Thursday, November 28, 2013

Tuhan.


Sejak lahir, aku sudah dikenalkan dengan Tuhan lewat doktrin kedua orang tuaku. Saat pertama kali aku menangis, ada adzan di telinga kananku yang datang dari bahagianya ayah menyambutku. Aku sudah dikenalkan dari dulu dengan Tuhan. Pertanyaannya, benarkah aku sudah mengenalnya dalam? Sudahkah aku benar-benar bertemu dengannya? Atau perkenalanku dengan Tuhan 19 tahun silam hanya sekedar kutahu namaMu sedang tidak dengan adaMu?
               Ketika aku disuruh berlari mencari Tuhan, maka aku bingung kemana semua berujung, dimana titik finish aku menemukannya, atau mana ada papan petunjuk arah di jalan-jalan yang menunjukkan menuju Tuhan kurang berapa kilometer lagi? Tidak ada. Lalu sejatinya haruskah aku berhenti? Bahkan seharusnya aku tidak perlu memulainya.
               Tuhan sudah ada sejak aku lahir. Bahkan sebelum aku lahir, sebelum orangtuaku lahir, sebelum apa-apa lahir, Dia sudah ada terlebih dahulu. Temanku pernah mempertanyakan tentang konsep Tuhan, dia menganggap semua ini terjadi karena....memang begitu adanya. Pun nadi yang selalu berdetak, hewan, manusia, hujan, semuanya terbentuk karena siklus, karena kerja partikel, bukan kerja Tuhan. Lantas bagaimana aku bisa bilang Tuhan ada?
               Ah aku terlalu banyak bertanya. Persis seperti kata ayahku, aku hanya terus bertanya padahal jika aku mencari, aku akan menemukan jawabannya. Tidak begitu, menurutku aku akan bertanya ketika aku sudah kesusahan mencari jawabannya. Begitu pula dengan mencari Tuhan. Aku terus bertanya pada diriku sendiri, menanyakan pada angin, hujan, senja, semuanya. Karena jika aku memilih bertanya pada manusia, maka jawabannya tidak bisa memenuhi maksud pertanyaanku. Aku bertanya dimana Tuhan, bukan, bukan jawaban “Tuhan tidak terlihat” yang aku butuhkan. Aku hanya bertanya, sejatinya Tuhan ada dimana. jangan dijawab tekstual.
               Maka aku terus bertanya pada diriku sendiri. Kenapa aku bergerak? Kenapa tujuan hidupku seperti itu? Kenapa aku mau memilih surga? Kenapa aku...kenapa. Masih kuamati manusia yang tidak berhenti berlalu lalang, lalu ada suara mobil dengan klaksonnya yang tidak berhenti, atau awan yang mendung akhir-akhir ini. semua itu...benarkah terjadi karena siklus?
               Aku ingat, beberapa hari yang lalu aku menangis sejadi-jadinya karena kuliahku, karena aku yang kehilangan passion, karena semuanya mendadak berputar-putar, karena tugas, aduh hanya aku saja yang terlalu berlebihan, semua mahasiswa juga begini. Ini juga siklus? Aku menangis karena aku yang ingin, lalu penyebabku menangis, itu juga siklus?
               Ada satu perkataan Rasulullah yang menegurku, Barang siapa yang mencari Tuhan keluar dari dirinya sendiri, maka dia akan tersesat semakin jauh. Aku harap aku tidak melangkah terlalu jauh. Ayo, ayo. Kita kembali ke diri sendiri. Mempertanyakan sudah benar bertemu atau belum dengan Tuhan.

               Sebentar, aku mau curhat terlebih dahulu. Haha tidak penting sih, tapi coba saja dengarkan.
               Pernah tidak, suatu ketika kamu benar-benar mentok pada satu titik. Sudah tidak tahu lagi mau kemana, sudah tidak tahu lagi harus apa. Aku pernah, lalu apa yang aku cari? Dzat yang lebih besar yang sekiranya bisa membantuku atau yang bisa dibuat bersandar. Aku pikir Tuhan bisa, makanya aku berdoa. Sering sekali aku seperti itu, bahkan nyaris setiap hari.
               Aku pernah kelelahan mencari bolpen bertinta biru, sedang aku harus buru-buru menemukannya karena konten proposalku mengharuskan tulisan tangan bertinta biru. Sudah kucari kemana-mana tapi tidak ada. Sampai suatu titik aku sudah ingin menangis, lalu tiba-tiba aku bergerak, kudongakkan kepalaku ke atas lemari. Aku hanya iseng meraba, lalu ada bolpoin hitam. Aku begitu saja meraihnya, aku pikir ya sudahlah, pakai bolpoin hitam saja. ternyata setelah kugerakkan, bolpoin itu adalah bolpoin biru.
               Satu hari, aku juga pernah sudah menyerah mencari dosenku. Sudah berputar-putar padahal tugas ini harus dikumpulkan. Lalu tiba-tiba beliau lewat, begitu saja. Allah menolongku lagi. Pun satu saat, ibuku sakit dan aku tidak tahu harus apa. Aku hanya terus berdoa agar ibuku bangun, lalu Tuhan membangunkan. Pernah satu kali aku lomba, aku sudah lelah meyakinkan diriku aku bisa mendapat nilai yang bagus dalam kompetisiku. Aku hanya terus berdoa supaya Allah benar-benar menyulapku menjadi juara, setidaknya jauh-jauh aku harus pulang dengan gelar juara, tidak apa-apalah juara ke sekian, yang penting juara. Dan ternyata sampai juara 3, namaku tidak disebutkan. Lalu, ternyata masih ada juara favorit, dan namaku disebut, Ya Tuhan aku juara! Walaupun hanya juara favorit.......
               Masih banyak sih. Iya, masih banyak. Tidak mungkin siklus dan sistem sebab akibat bisa seperti ini. jika hukum sebab akibat yang berlaku, tidak mungkin seberagam ini akibatnya. Tidak mungkin bisa berbeda-beda nasib satu dengan lainnya. Tidak mungkin, ah percayalah, tidak mungkin. Aku tidak percaya siklus, jika begitu adanya, jika itu memang sebab akibat tidak mungkin tepat setelah aku berdoa, kebetulan? Mengapa kebetulan sesering itu?
               Ya, aku tidak perlu berlari-lari mencari Tuhan ada dimana. aku hanya harus berhenti dan merasakan dalam diriku. Betapa dekatnya seorang makhluk dengan TuhanNya. Bahkan, yang belum terucap saja sudah sampai terlebih dahulu pada Tuhan. Canggih kan? Sudah ditangkap maksudku? Sudah tahu belum Tuhan ada dimana?
 mmm begini saja, sekarang ambil satu baskom lalu satu spons. Penuhi isi baskom dengan air, penuuuuh sekali. Jika sudah lalu celupkan spons itu. Plung! Ini sebenarnya konsep Tuhan dan makhluk. Spons itu adalah kita, dan air adalah Tuhan. Lalu jika spons bertanya “Tuhan ada dimana, aku tidak menemukannya.” Wajarkah dia melihat Tuhan ada dimana? tidak. Karena Tuhan meliputinya, sudah kau tangkap maksudku? Belum? Ah! tidak punya hati sih, mungkin.
               Diam, dan rasakan. Amati, dan saksikan. Tuhan itu ada. Lihat dengan mata hati, bukan dua matamu yang tertipu dunia.
              

No comments:

Post a Comment