Thursday, October 31, 2013

Itu Saja.

mereka bilang,
"Kamu tidak bisa selamanya hidup di masa lalu. You will face your future, not past. come on, just move on honey"
Lalu bagaimana dengan aku? Aku yang tidak sedetikpun ingin beranjak dari kenangan yang sekarang menjadi pecah belah. Aku malah sibuk memunguti serpihannya, menata kemudian menjadikannya utuh lagi. Meski tak seindah dulu. Aku dengan idealisku yang menuntut semuanya pasti bisa kembali, dan mendefinisikan diriku sendiri dengan : si bodoh yang terus menunggu. Apa aku saja yang terlalu militan mencintaimu? Ah, siapa saja tolong uraikan isi kepalaku lalu benahi semuanya agar berjalan dengan normal tanpa alih-alih "the girl who can not be moved".

Kadang aku berfikir, memang iya kita tidak bisa hidup di 'masa lalu' tapi sebagian dari aku ini masih ingin 'masa lalu' itu tiba-tiba datang dan menjadi dia-yang-akan-hadir-di-masa-depan. Kalau kamu jadi aku, mungkin kamu juga akan melakukan hal yang sama, atau bahkan menjadi lebih bodoh dari ini. Kami melewati masa-masa yang terlalu susah untuk dituliskan, terlalu indah untuk dirasakan, dan terlalu berharga untuk begitu saja dilupakan. Kami, ya aku dan dia, begitu manisnya...dulu. Ah, sebenarnya aku dan masa laluku itu juga tidak ada apa-apa. Hanya dia yang tiba-tiba pergi, itu saja.

dia yang tiba-tiba pergi
dia yang tiba-tiba pergi
dia yang tiba-tiba pergi

Tuesday, October 29, 2013

Celengan Keranjang Hijau dan Karimun Jawa

mimpi itu, butuh realisasi
"Jangan cuma wacana!" ***
Di siang hari yang kenyang dan siang yang malas....dua sahabatku yang keakrabannya dinilai dari berapa kali mereka bisa berdamai ketika bertengkar (saking seringnya mereka tengkar), datang sambil menunjukkan sesuatu : celengan hijau berbentuk keranjang.
"Lihat apa yang kita bawa!" seru Ririn. Nizrut hanya tersenyum di belakangnya sambil memegang barang bawaan mereka.
Aku yang sedang bersama Ida, hanya diam sambil mencerna apa maksud dibalik tingkah mereka itu.
"Ini buat ke Karimun Jawa. Kita harus nabung satu hari seribu!" mereka berdua bersemangat sampai aku lupa siapa yang mengatakan ini lebih dulu, entah Ririn atau Nizrut.

Sunday, October 27, 2013

Surat Untuk Mahar

Assalamu'alaikum, mayonaise keju :)

Apa kabar? Kuharap kamu sudah berhenti menangis. Maafkan aku baru sempat berkirim surat. Aku masih menata diriku, jangan difikir aku disini tidak perlu waktu untuk menenangkan hatiku.

Mahar, aku baru belajar sesuatu, Mencintai seseorang itu butuh waktu, waktu yang tepat. Itu kenapa perempuan betah menunggu, karena laki-laki diciptakan unuk bersiap kemudian datang. Tunggulah dengan manis sembari menjaga diri dan apa-apa yang kamu lakukan.

Mahar, aku tahu aku terlambataku sudah terlanjur menjanjikanmu macam-macam dulu. Tapi bagiku tidak ada kata terlambat untuk berubah menjadi lebih baik. Kamu tahu? Mencintaimu itu berat bagiku, andai saja menggandeng tanganmu takperlu harus dimintai pertanggung jawaban dan kesungguhan untuk menjagamu seumur hidup, mungkin dengan mudah saat ini kugenggam tanganmutak akan kulepas. Andai saja menatapmu takperlu kusiapkan diriku berhadapan dengan Tuhan dan orangtuamu, aku akan terus bermain dengan dua bola mata coklatmu itu. Mahar, kita tidak bisa main-main dengan separuh agama kita bukan? Bersabarlah Mahar.

Tunggulah aku kalau kau mau. Tunggu sampai aku datang dengan pundak yang sudah siap menjadi sandaranmu. Tunggu sampai aku datang dengan janji yang takmain-main karena nanti pada waktunya, aku meminta Tuhan yang menjadi saksiku―bahwa benar aku akan menjagamu seumur hidupku. Tunggu sampai hati kecil ini siap menjadi besar untuk memuat kamu dan keluarga kecil kita. Tunggu hingga jemari ini sudah berani melingkarkan kesetiaan di jari manismu. Tunggu sampai aku pantas, Mahar.

Agar semua terasa cepat, maknailah : Mencintai bukan perkara menunggu, tapi memantaskan. Bukan perkara tiba-tiba datang, tapi mencari yang tepat. Mahar, aku akan datag jika aku sudah siap dan tetaplah menjadi kamu yang selalu tepat. Jangan cuma menungguku, tapi berbenahlah agar kamu tidak lelah. Tapi satu hal Mahar, jika kamu sudah menemukan yang lebih pantas dan leih cepat datang, aku tidak memaksamu untuk terus menungguku. Kamu berhak memilih, dan aku juga berhak menyesal―kehilangan mayonnaise kejuku. 

