Monday, April 28, 2014

Orang Ketiga

Sebuah Cer(super)pen

Semua orang menyalahkanku. Teman-temanmu, teman-temannya, adik tingkatmu, kakak tingkatmu, teman seangkatanku, rasanya hampir semua orang yang mengenalmu dan mengetahui hubungan kita, menyalahkanku.

Sesaat setelah kamu upload foto kita berdua di instagram, aku tahu mata-mata yang tidak mengetahui cerita kita secara lengkap pasti akan mencaci makiku sedemikian rupa.

Mereka hanya tahu, ceritamu dan dia dulunya begitu bahagia. Hingga aku datang.

Padahal mereka tidak tahu, siapa yang sebenarnya datang. Mereka juga tidak tahu siapa yang ditinggal pergi dan menunggu begitu lama. Mereka tidak tahu siapa yang bertahan dan menjadi sok kuat atas cerita bahagia itu. Mereka hanya tidak tahu, aku yang mengenalmu lebih dahulu, dan aku yang ada di dekatmu jauh-jauh hari sebelum dia datang.

Lalu apa tidak boleh sekarang giliranku? Waktuku membawamu kembali? Waktuku menjadi tempatmu pulang?

Mereka hanya tidak tahu…
Aku ada, aku selalu ada buat kamu.
"Mirnaaa, pinjem catetaaaan. Aku mau nyalin tugas ya."
"Mir, ayo nonton The Avengers."
"Mir, 10 menit kamu ga keluar dari rumah, aku bakal teror rumah kamu."
"Mir, aku suka sama Anggun."
"Mir, aku berantem sama dia."
"Mir, aku bingung mau kasih Anggun kado apa"
"Mir, tadi aku kenalan sama orangtuanya Anggun."
"Mir, aku mau curhat."
"Mir, aku bingung nih mau magang dimana"
"Mir, udah tidur? telponinin nomernya Anggun dooong aktif apa engga. Aku daritadi hubungin dia nggak bisa."
"Mirna happy birthday! Semoga masa aktif jomblonya segera habis. hahaha"
"Mir, kamu mau aku bawain oleh-oleh apa?"
"Mir, besok main yuuk."
"Mir, aku putus."
Mereka hanya tidak tahu bagaimana perasaanku sudah dibuat campur aduk selama ini.

Orang ketiga tidak selalu seorang pengganggu, terkadang dia hanya hadir karena sudut pandang yang salah. Bisa jadi, orang ketiga bagimu sebenarnya adalah orang pertama yang terlewatkan. Orang yang sedari dulu sudah ada, hanya saja tidak ada yang mau mengintip berbagai perasaan dibalik senyum palsunya.

 
ditulis dengan penuh kekurangan, Aji Nur Afifatul Hasna

No comments:

Post a Comment