Thursday, July 31, 2014

Kopi

sebuah monolog
 
Ada yang selalu menemaniku, dengan kopi panas beserta asap yang masih suka hinggap sedikit-sedikit di ujung hidungnya. Lalu dengan kepayahan, dia memegang ujung-ujung cangkir sembari meniupinya. Sesekali dia sodorkan cangkirnya itu, menawariku meski aku takkan pernah mau menyeruputnya. Aku tak suka kopi, aku hanya suka membuatkan kopi.

Ada yang selalu menemani benakku, ialah wujud asa yang taksampai—-pecinta kopi yang lain. Dulu aku sering membuatkannya, lalu menemaninya membunuh waktu dengan duduk manis dan bertukar cerita. Tapi itu dulu, kini telah ia temukan pembuat kopi yang lain. Konon kopinya lebih nikmat dari milikku, ditambah lagi dia juga pecinta kopi, jadi bukankah lebih baik baginya menyeruput kopi bersama dengan penggemar kopi lainnya?

Pada awalnya, aku tetap bersikukuh menawarkan kopi buatanku. Membuatkannya, meski hanya berakhir menjadi secangkir kopi dingin, sesekali terpaksa menyeruput sambil kepahitan,
“Ini aku bodoh atau setia?”.
Kemudian, aku bertemu dengan dia yang selalu menemaniku itu. Menerimaku dengan ketidaksukaanku pada kopi, bahkan tetap duduk di sebelahku saat cangkir buatanku masih tertuju pada orang lain. Dia bilang sudah cukup bersyukur saat aku membiarkannya duduk disitu, disebelahku.

Pada akhirnya perempuan mana yang tidak takluk pada kesungguhan lelakinya? Meski hingga sekarang (jujur) aku masih lebih suka membuatkan kopi untuk orang lain. Tapi pilihan ini sudah terlanjur jatuh pada dia yang selalu berkata padaku,
“Kopimu enak, tapi sebenarnya aku lebih menyukai kehadiranmu, meski tanpa kopi.”
Ya, kata ibu, lebih baik bersama dia yang mencintaimu. Karena bagi seorang perempuan belajar mencintai lebih mudah ketimbang berusaha dicintai.

Wednesday, July 23, 2014

Ada

Ada kalanya kamu merasa, tahan tangis lebih menyesakkan daripada tahan nafas. Seakan dada ini sudah penuh dan siap menjatuhkan bulir demi bulir yang kau gantungkan dengan simpul kuat sedemikian rupa agar tidak jatuh.

Ada kalanya kamu merasa, tiba-tiba butuh sandaran karena kaki-kakimu takkuat lagi menopang semua kepura-puraanmu, ke-sok-kuatan, dan ketegaran palsu yang selama ini kamu dengungkan.

Ada kalanya kamu merasa, buku-buku jarimu dingin hingga merambat membekukan semua kata-kata yang ingin kaulontarkan serta deret kata yang ingin kausampaikan,

Ada kalanya kamu merasa, hanya kamu yang sanggup memeluk dirimu sendiri saat ini, karena semua orang—-entah mengapa acuh dan tidak sanggup memahami risau yang sedang menari-nari dalam dekapmu.

Ada kalanya kamu merasa, hanya kepada Tuhan kamu sanggup menangis, bersandar, mengatakan semua, dan menceritakan hati yang sedang risau tak tahu arah.

Thursday, July 17, 2014

Jangan Dibutakan Perasaan Kecewa

Saya sedang menyesali lisan ini, apa kabar ia nanti di akhirat? Masya Allah dihukum seperti apa setelah ia angkat bicara, bersaksi atas apa-apa yang telah saya katakan di dunia.

Hati-hati dengan perasaan kecewa. Karena ia bisa menjadi peluru, yang membuat kaliber dapat melepas tembakan. Saya pernah dikecewakan, ya mungkin layaknya anak muda kebanyakan—-jatuh hati lalu demikian dijatuhkan di sembarang tempat hingga pecah porak poranda. Entah apapun alasan dibalik dia yang tiba-tiba menghilang, sepertinya itu lebih baik untuk kami berdua.

Saya menuliskannya bukan untuk ajang curhat kali ini, lebih ke berbagi cerita agar banyak orang bisa lebih baik lagi, tidak seperti saya di masa lalu. Singkat cerita saya sempat lama susah menerima perubahan yang ada di sekitar kami. Saya sering menyalahkan kondisi, perkuliahannya, lingkungannya, ah semua saya salah-salahkan, semua yang saya anggap merubah dia. Ya, saya masih belum terima saja dulu, waktu dia yang saya kenal mendadak berubah begitu alim dan sholeh.

