Friday, February 28, 2014

Percayalah, Kamu Hebat!

 Beruntunglah bagi kalian yang mempunyai mimpi, karena tidak semua orang memilikinya. Satu saja sudah bagus, apalagi tigaaku harap semuanya tidak berhenti sampai disitu. Semoga ada banyak mimpi-mimpi lain yang menyusul. Bermimpilah, maka kamu akan hidup!

Sudah berkali-kali aku meniti jalan yang sama, sebuah desa di tepian kota Malang, Kucur. Tetap saja aku jatuh cinta, menikmati setiap detil perjalanannya. Coba sekali-kali kamu ikut, lalu rasakan perubahan udara dari kota ke desa. Betapa menyenangkan menari-nari diantara hawa yang masih jernih belum terlalu dalam dijamah oleh kata dinamis. Sejenak pejamkan mata lalu hirup sebanyak yang kamu bisa, rasakan nikmat-nikmat Allah memenuhi setiap inchi alveoli. Ya, Maha Sempurna Allah menciptakan kebahagiaan yang bisa ada dengan sederhana.

Setiap Sabtu kuusahakan untuk meluangkan waktu belajar disana bersama adik-adik di Desa Kucur. Meninggalkan kota yang banyak menggoda dengan kafe-kafenya yang kian hari kian nyaman untuk disinggahi, atau pusat perbelanjaan yang sudah mengedip-kedipkan matanya menggodamu agar melirik stok new arrivalnya, dan hal duniawi lainnya. Disini aku dan teman-temanku berbagi banyak hal, mulai potongan surat cinta Yang Di Atas atau pelajaran-pelajaran biasa. Kubagikan sebisaku, lebih banyak mereka yang membagikan pengalamannya. Semuanya terangkum jadi satu dalam kantong pengalaman.

Satu kali, aku coba bertanya tentang mimpi mereka. Kebanyakan tidak tahu, bahkan bertanya balik “mimpi yang seperti apa”. Lalu kucoba jelaskan dengan definisi sederhana, anggaplah sama dengan cita-cita, atau apapun yang kamu pengen. Kebanyakan juga masih menerawang. Aku terdiam, desa ini krisis mimpi. Lalu ada kejadian yang menguatkan hipotesisku....

Ialah pada satu hari kami mengadakan pengajian untuk ibu-ibu desa setempat. Lalu ustadz menanyakan ada atau tidak anak-anak yang masih sekolah di bangku kuliah. Jawabannya tidak ada, kebanyakan dari mereka lebih memilih bekerja, bahkan yang berumur satu tahun dibawahku sudah memiliki anak satu. Glek.
                Yok nopo malih pak, lha wong tuwone sampun usaha mung areke sing mboten purun kuliah. Mboten nututi, tirose mboten purun mikir malih.” Bagaimana lagi pak, orangtuanya sudah usaha tapi anaknya yang tidak mau kuliah. Tidak sanggup, katanya sudah tidak mau lagi berfikir. Kata salah satu ibu-ibu disana sembar memijat-mijat kakinya sendiri yang terlalu lama duduk bersila.
Aku ingat, dulu pernah kutanya salah satu murid yang duduk di bangku kelas 6 SD apa mereka mau lanjut SMP atau tidak, jawabannya sederhana, 
“Ya mau-mau aja mbak, kalau nggak lulus ya tinggal kerja bantu-bantu ibuk. Soalnya saya nggak nutut mikirnya.”
Dan aku terhenyak, lebih terdiam lagi saat kudengar jawaban salah satu adik disini. Bahkan tidak hanya terdiam, tapi juga sedih......senada dengan bahagia, alasan sedihpun bisa berasal dari hal-hal sederhana termasuk sebuah kata.
 “Kalau kamu mimpinya mau jadi apa?” tanyaku pada bocah laki-laki yang kira-kira berumur 7 tahun. 
 “Maling mbak.”
Sebegitu krisisnya kah sampai maling menjadi jawaban atas semua pertanyaan soal mimpi? dan tidakkah mereka mempunyai keinginan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik dari kondisi mereka sekarang? Tidak adakah yang membantu mereka merancang masa depan atau memberitahu pentingnya mempunya tujuan hidup? Ada? Atau yang bertanggungjawab mengajarkan malah sibuk dengan urusan dunianya sendiri, mengejar eksistensi, popularitas, profit, semuanya untuk diri sendiri. Apa tidak lelah hidup seperti itu? terlalu banyak pertanyaan, dan sekali lagi semuanya hanya butuh pemahaman.

