Saturday, November 30, 2013

Ksatria Baja Hitam!

"Siapapun nanti, dia harus seorang ksatria" ayah.***

Sebenarnya umurku masih 19 tahun, nggak papa kan ya aku membicarakan ini? Mmm, apapun jawabannya aku sudah sering membicarakannya, dengan diriku sendiri. Tentag dia yang akan datang di masa depan, tentang teori mencintai, dan tentang perbaikan diri.

pain makes people change-niswah. Yes, it is.

Pernahkah kamu mencintai seseorang sebegitunya, sampai kamu melakukan hal-hal yang nggak bakal kamu lakukan di kondisi normal seperti mengucapkan "Selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam, bahkan selamat tidur, atau selamat makan!". Kamu disulap seperti resepsionis hotel yang menyambut calon tamunya. Atau disaat kamu bingung memilihkan dia kado apa di hari ulang tahunnya, bahkan kamu membuatnya sendiri! Padahal....belum tentu juga dia suka. Yang paling menjengkelkan adalah, semua isi tulisanmu, folder foto di HPmu, atau halaman-halaman di diarymu isinya tentang dia! Pernah? Berarti aku tidak sendirian di dunia ini.

Lalu pernahkah kamu menangis sejadi-jadinya sampai matamu sembab karena ditinggal pergi, bahkan kamu susah-susah search di internet : cara menghilangkan bekas menangis, atau cara menghilangkan kantung mata. AHA! lalu kamu kompres matamu dengan air dingin, teh, sendok, dan semacamnya. hahahaha. Sakit hati itu memang indah.

sejak "pain" yang satu itu aku jadi merapatkan barisan, dan malas membukanya lagi. Tidak sembarang orang bisa masuk! Enak saja main obrak-abrik hati orang, ups please come back later, if you don't have anything to impress me.

maaf, agak galak ya. maaf. Tapi gimanapun, itu jadi semangat diri sendiri juga untuk terus memperbaiki diri. Pada hakikatnya cinta itu membawa pada kebaikan. Jadi, kadang nonsense gitu kalau mencintai apa adanya, pasti kamu cinta karena ada apanya. Dan bahaya kalo kamu asal cinta apa adanya, tiba-tiba cinta gitu....mmm cintanya jangka pendek mungkin bukan yang jangka panjang.  cuma buat seneng-seneng aja atau buat pacaran, dijalanin aja pacarannya urusan nikah belakangan. Kalau aku sih nikah dulu, urusan pacaran belakangan, bener gitu nggak sih? :) hahaha

ayah pernah bilang, "nanti yang datang itu harus seorang ksatria, yang bermanfaat bagi sekitarnya. Yang bantu kamu mendidik anak-anakmu dengan baik. Cari itu sosok pemimpin, yang bisa mimpin kamu dan keluargamu. dan nantinya, kamu juga harus jadi perempuan yang hebat, yang bisa melengkapi dan meredam ksatriamu itu. Jangan jadi perempuan yang suka menyulut emosi." 

kalo kata ibu, "cari yang paling penting yang agama dan moralnya bagus. Dari situ nanti bakal ada orang-orang yang setia, mapan. Semuanya bermuara dari agama dan moral. Cari yang bisa ngemomong kamu."

Tuh ayah aja bilangnya cari ksatria, bukan cari siapa aja yang kamu cintai apa adanya. ibu juga ngeluarin syarat kan! Ke-apa-ada-annya itu malah nanti disalah artikan dengan nggak mau berprogress, malah bikin males. nggak, nggak gitu, jangan. Kalau dari diskusi sama temen-temen, cari orang yang kamu cinta itu yang bisa membuat kamu juga berproses, membuat kamu lebih dan lebih ingin memantaskan diri terus menerus, cari yang take and give. Jangan kamu yang melulu memberi, memberi, dan memberi, tapi kamu nggak pernah ambil sesuatu dari dia. Harus berimbang karena dia nanti yang bakal jadi partner seiya sekata, sehidup semati *cie *guling-guling

cari yang suamiable gitu lho! (sampai sekarang takaran suamiable sendiri masih blur, biasanya sih cari yang aktivis, IPnya oke, dan agamanya baik)

Sembari nyari, sembari nunggu, sembari terus berdoa, sembari terus mengalami perbaikan.

