Friday, July 11, 2014

Perkara Cinta dan...



Sebelas tahun silam, saat duduk di bangku sekolah dasar, aku selalu bertanya kepada diriku sendiri “Mengapa orang dewasa selalu membelit-belitkan masalah mereka? Apa memang cinta menjadi sebuah perkara yang sebegitunya?” dan itu adalah detik-detik dimana kedua orang tuaku bercerai. Kini aku tahu persis, mengapa masalah mereka selalu menjadi serumit itu, mengapacinta menjadi perkara serumit itu, mengapa...mengapa...***
Malam menjadi pukulan keras seperti kulit bedug yang dipukuli magrib tadi. Dug, dug, dug. Lalu berubah menjadi malam sunyi dengan suara detak jam dinding yang terdengar nyaring di telinga. Tik tok tik tok. Aku memejam, ditengah mata yang tidak ingin terpejam. Memaksa tidur saat jiwa ini tidak mau tertidur. Sudah kubilang ini malam yang keras dan sepi.
Isakku terdengar seperti teriakan dan aku sanggup memeluk diriku sendiri malam ini. Menggugu sejadi-jadinya dan entah tak bisa kujelaskan secara rinci apa yang aku rasakan, ini sebelas dua belas dengan patah hati. Sebenarnya, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mengoyak hatiku yang sedang dalam masa penyembuhan, bahkan beberapa bulan terakhir ini aku tidak lagi berusaha memikirkannya. Tapi, malam menjadi begitu agresif menggerakkanku untuk mencari serpihan masa lalu. Maafkan malam, aku berkali menyalahkanmu. Ah sudah, sudah akui saja kau salah tetap membuatku terjaga seperti tadi.
Karena kepo setitik, rusak move on sebelanga. Social media bilang, beberapa hari lagi laki-laki yang dulunya selalu bermimpi melingkarkan cincin di jari manisku kini sudah bersiap melingkarkannya di jemari perempuan lain. Mereka akan menyebar undangannya. Dan rasanya, setiap menit kepalaku diajak berputar-putar mengelilingi kenangan. Mengingat kembali senyumnya, hari-hari yang penuh dengan tatapannya, dan jangan salahkan aku bila kini aku kerepotan mengkompres kedua bola mataku. Bengkaknya tidak kunjung mengempis.
Dulu saat dia tiba-tiba menghilang—kita memang tidak ada hubungan apa-apa, entahlah mungkin sedikit berkomitmen, aku perempuan yang takut pada komitmen—dia bilang ada seseorang yang membuatnya seakan jatuh cinta setiap hari, sedang bersamaku dia hanya merasa nyaman. Lalu aku meraung-raung tapi mencoba mengikhlaskan karena memang kami tidak ada hubungan apa-apa—dan aku sedikit menyesal kenapa aku takut pada komitmen, tidak, banyak.***
 Pagi,
Dan aku dicegat saat hendak memasuki tempat kerjaku. Bola mata cokelat itu, yang membuatku susah terpejam, menahanku berpalig. Aku seperti membeku, ini pertama kalinya sejak lima bulan lalu dia menghilang,. Kami bertemu.
“Aulia.” katanya
Hanya mataku yang berbicara.
“Aku mau mengajakmu bicara sebentar,”
“Kamu menyita waktuku,”
“Kantormu bahkan belum buka.” Dia tahu saja, aku memang selalu datang sebelum kantor resmi buka, hanya memastikan hariku akan  baik jika aku mempersiapkan semuanya dengan baik. Tapi dia datang membuatnya berantakan, aku benci segala sesuatu yang tidak dipersiapkan dengan baik, termasuk pertemuan.
 “baik, waktumu tidak banyak.”
“Tidak bisakah kita duduk?”
“Sudah kubilang waktumu tidak banyak.” Aku menyembunyikan kaki-kakiku yang lemas.
“Baiklah, aku minta maaf sebelumnya. Aku minta maaf  karena tiba-tiba meninggalkanmu, juga atas kata-kata dan tindakanku setelah itu yang menyakitimu. Tapi kita memang tidak ada hubungan apa-apa sebelumnya. Aku bersama Naila, perempuan yang awalnya aku fikir bakal membuatku lebih berkembang ketimbang bersamamu, karena dia yang pintar, visioner, penuh pesona, ya aku akui aku serasa jatuh cinta setiap hari dengannya. Tapi itu hanya perasaanku saja, akhirnya aku sadar aku hanya mengaguminya. Aku tidak bisa bertingkah konyol bersamanya atau menjadi diriku sendiri seperti saat aku bersamamu. Aku tidak bisa mengupload foto-foto bodoh, atau mengajaknya jajan di pinggir jalan. Kami memang terlihat seperti pasangan yang saling melengkapi, terlihat hebat.”
“Bukannya kau bilang sendiri, tujuan orang menikah adalah jika dua pribadi disatukan bakal  menjadi satu kesatuan yang lebih baik?”
“Tapi aku sadar, ketenangan dan kenyamanan lebih penting. Kebaikan bakal datang dengan sendirinya.”
Aku masih menyimak, sembari kebingungan menebak apa maksud percakapan ini.
“Aku sadar aku kehilangan perasaanku saat dia menjadi pribadi yang menyebalkan. Aku rindu padamu Ul.”
Laki-laki memang makhluk paling tidak konsisten yang pernah kukenal.

“Lalu?”
“. Apakah kamu sudah tidak memiliki perasaan sama sekali terhadapku? Jika kamu masih menyimpannya, aku ingin kembali padamu. Membenahi hubungan kita lagi..”
Sejenak hening, aku mengatur nafasku.
“Sayangnya kamu sudah menghilangkan perasaanku lima bulan lalu, beserta kepercayaan, dan mimpi-mimpiku.”
Dia tampak tidak percaya.
“Aku minta maaf.” Katanya kemudian.
“Aku sudah memaafkanmu.”
“Sekarang pergilah. Jadilah laki-laki baik yang pernah kukenal dengan memperjuangkan apa yang sudah kaupi lih. Aku sudah tidak mencintaimu, dan waktumu sudah habis. Aku harus pergi ke kantor.”
Kutinggalkan dia berdiri disitu, entah bagaimana setelah itu. Aku tidak ingin menoleh ke belakang. ***
Itu kebohongan besar yang pernah kulakukan, sesak seperti sahabat yang pertama kali memelukku. Aku susah bernafas, menangisi kemalanganku. Aku masih mencintainya, sangat. Dan aku melewatkan kesempatan terakhirku bersamanya. Tapi cinta, bukan hanya soal dua orang yang saling menyimpan perasaan. Cinta juga soal harga diri.

Memang terkadang, cinta menjadi perkara yang pada akhirnya hanya bisa diikhlaskan.

Ditulis dengan penuh kesederhanaan, Aji Nur Afifatul Hasna

No comments:

Post a Comment