Sunday, January 11, 2015

Untuk Penikmat Langit Malam

Aku tidak tahu lagi bagaimana cara menghubungimu. Menanyakan kekhawatiranku. Dan aku dibuat kelelahan sama halnya sepertimu. Setiap yang bergerak pasti akan lelah, bukan? Tenang, setelah ini kamu dapat duduk selonjor tanpa kuminta ini-itu. Kamu dapat tidur pulas tanpa harus kubangunkan karena aku ingin ini dan itu. 

Sejak tadi, sejak kemarin, sejak kita saling mengait tapi tak terkait, sejak itu aku selalu merasa harus di dekatmu. Aku tidak pernah menghitung pertemuan, karena bukan itu barometer yang tepat mengukur keterkaitan. Yang selalu kuhitung adalah momen, saat aku mendoakanmu, saat aku mengusahakanmu, dan saat kamu hadir malu-malu dalam kisahku--ada atau tidak ada fisikmu.

Namun sejauh ini aku salah, aku terlalu egois meminta kita saling berkaitan. Padahal mungkin kamu sedang ingin berlarian di lapangan luas atau mendaki gunung demi gunung bahkan kamu ingin mengarungi setidaknya satu samudera yang ada dalam semesta. Aku minta maaf. Atas segala egoisme yang ada. Atas segala sesuatu yang mengekangmu. Atas kesalahan yang selalu bisa kau jatuhkan padaku. Menuntutmu ini dan itu.

Aku akan pergi, sama seperti kamu yang membebaskan diri. Aku tidak akan menjadikanmu anak kecil yang kemana-mana selalu harus dalam pengawasan. Aku akan pergi. Membawa kaitanku jauh-jauh dari situ. Dari sisimu.

Temukanlah dia yang bisa dengan baik memahamimu, yang berbeda jauh dariku--dariku, yang mungkin mencintaimu lebih dari dia yang kau temukan kelak. Cinta tidak akan salah terjatuh, tapi setiap orang bisa keliru menangkapnya.

 Semoga kita bisa bertemu lagi. Entah saat kait-kait ini  tepat, atau hanya saling bersinggungan di persimpangan jalan.

No comments:

Post a Comment