Selangkah!

picture by : hijab alila
Selangkah anak perempuan keluar dari rumah tanpa menutup aurat, maka selangkah juga ayahnya itu hampir ke neraka. Selangkah seorang isteri keluar rumah tanpa menutup aurat, maka selangkah juga suaminya itu hampir ke neraka - HR Bukhari dan Muslim

 Ada cerita yag tidak pernah hilang dari ingatanku soal hadist ini. Satu saat, aku hanya bercanda kepada ibuku, aku bilang aku akan memakai jilbab dengan hanya disampirkan dan tidak menutup sebatas dada. Lalu ibuku menimpali dengan candaan, 
"Ya sudah, sana keluar sana." aku hanya tertawa sambil kubenarkan jilbabku.
"Aku masih sayang sama abah kok mi." kataku. Lalu abahku lewat...
"Lha apa hubungannya?" abah kebingungan.
"Katanya, kalau anak gadis keluar auratnya nggak nutup, ayahnya ikutan mampir ke neraka bah." jawabku, ekspresi abah langsung berubah. Lalu dengan sigap beliau mengecek jilbabku, dilanjutkan berlari ke ruang makan tempat adik perempuanku sarapan sebelum berangkat sekolah.
beliau mengecek satu persatu anak gadisnya. 
"Mbak, pakai kerudungnya yang benar ya, nggak kasian abah? abah kan juga nggak mau masuk neraka." aku tertawa saat mendengar abah mengatakan seperti itu dengan ekspresinya yang kebingungan, lalu lega setelah melihat adikku juga sama menutup auratnya. ***
Cerita di atas jangan terlalu diambil hati, diambil hikmahnya aja hahaha. Bagaimanapun tujuan semua aturan itu untuk kebaikan, namanya juga aturan kan? Untuk mengatur---supaya tertata. Percaya aja deh, pasti ada kebaikannya. Nggak banyak yang mikir negatif, nggak suka digodain, dan lain-lain, kalau aku sih lebih ke merasa aman dan nyaman aja. Selebihnya bahkan masih banyak hikmahnya yang bakal jadi berlembar-lembar kalau diulas satu persatu.

Friday, November 29, 2013

Ya, boleh.

Kalau aku boleh memilih mencintai siapa saja, maka aku akan mencintai bulan. Kalau aku boleh memilih menunggu siapa saja, aku akan menunggu senja. Kalau aku boleh memilih merindu siapa saja, aku akan merindu embun. Dan kalau aku boleh memilih melupakan siapa saja, aku pilih kamu.

Thursday, November 28, 2013

Diam-diam Aku....

Awan menggantung beringsut turun, menghitam separuh sedang sisanya penuh pendar bintang yang luruh. Terselip satu tanya pada dia yang duduk dibawah temaram lampu. Hei hei kau sudah tau namaku belum?

Dalam kabut yang singgah di dua pertiga malam, menggigillah separuh jiwa. Menggulung luka dalam sajaknya. Aku terpojok dalam pasrah : kamu tidak menyapa.

Embun menari di pinggiran pelupuk yang berbaris, sayup kucium aroma pagi merintih. Ah, aku lihai dalam menipu tiup-tiup angin. Hingga kusembunyikan bisikam rasa ini, padahal ia sudah memaki, mencari hati yang tersepih sebagiandalam kamu yang diam sedari tadi.

Tidak bisakah sejenak menatapku? Biar kuamati lekat-lekat, biar kusapa dekat, biar kupeluk erat.

Tuhan.


