Friday, November 8, 2013

Ibu

ibu adalah pundak yang paling nyaman untuk bersandar, sekedar mengeluh manja dan menangis. Beliau itu malaikatku,

Malam ini, aku lihat ibu tertidur pulas. Sangat pulas hingga takgeser sedikitpun dari posisi tidurnya. Aku bisa melihat kerut-keru di dahinya yang makin menumpuk. Aku menatap dia yang kian hari kian bertambah umurnya. Hanya satu yang kutakutkan, lebih lebih. Aku takut ibu hilang, Aku takut berpisah dengan ibu. Aku belum siap.

Ibu jadi yang pertama mendengar cerita tentang hari-hariku, Tentang kuliahku yang begitu menguras otak, lalu kuhaturkan beribu maaf saat kudapati nilai jelek. Beliau selalu jadi yang pertama menenangkan, katanya nilai bagus itu tak penting. Lantas bagaimana aku bisa membuat bahagiamu bu kalau nilaiku jatuh?

Ibu jadi yang pertama tahu soal sakit hatiku. Meski aku terlambat memberi tahu. Beliau sudah tahu soal aku yang menangis semalam, atau soal aku yang tiba-tiba menjadi begitu dingin. Ibu jadi yang pertama menepuk pundakku dan berkata semuanya bakal baik-baik saja. Bahwa aku akan mendapatkan dia yang terbaik bagiku. Ibu bilang, laki-laki yang baik bakal datang nantinya dan saat itu tiba, ibu akan jadi orang di garis depan. Memastikan bahwa laki-laki itu bukan orang yang salah. Memastikan anak perempuannya tidak salah memilih, memastikan anak perempuannya tidak menangis lagi semalaman..........

Ibu yang paling tahu semua kebutuhanku. Beliau yang rela tiba-tiba menjadi kesusahan untuk menolongku. Masih kuingat betul beliau menerobos hujann hanya untuk membelikanku sepatu. Lalu diletakkannya di dalam kotak dan diberikan padaku sebagai kado ulangtahun,
"Mbak, ini umi belikan sepatu. Umi pergi hujan-hujan lho untuk kasih kamu ini". dan beliau tidak tahu, aku di kamar menangis mengadu pada Allah. Merasa bodoh tak kubeli sendiri sepatuku. Bahkan detik ini saat aku menulisnya aku masih menangis mengingatnya sembari membayangkan ibu hujan-hujan dengan motor dan jas hujannya.
  Atau saat aku ketakutan lampu depan motorku belum kuganti kemarin, padahal aku pulang malam. Bagaimana kulewati jalan dari kampus ke rumah selama 30 menit dengan lampu depan yang mati? Betapa kagetnya saat kunyalakan motor, lampu depan motorku sudah menyala, terang. Ibu sudah mengganti lampunya........................ :")

Ibu itu guru pertamaku. Mengajariku mengaji, membaca, bahkan memasak. Bahkan saat adikku bilang masakanku membuat orang muntah, ibu hanya tersenyum mencicipinya. Memasang ekspresi pura-pura enak.
"Belajar memasak itu nggak bisa sekali langsung mahir, besok dicoba lagi ya. Semangat dong!"
Ibu selalu jadi apa saja. Apa saja buatku. Sayangnya, aku masih menjadi gadis kecilnya. Belum kubuat banggakah dirimu bu? Tunggu sebentar ya, sebentaar lagi. biar kutata perlahan-lahan bu.
Selamat malam, semoga mimpi indah :)

No comments:

Post a Comment