Dipan ini mulai bosan, Tuan...bosan kutiduri
meski cedera-cedera lengan, lutut, dan pipi sudah pergi
tapi tak begitu kata hati
hatiku taklagi bersemi dan bersemu
kian hari, kian ngilu
tapi tak begitu kata Tuan
a
b
c
d
ah aku lupa, Tuan masih seperti dipanku, diam
masih betah kau?
kenapa tak kau cuatkan satu kata ?
Satu saja, untuk gadis yang baru sembuh dari beribu luka
Baiklah, tak jadi sembuh kalau begini caranya
Hatiku tambah meradang
ah kau, ya kau—Tuan
tampanku yang sedang membaca secarik kertas lara
barusan kutuangkan parfum atasnya
agar kau geli, lalu kau goyang pena
kenapa tak balas suratku Tuan?
Takcukupkah manjaku di secarik lara sebelum ini?
Tunggu apa kau? Tunggu aku membuncah?
No comments:
Post a Comment