Friday, October 31, 2014


Dekat

Hari ini saya belajar banyak, dari cerita teman-teman dan mungkin saya sendiri. Ketika kita mengusahakan seseorang atau sesuatu yang baik menurut kita, lalu Allah menjauhkannya, ada tiga kemungkinan; kita tak cukup baik, ternyata dia tak sebaik itu, atau ini hanya masalah sabar dan waktu—pada akhirnya kita akan didekatkan kembali.

Apapun itu, semoga kita selalu khusnudzan kepada Allah. Bahwa ada banyak caraNya menyayangi makhluk. Ada rencana besar dibalik semua ketetapan Allah. Mari kita jalani sebaik yang kita bisa, innallaha ma’ana :)

Mabuk

Aku pernah menyukai seorang laki-laki yang rupawan. Sikapnya baik, tentu saja, kalau dia tak baik aku tidak mungkin suka. Dan aku dibuat mabuk karenanya, setiap malam kuteguk beragam cara mendapat perhatiannya lalu dengan langkah yang melenggok-lenggok tak lurus aku tertawa sendiri; dia sudah sedikit meresponku. Kupikir dia juga menyukaiku, hanya saja dia malu-malu.
Sudah kukatakan, laki-laki yang baik ini tipeku, ketika dia takbanyak merayu justru aku sudah jatuh dalam rayuannya. Dengan diamnya hatiku malah ramai menyebutnya, dengan sikap dinginnya aku merasa hangat.

Tapi kian hari aku kian sadar, mabuk juga tidak baik bagi kesehatan. Kepalaku suka pusing memikirkan ujung perkara ini. Jantungku sering taktentu detaknya, terkadang mendadak cepat karena cemburu taktentu, alaaaah apalah ini sok memiliki. Belum lagi kakiku suka lemas akibat takkutemui cara lagi mendekatinya.

Kuputuskan aku pergi pada panti rehabilitasi. Dan aku sembuh sejak teman satu rehabku yang agak sakit jiwanya, akibat terlalu banyak lari dari cinta, menceritakan kisahnya padaku. Sebut saja namanya Mawar.

"Kau tahu Dandelion, kenapa aku pergi kesini? Aku ingin sembunyi."
“Dari siapa?” Tanyaku
“Dari Kumbang yang mengejarku, suah kupasang duri, sudah ku runcingkan daunku, tapi tetap saja dia mengikuti kemanapun aku pergi—kecuali kemari.”
“Kenapa dengan Kumbang itu? Kenapa dia begitu menyukaimu?”
“Aku tidak tahu. Padahal sudah kujauhi sebisaku, kutolak berkali-kali dengan halus. Dia hanya tersenyum dan bercerita pada Melati, sahabatku. Katanya begini : Kau tahu Mel, ternyata menaklukkan mawar itu tidak mudah. Semakin kuyakin dia layak kuperjuangkan.”
Lalu aku, Dandelion kecil semakin rapuh ditiup angin. Aku hanya sanggup memeluk diriku sendiri meski semua terlanjur berantakan, betapa mudahnya aku didapat.
Seketika aku memutuskan berhenti mabuk-mabukan.
***

Nasib

Kemarin malam, saya menangis sejadi-jadinya, menangisi hal-hal yang terjadi di kehidupan saya akhir-akhir ini. Saya merasa berantakan; kuliah saya, kegiatan sosial saya, mimpi-mimpi saya, organisasi, ah entahlah apa yang terjadi. Lalu tepat kemarin bertubi-tubi cobaan datang menerpa saya mulai dari masalah keluarga hingga ponsel saya yang baru saya beli tiga bulan silam pecah berkeping-keping layarnya dan harga ganti layar adalah separuh lebih dari harga ponsel itu…..tabungan saya habis.

