Monday, November 4, 2013

resolusi tahun baru 1435

Ini adalah satu tahun berselang, dan aku masih terpaku. Pada keadaan yang tidakpernah terbayang, pada situasi yang diluar kehendak, pada cerita yang tidak bisa menebak ending, dan pada takdir yang sengaja digariskan. Aku tidak percaya.

Tahun baru hijriah biasanya berselimut tawa dan resolusi kita, aku dan kamu. Sederhana, hanya perayaan kecil dengan notes dan pulpen. Kamu tuliskan apa inginmu, begitu pula aku. Tapi tahun ini berbeda.
1434.
"Semoga kali ini aku bisa membuat buku."
"Mmm, kalau aku semoga aku bisa membeli lebih banyak buku." Begitu katamu. Lalu kita berdebat sebelum sempat menulis detil resolusi. Aku memperdebatkan alasanmu, memaksa agar kamu juga suka menulis. Sedang katamu, membaca lebih baik dari pada menulis.
"Menulis itu mempertajam ingatan." Kataku, memperjuangkan argumenku. Lalu kamu dengan santainya menyergah,
"Ingat apa kata Allah, Iqra'. Bacalah." Dan aku terdiam, menelan ludah. Kamu membawa ayat Quran, kredibilitas argumenku turun drastis menyentuh tanah. 
"Ah, sudah ayo ditulis saja. Lalu kita buka resolusinya tahun depan ya. Kamu koreksi punyaku, aku koreksi punyamu!" Omelku sambil mendikte. Kamu selalu begitu, diam sambil tersenyum melihat tingkahku. Mengangguk sabar seraya menenangkanku dengan tatapan teduhnya. Mungkin dengan tingkahmu yang pendiam dan dingin itu, satu-satunya cara membuatku berhenti mengomel. Hihi
Dan tahun ini adalah tahun dimana harusnya baik aku maupun kamu membuka resolusi yang sudah ditulis tahun lalu. Saling menegur dan mengingatkan apa-apa yang belum sempat tercapai. Harusnya tahun ini kita membuat resolusi lagi, terus hingga tahun-tahun berikutnya. Tapi sekarang resolusiku tahun kemarin entah dimana, aku tidak mau mencarinya. Sekarang aku sendirian. Dan aku akan membuat resolusiku sendiri, tahun ini.

Tidak kusangka waktu berlari secepat ini. Meninggalkan aku yang masih meraung-raung dengan kenanganku. Melewatkan aku begitu saja tanpa mengajakku bangkit. Aku dibelakang waktu, tidak sanggup berlari dengannya untuk sekedar melupakanmu.

Kuambil pulpenku. Di tengah euforia teman-temanku, mereka mengucap berbagai permohonan di timeline, SMS, personal message BBM mereka, dan segala akses social network lain...aku hanya sibuk dengan kertas putihku. Bingung menulis resolusi apa. Partnerku menghilang.

Sejenak aku mengambil jeda, mendiamkan diriku dan perasaan yang ingin menjerit-jerit, saat aku ingat dengan bodohnya siang tadi kukirim chat BBM padamu. Singkat dan bahagia berharap kamu membalasnya, berharap tahun ini kita bisa membuatnya bersama lagi. Tapi kudapati kamu hanya sempat membacanya, tanpa ingin membalas, tanpa alih-alih is writing message, tanpa sadar aku terlalu berharap banyak. Kamu sudah bukan kamu setahun yang lalu.

resolusi tahun baru hijriah 1435 
1. Menata kembali perasaan dan menatap ke depan. Membukakan pintu bagi siapa-siapa yang mengetuk dan tidak mengharap dia yang telah membanting pintu dari luar itu, untuk datang kembali.
2. ***

Kita lihat satu tahun berselang, tercapaikah? Atau justru masih sama. Masih tidak bisa berlari bersama waktu.....





No comments:

Post a Comment