Mengerti bahwa di balik hidup yang lebih baik ada mimpi-mimpi kecil yang menggerakkan, terangkum dalam doa dan setiap langkah realisasi. Memaknai bahwa berbagi itu selalu diperlukan, pun dengan mimpi. Mensyukuri bahwa menjadi pemimpi ulung tidaklah buruk, hanya butuh huruf "n" untuk memperbaikinya. Mengubah pemimpi menjadi pemimpin yang memutuskan kemana kaki melangkah minimal untuk diri sendiri. 

Percaya padaku, saat kamu punya satu mimpi entah menurutmu itu besar atau kecil, bersyukurlah! Setidaknya kamu sudah berdiri satu langkah, berani memetakan masa depanmu, punya visi serta motivasi untuk memperbaiki masa yang akan datang. Selanjutnya, teruslah bermimpi sambil merealisasikan satu persatu dari mimpimu. Hebat bagi kamu yang tahu apa yang kamuinginkan dan kau berjuang atasnya, setidaknya kamu memegang kemudi atas kapalmu sendiri. Berhenti membanding-bandingkan dan memandang rendah dirimu sendiri. Apapun itu ketika kamu punya mimpi, kamu sudah hebat. Mereka-mereka yang menurutmu jauh diatasmu itu awalnya juga berawal dari sebuah mimpi. Hanya masalah waktu saja, mereka lebih cepat dan bijak mengelola detik yang semakin giat menganggalkan tik-toknya.

Percayalah, memiliki mimpi adalah anugrah! Jangan pernah malu menggantungnya setinggi mungkin. Agar kamu selalu memiliki keinginan berjinjit, atau bahkan terbang untuk mencapainya.

Sunday, February 23, 2014

Namanya Juga Jatuh Cinta, Tetap Saja Jatuh.


Kamu tahu rasanya jatuh cinta? Seperti daun pohon nangka yang mengering di depanku ini, jatuh. Jatuh begitu saja dengan bebasnya. Tanpa tahu rasanya menghantam tanah di bawahnya, tanpa menyalahkan angin yang mencoba merontokkannya, dan tanpa dirasa ia mengabaikan ocehan daun-daun yang lain atasnya. Merelakan dirinya lepas dari ketakutan atas ketinggian ego dan kuatnya pertahanan. Jatuh cinta sesederhana itu.
Dan dia yang di depanku ini juga sederhana, laki-laki dengan jalannya yang super cepat. Tapi hari ini dia terlambat sembari terburu-buru memeriksa apa-apa yang dibawanya. Tiba-tiba hari ini lebih cerah dari biasanya. Padahal, matahari sama bercahayanya dan awan-awan sama putihnya. Hanya kehadirannya yang membuat perbedaan, lalu sekejap dunia menjadi lebih berwarna. Aku berlebihan? Ya jatuh cinta memang selalu melebih-lebihkan. Tapi aku berkata apa adanya, beginilah yang kurasakan.
Kamu pernah tidak, merasakan tanpa kamu sadari sudah berdiri lumayan lama di depan cermin, sambil tersenyum dan memerah sendiri? Beginilah aku sebelum masuk kelas, memeriksa ada tidak yang aneh dari penampilanku. Aku tidak ingin tampil mencolok di hadapannya, aku hanya ingin tampil menarik. Ah, hal-hal konyol seperti itu selalu menjadi ciri khas orang yang sedang kasmaran sepertiku. Tingkahnya aneh, memalukan. Sayangnya aku tetap saja melakukannya. Memperhatikan dia dari jauh, berusaha menebak-nebak isi pikirannya, ingin ikut campur di dunianya, sok-sok mencari kepentingan dengannya,  ada saja alasanku. Memang selebar-lebarnya alas, masih lebar alasan bukan? Apalagi alasan orang jatuh cinta, tidak terima sebesar alas, bahkan sebesar langit yang terhampar saat kamu mendongak! Tuh kan, aku berlebihan lagi, khas orang kasmaran.
Sebenarnya, daun pohon nangka itu harus mengira-ngira seperti apa rasanya menghantam tanah agar dia tidak terlalu rapuh saat melintang di atasnya. Jangan seperti aku, yang jatuh tanpa berpikir. Pada akhirnya, terhentak beberapa saat. Ya, saat kita lulus dan sudah tidak berada di bangku yang sama adalah hal paling buruk dari jatuh cinta, namanya perpisahan. Sudah kenal dengannya?
Kalau jatuh cinta seperti daun nangka yang jatuh itu, maka perpisahan adalah anginnya. Entah dengan lembut atau kencang, angin selalu bertiup. Meniupi tanpa pandang saat bunga sedang mekar, atau saat kering meranggas. Angin tetap saja bertiup. Ujungnya, banyak yang dibuatnya jatuh. Sekalipun jatuh cintanamanya tetap jatuh, bukan? Dan kamu pasti tahu apa efek dari jatuh. Sakit. Masih untung kalau sakit saja. Kalau patah?
Langit jadi tak biru lagi dari kacamataku, dia menghitam. Dan matahari melulu sembunyi di balik selimutnya. Awan-awan tak putih lagi, mereka tetiba kelabu. Dunia tidak seindah dulu saat tatap mata ini tak menemukan objek untuk disandarkan. Padahal satu orang saja yang muram, tapi bagi hati-hati yang patah semesta juga ikut bertingkah demikian. Oalah, jadi begini rasanya “menghantam tanah”, sakit ya.... seperti orang bodoh yang tidak nafsu makan, cermin juga jadi tidak memikat lagi untuk dihadapkan denganku. Aku tidak mau jadi menarik, aku ingin lari bersembunyi. Disamping ibu saja, tidak mau kemana-mana.  
Benar, jatuh cinta itu...bagaimanapun namanya tetap jatuh. Sakit. Sakit yang tertunda karena daun nangka belum menghantam tanah, masih menari-nari bersama angin. Maka dari itu, aku memutuskan untuk tidak jatuh cinta mulai detik ini. Aku ingin bangun cinta saja.

