Seperti yang kamu tahu, aku ini buku yang selalu terbuka. Jujur dari
kata perkata. Meski kadang kau enggan membacanya, aku tetaplah aku. Si
buku yang selalu terbuka.
Mudah untuk menebakku, tidak sulit menyimpulkan rasa
kehilanganku--atau bagaimana usahaku membuat semuanya seperti dulu lagi.
Alurku, kau tentu tahu : akhirnya Sang Pangeran datang kembali– mereka
berdua hidup bahagia, selamanya.
Tapi kamu tetap mengunci pintu. Tak mau keluar, pun menengok buku yang terbuka di atas meja beranda rumahmu.
Saat ini akhirnya datang, dimana aku memutuskan untuk menutup
semuanya. Maka berakhirlah. Kau tidak lagi berhak menyentuhnya,
melihatpun tidak. Karena kau tahu? Aku sudah cukup lama bertahan menjadi
kata-kata yang takpernah kaumengerti maknanya.
Kututup. Cerita. Kita.
Eh. Ceritaku. Maksudnya.
Tentang seorang pejuang, yang tak tahu diri. Tak tahu tentang dirinya
sendiri. Siapa musuhnya? Apa yang dia perjuangkan? Siapa yang dia bela
dengan kesungguhan?
Kini tamatlah.
Sudah.
Saturday, June 20, 2015
Wednesday, May 20, 2015
Diam Saja
Kita adalah sepasang misteri. Dua buah tanda tanya yang saling melempar mengapa, tapi tak memiliki karena untuk dibagi.
Kita adalah sepasang prasangka. Yang menduga-duga apa yang terjadi sebenarnya, tanpa mau saling terbuka.
Kita adalah sepasang rambu. Namun entahlah…. kapan merah, kuning, dan hijau itu akan mulai berlaku.
Kita adalah kita. Yang berdua tenggelam dalam pertanyaan, perkiraan, dan sinyal-sinyal yang sengaja kita buat tanpa berani mengambil peran untuk menjawab, menjelaskan, dan menegaskan.
Karena kita terlalu takut, bahwa masing-masing dari kita akan kehilangan satu sama lain sepenuhnya, ketika mulai membuka mulut.
Kita adalah sepasang prasangka. Yang menduga-duga apa yang terjadi sebenarnya, tanpa mau saling terbuka.
Kita adalah sepasang rambu. Namun entahlah…. kapan merah, kuning, dan hijau itu akan mulai berlaku.
Kita adalah kita. Yang berdua tenggelam dalam pertanyaan, perkiraan, dan sinyal-sinyal yang sengaja kita buat tanpa berani mengambil peran untuk menjawab, menjelaskan, dan menegaskan.
Karena kita terlalu takut, bahwa masing-masing dari kita akan kehilangan satu sama lain sepenuhnya, ketika mulai membuka mulut.
Sunday, January 11, 2015
Untuk Penikmat Langit Malam
Aku tidak tahu lagi bagaimana cara menghubungimu. Menanyakan kekhawatiranku. Dan aku dibuat kelelahan sama halnya sepertimu. Setiap yang bergerak pasti akan lelah, bukan? Tenang, setelah ini kamu dapat duduk selonjor tanpa kuminta ini-itu. Kamu dapat tidur pulas tanpa harus kubangunkan karena aku ingin ini dan itu.
Sejak tadi, sejak kemarin, sejak kita saling mengait tapi tak terkait, sejak itu aku selalu merasa harus di dekatmu. Aku tidak pernah menghitung pertemuan, karena bukan itu barometer yang tepat mengukur keterkaitan. Yang selalu kuhitung adalah momen, saat aku mendoakanmu, saat aku mengusahakanmu, dan saat kamu hadir malu-malu dalam kisahku--ada atau tidak ada fisikmu.
Namun sejauh ini aku salah, aku terlalu egois meminta kita saling berkaitan. Padahal mungkin kamu sedang ingin berlarian di lapangan luas atau mendaki gunung demi gunung bahkan kamu ingin mengarungi setidaknya satu samudera yang ada dalam semesta. Aku minta maaf. Atas segala egoisme yang ada. Atas segala sesuatu yang mengekangmu. Atas kesalahan yang selalu bisa kau jatuhkan padaku. Menuntutmu ini dan itu.
