Ada yang selalu menemaniku, dengan kopi panas beserta asap yang masih suka hinggap sedikit-sedikit di ujung hidungnya. Lalu dengan kepayahan, dia memegang ujung-ujung cangkir sembari meniupinya. Sesekali dia sodorkan cangkirnya itu, menawariku meski aku takkan pernah mau menyeruputnya. Aku tak suka kopi, aku hanya suka membuatkan kopi.
Ada yang selalu menemani benakku, ialah wujud asa yang taksampai—-pecinta kopi yang lain. Dulu aku sering membuatkannya, lalu menemaninya membunuh waktu dengan duduk manis dan bertukar cerita. Tapi itu dulu, kini telah ia temukan pembuat kopi yang lain. Konon kopinya lebih nikmat dari milikku, ditambah lagi dia juga pecinta kopi, jadi bukankah lebih baik baginya menyeruput kopi bersama dengan penggemar kopi lainnya?
Pada awalnya, aku tetap bersikukuh menawarkan kopi buatanku. Membuatkannya, meski hanya berakhir menjadi secangkir kopi dingin, sesekali terpaksa menyeruput sambil kepahitan,
“Ini aku bodoh atau setia?”.Kemudian, aku bertemu dengan dia yang selalu menemaniku itu. Menerimaku dengan ketidaksukaanku pada kopi, bahkan tetap duduk di sebelahku saat cangkir buatanku masih tertuju pada orang lain. Dia bilang sudah cukup bersyukur saat aku membiarkannya duduk disitu, disebelahku.
Pada akhirnya perempuan mana yang tidak takluk pada kesungguhan lelakinya? Meski hingga sekarang (jujur) aku masih lebih suka membuatkan kopi untuk orang lain. Tapi pilihan ini sudah terlanjur jatuh pada dia yang selalu berkata padaku,
“Kopimu enak, tapi sebenarnya aku lebih menyukai kehadiranmu, meski tanpa kopi.”Ya, kata ibu, lebih baik bersama dia yang mencintaimu. Karena bagi seorang perempuan belajar mencintai lebih mudah ketimbang berusaha dicintai.
"Aku bakal menemanimu meski tanpa ataupun dengan kopi."
No comments:
Post a Comment