantunan musik yang luar biasa. Seakan gubuk-gubuk warga ikut menari, tumpukan buah dan makanan turut bersenandung. Seisi kerajaan menikmati musik itu. Semua bergembira hari ini. Termasuk ibunda ratu yang sakit belakangan. Pangeran juga menutup malam itu dengan nyanyian untuk kesembuhan ibunda ratu. Puteri Bulan menangis haru. Kakinya lemas. Ada gemuruh di dadanya. Ia tidak pernah begini sebelumnya. Dan gemuruh itu semakin hebat saat pangeran menarik ujung bibirnya, tersenyum tulus di sela-sela waktu, untuk Puteri Bulan. Penyakit apa ini?

Esoknya, Puteri Bulan mengunjungi tabib kerajaan dan menceritakan penyakitnya. Tabib kerajaan tertawa keras sekali, saat Puteri Bulan mengutarakan keluhannya.

“Duh Gusti, yang mulia Puteri Bulan! Sebelum pangeran pulang hendaknya yang mulia Puteri bertemu dengannya walau hanya sesaat. Itu akan mengobati penyakit tuan puteri.” Kemudian tabib istana melanjutkan tawanya. Puteri Bulan yang tidak tahu penyakit itu namanya jatuh cinta, kebingungan dan berencana mengikuti saja apa kata tabib. Pasrah. Karena dia juga lelah, sudah tidak bisa tidur dua malam.

Kerajaan tamu dari negeri seberang harus pergi setelah menetap selama empat hari di kerajaan. Namun Puteri Bulan hingga hari ini belum bertemu dengan Pangeran Guitre itu. Puteri Bulan menyerah mencari Pangeran dan memutuskan untuk melangkah menuju hutan kerajaan, memandikan kuda dan melepaskannya sebentar untuk bermain-main. Berharap menyibukkan diri dapat menghilangkan keinginannya bertemu.
Sampailah Puteri di suatu padang luas belakang istana. Puteri Bulan membiarkan kudanya makan.

"Puteri Bulan?" Puteri Bulan yang tidak tahu ada yang mengikuti, sontak balik badan dan mengambil pisau kecil dari balik saku. Kemudian ia tertawa kecil.
Ternyata, pucuk dicinta ulampun tiba.
“Maafkan dalem pangeran. Dalem kira, siapa gerangan yang tiba-tiba datang.” Ujar Puteri Bulan saat tahu ternyata itu adalah Pangeran Guitre. 

Penyakit itu menyerang lagi. Ujung tangannya mulai dingin. Kakinya lemas. Ada sesuatu di perutnya. Ya Tuhan, tabib istana salah. Ini bukan obat. Penyakitnya bahkan semakin parah.
Kenapa justru datang di saat seperti ini? Pikir Puteri Bulan.

"Tidak Puteri Bulan. Saya yang harusnya meminta maaf karena mengikuti tanpa permisi."
“Apa yang sekiranya bisa dalem bantu, Pangeran?”
“Bolehkah sebelum saya pergi, Puteri Bulan berkenan menemani saya berkeliling hutan istana? Kata warga pemukiman papan, ada bukit kecil yang indah di hutan kerajaan. Tempat kupu-kupu dan bunga bermain warna dan saling berlomba menawan hati siapapun yang melihatnya.” Tanya pangeran.

Aih, jangan katakan kepada siapapun, jangan. Termasuk paduka. Bahwa Puteri Bulan senang bukan kepalang. Jadi pangeran memintanya pergi bersama? Tentu boleh!

Angin seolah tiba-tiba membelai lembut rambut-rambutnya. Menerbangkannya ke….. entahlah ini perasaan apa. Susah untuk dideskripsikan. Hatinya bak bunga yang baru saja mekar. Merah muda sempurna.

"Bukit Tawanan."
“Jadi namanya Bukit Tawanan?”
“Iya pangeran.”

Lalu ada hening yang tiba-tiba mampir. Puteri Bulan sengaja mengambil jeda mengatur nafas, karena debar-debar dalam dada itu seakan mendobrak memaksa keluar.

“Mmm…Kalau Puteri Bulan masih harus merawat kuda, izinkan saya meminta petunjuk arah saja dari yang mulia puteri untuk menuntun saya menuju bukit itu.”
“Jangan pangeran! Dalem bersedia menemani!” Sahut Puteri Bulan tiba-tiba, mengagetkan Pangeran Guitre itu.