Sejak lahir, aku sudah dikenalkan dengan Tuhan lewat doktrin kedua orang tuaku. Saat pertama kali aku menangis, ada adzan di telinga kananku yang datang dari bahagianya ayah menyambutku. Aku sudah dikenalkan dari dulu dengan Tuhan. Pertanyaannya, benarkah aku sudah mengenalnya dalam? Sudahkah aku benar-benar bertemu dengannya? Atau perkenalanku dengan Tuhan 19 tahun silam hanya sekedar kutahu namaMu sedang tidak dengan adaMu?
               Ketika aku disuruh berlari mencari Tuhan, maka aku bingung kemana semua berujung, dimana titik finish aku menemukannya, atau mana ada papan petunjuk arah di jalan-jalan yang menunjukkan menuju Tuhan kurang berapa kilometer lagi? Tidak ada. Lalu sejatinya haruskah aku berhenti? Bahkan seharusnya aku tidak perlu memulainya.
               Tuhan sudah ada sejak aku lahir. Bahkan sebelum aku lahir, sebelum orangtuaku lahir, sebelum apa-apa lahir, Dia sudah ada terlebih dahulu. Temanku pernah mempertanyakan tentang konsep Tuhan, dia menganggap semua ini terjadi karena....memang begitu adanya. Pun nadi yang selalu berdetak, hewan, manusia, hujan, semuanya terbentuk karena siklus, karena kerja partikel, bukan kerja Tuhan. Lantas bagaimana aku bisa bilang Tuhan ada?
               Ah aku terlalu banyak bertanya. Persis seperti kata ayahku, aku hanya terus bertanya padahal jika aku mencari, aku akan menemukan jawabannya. Tidak begitu, menurutku aku akan bertanya ketika aku sudah kesusahan mencari jawabannya. Begitu pula dengan mencari Tuhan. Aku terus bertanya pada diriku sendiri, menanyakan pada angin, hujan, senja, semuanya. Karena jika aku memilih bertanya pada manusia, maka jawabannya tidak bisa memenuhi maksud pertanyaanku. Aku bertanya dimana Tuhan, bukan, bukan jawaban “Tuhan tidak terlihat” yang aku butuhkan. Aku hanya bertanya, sejatinya Tuhan ada dimana. jangan dijawab tekstual.
               Maka aku terus bertanya pada diriku sendiri. Kenapa aku bergerak? Kenapa tujuan hidupku seperti itu? Kenapa aku mau memilih surga? Kenapa aku...kenapa. Masih kuamati manusia yang tidak berhenti berlalu lalang, lalu ada suara mobil dengan klaksonnya yang tidak berhenti, atau awan yang mendung akhir-akhir ini. semua itu...benarkah terjadi karena siklus?
               Aku ingat, beberapa hari yang lalu aku menangis sejadi-jadinya karena kuliahku, karena aku yang kehilangan passion, karena semuanya mendadak berputar-putar, karena tugas, aduh hanya aku saja yang terlalu berlebihan, semua mahasiswa juga begini. Ini juga siklus? Aku menangis karena aku yang ingin, lalu penyebabku menangis, itu juga siklus?
               Ada satu perkataan Rasulullah yang menegurku, Barang siapa yang mencari Tuhan keluar dari dirinya sendiri, maka dia akan tersesat semakin jauh. Aku harap aku tidak melangkah terlalu jauh. Ayo, ayo. Kita kembali ke diri sendiri. Mempertanyakan sudah benar bertemu atau belum dengan Tuhan.

Monday, November 25, 2013

sepotong cokelat

pekat ini manis, seperti katamu
cerita kita haruslah selengket cokelat yang leleh

kucium harum aromanya, wangi kakao
meski aku taktahu pasti bagaimana sebenarnya aroma kakao itu---tapi aku yakin ini wangi kakao.
karena aku percaya kamu, endorfinku meningkat sesaat kucium wanginya, persis seperti katamu
"wangi kakao itu tingkatkan endorfin, membuat suasana hatimu menjadi lebih baik."
benar saja, kurasakan itu saat kubenamkan wajahku di sela-sela jaketmu

sejenak memejam, lalu....
ya, pekat ini memang manis. seperti katamu.

pelan dan dekat.



maaf random......

sudah nggak jaman mencintai dengan bodoh, cintailah seseorang dengan cerdas!
masuk syurga aja ada prasyarat kok, masa cinta enggak hahaha
cinta emang nggak pake prasyarat---katanya. tapi  bagiku sih tetep aja bersyarat
semenjak aku trauma mencintai orang dengan bodohnya. yang mau-mau aja gitu dibikin nangis-nangis.
sekalipun menurutmu totalitas tanpa batas, cinta ya cinta aja, atau nggak bersyarat......
membangun masa depannya itu loh yang penuh syarat.

selanjutnya? tinggal dikembalikan ke kamu, orientasimu apa? sama yang asal main suka-sukaan aja mumpung masih muda, atau nyaman sama seadanya aja, atau gimana?

