Tuesday, February 4, 2014

Diva


Namanya Diva, kalau ada yang bilang ketaatan seseorang dinilai dari kerudungnya, maka mereka harus berpikir ulang tentang konsep itu. Jangan tanya Diva bagaimana caranya beribadah seolah-olah ada wajah Tuhan di depannya, dia selalu menggugu setelah takbiratul ihram. Jangan pula tanya Diva bagaimana cara memperlakukan orang lain, tak pernah sekalipun dia tampakkan raut sedih di depan orang lain. Entah jika sedetik kemudian dia menyendiri lalu air mukanya berubah seratus delapan puluh derajat. Yang jelas, Diva selalu tampak ceria, sekalipun sedang ada masalah.
Aku pernah saat itu sedang bersama dia di satu kepanitiaan, tiba-tiba beruntun ada musibah untuknya, acara agak sedikit runyam, tas dan dompetnya hilang. Sedang kutahu Diva pasti sedang lelah-lelahnya dari kemarin nyaris tidak bisa meluruskan kaki. Apa yang Diva lakukan? Dia menyelesaikan semuanya sampai tuntas dahulu, tetap tersenyum. Saat semua panitia akan foto bersama di depan backdrop, aku mencari-cari kemana hilangnya Diva, tebak dia dimana?
Sedang berlari menghampiri Tuhannya lebih awal, dia bersujud lamaa sekali setelah itu, lalu dengan masih mengenakan rukuh dia duduk bersandar pada dinding musholla. Agak kaget saat dilihatnya ada aku disitu,
"Sedang apa disini?" tanyanya sambil menghapus jejak air mata yang menyisa di pipi. Lalu senyumnya masih mengembang, seluas langit biru. Dia bahkan masih tetap tersenyum.
Kupeluk saja, kupeluk dan enggan kulepas. Biar pelukanku ini yang bisikkan semoga dia kuat.
"Sudah sana, aku baik-baik saja." Aku masih diam, sekalipun Diva bilang dia sedang baik-baik. Aku tidak percaya, Diva itu penipu ulung soal pura-pura kuat. Siapapun harus berguru padanya.
Satu hal yang aku ingat sampai sekarang, sampai detik ini.  Nasihat kecil dari Diva yang berhati besar. Lapang. Mungkin kamu bisa sambil berenang-renang dan melayarkan kapal pesiar di hatinya hahaha.
Masalah itu selalu datang diluar apa yang kita pikirkan, dia datang untuk mendewasakan. Dan sesuai janji Allah, beban-beban yang menggantungi pundak itu selalu bisa kita selesaikan. Asal kita percaya, asal kita berusaha, 

Ya, Diva…Innallaha ma’ana.

No comments:

Post a Comment