Aku akan pergi, sama seperti kamu yang membebaskan diri. Aku tidak akan menjadikanmu anak kecil yang kemana-mana selalu harus dalam pengawasan. Aku akan pergi. Membawa kaitanku jauh-jauh dari situ. Dari sisimu.
Temukanlah dia yang bisa dengan baik memahamimu, yang berbeda jauh dariku--dariku, yang mungkin mencintaimu lebih dari dia yang kau temukan kelak. Cinta tidak akan salah terjatuh, tapi setiap orang bisa keliru menangkapnya.
Semoga kita bisa bertemu lagi. Entah saat kait-kait ini tepat, atau hanya saling bersinggungan di persimpangan jalan.
Sejak tadi, sejak kemarin, sejak kita saling mengait tapi tak terkait, sejak itu aku selalu merasa harus di dekatmu. Aku tidak pernah menghitung pertemuan, karena bukan itu barometer yang tepat mengukur keterkaitan. Yang selalu kuhitung adalah momen, saat aku mendoakanmu, saat aku mengusahakanmu, dan saat kamu hadir malu-malu dalam kisahku--ada atau tidak ada fisikmu.
Namun sejauh ini aku salah, aku terlalu egois meminta kita saling berkaitan. Padahal mungkin kamu sedang ingin berlarian di lapangan luas atau mendaki gunung demi gunung bahkan kamu ingin mengarungi setidaknya satu samudera yang ada dalam semesta. Aku minta maaf. Atas segala egoisme yang ada. Atas segala sesuatu yang mengekangmu. Atas kesalahan yang selalu bisa kau jatuhkan padaku. Menuntutmu ini dan itu.
Aku akan pergi, sama seperti kamu yang membebaskan diri. Aku tidak akan menjadikanmu anak kecil yang kemana-mana selalu harus dalam pengawasan. Aku akan pergi. Membawa kaitanku jauh-jauh dari situ. Dari sisimu.
Temukanlah dia yang bisa dengan baik memahamimu, yang berbeda jauh dariku--dariku, yang mungkin mencintaimu lebih dari dia yang kau temukan kelak. Cinta tidak akan salah terjatuh, tapi setiap orang bisa keliru menangkapnya.
Semoga kita bisa bertemu lagi. Entah saat kait-kait ini tepat, atau hanya saling bersinggungan di persimpangan jalan.
Sunday, January 4, 2015
Telaga Air Mata
Di sebuah
hutan, dibalik pinus-pinus dan bukit semak, ada sebuah telaga jernih. Telaga
itu berwarna hijau muda, dikelilingi bunga-bunga putih dan rerumputan hijau
yang segar. Tak jarang ada kuda liar dengan anggunnya bermain di tepian. Konon
meneguk airnya dapat membuat siapapun memiliki harapan-harapan baru.
Penduduk di
sekitar percaya, bahwa telaga itu dahulu menyimpan satu cerita, sesuai namanya
Telaga Air Mata. Entah kapan kisah itu mulai dipercaya penduduk desa. Tapi
setiap senja di hari kesebelas setiap bulannya telaga ini seperti menangis.
Serangga-serangga bernyanyi dengan bahasa mereka. Pepohonan dan semak
bergesekan. Kunang-kunang selalu terbang menyebrangi telaga dari ujung ke ujung
kemudian menghilang. Begitu seterusnya hingga tengah malam dan hari berganti.
Telaga itu menangis.
Tangisan
seorang puteri.
Akan ada nyanyian dan tarian persembahan dari masing-masing pemukiman. Biasanya pemukiman pangan membawa gabah-gabah dan beberapa kantung beras lalu mereka memainkan musik lesung. Beberapa diantaranya membagi buah-buah segar yang sengaja disisihkan. Pemukiman seniman—tentu saja, mereka melatih yang lain untuk menari bersama. Pemukiman tambang, papan, dan kehutanan, mereka duduk diam menikmati, melepas lelah setelah sekian hari bekerja keras. Pemukiman sandang sukarela mendekor dan menjahit kostum-kostum. Di akhir acara, ketujuh puteri kerajaan termasuk Puteri Bulan akan memainkan musik khas kerajaan.
