Sejak lahir, aku sudah dikenalkan dengan Tuhan lewat
doktrin kedua orang tuaku. Saat pertama kali aku menangis, ada adzan di telinga
kananku yang datang dari bahagianya ayah menyambutku. Aku sudah dikenalkan dari
dulu dengan Tuhan. Pertanyaannya, benarkah aku sudah mengenalnya dalam?
Sudahkah aku benar-benar bertemu dengannya? Atau perkenalanku dengan Tuhan 19
tahun silam hanya sekedar kutahu namaMu sedang tidak dengan adaMu?
Ketika aku disuruh berlari
mencari Tuhan, maka aku bingung kemana semua berujung, dimana titik finish aku
menemukannya, atau mana ada papan petunjuk arah di jalan-jalan yang menunjukkan
menuju Tuhan kurang berapa kilometer lagi? Tidak ada. Lalu sejatinya haruskah
aku berhenti? Bahkan seharusnya aku tidak perlu memulainya.
Tuhan sudah ada sejak aku lahir.
Bahkan sebelum aku lahir, sebelum orangtuaku lahir, sebelum apa-apa lahir, Dia
sudah ada terlebih dahulu. Temanku pernah mempertanyakan tentang konsep Tuhan,
dia menganggap semua ini terjadi karena....memang begitu adanya. Pun nadi yang
selalu berdetak, hewan, manusia, hujan, semuanya terbentuk karena siklus,
karena kerja partikel, bukan kerja Tuhan. Lantas bagaimana aku bisa bilang
Tuhan ada?
Ah aku terlalu banyak bertanya.
Persis seperti kata ayahku, aku hanya terus bertanya padahal jika aku mencari,
aku akan menemukan jawabannya. Tidak begitu, menurutku aku akan bertanya ketika
aku sudah kesusahan mencari jawabannya. Begitu pula dengan mencari Tuhan. Aku
terus bertanya pada diriku sendiri, menanyakan pada angin, hujan, senja,
semuanya. Karena jika aku memilih bertanya pada manusia, maka jawabannya tidak
bisa memenuhi maksud pertanyaanku. Aku bertanya dimana Tuhan, bukan, bukan
jawaban “Tuhan tidak terlihat” yang aku butuhkan. Aku hanya bertanya, sejatinya
Tuhan ada dimana. jangan dijawab tekstual.
Maka aku terus bertanya pada
diriku sendiri. Kenapa aku bergerak? Kenapa tujuan hidupku seperti itu? Kenapa
aku mau memilih surga? Kenapa aku...kenapa. Masih kuamati manusia yang tidak
berhenti berlalu lalang, lalu ada suara mobil dengan klaksonnya yang tidak
berhenti, atau awan yang mendung akhir-akhir ini. semua itu...benarkah terjadi
karena siklus?
Aku ingat, beberapa hari yang
lalu aku menangis sejadi-jadinya karena kuliahku, karena aku yang kehilangan
passion, karena semuanya mendadak berputar-putar, karena tugas, aduh hanya aku
saja yang terlalu berlebihan, semua mahasiswa juga begini. Ini juga siklus? Aku
menangis karena aku yang ingin, lalu penyebabku menangis, itu juga siklus?
Ada satu perkataan Rasulullah
yang menegurku, Barang siapa yang mencari Tuhan keluar dari dirinya sendiri, maka dia
akan tersesat semakin jauh. Aku harap aku tidak
melangkah terlalu jauh. Ayo, ayo. Kita kembali ke diri sendiri. Mempertanyakan
sudah benar bertemu atau belum dengan Tuhan.
Sebentar, aku mau
curhat terlebih dahulu. Haha tidak penting sih, tapi coba saja dengarkan.
Pernah tidak, suatu
ketika kamu benar-benar mentok pada satu titik. Sudah tidak tahu lagi mau
kemana, sudah tidak tahu lagi harus apa. Aku pernah, lalu apa yang aku cari?
Dzat yang lebih besar yang sekiranya bisa membantuku atau yang bisa dibuat
bersandar. Aku pikir Tuhan bisa, makanya aku berdoa. Sering sekali aku seperti
itu, bahkan nyaris setiap hari.
Aku pernah
kelelahan mencari bolpen bertinta biru, sedang aku harus buru-buru menemukannya
karena konten proposalku mengharuskan tulisan tangan bertinta biru. Sudah
kucari kemana-mana tapi tidak ada. Sampai suatu titik aku sudah ingin menangis,
lalu tiba-tiba aku bergerak, kudongakkan kepalaku ke atas lemari. Aku hanya
iseng meraba, lalu ada bolpoin hitam. Aku begitu saja meraihnya, aku pikir ya
sudahlah, pakai bolpoin hitam saja. ternyata setelah kugerakkan, bolpoin
itu adalah bolpoin biru.
Satu hari, aku juga
pernah sudah menyerah mencari dosenku. Sudah berputar-putar padahal tugas ini
harus dikumpulkan. Lalu tiba-tiba beliau lewat, begitu saja. Allah menolongku
lagi. Pun satu saat, ibuku sakit dan aku tidak tahu harus apa. Aku hanya terus
berdoa agar ibuku bangun, lalu Tuhan membangunkan. Pernah satu kali aku lomba,
aku sudah lelah meyakinkan diriku aku bisa mendapat nilai yang bagus dalam
kompetisiku. Aku hanya terus berdoa supaya Allah benar-benar menyulapku menjadi
juara, setidaknya jauh-jauh aku harus pulang dengan gelar juara, tidak
apa-apalah juara ke sekian, yang penting juara. Dan ternyata sampai juara 3,
namaku tidak disebutkan. Lalu, ternyata masih ada juara favorit, dan namaku
disebut, Ya Tuhan aku juara! Walaupun hanya juara favorit.......
Masih banyak sih.
Iya, masih banyak. Tidak mungkin siklus dan sistem sebab akibat bisa seperti
ini. jika hukum sebab akibat yang berlaku, tidak mungkin seberagam ini
akibatnya. Tidak mungkin bisa berbeda-beda nasib satu dengan lainnya. Tidak
mungkin, ah percayalah, tidak mungkin. Aku tidak percaya siklus, jika begitu
adanya, jika itu memang sebab akibat tidak mungkin tepat setelah aku berdoa,
kebetulan? Mengapa kebetulan sesering itu?
Ya, aku tidak perlu
berlari-lari mencari Tuhan ada dimana. aku hanya harus berhenti dan merasakan
dalam diriku. Betapa dekatnya seorang makhluk dengan TuhanNya. Bahkan, yang
belum terucap saja sudah sampai terlebih dahulu pada Tuhan. Canggih kan? Sudah ditangkap
maksudku? Sudah tahu belum Tuhan ada dimana?
mmm
begini saja, sekarang ambil satu baskom lalu satu spons. Penuhi isi baskom
dengan air, penuuuuh sekali. Jika sudah lalu celupkan spons itu. Plung! Ini
sebenarnya konsep Tuhan dan makhluk. Spons itu adalah kita, dan air adalah
Tuhan. Lalu jika spons bertanya “Tuhan ada dimana, aku tidak menemukannya.”
Wajarkah dia melihat Tuhan ada dimana? tidak. Karena Tuhan meliputinya, sudah
kau tangkap maksudku? Belum? Ah! tidak punya hati sih, mungkin.
Diam, dan rasakan.
Amati, dan saksikan. Tuhan itu ada. Lihat dengan mata hati, bukan dua matamu
yang tertipu dunia.
No comments:
Post a Comment