Ini saya cemburu sama yang menciptakan hati dan perasaan ya ceritanya?
Sebenarnya saya sudah faham saya bukan yang paling benar (even saya yang ditinggalkan, tapi alasannya kalau dianya mau menjaga hati memang tidak bisa diganggu gugat hahaha) , tapi saya masih mencari celah pembenaran. Begitulah manusia :)

Saya kadang menganggapnya ekstrimislah, tidak punya hatilah, lalu saya curhat dengan teman saya perihal begini begitu kemudian menyulutlah perasaan kecewa itu yang membuat saya bicara macam-macam yang lebih jelek lagi. Karena jujur, bukannya seru ketika kita curhat, membuka aib orang, lalu orang lain mendukung kita? Setan itu punya banyak cara menyenangkan hati manusia. hahaha

Friday, July 11, 2014

Perkara Cinta dan...



Sebelas tahun silam, saat duduk di bangku sekolah dasar, aku selalu bertanya kepada diriku sendiri “Mengapa orang dewasa selalu membelit-belitkan masalah mereka? Apa memang cinta menjadi sebuah perkara yang sebegitunya?” dan itu adalah detik-detik dimana kedua orang tuaku bercerai. Kini aku tahu persis, mengapa masalah mereka selalu menjadi serumit itu, mengapacinta menjadi perkara serumit itu, mengapa...mengapa...***
Malam menjadi pukulan keras seperti kulit bedug yang dipukuli magrib tadi. Dug, dug, dug. Lalu berubah menjadi malam sunyi dengan suara detak jam dinding yang terdengar nyaring di telinga. Tik tok tik tok. Aku memejam, ditengah mata yang tidak ingin terpejam. Memaksa tidur saat jiwa ini tidak mau tertidur. Sudah kubilang ini malam yang keras dan sepi.
Isakku terdengar seperti teriakan dan aku sanggup memeluk diriku sendiri malam ini. Menggugu sejadi-jadinya dan entah tak bisa kujelaskan secara rinci apa yang aku rasakan, ini sebelas dua belas dengan patah hati. Sebenarnya, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mengoyak hatiku yang sedang dalam masa penyembuhan, bahkan beberapa bulan terakhir ini aku tidak lagi berusaha memikirkannya. Tapi, malam menjadi begitu agresif menggerakkanku untuk mencari serpihan masa lalu. Maafkan malam, aku berkali menyalahkanmu. Ah sudah, sudah akui saja kau salah tetap membuatku terjaga seperti tadi.
Karena kepo setitik, rusak move on sebelanga. Social media bilang, beberapa hari lagi laki-laki yang dulunya selalu bermimpi melingkarkan cincin di jari manisku kini sudah bersiap melingkarkannya di jemari perempuan lain. Mereka akan menyebar undangannya. Dan rasanya, setiap menit kepalaku diajak berputar-putar mengelilingi kenangan. Mengingat kembali senyumnya, hari-hari yang penuh dengan tatapannya, dan jangan salahkan aku bila kini aku kerepotan mengkompres kedua bola mataku. Bengkaknya tidak kunjung mengempis.
Dulu saat dia tiba-tiba menghilang—kita memang tidak ada hubungan apa-apa, entahlah mungkin sedikit berkomitmen, aku perempuan yang takut pada komitmen—dia bilang ada seseorang yang membuatnya seakan jatuh cinta setiap hari, sedang bersamaku dia hanya merasa nyaman. Lalu aku meraung-raung tapi mencoba mengikhlaskan karena memang kami tidak ada hubungan apa-apa—dan aku sedikit menyesal kenapa aku takut pada komitmen, tidak, banyak.***
 Pagi,
Dan aku dicegat saat hendak memasuki tempat kerjaku. Bola mata cokelat itu, yang membuatku susah terpejam, menahanku berpalig. Aku seperti membeku, ini pertama kalinya sejak lima bulan lalu dia menghilang,. Kami bertemu.
“Aulia.” katanya
Hanya mataku yang berbicara.
“Aku mau mengajakmu bicara sebentar,”
“Kamu menyita waktuku,”
“Kantormu bahkan belum buka.” Dia tahu saja, aku memang selalu datang sebelum kantor resmi buka, hanya memastikan hariku akan  baik jika aku mempersiapkan semuanya dengan baik. Tapi dia datang membuatnya berantakan, aku benci segala sesuatu yang tidak dipersiapkan dengan baik, termasuk pertemuan.
 “baik, waktumu tidak banyak.”
“Tidak bisakah kita duduk?”
“Sudah kubilang waktumu tidak banyak.” Aku menyembunyikan kaki-kakiku yang lemas.
“Baiklah, aku minta maaf sebelumnya. Aku minta maaf  karena tiba-tiba meninggalkanmu, juga atas kata-kata dan tindakanku setelah itu yang menyakitimu. Tapi kita memang tidak ada hubungan apa-apa sebelumnya. Aku bersama Naila, perempuan yang awalnya aku fikir bakal membuatku lebih berkembang ketimbang bersamamu, karena dia yang pintar, visioner, penuh pesona, ya aku akui aku serasa jatuh cinta setiap hari dengannya. Tapi itu hanya perasaanku saja, akhirnya aku sadar aku hanya mengaguminya. Aku tidak bisa bertingkah konyol bersamanya atau menjadi diriku sendiri seperti saat aku bersamamu. Aku tidak bisa mengupload foto-foto bodoh, atau mengajaknya jajan di pinggir jalan. Kami memang terlihat seperti pasangan yang saling melengkapi, terlihat hebat.”
“Bukannya kau bilang sendiri, tujuan orang menikah adalah jika dua pribadi disatukan bakal  menjadi satu kesatuan yang lebih baik?”
“Tapi aku sadar, ketenangan dan kenyamanan lebih penting. Kebaikan bakal datang dengan sendirinya.”
Aku masih menyimak, sembari kebingungan menebak apa maksud percakapan ini.
“Aku sadar aku kehilangan perasaanku saat dia menjadi pribadi yang menyebalkan. Aku rindu padamu Ul.”
Laki-laki memang makhluk paling tidak konsisten yang pernah kukenal.

