Kamu tahu rasanya jatuh cinta? Seperti daun pohon nangka
yang mengering di depanku ini, jatuh. Jatuh begitu saja dengan bebasnya. Tanpa tahu
rasanya menghantam tanah di bawahnya, tanpa menyalahkan angin yang mencoba merontokkannya,
dan tanpa dirasa ia mengabaikan ocehan daun-daun yang lain atasnya. Merelakan dirinya
lepas dari ketakutan atas ketinggian ego dan kuatnya pertahanan. Jatuh cinta
sesederhana itu.
Dan dia yang di depanku ini juga sederhana, laki-laki
dengan jalannya yang super cepat. Tapi hari ini dia terlambat sembari
terburu-buru memeriksa apa-apa yang dibawanya. Tiba-tiba hari ini lebih cerah
dari biasanya. Padahal, matahari sama bercahayanya dan awan-awan sama putihnya.
Hanya kehadirannya yang membuat perbedaan, lalu sekejap dunia menjadi lebih
berwarna. Aku berlebihan? Ya jatuh cinta memang selalu melebih-lebihkan. Tapi aku
berkata apa adanya, beginilah yang kurasakan.
Kamu pernah tidak, merasakan tanpa kamu sadari sudah
berdiri lumayan lama di depan cermin, sambil tersenyum dan memerah sendiri? Beginilah
aku sebelum masuk kelas, memeriksa ada tidak yang aneh dari penampilanku. Aku tidak
ingin tampil mencolok di hadapannya, aku hanya ingin tampil menarik. Ah,
hal-hal konyol seperti itu selalu menjadi ciri khas orang yang sedang kasmaran
sepertiku. Tingkahnya aneh, memalukan. Sayangnya aku tetap saja melakukannya. Memperhatikan
dia dari jauh, berusaha menebak-nebak isi pikirannya, ingin ikut campur di
dunianya, sok-sok mencari kepentingan dengannya, ada saja alasanku. Memang selebar-lebarnya
alas, masih lebar alasan bukan? Apalagi alasan orang jatuh cinta, tidak terima
sebesar alas, bahkan sebesar langit yang terhampar saat kamu mendongak! Tuh kan,
aku berlebihan lagi, khas orang kasmaran.
Sebenarnya, daun pohon nangka itu harus mengira-ngira
seperti apa rasanya menghantam tanah agar dia tidak terlalu rapuh saat
melintang di atasnya. Jangan seperti aku, yang jatuh tanpa berpikir. Pada akhirnya,
terhentak beberapa saat. Ya, saat kita lulus dan sudah tidak berada di bangku
yang sama adalah hal paling buruk dari jatuh cinta, namanya perpisahan. Sudah kenal
dengannya?
Kalau jatuh cinta seperti daun nangka yang jatuh itu, maka
perpisahan adalah anginnya. Entah dengan lembut atau kencang, angin selalu
bertiup. Meniupi tanpa pandang saat bunga sedang mekar, atau saat kering
meranggas. Angin tetap saja bertiup. Ujungnya, banyak yang dibuatnya jatuh. Sekalipun
jatuh cinta—namanya
tetap jatuh, bukan? Dan kamu pasti tahu apa efek dari jatuh. Sakit. Masih untung
kalau sakit saja. Kalau patah?
Langit jadi tak biru lagi dari kacamataku, dia menghitam. Dan
matahari melulu sembunyi di balik selimutnya. Awan-awan tak putih lagi, mereka
tetiba kelabu. Dunia tidak seindah dulu saat tatap mata ini tak menemukan objek
untuk disandarkan. Padahal satu orang saja yang muram, tapi bagi hati-hati yang
patah semesta juga ikut bertingkah demikian. Oalah, jadi begini rasanya “menghantam
tanah”, sakit ya.... seperti orang bodoh yang tidak nafsu makan, cermin juga
jadi tidak memikat lagi untuk dihadapkan denganku. Aku tidak mau jadi menarik,
aku ingin lari bersembunyi. Disamping ibu saja, tidak mau kemana-mana.
Benar, jatuh cinta itu...bagaimanapun namanya tetap jatuh. Sakit.
Sakit yang tertunda karena daun nangka belum menghantam tanah, masih
menari-nari bersama angin. Maka dari itu, aku memutuskan untuk tidak jatuh
cinta mulai detik ini. Aku ingin bangun cinta saja.
No comments:
Post a Comment