Friday, February 21, 2014

Apa

Aku semakin tidak mengerti ujung muara dari samuderamu, juga tak bisa kutebak-tebak kemana ujung dari ombakmu.
 
Aku semakin tersesat mencari alur buih-buih dalam gelombangmu, pun tak sanggup kukayuh sepeda air untuk menerjang angin yang kini bertiup kesegala arah dari utara, selatan, barat, hingga timur.

Aku hilang kendali, tersesat dalam pikiranku sendiri. Tersesat dalam jawaban atas pertanyaan mengapa yang begitu banyak kuutarakan. Tersesat dalam seok-seok bayangmu yang menghantui, tersesat dalam asumsiku menebak-nebak ke arah mana kamu pergi.

Apa aku berdiri saja bak nyiur, yang diam sembari menikmati angin-angin yang berubah-ubah arahnya?

Apa aku melaut saja, tapi takkuarahkan kemudiku, takkugubris layarku, biar saja ia mengalir sekenanya?

Apa harus kubajak laut demi tahu jawaban kenapa ia mesti biru?
Apa perlu ku selami dasarmu yang paling dalam agar aku tahu kenapa harus ada kata tenggelam?
Apa harus kucaci angin supaya aku mengerti kenapa ia bercinta dengan ombak?
Apa harus aku terus bertanya, padahal kamu mau buka mulut saja enggan?
 Apa aku mati saja, untuk tahu apakah kamu merasa kehilanganku atau tidak?

Thursday, February 13, 2014

puisi (2)


Dipan ini mulai bosan, Tuan...bosan kutiduri
meski cedera-cedera lengan, lutut, dan pipi sudah pergi
tapi tak begitu kata hati

hatiku taklagi bersemi dan bersemu
kian hari, kian ngilu
tapi tak begitu kata Tuan
a
b
c
d
ah aku lupa, Tuan masih seperti dipanku, diam

masih betah kau?
kenapa tak kau cuatkan satu kata ?
Satu saja, untuk gadis yang baru sembuh dari beribu luka
Baiklah, tak jadi sembuh kalau begini caranya
Hatiku tambah meradang

ah kau, ya kauTuan tampanku yang sedang membaca secarik kertas lara
barusan kutuangkan parfum atasnya
agar kau geli, lalu kau goyang pena
kenapa tak balas suratku Tuan?

