Di sebuah
hutan, dibalik pinus-pinus dan bukit semak, ada sebuah telaga jernih. Telaga
itu berwarna hijau muda, dikelilingi bunga-bunga putih dan rerumputan hijau
yang segar. Tak jarang ada kuda liar dengan anggunnya bermain di tepian. Konon
meneguk airnya dapat membuat siapapun memiliki harapan-harapan baru.
Penduduk di
sekitar percaya, bahwa telaga itu dahulu menyimpan satu cerita, sesuai namanya
Telaga Air Mata. Entah kapan kisah itu mulai dipercaya penduduk desa. Tapi
setiap senja di hari kesebelas setiap bulannya telaga ini seperti menangis.
Serangga-serangga bernyanyi dengan bahasa mereka. Pepohonan dan semak
bergesekan. Kunang-kunang selalu terbang menyebrangi telaga dari ujung ke ujung
kemudian menghilang. Begitu seterusnya hingga tengah malam dan hari berganti.
Telaga itu menangis.
Tangisan
seorang puteri.
Pada zamannya, ada seorang puteri raja, yang kecantikannya masih kalah
dibanding kakak-kakak dan adiknya. Tapi dia memiliki hati yang lembut dan
dicintai semua orang. Rakyat istana memanggilnya Puteri Bulan. Karena setiap
bulan nyaris purnama, Puteri Bulan membuka pintu besar kerajaan dan
memersilakan rakyatnya untuk masuk memenuhi alun-alun bundar istana. Untuk
merayakan persaudaraan dan suka cita. Sebuah perayaan sederhana untuk seluruh
rakyat kerajaan.
Akan ada nyanyian dan tarian persembahan dari masing-masing pemukiman.
Biasanya pemukiman pangan membawa gabah-gabah dan beberapa kantung beras lalu
mereka memainkan musik lesung. Beberapa diantaranya membagi buah-buah segar
yang sengaja disisihkan. Pemukiman seniman—tentu saja, mereka melatih yang lain
untuk menari bersama. Pemukiman tambang, papan, dan kehutanan, mereka duduk
diam menikmati, melepas lelah setelah sekian hari bekerja keras. Pemukiman
sandang sukarela mendekor dan menjahit kostum-kostum. Di akhir acara, ketujuh
puteri kerajaan termasuk Puteri Bulan akan memainkan musik khas kerajaan.
Satu saat, ada tamu kerajaan dari negeri seberang yang mampir di Negeri
Singgah, kerajaan asal Puteri Bulan, tepat di hari kesebelas. Puteri Bulan
sempat meminta ayahanda untuk memulangkan tamu kerajaan lebih awal karena
kereta kuda mereka memakan tempat untuk menari. Tapi ayahanda raja menolak
karena raja negeri seberang harus tinggal hingga esok hari. Jalan tengahnya,
tamu negeri seberang akan ikut dalam perayaan dan kereta kuda mereka dijadikan
tempat sementara untuk meletakkan buah-buah hasil panen pemukiman pangan. Tempat
yang awalnya digunakan untuk meletakkan buah-buah itu, yang digunakan untuk
menari.
Acara tetap berlangsung seperti biasa. Yang berbeda adalah saat penampilan
dari tamu negeri seberang. Ada seorang pangeran menawarkan diri dengan sopan memainkan
musik untuk penduduk kerajaan. Seseorang dengan penampilan sederhana tetapi
tetap menawan. Mengenakan pakaian kebangsaan negeri seberang yang memerlihatkan
kegagahannya.
Siapa yang sanggup menolak? Seluruh rakyat mengiyakan, pun Puteri Bulan.
Pangeran negeri seberang memainkan sebuah alat musik yang tidak pernah dilihat
penduduk Negeri Singgah. Guitre. Begitu nama alat itu kata pangeran. Puteri
Bulan jatuh cinta pada permainan alat itu dan meminta pangeran untuk
memainkannya sekali lagi. Seluruh rakyat bersorak menyetujui. Lalu dari ujung
alun-alun seseorang menyeru, “Puteri Bulan, mainkanlah musikmu bersama
pangeran!”. Ide bagus itu diamini sekian ratus penduduk. Semua bersorak Puteri
Bulan harus memainkannya bersama pangeran.
Mereka berdua bermain. Membuat harmoni yang tidak pernah didengar
sebelumnya. Sungguh indah. Semua tertegun, dan terenyuh. Yang tadinya bicara
sendiri, menghentikan bicaranya. Yang sedari tadi hanya diam dan melamun mulai
menemukan fokus baru. Sebuah lantunan musik yang luar biasa. Seakan gubuk-gubuk
warga ikut menari, tumpukan buah dan makanan turut bersenandung. Seisi kerajaan
menikmati musik itu. Semua bergembira hari ini. Termasuk ibunda ratu yang sakit
belakangan. Pangeran juga menutup malam itu dengan nyanyian untuk kesembuhan
ibunda ratu. Puteri Bulan menangis haru. Kakinya lemas. Ada gemuruh di dadanya.
Ia tidak pernah begini sebelumnya. Dan gemuruh itu semakin hebat saat pangeran
menarik ujung bibirnya, tersenyum tulus di sela-sela waktu, untuk Puteri Bulan.
