Apa kabar? Kuharap kamu sudah berhenti menangis. Maafkan aku baru sempat berkirim surat. Aku masih menata diriku, jangan difikir aku disini tidak perlu waktu untuk menenangkan hatiku.
Mahar, aku baru belajar sesuatu, Mencintai seseorang itu butuh waktu, waktu yang tepat. Itu kenapa perempuan betah menunggu, karena laki-laki diciptakan unuk bersiap kemudian datang. Tunggulah dengan manis sembari menjaga diri dan apa-apa yang kamu lakukan.
Tunggulah aku kalau kau mau. Tunggu sampai aku datang dengan pundak yang sudah siap menjadi sandaranmu. Tunggu sampai aku datang dengan janji yang takmain-main karena nanti pada waktunya, aku meminta Tuhan yang menjadi saksiku―bahwa benar aku akan menjagamu seumur hidupku. Tunggu sampai hati kecil ini siap menjadi besar untuk memuat kamu dan keluarga kecil kita. Tunggu hingga jemari ini sudah berani melingkarkan kesetiaan di jari manismu. Tunggu sampai aku pantas, Mahar.
Agar semua terasa cepat, maknailah : Mencintai bukan perkara menunggu, tapi memantaskan. Bukan perkara tiba-tiba datang, tapi mencari yang tepat. Mahar, aku akan datag jika aku sudah siap dan tetaplah menjadi kamu yang selalu tepat. Jangan cuma menungguku, tapi berbenahlah agar kamu tidak lelah. Tapi satu hal Mahar, jika kamu sudah menemukan yang lebih pantas dan leih cepat datang, aku tidak memaksamu untuk terus menungguku. Kamu berhak memilih, dan aku juga berhak menyesal―kehilangan mayonnaise kejuku.
Sampai jumpa di waktu yang tepat, Mahar. berhentilah menangis.
Semangkuk Salad Buah kesukaanmu. 27 Oktober 2013.***
Gadis yang memegang sepucuk surat itu menangis lagi, kali ini sembab tapi dengan alasan yang berbeda dari sebelumnya. Tidak lagi kecewa karena ditinggalkan, tapi bahagia dia mencintai lelaki yang tepat.
"Aku akan menunggumu"
No comments:
Post a Comment