Wednesday, February 12, 2014

Rinjani Bulan Juni

Aku hanya mendengarnya dari cerita Niswah, tentang laki-laki penakluk gunung itu, Aku pikir, siapa yang tidak kagum pada perangainya? Pada kecintaannya terhadap Tuhan? Pada pengetahuannya? Pada kegemarannya membelai salah satu ciptaan terindah Tuhan : gunung!

Ah, laki-laki penakluk gunung itu bisa menggenggam hati banyak orang. Pun gadis yang selalu berharap bisa ikut mendaki salah satu gunung ini, meski salah satu gunung terendah saja....tapi ia masih terlalu takut.

Aku dengar dia mau menaklukkan Rinjani bulan Juni nanti. Sebenarnya, kalau kau intip benak ini, ada ratusan pertanyaan bak kupu-kupu pada musim pascaulat bulu. Beterbangan siap hinggap. Bagaimana rasanya udara di atas puncak gunung? Bagaimana rasanya mengejar matahari terbit? Apa kakimu tidak sakit? Apa yang pertamakali terpikir saat berada di puncak gunung? Tidak takut jatuh? Tidak takut mati? Sudah berapa gunung yang kau jelajahi? Tidak maukah kamu ambilkan beberapa gambar untukku, agar aku yang iri ini bisa ikut mencicipi manisnya pemandangan di atas sana meskipun hanya dari ponsel kecil? Tidak sakit kan? Atau lelah? Bagaimana persiapannya? Mengapa begitu cinta dengan gunung? Dan blablablablabla. Sudah kubilang, banyak sekali....

Akhir kata, gadis ini hanya gadis pemalu yang belum pantas bersanding menaklukkan gunung berdua dengan laki-laki penakluk gunung itu. Maka cukuplah dia diam mengamati dari jauh, hanya mendengar cerita Niswah, lalu dipanjatkan doa-doa sederhana. Semoga selalu dilindungi Allah. Selamat pergi-pulang Rinjani!

Monday, February 10, 2014

Siapa?


kamu yang paling tahu, perasaan tidak mungkin berubah secepat itu. kecuali, mungkin kamu yang tidak benar-benar merasakannya.
kamu yang paling tahu, sebenarnya lelah itu kapan datangnya? Atauhkah memang sudah sepantasnya berhenti berjuang?
tidak ada yang berubah, tidak ada yang menyerah.
Tuhan yang paling tahu, bagaimana cerita kita berakhir.
jangan berubah, jangan menyerah. Sekalipun usaha hanya dengan doa. Langit tidak pernah bosan menjadi saksi, betapa sering aku menengadah hanya untuk berkata,
"Tuhan tolong buat dia tersenyum setiap hari."

Tuesday, February 4, 2014

Diva


Namanya Diva, kalau ada yang bilang ketaatan seseorang dinilai dari kerudungnya, maka mereka harus berpikir ulang tentang konsep itu. Jangan tanya Diva bagaimana caranya beribadah seolah-olah ada wajah Tuhan di depannya, dia selalu menggugu setelah takbiratul ihram. Jangan pula tanya Diva bagaimana cara memperlakukan orang lain, tak pernah sekalipun dia tampakkan raut sedih di depan orang lain. Entah jika sedetik kemudian dia menyendiri lalu air mukanya berubah seratus delapan puluh derajat. Yang jelas, Diva selalu tampak ceria, sekalipun sedang ada masalah.
Aku pernah saat itu sedang bersama dia di satu kepanitiaan, tiba-tiba beruntun ada musibah untuknya, acara agak sedikit runyam, tas dan dompetnya hilang. Sedang kutahu Diva pasti sedang lelah-lelahnya dari kemarin nyaris tidak bisa meluruskan kaki. Apa yang Diva lakukan? Dia menyelesaikan semuanya sampai tuntas dahulu, tetap tersenyum. Saat semua panitia akan foto bersama di depan backdrop, aku mencari-cari kemana hilangnya Diva, tebak dia dimana?
Sedang berlari menghampiri Tuhannya lebih awal, dia bersujud lamaa sekali setelah itu, lalu dengan masih mengenakan rukuh dia duduk bersandar pada dinding musholla. Agak kaget saat dilihatnya ada aku disitu,
"Sedang apa disini?" tanyanya sambil menghapus jejak air mata yang menyisa di pipi. Lalu senyumnya masih mengembang, seluas langit biru. Dia bahkan masih tetap tersenyum.
Kupeluk saja, kupeluk dan enggan kulepas. Biar pelukanku ini yang bisikkan semoga dia kuat.
"Sudah sana, aku baik-baik saja." Aku masih diam, sekalipun Diva bilang dia sedang baik-baik. Aku tidak percaya, Diva itu penipu ulung soal pura-pura kuat. Siapapun harus berguru padanya.
Satu hal yang aku ingat sampai sekarang, sampai detik ini.  Nasihat kecil dari Diva yang berhati besar. Lapang. Mungkin kamu bisa sambil berenang-renang dan melayarkan kapal pesiar di hatinya hahaha.
Masalah itu selalu datang diluar apa yang kita pikirkan, dia datang untuk mendewasakan. Dan sesuai janji Allah, beban-beban yang menggantungi pundak itu selalu bisa kita selesaikan. Asal kita percaya, asal kita berusaha, 

