Saturday, November 2, 2013

habis gelap, terbitlah kamu

Aku tersenyum, sepertinya manis. Bagiku, senyumku asal alasannya kamu adalah senyum paling manis. Kamu selalu bilang bukan, senyumku seperti bulan sabit. Melengkung sederhana secara sempurna. Aku selalu malas mengakuinya, setahuku aku tidak bisa memasang muka manis.***
"Kaya bulan? Aku bopeng dong." Sergahku sembari mengalihkan pembicaraan. Aku sudah mulai salting dan itu artinya akan ada serentetan hal yang memalukan bakal terjadi.
"Kamu satu-satunya bulan yang nggak bopeng."
"Apadeh, jangan ngaco."
"Kamu itu paling nggak bisa diajak romantis." Lalu dia memalingkan muka. Mendaratkan pandangannya pada sudut lain, sudah bukan aku.
Hihi, ngambekan.
Padahal, di dalam sini aku meleleh setengah mati.

Namanya Rio, Satrio Azizi. Dia pengamat langit malam, dan aku penikmat ocehannya tentang gugus-gugus bintang dan segala rasi atau apalah itu yang tidak bisa kuhafal satu persatu, aku hanya suka caranya memaparkan rahasia-rahasia langit. Yang aku tangkap dari serentetan penjelasannya paling hanya kalimat-kalimat kesimpulan, seperti.......dia yang selalu mau seperti bintang. Yang sabar dan betah menunggu hasil kerja keras. Katanya, bintang itu terus bereaksi fusi dan mengalami pembakaran walaupun sinarnya sampai setelah bertahun-tahun kemudian. Walaupun aku takpaham apa itu reaksi fusi, aku iyakan saja.

Rio kelihatan ganteng bila sudah berbicara tentang astronomi, karena dia selalu bahagia bila memaparkannya. Kadang aku cemburu pada langit, kapan aku diceritakan pada orang lain sebegitu senangnya?

Sewaktu SMA kami sering menghabiskan malam-malam bersama, kami satu organisasi. OSIS sekolah kami sering menghabiskan kegiatan hingga malam hari. Sebenarnya tidak hanya berdua tapi aku lebih suka menganggap hanya ada aku dan dia. Bukankah menjadi lebih indah dipaparkan bila hanya dua insan saja yang diceritakan? Kami biasa duduk di tengah lapangan membahas apapun tentang acara besok lalu diselingi dengan berbicara tentang langit malam. Dia sering membuat persegi panjang dari jemarinya, seperti membuat papan bidikan mempertemukan telunjuk tangan kiri dengan ibu jari tangan kanan, dan sebaliknya. Lalu dia meneropong lewat segiempat buatannya itu. Kata yang selalu keluar pertama kali adalah,
"Bagus ya,"
Aku sampai hafal. Lalu setelah itu, dimulailah teorinya tentang langit seisinya.
"Kamu tahu, phytagoras tahu bumi itu tidak bulat dari dia mengamati langit. Kadang kita mendapati kebenaran lewat kita memaknai hal lain. Kadang kita tidak bisa melihat kebenaran secara langsung. Harus memutar otak dan melihat dari berbagai sudut pandang lalu kamu baru bisa membuktikan hal itu benar." Rio bermain analogi. Aku berfikir keras, lalu mengangguk-angguk tanda sepakat.
Ah dasar! Dia selalu saja bisa berlagak begitu bijak. ***

Berlatar senja, di Universitas Brawijaya. Empat tahun berselang. Kami tak lagi bisa duduk bersama di tengah lapangan.

Aku masih memandangi ponselku, tepatnya meratapinya. Dia kesepian akhir-akhir ini. Ingin kucarikan teman, tapi dia tidak mau. Dia hanya mau Rio. Terhitung semenjak perdebatan kami tempo hari, ponsel ini menjadi banting-able.
"Aku sedang sibuk! Kamu harus paham dong."
"Aku juga sibuk, tapi masih aku sempatkan berkirim kabar. Bahkan aku masih bertanya kamu sudah makan atau belum." Aku merengek.
"Jangan kamu samakan aku seperti kamu." Nadanya mulai tidak enak didengar.
"Aku tidak menyamakan, aku hanya meminta kamu ada sedikit saja waktu buat aku."
"Bulan sabit, aku ini sedang mengurusi simposium nasional dan itu tidak mudah." Rio memelankan temponya, seperti sedang mendikte anak kecil. Bahkan dia masih sempat-sempatnya memanggil bulan sabit. Tapi aku tidak peduli, aku sedang marah.
 "Iya, aku paham." Kataku buru-buru.
"Kamu tidak paham!" 
Sambungan kami terputus. Entah oleh apa.