Penyakit apa ini?
Esoknya, Puteri Bulan mengunjungi tabib kerajaan dan menceritakan
penyakitnya. Tabib kerajaan tertawa keras sekali, saat Puteri Bulan
mengutarakan keluhannya.
“Duh Gusti, yang mulia Puteri Bulan! Sebelum pangeran pulang hendaknya yang
mulia Puteri bertemu dengannya walau hanya sesaat. Itu akan mengobati penyakit
tuan puteri.” Kemudian tabib istana melanjutkan tawanya. Puteri Bulan yang tidak
tahu penyakit itu namanya jatuh cinta, kebingungan dan berencana mengikuti saja
apa kata tabib. Pasrah. Karena dia juga lelah, sudah tidak bisa tidur dua
malam.
Kerajaan tamu dari negeri seberang harus pergi setelah menetap selama empat
hari di kerajaan. Namun Puteri Bulan hingga hari ini belum bertemu dengan
Pangeran Guitre itu. Puteri Bulan menyerah mencari Pangeran dan memutuskan untuk
melangkah menuju hutan kerajaan, memandikan kuda dan melepaskannya sebentar
untuk bermain-main. Berharap menyibukkan diri dapat menghilangkan keinginannya
bertemu.
Sampailah Puteri di suatu padang luas belakang istana. Puteri Bulan
membiarkan kudanya makan.
"Puteri Bulan?" Puteri Bulan yang tidak
tahu ada yang mengikuti, sontak balik badan dan mengambil pisau kecil dari
balik saku. Kemudian ia tertawa kecil.
Ternyata, pucuk
dicinta ulampun tiba.
“Maafkan dalem pangeran. Dalem kira, siapa gerangan yang
tiba-tiba datang.” Ujar Puteri Bulan saat tahu ternyata itu adalah Pangeran
Guitre.
Penyakit itu menyerang lagi. Ujung tangannya mulai dingin. Kakinya lemas.
Ada sesuatu di perutnya. Ya Tuhan, tabib istana salah. Ini bukan obat.
Penyakitnya bahkan semakin parah.
Kenapa justru datang di saat seperti
ini? Pikir Puteri Bulan.
"Tidak Puteri Bulan. Saya yang harusnya
meminta maaf karena mengikuti tanpa permisi."
“Apa yang sekiranya bisa dalem bantu, Pangeran?”
“Bolehkah sebelum saya pergi, Puteri Bulan berkenan menemani saya berkeliling
hutan istana? Kata warga pemukiman papan, ada bukit kecil yang indah di hutan kerajaan.
Tempat kupu-kupu dan bunga bermain warna dan saling berlomba menawan hati
siapapun yang melihatnya.” Tanya pangeran.
Aih, jangan katakan kepada siapapun, jangan. Termasuk paduka. Bahwa Puteri
Bulan senang bukan kepalang. Jadi pangeran memintanya pergi bersama? Tentu
boleh!
Angin seolah tiba-tiba membelai lembut rambut-rambutnya. Menerbangkannya
ke….. entahlah ini perasaan apa. Susah untuk dideskripsikan. Hatinya bak bunga
yang baru saja mekar. Merah muda sempurna.
"Bukit Tawanan."
“Jadi namanya Bukit Tawanan?”
“Iya pangeran.”
Lalu ada hening yang tiba-tiba mampir. Puteri Bulan sengaja mengambil jeda
mengatur nafas, karena debar-debar dalam dada itu seakan mendobrak memaksa
keluar.
“Mmm…Kalau Puteri Bulan masih harus merawat kuda,
izinkan saya meminta petunjuk arah saja dari yang mulia puteri untuk menuntun
saya menuju bukit itu.”
“Jangan pangeran! Dalem bersedia
menemani!” Sahut Puteri Bulan tiba-tiba, mengagetkan Pangeran Guitre itu.
Pangeran Guitre tertawa kecil. Dan tentu saja, Puteri Bulan menunduk menahan
sipu yang merubah wajahnya bak strawberry dari pemukiman pangan.
Mereka berdua menghabiskan waktu hingga senja. Bercerita tentang apapun.
Kekesalannya pada baginda raja, keinginannya pergi tanpa pengawal, hingga
Pangeran Guitre yang ternyata sama-sama pecinta buku dan es krim seperti halnya
Puteri Bulan. Waktu cepat sekali berlalu, bagaikan anak panah yang dilesatkan.
Pangeran harus pergi.
"Tunggu aku datang tiga puluh dua bulan lagi
Puteri. Aku akan datang tepat di saat perayaan tiga malam lalu. Aku akan datang
memainkan guitre dan kubawakan buku-buku sajak dari negeriku."
“Kenapa lama sekali pangeran?”
“Karena seorang pangeran diperbolehkan pergi sendirian berkelana di umurnya
yang ke dua puluh empat. Itu tiga puluh dua bulan lagi. Dan saat itu yang
kutuju pertama adalah bukit indah ini sebelum akhirnya aku memainkan guitre di
perayaan.”
“Baiklah dalem dengan sabar akan
menunggu pangeran.” Ujar Puteri Bulan lirih. Kemudian ia terseyum. Pangeran
tersenyum. Seisi bukit tersenyum.