Awan menggantung beringsut turun, menghitam separuh sedang sisanya penuh pendar bintang yang luruh. Terselip satu tanya pada dia yang duduk dibawah temaram lampu. Hei hei kau sudah tau namaku belum?
Dalam kabut yang singgah di dua pertiga malam, menggigillah separuh jiwa. Menggulung luka dalam sajaknya. Aku terpojok dalam pasrah : kamu tidak menyapa.
Embun menari di pinggiran pelupuk yang berbaris, sayup kucium aroma pagi merintih. Ah, aku lihai dalam menipu tiup-tiup angin. Hingga kusembunyikan bisikam rasa ini, padahal ia sudah memaki, mencari hati yang tersepih sebagian—dalam kamu yang diam sedari tadi.
Tidak bisakah sejenak menatapku? Biar kuamati lekat-lekat, biar kusapa dekat, biar kupeluk erat.
cin.
ta.
No comments:
Post a Comment