Sunday, September 29, 2013

Semalam Tadi

Malam ini, adikku meraung minta diajak jalan-jalan. Sedang kutahu ayah dan ibu tidak ada uang dan waktu lebih untuk meladeni mereka. Ibu selalu berusaha melengkapi waktu ayah yang disita setumpuk pekerjaan dan ayah melengkapi ibu dengan jerih payahnya hingga nanti dapat menjawab pinta anak-anaknya bila menunjuk ini-itu. kinda perfect couple.

Aku yang sekarang menjadi sedikit lebih berhati-hati dalam meminta. Kalau tidak butuh sekali, aku berusaha tidak meminta. Ayah dan ibuku itu, aku tahu mereka terkadang terlalu tidak sempat untuk berkata lelah bila dihadapkan soal : demi anak-anaknya. Aku tahu mereka akan mencari jawaban seperti apapun saat anaknya berebut bertanya "liburan ini kita bakal kemana?" atau "Umi, abah, nggak mau belikan aku ini baru-itu baru?" "Blablabla"

Menjadi hal yang sangat mengetuk hatiku, tidak bahkan ini mendobraknya ketika melihat langsung di kedua mata, orang tua sedang bekerja keras demi anak-anaknya. Pernah seperti itu? Kini aku setiap Jumat merasakannya. Jumat pagi di akhir minggu menjadi satu refleksi tersendiri bagi batinku. Menata kembali semangat yang sayup-sayup hadir, tapi kemudian sering dia redup dimakan kesibukan dan kepenatan perkuliahan atau agenda yang merapat tanpa jeda.

Jumat pagi, aku bisa melihat langsung ayah berdiri demi anak-anaknya, mencari nafkah lewat menebar ilmu. Ayahku itu, beliau dosen di tempatku kuliah, dan kini tiap Jumat aku memasuki kelasnya. Ketika aku mulai malas di Senin hingga Kamis, tidak bisa begitu di hari Jumat. Ayah yang anti-absen dalam mengajar membuatku menyalakan kembali semangatku. Beliau selalu dengan semangatnya mengajar 3 SKS penuh tanpa pernah memelankan suaranya atau  bermalas-malasan dengan gaya dosen kebanyakan yang masuk asal mengajar. Ayahku bukan tipe seperti itu. Ayah pekerja keras.

Sesampai di rumah pasti ibu bertanya, "Nak bagaimana tadi diajar ayah?". Aku hanya meringis sambil menjawab, "Ya begitu bu." Lalu ibu tersenyum sambil ku tahu beliau mengamini doaku dalam hati semoga ayah selalu diberi kesehatan dalam mencari nafkah. Jumat malam selalu tidak lepas dengan ibu yang berusaha menghilangkan peluh ayah, beliau sering sekali memijat ayah hingga ayah ketiduran. Seakan berusaha menjadi lelah ayah, ibuku itu tak pernah absen dalam sholat malamnya dan aku tahu beliau tidak akan pernah lupa mendoakan suami dan anak-anaknya.

Saturday, September 28, 2013

sampaikan


 
sampaikan pada ilalang yang ujungnya menyentuh jemarimu
sampaikan pada laut biru yang ombaknya menggulung kenanganmu
sampaikan pada remah-remah roti yang tak bisa puaskanmu
sampaikan selamat tinggal atas cinta yang tak kuasa menjadi kita
sampaikan salam hangat pada pertemuan yang selalu menyisa kehilangan

sampaikan..sampaikan apapun..selain kabarku.

pulang

aku lelah jadi hantumu, yang takkasatmata tapi mengikuti kemanapun kamu pergi
aku lelah jadi udara yang kau hirup, pada akhirnya kau hembuskan lagi
kalau sedari dulu aku betah terkantung-kantung
kini aku sudah lelah
aku..........................
pulang. ke rumahku. tanpamu. pun aku sanggup.