kalau aku sih, sakinah-mawaddah-wa rahmah oriented. jadi....mending single ya.
cari yang usaha, cari yang bisa berkembang.
jangan cari dia yang menghambat apalagi mematikan.
cari yang kamu nggak hanya take-take-take or give-give-give
tapi cari partner yang take and give, karena kamu bakal sama dia seterusnya :) 

jendela dan barisan hujan

kulirik jendela, masih hujan.
lalu dengan bebasnya kupeluk dingin, aku menangis di pundaknya---saat kutahu rinduku taksampai padamu
hujan berkhianat, dia lebih memilih bungkam ditemani mendung yang sendu
tak ada waktu untuk merintik rasaku ini dan memaketkannya hingga sampai ke ujung-ujung jemarimu...

hangat, harusnya kau rasa hangat.
tapi tak ada ya?
di sela basah itu, harusnya ada rinduku yang telah sampai di ambang pintumu, menelusup jendela, merangkak ke dipan
namun nyatanya, tak ada hangat, kini kau menggigil di tengah terpaan rinai-rinai deras itu

aku dan kamu hanya seperti jendela dan barisan hujan
ditakdirkan saling jatuh cinta, tapi tidak bisa jatuh bersama.

Friday, November 8, 2013

Ibu

ibu adalah pundak yang paling nyaman untuk bersandar, sekedar mengeluh manja dan menangis. Beliau itu malaikatku,

Malam ini, aku lihat ibu tertidur pulas. Sangat pulas hingga takgeser sedikitpun dari posisi tidurnya. Aku bisa melihat kerut-keru di dahinya yang makin menumpuk. Aku menatap dia yang kian hari kian bertambah umurnya. Hanya satu yang kutakutkan, lebih lebih. Aku takut ibu hilang, Aku takut berpisah dengan ibu. Aku belum siap.

Ibu jadi yang pertama mendengar cerita tentang hari-hariku, Tentang kuliahku yang begitu menguras otak, lalu kuhaturkan beribu maaf saat kudapati nilai jelek. Beliau selalu jadi yang pertama menenangkan, katanya nilai bagus itu tak penting. Lantas bagaimana aku bisa membuat bahagiamu bu kalau nilaiku jatuh?

Ibu jadi yang pertama tahu soal sakit hatiku. Meski aku terlambat memberi tahu. Beliau sudah tahu soal aku yang menangis semalam, atau soal aku yang tiba-tiba menjadi begitu dingin. Ibu jadi yang pertama menepuk pundakku dan berkata semuanya bakal baik-baik saja. Bahwa aku akan mendapatkan dia yang terbaik bagiku. Ibu bilang, laki-laki yang baik bakal datang nantinya dan saat itu tiba, ibu akan jadi orang di garis depan. Memastikan bahwa laki-laki itu bukan orang yang salah. Memastikan anak perempuannya tidak salah memilih, memastikan anak perempuannya tidak menangis lagi semalaman..........

Ibu yang paling tahu semua kebutuhanku. Beliau yang rela tiba-tiba menjadi kesusahan untuk menolongku. Masih kuingat betul beliau menerobos hujann hanya untuk membelikanku sepatu. Lalu diletakkannya di dalam kotak dan diberikan padaku sebagai kado ulangtahun,
"Mbak, ini umi belikan sepatu. Umi pergi hujan-hujan lho untuk kasih kamu ini". dan beliau tidak tahu, aku di kamar menangis mengadu pada Allah. Merasa bodoh tak kubeli sendiri sepatuku. Bahkan detik ini saat aku menulisnya aku masih menangis mengingatnya sembari membayangkan ibu hujan-hujan dengan motor dan jas hujannya.

amanah tak pernah salah memilih pundak

periode ini adalah masa dimana amanah dipertaruhkan, dimana janji diobral, dan realisasi dituntut jalan.
periode ini adalah masa dimana semuanya memiliki kepetingan, dimana ada ego, ada ambisi, ada letupan-letupan emosi, ada pikiran-pikiran kotor saling menjatuhkan
dan aku terlanjur masuk dalam 'periode ini'

ini masih lingkup fakultas. belum yang lebih besar.

