Aku belum tahu namanya siapa, saat dosenku mengabsen nama—aku masih di luar kelas hingga pada suatu saat aku berinisiatif untuk datang lebih awal, hanya untuk sekedar tahu siapa namanya. Rifaldy Pratama, begitu dosenku memanggilnya. Jadi itu namanya…nama orang yang selalu kuhujani pertanyaan yang sama,
"Mas, sudah mulai sejak lama ya kelasnya?"Jika kau membayangkan Rifaldy adalah laki-laki dengan penampilan rapi dan konvensional, maka kau salah besar. Aku jatuh cinta pada selera berpakaiannya, casual yang tidak membosankan, tapi favoritku masih tetap—Polo warna tosca yang dikenakannya tempo hari dengan buku catatan yang ia biarkan terbuka. Di dalamnya tertulis mind map versinya sendiri dan tangan kanannya memegang bolpoin yang biasa dia ketukkan di meja.
Percakapan kami hanya sekejap mata, hanya sebatas mengomentari teman-teman yang sedang presentasi di depan, atau melempar celetukan soal statement audiens yang berusaha membantai penyaji. Dia partner yang cukup seru,
"Forecasting itu beda dengan anggaran." ujarnya tidak setuju saat audiens menyanggahPercakapan kami seringkali berakhir tiba-tiba, saat dosen sudah mengakhiri kelas ini, saat itu juga tanpa persetujuanku momen kami berakhir, selalu begitu setiap minggu. Hanya 3 SKS waktu kami berinteraksi. Dari enam kali tatap muka di kelas, aku menemukan sebuah fakta bahwa ternyata dia mahasiswa ekstensi, sebelumnya dia sudah kuliah D3 STAN dan meneruskan S1 disini. Pantas saja kedewasaan berpikirnya jauh di atas rata-rata mahasiswa semester lima.
"Intinya anggaran itu harus direalisasikan, kan? Forecasting hanya sebatas peramalan, prediksi." aku menimpali.
"Iya, anggaran terikat tanggung jawab." Katanya, aku mengangguk tanda setuju. Kami biasanya sepakat, atau jika tidak aku memintanya berbisik-bisik menjelaskan. Selalu begitu.
"Kamu tidak bertanya?" Aku menjawab dengan gelengan kepala.
"Ini aku ada pertanyaan lagi , kalau-kalau kamu mau menambah poin keaktifan." lalu dia tertawa kecil, menahan agar suaranya tidak keluar.
Dan sudah tiga minggu ini aku kehilangan partnerku. Tidak ada yang kuajak mengomentari ekspresi penyaji saat audiens mendebat pernyataan. Tidak ada juga yang selalu menyisakan bahan pertanyaan untukku hingga aku harus lebih keras lagi berpikir. Tidak ada juga yang suka mengetuk-ketukkan bolpoinnya di atas meja dan berhenti saat aku bilang,
"Mas, suara ketukanmu…."Tidak ada juga yang dengan menyebalkannya menyindir keterlambatanku. Kemana dia sebenarnya?
Dan ini adalah minggu kelima, aku dengan tergesa membuka pintu kelas. Terlambatku tidak main-main, empat puluh menit! Sambil terburu-buru kuperhatikan slide presentasi.
"Mas, presentasinya sudah mulai lama?"Dia datang. Hari ini dia datang!
"Saya juga baru saja datang."
"Kalau aku menanyakan jenis penganggaran sektor privat kenapa tidak ada yang berbasis kinerja seperti sekotor publik, apa aku terlihat bodoh?" aku mencoba menyambung percakapan, mengobati kehilangan yang tidak ingin kunamai rindu tapi aku menanti hadirnya setiap aku membuka pintu.Rifaldy mengajukan tiga pertanyaan sekaligus dalam forum ini, dan semuanya berbobot. Aku merasa semakin bodoh jika membandingkan isi pertanyaanku dengannya. Kelompok penyaji kelimpungan, waktu berdiskusi agak sedikit lama.
"Enggak kok, paling dia juga tidak tahu."
"Ah, kan dia juga anak STAN seperti mas, masa iya tidak tahu.” Ujarku
Jeda ini selalu berarti bagiku, jeda saat penyaji meminta waktu untuk berdiskusi sebelum menjawab pertanyaan. Itu artinya, percakapan kami dapat dengan bebas beradu.
"Mas, kemana saja kok baru muncul lagi?" tanyaku memberanikan diri meskipun tanganku mendadak dingin semua. Ujung-ujungnya seperti es…Semuanya tertawa, sampingku, dosenku, baris belakangku, kecuali aku….yang tiba-tiba sadar bahwa smua ini hanya sekejap mata.
"Iya, aku ke—-" Jawabannya disela oleh penyaji, yang juga mahasiswa STAN.
"Ya, kami akan menjawab pertanyaan dari teman-teman semua. Untuk penanya pertama, kepada Mas Rifaldy yang baru saja menikah ini…." seluruh kelas tertawa, sontak tiba-tiba berselebrasi cieeeeee…
Semuanya tertawa, dan aku tidak kuat untuk tidak izin ke kamar kecil. Hal pertama yang perempuan bisa lakukan saat hatinya dibuat berantakan dalam sekejap mata : menangis.
Karena tidak semua cinta dalam diam berakhir menyenangkan.
Aji Nur Afifatul Hasna
pik. makasih lho yaa hahahhaa, aku baru baca ini, tapi lebay iyuh
ReplyDelete