Sampai jumpa di waktu yang tepat, Mahar. berhentilah menangis.

Semangkuk Salad Buah kesukaanmu. 27 Oktober 2013.***

Saturday, October 26, 2013

Pagi!


sebermula saat waktu seakan berhenti.lalu yang aku temukan hanya tatapan itu, yang teduh sarat detik-detik masa depan...aku kehilangan kuasaku untuk berpaling. jangankan hati, mukakupun ikut kaku tak mau menoleh pada lain fokus. hanya kamu. 
lalu perasaan merajai setiap perjumpaan kita pada esok hari, dan hari-hari setelahnya. ***



"Pagi." Aku berkali melatih ucapanku di depan cermin. Tapi, saat aku mencobanya didepanmu, tak ada satu hurufpun yang mampu kueja. Lalu kucoba hal-hal yang lebih sederhana saja, bagaimana kalau menyunggingkan senyumku yang paling manis?
Kembali aku berlatih, di depan cermin tempo hari. Namun sekali lagi yang kudapati dalam nyata hanya sunggingan kecut yang mampu aku lingkarkan. Ini namanya bukan tersenyum, hanya bibir yang bergerak tak tahu arah. Aku gagal lagi. Mungkin bila cermin di depanku ini mampu bicara, dia sudah menjerit bosan diajak berlatih setiap harinya.
"Kenapa berbicara kepadamu menjadi sesulit ini? Padahal aku harus bicara. Mau tidak mau harus ada sesuatu yang diungkapkan kepadamu kepadamu. Tidak usah muluk-muluk mengutarakan perasaanku, minimal kusapa saja kamu dengan ramah!" Aku protes. Ngambek pada diriku sendiri. Aku balik badan, kuhadapkan cermin pada punggungku sedang aku menghadapkan diriku pada esok, bersiap mengalun sapaan, semoga lidah ini tidak tiba-tiba kelu.***
Pagi ini cerah seperti biasanya, musim penghujan masih mampir di belahan bumi yang lain. Koridor kelas masih sepi, di waktu sepagi ini hanya sedikit yang sudah sampai di sekolah. Aku memperpagi berangkatku hari ini. Rabu pagi, dia selalu datang lebih awal untuk sekedar meletakkan buku-buku di meja, lalu pergi entah kemana. Dia bakal kembali lagi saat semua berdoa dan siap untuk ditempa ilmu seharian. Aku berusaha datang lebih pagi darinya, berharap ada jeda waktu yang memberikanku luang untuk menyapanya.
Benar saja, belum kulihat buku yang ditata rapi di atas mejanya atau tanda-tanda keberadaannya. Sekeliling masih sepi, tidak ada satu taspun di kelas. Rupanya aku orang pertama yang datang di kelas. Daripada mati bosan, kurapikan saja kerah baju dan ikat rambutku, seraya melatih “Pagi” dan senyum manisku. Aih, gempa bumi pribadi seketika menyerang bagian dalam diriku, dag dig dug yang tak menentu. Menunggu memang menyebalkan, detik seakan menjadi begitu sinis.
Sebagian dariku siap menyambut lelakiku itu di pagi hari, sisanya pasrah dan tidak mau berharap lebih. Paling-paling hanya selamat pagi dalam hati sajaNah apa kubilang, batinku saja tak mendukung. Aku menenangkan diriku sendiri. Hela demi hela nafasku mulai beraksi satu persatu, menenangkan diri sembari menunggu kedatangannya. Hentakan kaki membuat irama tersendiri yang mengalun di ruangan kelas, hanya ada hentakan kakiku ini pertanda bosan. Tap tap tap tap tap tap tap....kakiku mendadak enggan menghentak. Kali ini justru jantung yang tiba-tiba membuat irama tersendiri dag dig dug dag dig dug..dia datang!

Friday, October 25, 2013

Tangan-tangan Kecil

Semalam tadi, aku lihat dia dengan tangantangan kecilnya
Masih mencoba meraba dunia, dia masih sibuk
Entah apa yang dia lakukan ditengah kertas-kertas yang berserakan
Deadline?
Aku ingin menyapa, tapi dia terlalu sibuk.
Ya sudah, aku akan bicara padanya esok pagi

Pagi tadi,
Aku memberi jeda pada diriku sendiri untuk berfikir, aku terlambat bangun
Tangan-tangan kecil itu sudah pergi sekolah
Aku tidak sempat menyapanya

Lalu aku pergi meraih koneksi
Mencoba meniti jalan menuju tangan-tangan kecil itu lewat dunia yang berbeda---maya
Tertulis kamu ulangtahun di facebook.
Tertera mention dari berbagai kepala tentang kamu yang bertambah umur dalam twitter
Maya sudah menyapamu lebih dahulu daripada aku
Gadis dengan tangan-tangan kecil itu sudah beranjak dewasa
Tidak mungil lagi seperti dulu dimana aku bisa mencubit atau sekedar mengacak-acak rambutnya

