Siang hari di bulan Ramadhan, siang yang ramai, yang sibuk, dan penuh lalu lalang. Entah mengapa meski terik, aku tidak merasa lapar sama sekali, tidak juga merasa panas. Mungkin karena aku berada di Masjid sehingga teduh menyelimuti. Tapi ada perasaan yang sedikit kacau, di hati sini sedang sepi dan kerontang.
"Assalamu'alaikum, cah ayu."
"Wa'alaikumussalam, ibuuuuuuuu." Kucium tangan ustadzahku
"Gimana kabarnya? Baik?"
"Ya begitulah bu," Aku memeluknya, dan air mataku malu-malu untuk keluar.
"Kenapa lagi nduk?"
"Kadang saya berfikir, kenapa Allah tidak kunjung mengabulkan doa."
"Jangan pernah berhenti berdoa, masalahmu pasti ada ujungnya. Itu artinya disuruh sabar sama Allah. Kamu ingat? Cara Allah mengabulkan doa itu ada tiga. Yang pertama dikabulkan langsung saat itu juga, yang kedua di kabulkan nanti semasa hidup, yang ketiga dikabulkan di akhirat."
Aku hanya diam.
"Barangkali kalau doamu dikabulkan langsung, kamu bakal takabbur. Sabar saja, percaya sama kekuatan sabar dan tawakkal. Insya Allah semuanya lapang."
Dan siang ini kupeluk beliau lagi, dan lagi. Bu Lilis, terima kasih telah menjadi perantara Allah menyampaikan pesanNya untuk kesekian kalinya. Lalu aku sadar, obat sepi dan kerontangku hanyalah sabar.
Bismillah, innallaha ma'ana kan? Allah selalu bersama kita :)
No comments:
Post a Comment