Thursday, February 13, 2014

puisi (2)


Dipan ini mulai bosan, Tuan...bosan kutiduri
meski cedera-cedera lengan, lutut, dan pipi sudah pergi
tapi tak begitu kata hati

hatiku taklagi bersemi dan bersemu
kian hari, kian ngilu
tapi tak begitu kata Tuan
a
b
c
d
ah aku lupa, Tuan masih seperti dipanku, diam

masih betah kau?
kenapa tak kau cuatkan satu kata ?
Satu saja, untuk gadis yang baru sembuh dari beribu luka
Baiklah, tak jadi sembuh kalau begini caranya
Hatiku tambah meradang

ah kau, ya kauTuan tampanku yang sedang membaca secarik kertas lara
barusan kutuangkan parfum atasnya
agar kau geli, lalu kau goyang pena
kenapa tak balas suratku Tuan?

Takcukupkah manjaku di secarik lara sebelum ini?
Tunggu apa kau? Tunggu aku membuncah?

No comments:

Post a Comment