Pangeran Guitre tertawa kecil. Dan tentu saja, Puteri Bulan menunduk menahan sipu yang merubah wajahnya bak strawberry dari pemukiman pangan.
Mereka berdua menghabiskan waktu hingga senja. Bercerita tentang apapun. Kekesalannya pada baginda raja, keinginannya pergi tanpa pengawal, hingga Pangeran Guitre yang ternyata sama-sama pecinta buku dan es krim seperti halnya Puteri Bulan. Waktu cepat sekali berlalu, bagaikan anak panah yang dilesatkan.

 Pangeran harus pergi.

"Tunggu aku datang tiga puluh dua bulan lagi Puteri. Aku akan datang tepat di saat perayaan tiga malam lalu. Aku akan datang memainkan guitre dan kubawakan buku-buku sajak dari negeriku."
“Kenapa lama sekali pangeran?”
“Karena seorang pangeran diperbolehkan pergi sendirian berkelana di umurnya yang ke dua puluh empat. Itu tiga puluh dua bulan lagi. Dan saat itu yang kutuju pertama adalah bukit indah ini sebelum akhirnya aku memainkan guitre di perayaan.”
“Baiklah dalem dengan sabar akan menunggu pangeran.” Ujar Puteri Bulan lirih. Kemudian ia terseyum. Pangeran tersenyum. Seisi bukit tersenyum.


Cukup susah mengucapkan kata itu bagi Puteri Bulan. Karena lidahnya kelu. Seakan ada yang mencekatnya di tengah-tengah.

Bulan berbilang tiga puluh dua, sudah terlewati. Puteri Bulan kembali mengunjungi Bukit Tawanan dengan suka cita. Dia sangat senang. Akhirnya hari ini datang!

Puteri Bulan sudah membawa kudanya sejak matahari menyapa. Dia tidak ingin pangeran tersesat. Namun lengkungan senyumnya itu berakhir muram karena hingga menjelang senja, tidak ada sosok yang ditunggunya itu.


Puteri Bulan harus kembali melaksanakan perayaan dengan penduduk. Ia memacu kudanya menuju alun-alun kerajaan, berharap pangerannya tiba-tiba datang dengan guitre.. Tapi tidak ada Pangeran disana. Malam demi malam dilaluinya dengan penantian. Dadanya sesak. Tangisnya suka tiba-tiba mendera. Pagi demi pagi ia lewatkan dengan menunggu di Bukit Tawanan. Tapi tidak ada. Tidak ada laki-laki yang pernah mengucap janji itu.

Hingga satu hari ada yang berhasil membuatnya berhenti melakukan penantian itu, tapi tak henti membuat tangisnya pecah. Kakak pertamanya membawakan sebuah buku dari negeri seberang tepat di hari kesebelas bulan pertama. Sebuah kumpulan sajak. Judulnya Bukit Tawanan.
Aduhai firasat apa ini. Perasaannya tidak enak. Dibukanya lembar demi lembar buku sajak. Lembar terakhirnya tertulis,

Pernah aku mengunjungi sebuah bukit bersama seorang teman dari Negeri Singgah, dan keindahannya masih kalah denganmu Putri Parasayu, yang menawan hatiku. Cinta memang datang karena terbiasa. Maka terbiasalah dengan kegemaranku menyelipkanmu dalam bait romansaku.

Kemudian Puteri Bulan berlari ke Bukit Tawanan. Tanpa kuda, tanpa alas kaki, tanpa pikir panjang. Hingga kakinya lecet. Yang ada di benaknya hanya keinginan menyobek lembar demi lembar janji bertemu. Melalap penantian panjang tiga puluh dua bulan lebih di Bukit Tawanan. Puteri Bulan menangis sejadi-jadinya bahkan hingga larut malam. Dan itu kali pertama tak ada perayaan di alun-alun istana setelah ratusan kali diadakan. Karena Puterinya menghilang hingga malam. Hingga hari berganti.

Keesokan harinya, seisi negeri membiru.

Sang puteri tenggelam dalam tangisnya sendiri. Sejak itulah telaga itu dinamakan Telaga Air Mata. Yang berasal dari tangisan Puteri Bulan karena sang pangeran memilih tuan puteri yang lain.
Barangkali dulu saat pangeran mengucap janji, ia hanya terbawa perasaan bahagia. Tanpa keseriusan. Tanpa kesengajaan. Terlena dengan perasaan berbunga-bunga yang tidak bisa dikendalikan.
Barangkali pangeran lupa apa kata pepatah, bahwa jangan pernah mengucapkan janji kembali pada seorang puteri yang jatuh hati. Karena dia akan setia menanti. Hingga nanti...hingga nanti.

Selesai.

Aji Nur Afifatul Hasna. Mendongeng. Hanya Mendongeng.

No comments:

Post a Comment