Aku semakin tidak mengerti ujung muara dari samuderamu, juga tak bisa kutebak-tebak kemana ujung dari ombakmu.
Aku semakin tersesat mencari alur buih-buih dalam gelombangmu, pun
tak sanggup kukayuh sepeda air untuk menerjang angin yang kini bertiup
kesegala arah dari utara, selatan, barat, hingga timur.
Aku hilang kendali, tersesat dalam pikiranku sendiri. Tersesat dalam jawaban atas pertanyaan mengapa yang begitu banyak kuutarakan. Tersesat dalam seok-seok bayangmu yang menghantui, tersesat dalam asumsiku menebak-nebak ke arah mana kamu pergi.
Apa aku berdiri saja bak nyiur, yang diam sembari menikmati angin-angin yang berubah-ubah arahnya?
Apa aku melaut saja, tapi takkuarahkan kemudiku, takkugubris layarku, biar saja ia mengalir sekenanya?
Apa harus kubajak laut demi tahu jawaban kenapa ia mesti biru?
Apa perlu ku selami dasarmu yang paling dalam agar aku tahu kenapa harus ada kata tenggelam?
Apa harus kucaci angin supaya aku mengerti kenapa ia bercinta dengan ombak?
Apa harus aku terus bertanya, padahal kamu mau buka mulut saja enggan?
Apa aku mati saja, untuk tahu apakah kamu merasa kehilanganku atau tidak?
apa…..
Aku hilang kendali, tersesat dalam pikiranku sendiri. Tersesat dalam jawaban atas pertanyaan mengapa yang begitu banyak kuutarakan. Tersesat dalam seok-seok bayangmu yang menghantui, tersesat dalam asumsiku menebak-nebak ke arah mana kamu pergi.
Apa aku berdiri saja bak nyiur, yang diam sembari menikmati angin-angin yang berubah-ubah arahnya?
Apa aku melaut saja, tapi takkuarahkan kemudiku, takkugubris layarku, biar saja ia mengalir sekenanya?
Apa harus kubajak laut demi tahu jawaban kenapa ia mesti biru?
Apa perlu ku selami dasarmu yang paling dalam agar aku tahu kenapa harus ada kata tenggelam?
Apa harus kucaci angin supaya aku mengerti kenapa ia bercinta dengan ombak?
Apa harus aku terus bertanya, padahal kamu mau buka mulut saja enggan?
Apa aku mati saja, untuk tahu apakah kamu merasa kehilanganku atau tidak?
apa…..
No comments:
Post a Comment