Tidak berhenti sampai situ. Sewaktu pulang dari kampus ke rumah, saya ditabrak dari belakang, brakk, untungnya saya berhasil menjaga keseimbangan motor saya, hanya kaki kiri yang terbentur bagian depan motor cukup keras. Awalnya saya merasa baik-baik saja, tetapi sesampainya di rumah saya tidak tega bilang ke ibu saya dan selepas saya bercerita, saya masuk kamar.
Saya curhat sama Allah dan menangis sejadi-jadinya. Ya Tuhan, saya kok sial sekali, nasib saya kok begini… lalu dengan kalapnya saya mendikte Tuhan. Ya Tuhan, saya sudah melakukan ini, ini, ini,ini, tapi kenapa kok malah hal seperti ini yang saya dapatkan? Kenapa waktu hamba salah sedikit saja Engkau langsung menghukum hamba seperti ini? Lalu kembali, saya menangis, lagi.
Maha Benar Allah atas segala firmanNya….
Saya menangis lagi, bukan karena protes pada Allah kali ini, bukan. Tapi saking terharunya. Allah menjawab hal-hal yang berkelebat di kepala saya dengan cepat,
"Nasibmu ada pada Allah, (bukan kami yang menjadi sebab) tetapi kamu adalah kaum yang sedang diuji." QS An Naml 47.
adalah jawaban Nabi Saleh saat kaum Samud menyalahkannya soal nasib buruk yang menimpa mereka.

Sekejap Mata

Kami sudah terbiasa duduk berdampingan dalam kelas ini, di bangku barisan depan di pojok kanan persis di seberang meja dosen. Laki-laki di sebelahku ini memang sengaja duduk disitu, beda denganku yang didudukkan oleh keadaan; aku selalu terlambat datang dan hanya bangku itu yang tersisa.
Aku belum tahu namanya siapa, saat dosenku mengabsen nama—aku masih di luar kelas hingga pada suatu saat aku berinisiatif untuk datang lebih awal, hanya untuk sekedar tahu siapa namanya. Rifaldy Pratama, begitu dosenku memanggilnya. Jadi itu namanya…nama orang yang selalu kuhujani pertanyaan yang sama,
"Mas, sudah mulai sejak lama ya kelasnya?"
Jika kau membayangkan Rifaldy adalah laki-laki dengan penampilan rapi dan konvensional, maka kau salah besar. Aku jatuh cinta pada selera berpakaiannya, casual yang tidak membosankan, tapi favoritku masih tetap—Polo warna tosca yang dikenakannya tempo hari dengan buku catatan yang ia biarkan terbuka. Di dalamnya tertulis mind map versinya sendiri dan tangan kanannya memegang bolpoin yang biasa dia ketukkan di meja.
Percakapan kami hanya sekejap mata, hanya sebatas mengomentari teman-teman yang sedang presentasi di depan, atau melempar celetukan soal statement audiens yang berusaha membantai penyaji. Dia partner yang cukup seru,
"Forecasting itu beda dengan anggaran." ujarnya tidak setuju saat audiens menyanggah
"Intinya anggaran itu harus direalisasikan, kan? Forecasting hanya sebatas peramalan, prediksi." aku menimpali.
"Iya, anggaran terikat tanggung jawab." Katanya, aku mengangguk tanda setuju. Kami biasanya sepakat, atau jika tidak aku memintanya berbisik-bisik menjelaskan. Selalu begitu.
"Kamu tidak bertanya?" Aku menjawab dengan gelengan kepala.
"Ini aku ada pertanyaan lagi , kalau-kalau kamu mau menambah poin keaktifan." lalu dia tertawa kecil, menahan agar suaranya tidak keluar.
Percakapan kami seringkali berakhir tiba-tiba, saat dosen sudah mengakhiri kelas ini, saat itu juga tanpa persetujuanku momen kami berakhir, selalu begitu setiap minggu. Hanya 3 SKS waktu kami berinteraksi. Dari enam kali tatap muka di kelas, aku menemukan sebuah fakta bahwa ternyata dia mahasiswa ekstensi, sebelumnya dia sudah kuliah D3 STAN dan meneruskan S1 disini. Pantas saja kedewasaan berpikirnya jauh di atas rata-rata mahasiswa semester lima.
Dan sudah tiga minggu ini aku kehilangan partnerku. Tidak ada yang kuajak mengomentari ekspresi penyaji saat audiens mendebat pernyataan. Tidak ada juga yang selalu menyisakan bahan pertanyaan untukku hingga aku harus lebih keras lagi berpikir. Tidak ada juga yang suka mengetuk-ketukkan bolpoinnya di atas meja dan berhenti saat aku bilang,
"Mas, suara ketukanmu…."