sebermula saat waktu seakan berhenti.lalu yang
aku temukan hanya tatapan itu, yang teduh sarat detik-detik masa depan...aku
kehilangan kuasaku untuk berpaling. jangankan hati, mukakupun ikut kaku tak mau
menoleh pada lain fokus. hanya kamu.
"Pagi." Aku berkali melatih ucapanku di depan cermin. Tapi, saat aku mencobanya didepanmu, tak ada satu hurufpun yang mampu kueja. Lalu kucoba hal-hal yang lebih sederhana saja, bagaimana kalau menyunggingkan senyumku yang paling manis?
Kembali aku berlatih, di depan
cermin tempo hari. Namun sekali lagi yang kudapati dalam nyata hanya sunggingan
kecut yang mampu aku lingkarkan. Ini namanya bukan tersenyum, hanya bibir yang
bergerak tak tahu arah. Aku gagal lagi. Mungkin bila cermin di depanku ini
mampu bicara, dia sudah menjerit bosan diajak berlatih setiap harinya.
"Kenapa berbicara kepadamu
menjadi sesulit ini? Padahal aku harus bicara. Mau tidak mau harus ada sesuatu yang
diungkapkan kepadamu kepadamu. Tidak usah muluk-muluk mengutarakan perasaanku,
minimal kusapa saja kamu dengan ramah!" Aku protes. Ngambek pada
diriku sendiri. Aku balik badan, kuhadapkan cermin pada punggungku sedang aku
menghadapkan diriku pada esok, bersiap mengalun sapaan, semoga lidah ini tidak
tiba-tiba kelu.***
Pagi ini cerah seperti biasanya,
musim penghujan masih mampir di belahan bumi yang lain. Koridor kelas masih
sepi, di waktu sepagi ini hanya sedikit yang sudah sampai di sekolah. Aku
memperpagi berangkatku hari ini. Rabu pagi, dia selalu datang lebih awal untuk
sekedar meletakkan buku-buku di meja, lalu pergi entah kemana. Dia bakal
kembali lagi saat semua berdoa dan siap untuk ditempa ilmu seharian. Aku
berusaha datang lebih pagi darinya, berharap ada jeda waktu yang memberikanku
luang untuk menyapanya.
Benar saja, belum kulihat buku
yang ditata rapi di atas mejanya atau tanda-tanda keberadaannya. Sekeliling
masih sepi, tidak ada satu taspun di kelas. Rupanya aku orang pertama yang
datang di kelas. Daripada mati bosan, kurapikan saja kerah baju dan ikat
rambutku, seraya melatih “Pagi” dan senyum manisku. Aih, gempa bumi pribadi
seketika menyerang bagian dalam diriku, dag dig dug yang tak menentu. Menunggu
memang menyebalkan, detik seakan menjadi begitu sinis.
Sebagian dariku siap menyambut
lelakiku itu di pagi hari, sisanya pasrah dan tidak mau berharap lebih. Paling-paling
hanya selamat pagi dalam hati saja—Nah apa kubilang, batinku
saja tak mendukung. Aku menenangkan diriku sendiri. Hela demi hela nafasku
mulai beraksi satu persatu, menenangkan diri sembari menunggu kedatangannya.
Hentakan kaki membuat irama tersendiri yang mengalun di ruangan kelas, hanya
ada hentakan kakiku ini pertanda bosan. Tap
tap tap tap tap tap tap....kakiku mendadak enggan menghentak. Kali ini
justru jantung yang tiba-tiba membuat irama tersendiri dag dig dug dag dig dug..dia datang!
Ruangan kelas tidak lagi
melompong, kini ada fokus baru—dia
yang datang dengan seragam rapinya. Bisa kucium aroma sabun mandi yang masih
melekat wangi di tubuhnya.
“Kok pagi sekali datangnya?”
Suara ramah memenuhi telingaku, suaranya yang masih segar di pagi hari, berikut
senyuman manis yang aih....mampu melelehkan siapa-siapa yang jatuh hati
kepadanya, termasuk aku.
Bodoh. Aku hanya nyengir.
Dia meletakkan buku-buku, lalu
seperti biasa, hendak pegi entah kemana. Aku memutar keras otakku, memikirkan
topik apa sekiranya yang bisa mengawali pembicaraan kami. Tentang PR? Atau
bertanya mau kemana? Atau.... ah, tolong siapapun kasih aku satu ide topik
pembicaraan, kutraktir es krim bagi siapa-siapa yang mau membantuku kali ini. Ah
baiklah, tentang PR saja ya.
Semangat! Aku menyemangati diri sendiri.
Dia masih merapikan beberapa
buku di mejanya, lalu terlihat beberapa kali memeriksa tasnya. Lalu tiba-tiba
dia berhenti, sebagai gantinya dia memalingkan pandangannya dari tas hitam ke
arahku. Sepertinya, dia membaca gerak-gerik gugupku,
“Ada apa?” Tanyanya masih ramah.
“Mmmm, ini... PRnya, dikumpulkan
kapan ya...” suaraku mendadak tercekat, berhenti begitu saja di tengah-tengah,
“....Pak”
“Kamu kumpulkan sekarang saja
juga tidak apa-apa. Kamu rajin sekali ya...” Jawabnya hangat. Setelah itu dia
menepuk-nepuk pundakku sambil mengulas senyumnya lagi. Aku diam, tidak bisa
bersuara, apalagi bergerak. Hanya berdiri mematung seraya menenangkan irama
jantung yang menghentak tidak karuan.
Dia menepuk-nepuk pundakku. Sepertinya aku benar-benar jatuh hati pada guruku
sendiri.***
gambar dari http://ntxhaiku.wordpress.com/tag/sunrise/

No comments:
Post a Comment