Sunday, February 23, 2014

Namanya Juga Jatuh Cinta, Tetap Saja Jatuh.


Kamu tahu rasanya jatuh cinta? Seperti daun pohon nangka yang mengering di depanku ini, jatuh. Jatuh begitu saja dengan bebasnya. Tanpa tahu rasanya menghantam tanah di bawahnya, tanpa menyalahkan angin yang mencoba merontokkannya, dan tanpa dirasa ia mengabaikan ocehan daun-daun yang lain atasnya. Merelakan dirinya lepas dari ketakutan atas ketinggian ego dan kuatnya pertahanan. Jatuh cinta sesederhana itu.
Dan dia yang di depanku ini juga sederhana, laki-laki dengan jalannya yang super cepat. Tapi hari ini dia terlambat sembari terburu-buru memeriksa apa-apa yang dibawanya. Tiba-tiba hari ini lebih cerah dari biasanya. Padahal, matahari sama bercahayanya dan awan-awan sama putihnya. Hanya kehadirannya yang membuat perbedaan, lalu sekejap dunia menjadi lebih berwarna. Aku berlebihan? Ya jatuh cinta memang selalu melebih-lebihkan. Tapi aku berkata apa adanya, beginilah yang kurasakan.
Kamu pernah tidak, merasakan tanpa kamu sadari sudah berdiri lumayan lama di depan cermin, sambil tersenyum dan memerah sendiri? Beginilah aku sebelum masuk kelas, memeriksa ada tidak yang aneh dari penampilanku. Aku tidak ingin tampil mencolok di hadapannya, aku hanya ingin tampil menarik. Ah, hal-hal konyol seperti itu selalu menjadi ciri khas orang yang sedang kasmaran sepertiku. Tingkahnya aneh, memalukan. Sayangnya aku tetap saja melakukannya. Memperhatikan dia dari jauh, berusaha menebak-nebak isi pikirannya, ingin ikut campur di dunianya, sok-sok mencari kepentingan dengannya,  ada saja alasanku. Memang selebar-lebarnya alas, masih lebar alasan bukan? Apalagi alasan orang jatuh cinta, tidak terima sebesar alas, bahkan sebesar langit yang terhampar saat kamu mendongak! Tuh kan, aku berlebihan lagi, khas orang kasmaran.
Sebenarnya, daun pohon nangka itu harus mengira-ngira seperti apa rasanya menghantam tanah agar dia tidak terlalu rapuh saat melintang di atasnya. Jangan seperti aku, yang jatuh tanpa berpikir. Pada akhirnya, terhentak beberapa saat. Ya, saat kita lulus dan sudah tidak berada di bangku yang sama adalah hal paling buruk dari jatuh cinta, namanya perpisahan. Sudah kenal dengannya?
Kalau jatuh cinta seperti daun nangka yang jatuh itu, maka perpisahan adalah anginnya. Entah dengan lembut atau kencang, angin selalu bertiup. Meniupi tanpa pandang saat bunga sedang mekar, atau saat kering meranggas. Angin tetap saja bertiup. Ujungnya, banyak yang dibuatnya jatuh. Sekalipun jatuh cintanamanya tetap jatuh, bukan? Dan kamu pasti tahu apa efek dari jatuh. Sakit. Masih untung kalau sakit saja. Kalau patah?
Langit jadi tak biru lagi dari kacamataku, dia menghitam. Dan matahari melulu sembunyi di balik selimutnya. Awan-awan tak putih lagi, mereka tetiba kelabu. Dunia tidak seindah dulu saat tatap mata ini tak menemukan objek untuk disandarkan. Padahal satu orang saja yang muram, tapi bagi hati-hati yang patah semesta juga ikut bertingkah demikian. Oalah, jadi begini rasanya “menghantam tanah”, sakit ya.... seperti orang bodoh yang tidak nafsu makan, cermin juga jadi tidak memikat lagi untuk dihadapkan denganku. Aku tidak mau jadi menarik, aku ingin lari bersembunyi. Disamping ibu saja, tidak mau kemana-mana.  
Benar, jatuh cinta itu...bagaimanapun namanya tetap jatuh. Sakit. Sakit yang tertunda karena daun nangka belum menghantam tanah, masih menari-nari bersama angin. Maka dari itu, aku memutuskan untuk tidak jatuh cinta mulai detik ini. Aku ingin bangun cinta saja.




No comments:

Post a Comment