Sudah berkali-kali aku meniti jalan yang sama, sebuah desa
di tepian kota Malang, Kucur. Tetap saja aku jatuh cinta, menikmati setiap
detil perjalanannya. Coba sekali-kali kamu ikut, lalu rasakan perubahan udara
dari kota ke desa. Betapa menyenangkan menari-nari diantara hawa yang masih
jernih belum terlalu dalam dijamah oleh kata dinamis. Sejenak pejamkan mata
lalu hirup sebanyak yang kamu bisa, rasakan nikmat-nikmat Allah memenuhi setiap
inchi alveoli. Ya, Maha Sempurna Allah menciptakan kebahagiaan yang bisa
ada dengan sederhana.
Setiap Sabtu
kuusahakan untuk meluangkan waktu belajar disana bersama adik-adik di Desa
Kucur. Meninggalkan kota yang banyak menggoda dengan kafe-kafenya yang kian
hari kian nyaman untuk disinggahi, atau pusat perbelanjaan yang sudah
mengedip-kedipkan matanya menggodamu agar melirik stok new arrivalnya, dan hal duniawi lainnya. Disini aku dan
teman-temanku berbagi banyak hal, mulai potongan surat cinta Yang Di Atas atau
pelajaran-pelajaran biasa. Kubagikan sebisaku, lebih banyak mereka yang
membagikan pengalamannya. Semuanya terangkum jadi satu dalam kantong
pengalaman.
Satu kali, aku coba bertanya tentang mimpi mereka. Kebanyakan
tidak tahu, bahkan bertanya balik “mimpi yang seperti apa”. Lalu kucoba
jelaskan dengan definisi sederhana, anggaplah sama dengan cita-cita, atau
apapun yang kamu pengen. Kebanyakan juga
masih menerawang. Aku terdiam, desa ini krisis mimpi. Lalu ada kejadian yang
menguatkan hipotesisku....
Ialah pada satu hari kami mengadakan pengajian untuk ibu-ibu
desa setempat. Lalu ustadz menanyakan ada atau tidak anak-anak yang masih
sekolah di bangku kuliah. Jawabannya tidak ada, kebanyakan dari mereka lebih
memilih bekerja, bahkan yang berumur satu tahun dibawahku sudah memiliki anak
satu. Glek.
“Yok nopo malih pak, lha wong tuwone sampun usaha mung areke sing mboten purun kuliah. Mboten nututi, tirose mboten purun mikir malih.” Bagaimana lagi pak, orangtuanya sudah usaha tapi anaknya yang tidak mau kuliah. Tidak sanggup, katanya sudah tidak mau lagi berfikir. Kata salah satu ibu-ibu disana sembar memijat-mijat kakinya sendiri yang terlalu lama duduk bersila.
Aku ingat, dulu pernah kutanya salah satu murid yang duduk
di bangku kelas 6 SD apa mereka mau lanjut SMP atau tidak, jawabannya
sederhana,
“Ya mau-mau aja mbak, kalau nggak lulus ya tinggal kerja bantu-bantu ibuk. Soalnya saya nggak nutut mikirnya.”
Dan aku terhenyak, lebih terdiam lagi saat kudengar jawaban salah satu adik
disini. Bahkan tidak hanya terdiam, tapi juga sedih......senada dengan bahagia, alasan sedihpun bisa berasal dari hal-hal sederhana termasuk sebuah kata.
“Kalau kamu mimpinya mau jadi apa?” tanyaku pada bocah laki-laki yang kira-kira berumur 7 tahun.
“Maling mbak.”
Sebegitu krisisnya kah sampai maling menjadi jawaban atas
semua pertanyaan soal mimpi? dan tidakkah mereka mempunyai keinginan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik dari kondisi mereka sekarang? Tidak adakah yang membantu mereka merancang masa depan atau memberitahu pentingnya mempunya tujuan hidup? Ada? Atau yang bertanggungjawab mengajarkan malah sibuk dengan urusan dunianya sendiri, mengejar eksistensi, popularitas, profit, semuanya untuk diri sendiri. Apa tidak lelah hidup seperti itu? terlalu banyak pertanyaan, dan sekali lagi semuanya hanya butuh pemahaman.
Mengerti bahwa di balik hidup yang lebih baik ada mimpi-mimpi kecil yang menggerakkan, terangkum dalam doa dan setiap langkah realisasi. Memaknai bahwa berbagi itu selalu diperlukan, pun dengan mimpi. Mensyukuri bahwa menjadi pemimpi ulung tidaklah buruk, hanya butuh huruf "n" untuk memperbaikinya. Mengubah pemimpi menjadi pemimpin yang memutuskan kemana kaki melangkah minimal untuk diri sendiri.
Mengerti bahwa di balik hidup yang lebih baik ada mimpi-mimpi kecil yang menggerakkan, terangkum dalam doa dan setiap langkah realisasi. Memaknai bahwa berbagi itu selalu diperlukan, pun dengan mimpi. Mensyukuri bahwa menjadi pemimpi ulung tidaklah buruk, hanya butuh huruf "n" untuk memperbaikinya. Mengubah pemimpi menjadi pemimpin yang memutuskan kemana kaki melangkah minimal untuk diri sendiri.
Percaya padaku, saat kamu punya satu mimpi entah
menurutmu itu besar atau kecil, bersyukurlah! Setidaknya kamu sudah berdiri
satu langkah, berani memetakan masa depanmu, punya visi serta motivasi untuk
memperbaiki masa yang akan datang. Selanjutnya, teruslah bermimpi sambil
merealisasikan satu persatu dari mimpimu. Hebat bagi kamu yang tahu apa yang kamuinginkan
dan kau berjuang atasnya, setidaknya kamu memegang kemudi atas kapalmu sendiri.
Berhenti membanding-bandingkan dan memandang rendah dirimu sendiri. Apapun itu
ketika kamu punya mimpi, kamu sudah hebat. Mereka-mereka yang menurutmu jauh
diatasmu itu awalnya juga berawal dari sebuah mimpi. Hanya masalah waktu saja,
mereka lebih cepat dan bijak mengelola detik yang semakin giat menganggalkan
tik-toknya.
Percayalah, memiliki mimpi adalah anugrah! Jangan pernah
malu menggantungnya setinggi mungkin. Agar kamu selalu memiliki keinginan
berjinjit, atau bahkan terbang untuk mencapainya.
Semoga semua mimpi
diamini, selamat memulai mimpi-mimpi manis. Jangan lupa merealisasikannya!
No comments:
Post a Comment