Sudah kukatakan, laki-laki yang baik ini tipeku, ketika dia takbanyak merayu justru aku sudah jatuh dalam rayuannya. Dengan diamnya hatiku malah ramai menyebutnya, dengan sikap dinginnya aku merasa hangat.
Tapi kian hari aku kian sadar, mabuk juga tidak baik bagi kesehatan. Kepalaku suka pusing memikirkan ujung perkara ini. Jantungku sering taktentu detaknya, terkadang mendadak cepat karena cemburu taktentu, alaaaah apalah ini sok memiliki. Belum lagi kakiku suka lemas akibat takkutemui cara lagi mendekatinya.
Kuputuskan aku pergi pada panti rehabilitasi. Dan aku sembuh sejak teman satu rehabku yang agak sakit jiwanya, akibat terlalu banyak lari dari cinta, menceritakan kisahnya padaku. Sebut saja namanya Mawar.
"Kau tahu Dandelion, kenapa aku pergi kesini? Aku ingin sembunyi."Lalu aku, Dandelion kecil semakin rapuh ditiup angin. Aku hanya sanggup memeluk diriku sendiri meski semua terlanjur berantakan, betapa mudahnya aku didapat.
“Dari siapa?” Tanyaku
“Dari Kumbang yang mengejarku, suah kupasang duri, sudah ku runcingkan daunku, tapi tetap saja dia mengikuti kemanapun aku pergi—kecuali kemari.”
“Kenapa dengan Kumbang itu? Kenapa dia begitu menyukaimu?”
“Aku tidak tahu. Padahal sudah kujauhi sebisaku, kutolak berkali-kali dengan halus. Dia hanya tersenyum dan bercerita pada Melati, sahabatku. Katanya begini : Kau tahu Mel, ternyata menaklukkan mawar itu tidak mudah. Semakin kuyakin dia layak kuperjuangkan.”
Seketika aku memutuskan berhenti mabuk-mabukan.
***
Yang lalu, biarlah berlalu Dandelion. Mari kita buka lembaran baru.
"If she’s easy, she won’t be amazing. If she’s worth it, you wont give up. If you give up, you’re not worthy." Bob Marley
No comments:
Post a Comment