Jika danau hijau itu adalah aku, maka saat ini dasarnyalah yang tampak di permukaan. Kerontang, dan tak ada lagi yang menggenang, sudah tak ada air mata yang bermuara. Dikuras habis oleh masa, hingga aku lesu, lelah menggugu.
Aku tak lagi berkawan dengan tawa lepas di sore hari saat minum teh ataupun dengan kehangatan di sela selimut saat musim dingin bergelayut manja di atap rumah dan turun di pangkuan, aku sendirian. Lalu dengan takut-takut aku bersembunyi di balik kotak kayu, kesedihan dan kehilangan itu berebut ingin memelukku. Dan parahnya, saat ini kalut melamarku menjadi pasangan hidup. Aku menolak, kini kabur dari resepsi.
Lalu aku berlari menuju gelap malam berharap bisa menghilang dibalik kabut. Tapi malam terlalu terang karena lampu jalan. Kemudian kuputuskan untuk berlari hingga pagi, berharap aku bisa melebur bersama kokok ayam. Tapi awan mendung menyamarkan matahari, dan bunda lupa memukul lesung padi saat subuh tiba. Mungkin aku memang tidak ditakdirkan lari dari semua masalah ini ya, Tuhan?
Maka kuatkan aku untuk berhenti dan balik badan, menghadapi semuanya, satu persatu, apapun yang terjadi. Kutahu Kau tetap disitu; bersamaku.
28 Desember 2014, Aji Nur Afifatul Hasna
dan disini saya dihadapan laptop tua ini hanya dapat bertanya-tanya, bagaimana Tuhan menciptakan sosok manusia dengan imajinasi dan penyampaian yang sangat indah ?
ReplyDeletebagus banget pik! :D
alhamdulillah wa innalillaaah, makasih dita!
ReplyDelete