Aku hanya tidak mengerti mengapa dia bisa sesibuk itu, bahkan dua hari kemarin dia hilang tanpa alasan. Kuhubungi teman sekontrakannya, mereka bilang dia juga dua hari tidak pulang. Pikiranku terbang kesana kemari, mungkin seadainya kugunakan teleskop Huble yang selau dia bangga-banggakan kecanggihannya itu, juga taksanggup menemukan dia ada dimana. Padahal besok aku ulang tahun, sepertinya dia juga lupa.***

Bolak-balik kutekan fast call-ku, susah sekali terhubung dengannya saat ini.  Aku paranoid. Jangan-jangan dia sudah tidak peduli lagi.

Terhubung.
"Kamu kemana aja sih, aku butuh tauuu." Belum-belum aku sudah mengomel. Sebenarnya aku hanya ingin tanya, dia ingat tidak dengan ulang tahunku hari ini.....
"Aku kan sudah bilang semingguan ini aku panitia simposium, kamu tidak menyimak dengan baik."
"Bete." Kataku.
"Kamu telfon aku cuma mau bilang bete?" Dia tampak sebal di seberang sana
"Nggak sih, aku cuma mau bilang kamu jangan lupa makan. Jangan capek-capek, nanti sakit." Kataku sambil tersipu di seberang telepon.
"Kamu ini, hiiiih, sudah jangan recokin aku. Aku masih kepanitiaan ini." Aku terkekeh sendiri mendengar dia sebal seperti ini.
"Siap komandan. Sinyal diterima. Tapi komandan tidak menangkap sinyal saya." Ujarku sok menjadi agen.
"Aku tahu kok, kamu menelfon karena kamu mau protes kan? Pasti habis ini kalau aku lanjutin pura-pura nggak tahu kamu bakal sok nanya ini hari apa. Iya kan? Masa aku lupa sih ulang tahunmu. Buruan cek email sana." ***
 Ada satu file yang dikirim.

Satu video berdurasi 2 menit 37 detik. Dan dikirim pukul 00:01. Butuh perjuangan untuk mengunduhnya.

Sekumpulan awan hitam menjadi pembuka dari video, langit malam dengan bintang-bintang yang indaaah sekali. Lalu kamera berbalik, menghadap perekamnya. Tampak wajah Rio dengan menggunakan penutup kepala, lucu sekali.
"Kamu bisa lihat itu? Kamu lihat bulan sabit yang melengkung sesempurna senyummu itu? Bagus sekali ya. Waktu aku lihat langit dengan benda-bendanya yang begitu memukau, aku langsung ingat, aku harus membaginya dengan kamu." 
Gambar di video berbalik menunjukkan gemerlap langit malam lagi, tapi tiba-tiba semakin gelap, hingga hanya ada warna hitam saja di layarku. Cukup membuatku bertanya-tanya, ini ada kerusakan di videonya atau bagaimana hingga ada nyala api kecil di tengah-tengah. Lilin.

Rio berada di belakang lilin-lilin yang tertancap di atas tart kecil. Aku senyam-senyum melihat tingkahnya. Lalu dia menyanyikan lagu selamat ulang tahun sambil mengucap doa untukku. Ah, dia....

Di akhir videonya, ada satu gambar lalu tulisan berjalan.
Maafkan, aku sering sibuk. Tapi itu tidak berarti aku sudah lupa. katanya Mahasiswa ITB itu punya 3 prioritas: akademik, organisasi, 'perasaan'. Sayangnya, harus pilih 2 diantara 3. Dan aku tidak mau tidak memilih perasaan. Tapi juga tidak mau kukorbankan akademik dan organisasiku. Aku harus egois dan idealis, semuanya sama penting. Bersabarlah sedikit ya, aku tidak ingin melepasmu. Aku sedang menjelma menjadi bintang, bereaksi fusi agar cahanya bisa sampai dengan terang meski bertahun-tahun. Nanti, tiba saatnya sinar bintang ini sampai dan menjemputmu. Selamat Ulang Tahun bulan sabit :)


 Aku menangis. Ini sepele, tapi aku sudah dibuatnya tidak bisa berkata-kata. Dia sempatkan, dia masih menyempatkan membuatkan kejutan sederhana dibalik jadwalnya yang padat. Setelah video itu berakhir, kini yang ada malah rindu. Taksempat kututup email, aku segera menghubunginya kembali.
"Sudah lihat? Maaf kalau tidak suka." Rio mengawali pembicaraan sebelum sempat aku mengutarakan salam pembuka.
"Aku suka. Tapi maaf ada yang lebih aku suka lagi dari ini, entah kamu sadar atau tidak." Ujarku dingin.
"Apa Nad?"
"Kamu." ***











No comments:

Post a Comment