Ada yang salah dengan sistem pendidikan kita. .
Aku memang bukan orang yang mendalami dunia pendidikan sedalam itu, bukan juga orang-orang tipe kajian yang memiliki berbagai data valid lalala yeyeye, aku hanya doyan mengamati lalu menggumam sendri. Nah, ini salah satu dari bentuk gumamanku, mungkin.
Ingat tidak jaman SMA? Saat sekolah kita habis-habisan menyemangati muridnya agar lulus UAN 100%? atau memberikan reward untuk mereka-mereka yang meraih nilai sempurna dalam UAN? saya masih ingat. Tapi sayang banyak dari mereka (SMA) yang lupa bahwa sebenarnya bukan disitu letak keberhasilan sekolah, bukan mencetak banyak peraih nilai seratus, atau memiliki anak didik yang nilai UANnya paling tinggi se-kota, provinsi, bahkan nasional, tidak. Tujuan sekolah adalah mencetak orang-orang terpelajar. Yang nantinya, bakal menjadi penerus-penerus bangsa ini, seperti kata Pramoedya,
“Seorang terpelajar harus sudah bersikap adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan”
Kalau boleh saya berpendapat, siswa-siswa seperti itulah yang harus lebih dihargai. Karena secara tidak langsung, kita membentuk mindset para siswa untuk menomer satukan “nilai bagus”. Padahal, bagaimanapun, moral yang nantinya akan dipertanggungjawabkan, bukan nilai di atas kertas. Menurut saya, cobalah sekolah-sekolah memberikan penghargaan untuk siswa paling menginspirasi, siswa paling berjiwa sosial, siswa paling sopan, atau siswa paling rajin, tanpa embel-embel nilai mereka harus sempurna blablablabla. Setidaknya kembalikan pola pikir “akhlak adalah nomer satu”.
Ingatkah kalian saat jual beli kunci jawaban UAN lagi in? Saya sempat mengalaminya, di SMA saya, walaupun tidak sebanyak di SMA lain, termasuk SMA yang tidak lepas dari pangsa pasar penjual kunci jawaban. Lalu para siswa yang masih ragu dengan kemampuannya ditambah lagi dengan mindset tidak lulus itu bodoh dan memalukan—-menjadi begitu berusaha mendapatkan kunci jawaban. Strategi urunanpun digelar, lalu briefing menjelang UAN tentang tatacara bagaimana cara mendapatkan kunci hingga menyalin kunci tanpa sepengetahuan pengawas. Mereka takut dicap gagal, tapi sebenarnya mereka yang mengecap diri mereka sendiri seperti itu *maaf*.
Lalu dengan mindset yang seperti ini mau jadi apa kita? Memaksimalisasi kepuasan pribadi dan “kata orang”. Lupakah kata Tuhan? :)
Banyak sekolah yang lupa memberi tahu, bahwa pintar tidak hanya dari segi akademik. Ada mereka yang mahir di organisasi, seni, olahraga, public speaking, dan masih banyak lagi. Sesekali berilah reward, ciptakan pola berpikir bahwa semua orang di dunia ini pintar, yang membedakan adalah akhlaknya. Karena Indonesia butuh orang-orang baik untuk menyembuhkan dirinya. Bukan orang-orang pintar tapi memperparah “penyakit” dengan moralitas dan religiusitas yang rendah.
Ada yang salah dengan sistem pendidikan kita. Nilai bagus masiih menjadi tujuan utama banyak siswa, orang tua, bahkan guru.
No comments:
Post a Comment