Sunday, October 13, 2013

pagi yang pekat

pagi yang pekat,
masih hitam selegam bola matamu
lama aku tidak melihat
dua bola matayang berlarian mengikuti gerakku

aku tertegun atas nama keadaan
masih tak percaya situasi sesengit ini
benar saja, tidak ada yang bisa menebaknya

kini, sebatas meminta senyummu cuma-cuma saja harus berbayar
kamu memungut tarif untuk itu
air mataku harus jatuh terlebih dahulu

aku takpunya air mata lagi untuk kutangisi
sudah kering dimakan waktu, dan sekarang yang aku bisa
hanya memandang pagi yang masih pekat itu dari balik jendelaku
sembari membayang pada ingatan akan dua bola mata
yang hitam, legam, dan manis

No comments:

Post a Comment