Allah, tolong lindungi kami dari celah untuk menciderai amanah. Lindungi kami dari sandung menyandung, sikut menyikut, dan tarik menarik. Lindungi kami dari omongan yang tidak bisa dipegang. Lindungi kami dari niat-niat buruk. Aku tahu, Engkau mengawasi apa-apa yang terlihat maupun yang tersembunyi dalam hati :)

pemilihan umum, jadilah pemilih cerdas.
Jangan biarkan amanah salah memilih pundak. #forbetterpemilwa #PemilwaSatuJiwaFEB :)
bismillah.

:)

atas nama rindu yang tertahan, atas nama perjumpaan yang tertunda, atas nama jarak yang terbentang
atas aku yang diam tidak tahu harus apa

Thursday, November 7, 2013

Tuhan, boleh aku memelukmu?

aku hanya berlari, dan yang aku tahu aku hanya berlari
tanpa peduli berapa banyak agenda yang menodongku
aku hanya berlari.

aku hanya berlari, dan yang aku tahu aku hanya berlari
tanpa menyapa siapa-siapa yang aku temui
aku hanya berlari.

aku hanya berlari, dan yang aku tahu aku hanya berlari
tanpa mengingat beban apa saja yang ada di pundakku
aku hanya berlari.

detik itu, kucari tempat sujud.
aku tidak tahu tempat mana lagi untuk meneduh
tempat mana lagi untuk bersandar

detik itu, aku menangis sejadi-jadinya
bahuku terguncang, hatiku apalagi
lututku sudah tak sanggup menahan
aku ambruk di tempat sujudku
di surau kecil fakultas, aku mengadu pada Tuhanku

Monday, November 4, 2013

sorry

tulisan boleh galau, orang? nggak doong :)

resolusi tahun baru 1435

Ini adalah satu tahun berselang, dan aku masih terpaku. Pada keadaan yang tidakpernah terbayang, pada situasi yang diluar kehendak, pada cerita yang tidak bisa menebak ending, dan pada takdir yang sengaja digariskan. Aku tidak percaya.

Tahun baru hijriah biasanya berselimut tawa dan resolusi kita, aku dan kamu. Sederhana, hanya perayaan kecil dengan notes dan pulpen. Kamu tuliskan apa inginmu, begitu pula aku. Tapi tahun ini berbeda.
1434.
"Semoga kali ini aku bisa membuat buku."
"Mmm, kalau aku semoga aku bisa membeli lebih banyak buku." Begitu katamu. Lalu kita berdebat sebelum sempat menulis detil resolusi. Aku memperdebatkan alasanmu, memaksa agar kamu juga suka menulis. Sedang katamu, membaca lebih baik dari pada menulis.
"Menulis itu mempertajam ingatan." Kataku, memperjuangkan argumenku. Lalu kamu dengan santainya menyergah,
"Ingat apa kata Allah, Iqra'. Bacalah." Dan aku terdiam, menelan ludah. Kamu membawa ayat Quran, kredibilitas argumenku turun drastis menyentuh tanah. 
"Ah, sudah ayo ditulis saja. Lalu kita buka resolusinya tahun depan ya. Kamu koreksi punyaku, aku koreksi punyamu!" Omelku sambil mendikte. Kamu selalu begitu, diam sambil tersenyum melihat tingkahku. Mengangguk sabar seraya menenangkanku dengan tatapan teduhnya. Mungkin dengan tingkahmu yang pendiam dan dingin itu, satu-satunya cara membuatku berhenti mengomel. Hihi
Dan tahun ini adalah tahun dimana harusnya baik aku maupun kamu membuka resolusi yang sudah ditulis tahun lalu. Saling menegur dan mengingatkan apa-apa yang belum sempat tercapai. Harusnya tahun ini kita membuat resolusi lagi, terus hingga tahun-tahun berikutnya. Tapi sekarang resolusiku tahun kemarin entah dimana, aku tidak mau mencarinya. Sekarang aku sendirian. Dan aku akan membuat resolusiku sendiri, tahun ini.