Satu saat, ada tamu kerajaan dari negeri seberang yang mampir di Negeri Singgah, kerajaan asal Puteri Bulan, tepat di hari kesebelas. Puteri Bulan sempat meminta ayahanda untuk memulangkan tamu kerajaan lebih awal karena kereta kuda mereka memakan tempat untuk menari. Tapi ayahanda raja menolak karena raja negeri seberang harus tinggal hingga esok hari. Jalan tengahnya, tamu negeri seberang akan ikut dalam perayaan dan kereta kuda mereka dijadikan tempat sementara untuk meletakkan buah-buah hasil panen pemukiman pangan. Tempat yang awalnya digunakan untuk meletakkan buah-buah itu, yang digunakan untuk menari.
Acara tetap berlangsung seperti biasa. Yang berbeda adalah saat penampilan dari tamu negeri seberang. Ada seorang pangeran menawarkan diri dengan sopan memainkan musik untuk penduduk kerajaan. Seseorang dengan penampilan sederhana tetapi tetap menawan. Mengenakan pakaian kebangsaan negeri seberang yang memerlihatkan kegagahannya.
Siapa yang sanggup menolak? Seluruh rakyat mengiyakan, pun Puteri Bulan. Pangeran negeri seberang memainkan sebuah alat musik yang tidak pernah dilihat penduduk Negeri Singgah. Guitre. Begitu nama alat itu kata pangeran. Puteri Bulan jatuh cinta pada permainan alat itu dan meminta pangeran untuk memainkannya sekali lagi. Seluruh rakyat bersorak menyetujui. Lalu dari ujung alun-alun seseorang menyeru, “Puteri Bulan, mainkanlah musikmu bersama pangeran!”. Ide bagus itu diamini sekian ratus penduduk. Semua bersorak Puteri Bulan harus memainkannya bersama pangeran.
Mereka berdua bermain. Membuat harmoni yang tidak pernah didengar sebelumnya. Sungguh indah. Semua tertegun, dan terenyuh. Yang tadinya bicara sendiri, menghentikan bicaranya. Yang sedari tadi hanya diam dan melamun mulai menemukan fokus baru. Sebuah lantunan musik yang luar biasa. Seakan gubuk-gubuk warga ikut menari, tumpukan buah dan makanan turut bersenandung. Seisi kerajaan menikmati musik itu. Semua bergembira hari ini. Termasuk ibunda ratu yang sakit belakangan. Pangeran juga menutup malam itu dengan nyanyian untuk kesembuhan ibunda ratu. Puteri Bulan menangis haru. Kakinya lemas. Ada gemuruh di dadanya. Ia tidak pernah begini sebelumnya. Dan gemuruh itu semakin hebat saat pangeran menarik ujung bibirnya, tersenyum tulus di sela-sela waktu, untuk Puteri Bulan. Penyakit apa ini?
Esoknya, Puteri Bulan mengunjungi tabib kerajaan dan menceritakan penyakitnya. Tabib kerajaan tertawa keras sekali, saat Puteri Bulan mengutarakan keluhannya.
“Duh Gusti, yang mulia Puteri Bulan! Sebelum pangeran pulang hendaknya yang mulia Puteri bertemu dengannya walau hanya sesaat. Itu akan mengobati penyakit tuan puteri.” Kemudian tabib istana melanjutkan tawanya. Puteri Bulan yang tidak tahu penyakit itu namanya jatuh cinta, kebingungan dan berencana mengikuti saja apa kata tabib. Pasrah. Karena dia juga lelah, sudah tidak bisa tidur dua malam.
Kerajaan tamu dari negeri seberang harus pergi setelah menetap selama empat hari di kerajaan. Namun Puteri Bulan hingga hari ini belum bertemu dengan Pangeran Guitre itu. Puteri Bulan menyerah mencari Pangeran dan memutuskan untuk melangkah menuju hutan kerajaan, memandikan kuda dan melepaskannya sebentar untuk bermain-main. Berharap menyibukkan diri dapat menghilangkan keinginannya bertemu.
Sampailah Puteri di suatu padang luas belakang istana. Puteri Bulan membiarkan kudanya makan.
"Puteri Bulan?" Puteri Bulan yang tidak
tahu ada yang mengikuti, sontak balik badan dan mengambil pisau kecil dari
balik saku. Kemudian ia tertawa kecil.
Ternyata, pucuk
dicinta ulampun tiba.
“Maafkan dalem pangeran. Dalem kira, siapa gerangan yang tiba-tiba datang.” Ujar Puteri Bulan saat tahu ternyata itu adalah Pangeran Guitre.
“Maafkan dalem pangeran. Dalem kira, siapa gerangan yang tiba-tiba datang.” Ujar Puteri Bulan saat tahu ternyata itu adalah Pangeran Guitre.