Tuesday, July 8, 2014

(not really) Good Bye

Hal yang paling menyakitkan dari mencintai seseorang adalah ketika orang yang kamu cintai bukan lagi dia yang kamu kenal dulu

Bukan Kenangannya

Terkadang kita harus dengan rela menyadari bahwa kita mencintai kenangan, bukan orangnya. Dunia berputar, waktupun tanggal, seseorang bisa berubah dengan cepat. Apa yang kamu pikir selama ini, belum tentu benar, belum tentu jika kamu dihadapkan dengan dia-mu-lagi kamu bakal tetap mencintai dia dengan segala kesederhanaanmu.

Cintailah ia dengan benar, dengan bijak, dan dengan sabar.
Cintai orangnya, bukan kenanyannya.

:)

Wednesday, July 2, 2014

Saku Jaket

Orang bilang, ada tangan yang kau genggam
di  balik saku jaketmu

bolehkah aku menjadi kepingan?
Setidaknya kau bisa memungutnya
lalu kau simpan, di saku jaketmu

Aku Rindu

Apa isyaratku sudah sampai
memencet bel rumahmu
mengetuk pintumu
membuka jendelamu

tepat satu senti di depan wajahmu?
Lalu berbisik
dari bibir ke bibir
mata ke mata
telinga ke telinga


Ay,

(1)
Kau tahu rasanya pura-pura melupa,
padahal kenangannya selalu tidur di sebelahmu?

(2)
Kau tahu rasanya diam-diam menahan rindu,
padahal peluknya selalu ramai di pikiranmu?

(3)
Kau tahu rasanya ingin membenci,
padahal tanpa diminta selalu kau sebut namanya dalam doamu?

(4)
Kau tahu rasanya membohongi diri sendiri,
padahal cinta selalu jujur dalam hidumu?

(5)
Rasanya...............................................

Lelaki, Gadis, Layang-layang

Ucapkan selamat tidur pada peri-peri kecil di pangkuan bintang
Ucapkan selamat malam pada kunang-kunang di sela rumput ilalang

Ucapkan salam rindu pada lelaki yang tiba-tiba menghilang
Ucapkan mantra sadar pada gadis malang yang cintanya di tarik ulur seperti layang-layang

karena seseorang yang sayang itu tak mesti yang menjanjikanmu macam-macam
dia hanya perlu datang dan memberanikan diri membawamu pergi lalu menjagamu setengah mati.


Sabar

Siang hari di bulan Ramadhan, siang yang ramai, yang sibuk, dan penuh lalu lalang. Entah mengapa meski terik, aku tidak merasa lapar sama sekali, tidak juga merasa panas. Mungkin karena aku berada di Masjid sehingga teduh menyelimuti. Tapi ada perasaan yang sedikit kacau, di hati sini sedang sepi dan kerontang.
"Assalamu'alaikum, cah ayu."
"Wa'alaikumussalam, ibuuuuuuuu." Kucium tangan ustadzahku
"Gimana kabarnya? Baik?"
"Ya begitulah bu," Aku memeluknya, dan air mataku malu-malu untuk keluar.
"Kenapa lagi nduk?"
"Kadang saya berfikir, kenapa Allah tidak kunjung mengabulkan doa."
"Jangan pernah berhenti berdoa, masalahmu pasti ada ujungnya. Itu artinya disuruh sabar sama Allah. Kamu ingat? Cara Allah mengabulkan doa itu ada tiga. Yang pertama dikabulkan langsung saat itu juga, yang kedua di kabulkan nanti semasa hidup, yang ketiga dikabulkan di akhirat."
Aku hanya diam.
"Barangkali kalau doamu dikabulkan langsung, kamu bakal takabbur. Sabar saja, percaya sama kekuatan sabar dan tawakkal. Insya Allah semuanya lapang."