Selasa malam selalu menjadi hari favoritku, kuliah manajemen strategi! Bukan soal materi kuliahnya, tetapi dosennya. Karena di tiap pertemuannya, akan banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik, membuat kita sadar bahwa selama ini kita belum melakukan apa-apa, tidak ada apa-apanya, dan tidak berhak sombong. Kuliah kali ini bukan sekedar manajemen strategi bisnis atau organisasi, bukan hanya menyoal analisis SWOT, implementasi rancangan bisnis, dan sistem manajemen bagi perusahaan, tapi soal values tiap individu. Tidak hanya perusahaan yang harus mempunyai rencana strategis, diri kita juga.
Dalam kehidupan, setiap manusia harus punya nilai-nilai yang ia bawa. Dan jika ingin baik, maka bawalah nilai-nilai kebaikan. Karena dalam hidup, setiap detik adalah mengambil keputusan, Mulai sedari membuka mata saat bangun tidur, kamu sudah dituntut mengambil keputusan, mau bangun, mau sholat, mau makan, atau mau tidur lagi? Pun langkah berikutnya, apakah mau masuk kuliah? Atau bolos saja? Semua itu adalah permainan keputusan. Selanjutnya, mau jadi apa itu terserah kita. Dan sebaik-baik keputusan, sudah bulat : yang melibatkan Tuhan di dalamnya (kita yang butuh Tuhan. Manusia kadang lupa, bahwa selalu ada kekuatan besar yang menggerakkan semesta ini)
Seperti kataku tadi, tidak hanya perusahaan atau organisasi diri kita sendiri juga butuh rencana strategis. Butuh visi yang jelas, butuh sebuah sistem. Sehingga kata-kata going with the flow itu tidak akan pernah berlaku lagi karena bersama arus itu membosankan, hanya mengikuti dan tidak pernah menentukan. Bukankah lebih asyik menjadi ombak yang mencipta arus? Menggulung lautan, menggerakkan kapal-kapal, mengikis bebatuan keras.Jangan sampai hanya mengikuti arus, karena jika semua berhenti maka kamu akan hilang. Tenggelam.
Lalu, di umurmu yang sekian ini, sudahkah punya rencana strategis yang jelas? Atau setidaknya visi besar yang kamu usung sepanjang hidupmu dengan misi, tujuan, program kerja, dan budgeting yang mendukung?
Belum?
Begitulah manusia, terlalu sok sibuk.
24 jam yang diberikan Allah hanya dipakai untuk memuaskan indra-indra. Memuaskan mata, telinga, mulut, dan semacamnya. Hingga pada akhirnya, jiwa hanya mendapat sisa-sisa waktu. Itulah guna spirit dan agama yang tidak hanya dibaca, tapi kemudian diresapi dan diterapkan. Agar jiwa tak kerontang, agar hidup tidak bebas nilai tapi selalu sarat akannya.
Harus selalu kamu ingat, dalam hidup selalu ada kekuatan yang lebih besar, kekuatan cinta Tuhan pada makhluk. Teruslah bersinergi dengan kekuatan itu, tetaplah membawa nilai, dan dengarkanlah apa kata jiwa. Karena hidup, adalah soal mengambil keputusan.
No comments:
Post a Comment