Ah, tapi bagiku dia tetaplah gadis dengan tangan-tangan kecil itu

Selamat ulang tahun adikku,
Maaf aku terlambat bangun untuk menjadi pertama yang mengucap doa di hari istimewamu ini
Semoga Dia senantiasa mendekapmu dalam cinta
Bersyukurlah, karena dengan itu kamu merasa bahagia setiap harinya

Monday, October 21, 2013

Tuhan bilang

Tuhan bilang, kamu bakal datang.
aku percaya, aku menunggu sampai Tuhan bilang,
"itu dia sudah di depan rumahmu"
lalu aku bingung, dan bertanya pada Tuhan,
"Untuk apa Ya Rabb?"
"Memintamu dari kedua orangtuamu, dengan cara Islam."
baiklah, aku akan menunggu...beberapa tahun lagi :)

Jogja, Hujan, dan Kamu


alun-alun kidul, daerah istimewa Jogjakarta
 Sabtu, 19 Oktober 2013
ditemani rintik hujan, dan basah yang ramah

Aku menikmati detik yang kupeluk erat
enggan kulepas saat kutahu ini akan berlalu begitu cepat
Kutahan, saat aku tahu yang ada disampingku ini adalah kamu
Ya. Kamu.
Pada akhirnya kita bertemu, setelah beberapa kali perasaan ingin ini, selalu tidak bermuara pada pertemuan

Tuhan turunkan hujan bersama kamu yang dipaketkan dengan rinai-rinai dan petrichornya
Di sudut kota Jogja, ditepian alun-alun kidul kita meneduh, kurasa itu tempat yang paling nyaman―saat kutahu tatapan yang tak kalah teduh itu sedang membayang, menatapku....dalam

Sunday, October 13, 2013

pagi yang pekat

pagi yang pekat,
masih hitam selegam bola matamu
lama aku tidak melihat
dua bola matayang berlarian mengikuti gerakku

aku tertegun atas nama keadaan
masih tak percaya situasi sesengit ini
benar saja, tidak ada yang bisa menebaknya

kini, sebatas meminta senyummu cuma-cuma saja harus berbayar
kamu memungut tarif untuk itu
air mataku harus jatuh terlebih dahulu

aku takpunya air mata lagi untuk kutangisi
sudah kering dimakan waktu, dan sekarang yang aku bisa
hanya memandang pagi yang masih pekat itu dari balik jendelaku
sembari membayang pada ingatan akan dua bola mata
yang hitam, legam, dan manis

Monday, October 7, 2013

kepada

kepada yang saling menjaga, meskipun terpisah jarak
kepada mereka-mereka yang saling berdoa, meski tidak bisa menebak dimana semua ini bermuara
kepada yang tercinta, diujung cerita yang takpernah satu kata

aku lepas dalam ingatan hampa,
apa itu masih kamu? atau ini masih aku?
kepada siapa-siapa yang katanya saling menyimpan rasa
masih adakah? atau sudah terselip di hati orang?

Thursday, October 3, 2013

“Ya Allah, Saya Mau Uang Dua Juta”


Dalam rangka memenuhi tugas Ekonomi Syari'ah
 Dua minggu yang lalu, saat Pak Ubaidillah menyarankan untuk bersyukur setiap bangun pagi saya mulai berpikir lagi, Iya ya..bangun pagi adalah nikmat yang luar biasa sederhana meskipun sering kita lupa. Ada banyak yang terjadi saat membuka mata, sibuk memikirkan kegiatan apa selanjutnya tapi lupa bersyukur atas nikmat yang sudah diberikan Allah. Ah, manusia itu pelupa ya, tidak seperti Tuhan yang Maha Ingat. Maha Baik dan pengabul doa. Betapa tidak? Allah itu terlalu baik sampai sering sekali mengabulkan doa, meski kita juga kurang usaha untuk mencapai keinginan di doa itu.
Doa itu kekuatannya bisa sampai menghadirkan nyata. Guru saya dulu pernah bilang sama saya, “Pernah nggak kamu berpikir apa yang kamu rasakan sekarang adalah hasil dari doa dan keinginan yang kamu harapkan dulu?” Setelah itu  saya manggut-manggut sembari mengingat apakah saya cerminan dari keinginan masa lalu saya? Sebagian besar iya. Hahaha
Ketika Pak Ubaid menugaskan untuk berdoa secara spesifik dan mengingat-ingat apa yang akan terjadi dua minggu kemudianapakah doa tersebut terkabul atau tidakmembuat saya semangat. Jarang sekali ada tugas seperti ini. Kami diberi waktu dua minggu untuk mengamati keberhasilan doa kami, apa Tuhan sudah mengabulkan atau belum. dan jawabannya adalah......
Jengjeng! Ada baiknya kita mengetahui doaku sebelum dua minggu. Saat aku bangun pagi, aku bersyukur lantas berdoa, “Ya Allah, terimakasih sudah diberi nikmat bangun pagi. Ya Rabb, hambaMu ini minta uang dua jutaaa saja. Boleh ya?” begitu saja selama dua minggu. Saya sebenarnya juga pesimis bisa atau tidak dapat uang segitu besar. Tapi namanya juga doa.