Sehening embun yang diam-diam takluk pada daun
Seanggun sinar mentari yang malu-malu kala pagi
begitulah rinduku.
Serapi aksara yang berbaris dalam tulisanmu
Semerdu harmoni prosa yang menjemputmu dalam rima dan diksi
begitulah rinduku.
Waktu bisa apa?
Dalam henti ataupun berjalan, rindu ini masih diam-diam, malu-malu, berbaris, menjemputmu.
begitulah rinduku.
begitulah rinduku.
Serapi aksara yang berbaris dalam tulisanmu
Semerdu harmoni prosa yang menjemputmu dalam rima dan diksi
begitulah rinduku.
Waktu bisa apa?
Dalam henti ataupun berjalan, rindu ini masih diam-diam, malu-malu, berbaris, menjemputmu.
begitulah rinduku.
Ditulis dengan penuh kekurangan (kurang mahir menahan rindu), Aji Nur Afifatul Hasna
No comments:
Post a Comment