Saturday, November 2, 2013

Kalau Kerudungku Nggak Lebar-Lebar Amat…

from my beloved mbak nurul's blog :) 
Butterfly 4
Kalau kerudungku nggak lebar-lebar amat, aku pasti masih bisa jadi tim tae kwon do kuliah  ini…
Kalau kerudungku nggak lebar-lebar amat, aku pasti bisa ngirit beli kerudung yang sedikit lebih tipis…
Kalau kerudungku nggak lebar-lebar amat, aku pasti udah cantik berhijab ribet kayak orang-orang…
Kalau kerudungku nggak lebar-lebar amat, aku pasti udah dapet cowok…
Kalau kerudungku nggak lebar-lebar amat, aku pasti gampang dapet kerjaan nanti kalau udah lulus kuliah…
Kalau kerudungku nggak lebar-lebar amat, aku pasti cuek mau orang bilang kok kerudungmu tambah pendek, bajumu tambah ketat and tambah tipis sekarang…
Tapi….

halo dinding

apa kabar kamu yang selalu kutulis tapi aku tak pernah menjadi satu katapun yang kau baca?
apa kabar kamu yang selalu ingin aku dengar kabarnya, tapi kamu selalu menyumpal kupingku dengan kapas?
apa kabar kamu yang menjadi orang yang pertama ingin kutemui sejak aku bangun tidur, tapi kamu selalu berdoa agar aku tak kunjung membuka mata?

apa kabar?
aku baik-baik saja.
baik dalam menyimpan rinduku.
baik dalam pura-pura tegar.
baik dalam menyembunyikan tangisku.

aku sesak semalam, ditindih perasaan ingin bertemu.
pada dinding yang yang tak merespon, bernama kamu.


kamu tahu cara menghargai kenangan?

cukup menulisnya, lalu mengenang untuk sekali...dua kali. Namanya juga kenangan, bukan ulangan kan? Jadi jangan berharap untuk mengulang semuanya sekali lagi. Waktu diciptakan tidak bisa diputar kembali untuk kamu hargai, agar kamu belajar dari masa lalu.

bukan melulu berharap tinggal di dalamnya. Jika ingin menetap, lama-lama kamu akan habis. Dimakan waktu.

habis gelap, terbitlah kamu

Aku tersenyum, sepertinya manis. Bagiku, senyumku asal alasannya kamu adalah senyum paling manis. Kamu selalu bilang bukan, senyumku seperti bulan sabit. Melengkung sederhana secara sempurna. Aku selalu malas mengakuinya, setahuku aku tidak bisa memasang muka manis.***
"Kaya bulan? Aku bopeng dong." Sergahku sembari mengalihkan pembicaraan. Aku sudah mulai salting dan itu artinya akan ada serentetan hal yang memalukan bakal terjadi.
"Kamu satu-satunya bulan yang nggak bopeng."
"Apadeh, jangan ngaco."
"Kamu itu paling nggak bisa diajak romantis." Lalu dia memalingkan muka. Mendaratkan pandangannya pada sudut lain, sudah bukan aku.
Hihi, ngambekan.
Padahal, di dalam sini aku meleleh setengah mati.

Namanya Rio, Satrio Azizi. Dia pengamat langit malam, dan aku penikmat ocehannya tentang gugus-gugus bintang dan segala rasi atau apalah itu yang tidak bisa kuhafal satu persatu, aku hanya suka caranya memaparkan rahasia-rahasia langit. Yang aku tangkap dari serentetan penjelasannya paling hanya kalimat-kalimat kesimpulan, seperti.......dia yang selalu mau seperti bintang. Yang sabar dan betah menunggu hasil kerja keras. Katanya, bintang itu terus bereaksi fusi dan mengalami pembakaran walaupun sinarnya sampai setelah bertahun-tahun kemudian. Walaupun aku takpaham apa itu reaksi fusi, aku iyakan saja.

Rio kelihatan ganteng bila sudah berbicara tentang astronomi, karena dia selalu bahagia bila memaparkannya. Kadang aku cemburu pada langit, kapan aku diceritakan pada orang lain sebegitu senangnya?

Friday, November 1, 2013

Tulus - Teman Hidup :)

Dia indah meretas gundah
Dia yang selama ini ku nanti
Membawa sejuk, memanja rasa
Dia yang selalu ada untukku

Di dekatnya aku lebih tenang
Bersamanya jalan lebih terang

Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku ku milikmu kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu
Kau milikku, ku milikmu
Kau milikku, ku milikmu

Di dekatnya aku lebih tenang
Bersamanya jalan lebih terang