ALLAH

Allah, apik mau cerita :'(

Thursday, September 26, 2013

10 September

Aku menikmati kenangan yang menyisa rasa tak karuan
Sedang menerka "mereka" menjadi secangkir kopi atau teh?
dua-duanya sama-sama candu

Kunikmati lagi, kuseruput perlahan-lahan
barangkali aku menemukan jawaban dibalik kesabaranku meneguk pelan-pelan
masih takbisa kutebak, rasanya..um...
semipahit semimanis
lalu apa ini?

baru aku sadar, cinta memang pahit-manis

Orang Asing

Kita hanya berjumpa pada senyum simpul yang berakhir di tiap-tiap punggung kala bertemu
Aku dan kamu hanya sebatas " Aku tahu namamu sedang kau tidak"
Dan kita adalah dua orang asing yang bertemu atas nama ketidak sengajaan

Ya, jatuh cinta menjadi sederhana ini
semudah aku melihatmu berbicara dari jauh
semudah aku bebas menatapmu
dan semudah itu pula aku berdoa waktu memihak padaku :
agar sering-sering mencipta ketidaksengajaan

Sore Kita

dimulai dengan semangkuk kenangan hangat
satu suap, dua suap, tiga....empat...
aku menikmatinya, sesekali dengan sengaja aku melirikmu
hai lelaki yang dengan lahapnya menyantap! kamu lucu sekali sih :)

bagaimana rasanya?
kamu hanya tertawa sembari menyuruhku tetap makan
aku yang polos ini, yang ketagihan ini, mau-mau saja menyuap lagi dan lagi
bagaimanapun isi mangkuk ini tentang aku dan kamu juga kan?

tetiba suapanku berhenti
saat kamu berujar,

Saturday, September 14, 2013

randomisasi konspirasi hati

kemarikan pundakmu, biar kuguncangkan seraya berkata "kamu kenapa?"
habisnya kamu diam saja
kupancing pertanyaan, umpanku hanya kau lihat saja

Wednesday, September 4, 2013

ibu, boleh kupinjam sebentar suamimu?

Ijinkan aku menculiknya, menculik cintanya. Menyembunyikan kesetiaannya dibalik saku bajukudia yang tidak menyertakan nama lain sekain ibu dalam hidupnya

Mendekap perhatiannya yang hangat berpendar, lalu menyimpannya di toples-toples kacakesabarannya untuk tetap berada di sisi ibu meski sedang susah

ibu, boleh kupinjam sebentar suamimu?
kepalaku sedang butuh tempat untuk disandarkan, badanku butuh ditopang

Senja

Senja tak melulu berbicara romansa
Senja juga bisa menyuara nestapa
Saat bocah-bocah dekil itu bergoyang di bawah sinar oren kehitaman
Menyanyi, meski sudah setengah hari lebih mereka berdiri di tepian

"Syukuri apa yang ada...hidup adalah anugerah...tetap jalani hidup ini...melakukan yang terbaik"
Lalu mereka berhenti bernyanyi saat koin-koin kebahagiaan jatuh dari jendela harapan

Meski senja, mereka tetap meminta, bahkan mungkin hingga malam tiba
Meski senja sanggup membuat terperanjatsiapa-siapa yang mengamati goresan langitnyatapi tidak untuk mereka
Tidak ada waktu untuk mengelokkan senja yang semburat khidmat
Tidak ada dongakan mengarah kesana, tidak perlu
Toh senja tidak bisa turunkan koin-koin bahagia seperti jendela-jendela mobil ini

Senja tak melulu jadi objek. Kali ini, ia hanya latar

kedatanganmu

Tepat malam ini kamu muncul
Dengan senyum termanismu di sela-sela peluh
Aku hanya terdiam, sembari menata hatiku

bahkan dalam mimpipun aku tampak begitu kikuktidak bisa kusembunyikan kagumku yang menggebu 

Sesaat ita tanpa suara, hanya ada sayup-sayup degupan jantungku yang berantakan
Sedang kamu? Tenang dalam dudukmu lalu tersenyum
Dan aku? Sekali lagi hanya terdiam lalu bangun

Bahkan dalam mimpipun kamu tak bisa lepas dari pesona, pangeranku