Saturday, October 26, 2013

Pagi!


sebermula saat waktu seakan berhenti.lalu yang aku temukan hanya tatapan itu, yang teduh sarat detik-detik masa depan...aku kehilangan kuasaku untuk berpaling. jangankan hati, mukakupun ikut kaku tak mau menoleh pada lain fokus. hanya kamu. 
lalu perasaan merajai setiap perjumpaan kita pada esok hari, dan hari-hari setelahnya. ***



"Pagi." Aku berkali melatih ucapanku di depan cermin. Tapi, saat aku mencobanya didepanmu, tak ada satu hurufpun yang mampu kueja. Lalu kucoba hal-hal yang lebih sederhana saja, bagaimana kalau menyunggingkan senyumku yang paling manis?
Kembali aku berlatih, di depan cermin tempo hari. Namun sekali lagi yang kudapati dalam nyata hanya sunggingan kecut yang mampu aku lingkarkan. Ini namanya bukan tersenyum, hanya bibir yang bergerak tak tahu arah. Aku gagal lagi. Mungkin bila cermin di depanku ini mampu bicara, dia sudah menjerit bosan diajak berlatih setiap harinya.
"Kenapa berbicara kepadamu menjadi sesulit ini? Padahal aku harus bicara. Mau tidak mau harus ada sesuatu yang diungkapkan kepadamu kepadamu. Tidak usah muluk-muluk mengutarakan perasaanku, minimal kusapa saja kamu dengan ramah!" Aku protes. Ngambek pada diriku sendiri. Aku balik badan, kuhadapkan cermin pada punggungku sedang aku menghadapkan diriku pada esok, bersiap mengalun sapaan, semoga lidah ini tidak tiba-tiba kelu.***
Pagi ini cerah seperti biasanya, musim penghujan masih mampir di belahan bumi yang lain. Koridor kelas masih sepi, di waktu sepagi ini hanya sedikit yang sudah sampai di sekolah. Aku memperpagi berangkatku hari ini. Rabu pagi, dia selalu datang lebih awal untuk sekedar meletakkan buku-buku di meja, lalu pergi entah kemana. Dia bakal kembali lagi saat semua berdoa dan siap untuk ditempa ilmu seharian. Aku berusaha datang lebih pagi darinya, berharap ada jeda waktu yang memberikanku luang untuk menyapanya.
Benar saja, belum kulihat buku yang ditata rapi di atas mejanya atau tanda-tanda keberadaannya. Sekeliling masih sepi, tidak ada satu taspun di kelas. Rupanya aku orang pertama yang datang di kelas. Daripada mati bosan, kurapikan saja kerah baju dan ikat rambutku, seraya melatih “Pagi” dan senyum manisku. Aih, gempa bumi pribadi seketika menyerang bagian dalam diriku, dag dig dug yang tak menentu. Menunggu memang menyebalkan, detik seakan menjadi begitu sinis.
Sebagian dariku siap menyambut lelakiku itu di pagi hari, sisanya pasrah dan tidak mau berharap lebih. Paling-paling hanya selamat pagi dalam hati sajaNah apa kubilang, batinku saja tak mendukung. Aku menenangkan diriku sendiri. Hela demi hela nafasku mulai beraksi satu persatu, menenangkan diri sembari menunggu kedatangannya. Hentakan kaki membuat irama tersendiri yang mengalun di ruangan kelas, hanya ada hentakan kakiku ini pertanda bosan. Tap tap tap tap tap tap tap....kakiku mendadak enggan menghentak. Kali ini justru jantung yang tiba-tiba membuat irama tersendiri dag dig dug dag dig dug..dia datang!

Ruangan kelas tidak lagi melompong, kini ada fokus barudia yang datang dengan seragam rapinya. Bisa kucium aroma sabun mandi yang masih melekat wangi di tubuhnya.
“Kok pagi sekali datangnya?” Suara ramah memenuhi telingaku, suaranya yang masih segar di pagi hari, berikut senyuman manis yang aih....mampu melelehkan siapa-siapa yang jatuh hati kepadanya, termasuk aku.
Bodoh. Aku hanya nyengir.
Dia meletakkan buku-buku, lalu seperti biasa, hendak pegi entah kemana. Aku memutar keras otakku, memikirkan topik apa sekiranya yang bisa mengawali pembicaraan kami. Tentang PR? Atau bertanya mau kemana? Atau.... ah, tolong siapapun kasih aku satu ide topik pembicaraan, kutraktir es krim bagi siapa-siapa yang mau membantuku kali ini. Ah baiklah, tentang PR saja ya.
Semangat! Aku menyemangati diri sendiri.
Dia masih merapikan beberapa buku di mejanya, lalu terlihat beberapa kali memeriksa tasnya. Lalu tiba-tiba dia berhenti, sebagai gantinya dia memalingkan pandangannya dari tas hitam ke arahku. Sepertinya, dia membaca gerak-gerik gugupku,
“Ada apa?” Tanyanya masih ramah.
“Mmmm, ini... PRnya, dikumpulkan kapan ya...” suaraku mendadak tercekat, berhenti begitu saja di tengah-tengah, “....Pak”
“Kamu kumpulkan sekarang saja juga tidak apa-apa. Kamu rajin sekali ya...” Jawabnya hangat. Setelah itu dia menepuk-nepuk pundakku sambil mengulas senyumnya lagi. Aku diam, tidak bisa bersuara, apalagi bergerak. Hanya berdiri mematung seraya menenangkan irama jantung yang menghentak tidak karuan. Dia menepuk-nepuk pundakku. Sepertinya aku benar-benar jatuh hati pada guruku sendiri.***

gambar dari http://ntxhaiku.wordpress.com/tag/sunrise/

No comments:

Post a Comment