Kenapa justru datang di saat seperti ini? Pikir Puteri Bulan.
"Tidak Puteri Bulan. Saya yang harusnya
meminta maaf karena mengikuti tanpa permisi."
“Apa yang sekiranya bisa dalem bantu, Pangeran?”
“Bolehkah sebelum saya pergi, Puteri Bulan berkenan menemani saya berkeliling hutan istana? Kata warga pemukiman papan, ada bukit kecil yang indah di hutan kerajaan. Tempat kupu-kupu dan bunga bermain warna dan saling berlomba menawan hati siapapun yang melihatnya.” Tanya pangeran.
“Apa yang sekiranya bisa dalem bantu, Pangeran?”
“Bolehkah sebelum saya pergi, Puteri Bulan berkenan menemani saya berkeliling hutan istana? Kata warga pemukiman papan, ada bukit kecil yang indah di hutan kerajaan. Tempat kupu-kupu dan bunga bermain warna dan saling berlomba menawan hati siapapun yang melihatnya.” Tanya pangeran.
Aih, jangan katakan kepada siapapun, jangan. Termasuk paduka. Bahwa Puteri Bulan senang bukan kepalang. Jadi pangeran memintanya pergi bersama? Tentu boleh!
Angin seolah tiba-tiba membelai lembut rambut-rambutnya. Menerbangkannya ke….. entahlah ini perasaan apa. Susah untuk dideskripsikan. Hatinya bak bunga yang baru saja mekar. Merah muda sempurna.
"Bukit Tawanan."
“Jadi namanya Bukit Tawanan?”
“Iya pangeran.”
Lalu ada hening yang tiba-tiba mampir. Puteri Bulan sengaja mengambil jeda
mengatur nafas, karena debar-debar dalam dada itu seakan mendobrak memaksa
keluar. “Jadi namanya Bukit Tawanan?”
“Iya pangeran.”
“Mmm…Kalau Puteri Bulan masih harus merawat kuda,
izinkan saya meminta petunjuk arah saja dari yang mulia puteri untuk menuntun
saya menuju bukit itu.”
“Jangan pangeran! Dalem bersedia menemani!” Sahut Puteri Bulan tiba-tiba, mengagetkan Pangeran Guitre itu.
“Jangan pangeran! Dalem bersedia menemani!” Sahut Puteri Bulan tiba-tiba, mengagetkan Pangeran Guitre itu.
Pangeran Guitre tertawa kecil. Dan tentu saja, Puteri Bulan menunduk menahan sipu yang merubah wajahnya bak strawberry dari pemukiman pangan.
Mereka berdua menghabiskan waktu hingga senja. Bercerita tentang apapun. Kekesalannya pada baginda raja, keinginannya pergi tanpa pengawal, hingga Pangeran Guitre yang ternyata sama-sama pecinta buku dan es krim seperti halnya Puteri Bulan. Waktu cepat sekali berlalu, bagaikan anak panah yang dilesatkan.
Pangeran harus pergi.
"Tunggu aku datang tiga puluh dua bulan lagi
Puteri. Aku akan datang tepat di saat perayaan tiga malam lalu. Aku akan datang
memainkan guitre dan kubawakan buku-buku sajak dari negeriku."
“Kenapa lama sekali pangeran?”
“Karena seorang pangeran diperbolehkan pergi sendirian berkelana di umurnya yang ke dua puluh empat. Itu tiga puluh dua bulan lagi. Dan saat itu yang kutuju pertama adalah bukit indah ini sebelum akhirnya aku memainkan guitre di perayaan.”
“Baiklah dalem dengan sabar akan menunggu pangeran.” Ujar Puteri Bulan lirih. Kemudian ia terseyum. Pangeran tersenyum. Seisi bukit tersenyum.
“Kenapa lama sekali pangeran?”
“Karena seorang pangeran diperbolehkan pergi sendirian berkelana di umurnya yang ke dua puluh empat. Itu tiga puluh dua bulan lagi. Dan saat itu yang kutuju pertama adalah bukit indah ini sebelum akhirnya aku memainkan guitre di perayaan.”
“Baiklah dalem dengan sabar akan menunggu pangeran.” Ujar Puteri Bulan lirih. Kemudian ia terseyum. Pangeran tersenyum. Seisi bukit tersenyum.
Subscribe to:
Comments (Atom)