Hujan Deras Semalam

Layaknya hujan deras semalam,
Terkadang terlalu dingin untuk diartikan, terlalu singkat untuk dikisahkan.
Itulah kamu dan hadirmu. 
Dan kenanganmu seperti becek yang masih menggenang hingga esok pagi.
Bekas berbekas, terlebih bila ciprat-ciprat itu menari setelah dihempas dan berbaring pasrah pada rok putih milik seorang gadis

Layaknya hujan deras semalam,
Menggertak atap-atap rumah, mencaci anak kucing yang mengeong sendirian
Itulah kamu dan hadirmu
Dan janjimu seperti payung-payung yang dikembangkan
Katanya bakal melindungi, nyatanya tetap basah

Ah, baiklah
perasaanku juga layaknya hujan deras semalam
Sudah reda, sekarang sudah pagi



Saturday, February 1, 2014

niat nge-random

halo, hai, assalamu'alaikum :)
hari ini, ayah nyulik ke Indonesia bagian Kediri. Yap, di desa kebon agung deketnya ketami.
Sebenernya nggak tau itu dimana, biasa kaaan suka tidur di mobil bangun-bangun udah nyampe. Sekalinya ditanyain "dimana" jawabnya cuma angkat pundak sambil geleng-geleng plus nyengirkuda! haha

Dan syukur alhamdulillah ayah bawa perkakas kerjanya : laptop, modem, dan buku. Seenggaknya aku ngga mati kutu :3 Diiringi nyanyian garengpung, di tengah kebun luas milik Om Aris yang penuh  ilalang, pohon rambutan, dan durian, (yap, entah kenapa bersyukur banget terdampar disini) aku rasa sekarang adalah waktu yang tepat buat nge-random. Buat refleksi diri, buat merenung. Waktu kaya kerasa lamaaa banget, nggak kaya di kota yang cepet. 

kalau aku nulis : udah aslinya cuma mau nulis gitu aja. pada sebel ga ya? hahahaha. Penting bingit sampe dipublish segala :p

ya, begitulah apik. Terimalah dengan segala ketidak jelasannya. Gadis kecil ini hanya sedang berpikir keras, 
"Enaknya hidup ke depannya mau bagaimana ya?"
juga sedang berpikir punya rumah di desa, dengan pekarangan yang luas, dikelilingi kebun bunga dan pohon-pohon buah. Di belakang juga ada ladang kecil-kecilan, tempat tomat, timun, daun sirih, bawang merah, dan singkong tumbuh. Nyaris sebelas dua belas seperti rumah Om Aris ini. Suaramu masih harus berlomba dengan nyanyian jangkring dan garengpung. Kalau senja datang menjemput dari kejauhan masih ada aroma tanah desa dan bau-bau tai sapi hihi. Dan jarak beberapa langkah dari rumah, jika kamu keluar untuk sekedar beli molto atau indomie ke toko di perempatan ujung desa, kamu dibanjiri sapaan,
"Monggo bu,"
"Badhe ten pundi?"
betapa harmoninya tinggal di desa :)