Sebelas
tahun silam, saat duduk di bangku sekolah dasar, aku selalu bertanya kepada
diriku sendiri “Mengapa orang dewasa selalu membelit-belitkan masalah mereka?
Apa memang cinta menjadi sebuah perkara yang sebegitunya?” dan itu adalah
detik-detik dimana kedua orang tuaku bercerai. Kini aku tahu persis, mengapa
masalah mereka selalu menjadi serumit itu, mengapacinta menjadi perkara serumit
itu, mengapa...mengapa...***
Malam
menjadi pukulan keras seperti kulit bedug yang dipukuli magrib tadi. Dug, dug,
dug. Lalu berubah menjadi malam sunyi dengan suara detak jam dinding yang
terdengar nyaring di telinga. Tik tok tik tok. Aku memejam, ditengah mata yang
tidak ingin terpejam. Memaksa tidur saat jiwa ini tidak mau tertidur. Sudah
kubilang ini malam yang keras dan sepi.
Isakku
terdengar seperti teriakan dan aku sanggup memeluk diriku sendiri malam ini.
Menggugu sejadi-jadinya dan entah tak bisa kujelaskan secara rinci apa yang aku
rasakan, ini sebelas dua belas dengan patah hati. Sebenarnya, aku sudah
berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mengoyak hatiku yang sedang dalam masa
penyembuhan, bahkan beberapa bulan terakhir ini aku tidak lagi berusaha
memikirkannya. Tapi, malam menjadi begitu agresif menggerakkanku untuk mencari
serpihan masa lalu. Maafkan malam, aku berkali menyalahkanmu. Ah sudah, sudah
akui saja kau salah tetap membuatku terjaga seperti tadi.
Karena kepo setitik, rusak move on
sebelanga. Social media bilang, beberapa hari lagi
laki-laki yang dulunya selalu bermimpi melingkarkan cincin di jari manisku kini
sudah bersiap melingkarkannya di jemari perempuan lain. Mereka akan menyebar
undangannya. Dan rasanya, setiap menit kepalaku diajak berputar-putar
mengelilingi kenangan. Mengingat kembali senyumnya, hari-hari yang penuh dengan
tatapannya, dan jangan salahkan aku bila kini aku kerepotan mengkompres kedua
bola mataku. Bengkaknya tidak kunjung mengempis.
Dulu
saat dia tiba-tiba menghilang—kita memang tidak ada hubungan apa-apa, entahlah
mungkin sedikit berkomitmen, aku
perempuan yang takut pada komitmen—dia bilang ada seseorang yang membuatnya
seakan jatuh cinta setiap hari, sedang bersamaku dia hanya merasa nyaman. Lalu aku
meraung-raung tapi mencoba mengikhlaskan karena memang kami tidak ada hubungan
apa-apa—dan aku sedikit menyesal kenapa aku takut pada komitmen, tidak, banyak.***
Pagi,
Dan
aku dicegat saat hendak memasuki tempat kerjaku. Bola mata cokelat itu, yang
membuatku susah terpejam, menahanku berpalig. Aku seperti membeku, ini pertama
kalinya sejak lima bulan lalu dia menghilang,. Kami bertemu.
“Aulia.”
katanya
Hanya
mataku yang berbicara.
“Aku
mau mengajakmu bicara sebentar,”
“Kamu
menyita waktuku,”
“Kantormu
bahkan belum buka.” Dia tahu saja, aku memang selalu datang sebelum kantor
resmi buka, hanya memastikan hariku akan
baik jika aku mempersiapkan semuanya dengan baik. Tapi dia datang
membuatnya berantakan, aku benci segala sesuatu yang tidak dipersiapkan dengan
baik, termasuk pertemuan.
“baik, waktumu tidak banyak.”
“Tidak
bisakah kita duduk?”
“Sudah
kubilang waktumu tidak banyak.” Aku menyembunyikan kaki-kakiku yang lemas.
“Baiklah,
aku minta maaf sebelumnya. Aku minta maaf
karena tiba-tiba meninggalkanmu, juga atas kata-kata dan tindakanku
setelah itu yang menyakitimu. Tapi kita memang tidak ada hubungan apa-apa
sebelumnya. Aku bersama Naila, perempuan yang awalnya aku fikir bakal membuatku
lebih berkembang ketimbang bersamamu, karena dia yang pintar, visioner, penuh
pesona, ya aku akui aku serasa jatuh cinta setiap hari dengannya. Tapi itu
hanya perasaanku saja, akhirnya aku sadar aku hanya mengaguminya. Aku tidak bisa
bertingkah konyol bersamanya atau menjadi diriku sendiri seperti saat aku
bersamamu. Aku tidak bisa mengupload foto-foto bodoh, atau mengajaknya jajan di
pinggir jalan. Kami memang terlihat seperti pasangan yang saling melengkapi,
terlihat hebat.”
“Bukannya
kau bilang sendiri, tujuan orang menikah adalah jika dua pribadi disatukan bakal
menjadi satu kesatuan yang lebih baik?”
“Tapi
aku sadar, ketenangan dan kenyamanan lebih penting. Kebaikan bakal datang
dengan sendirinya.”
Aku
masih menyimak, sembari kebingungan menebak apa maksud percakapan ini.
“Aku
sadar aku kehilangan perasaanku saat dia menjadi pribadi yang menyebalkan. Aku
rindu padamu Ul.”
Laki-laki
memang makhluk paling tidak konsisten yang pernah kukenal.