Ibu, aku tidak akan meminta Tuhan untuk membuat aku kembali ke dalam rahimmu. Aku hanya meminta pada Tuhan, semoga aku senantiasa diberi sifat Rahim, sepertimu.
Aku adalah gadis sederhana, yang sangat ingin hidup sederhana. Tidak ingin bekerja muluk-muluk menjadi anggota dewan, menteri, karyawan bergaji tinggi di Multi National Coorporation, atau dirut di perusahaan BUMN, dan yah yang bergelimang uang dan jabatan lainnya. Aku tidak ingin. Aku hanya ingin menjadi seorang wirausaha yang mengutamakan asas persaudaraan, tolong menolong, dan kerjasama. Tidak bermimpi omzetku nanti hingga milyaran, tidak. Hanya bermimpi usahaku nanti bisa menghidupi hajat hidup orang banyak. Tidak mengharap profit yang tinggi, bagiku membantu satu sama lain saja sudah cukup. Karena berbagi selalu bisa menghidupi hati.
Aku tidak mau rumah mewah yang besar, bertingkat, dan luas, tetapi tiap jengkalnya tidak pernah tersentuh kasih sayang. Aku mau rumahku adalah bentuk pertanggungjawaban terhebatku pada Gusti Allah yang sudah memberikanku lebih-lebih. Maka daripada kesusahan mempertanggungjawabkan di depanNya, kupilih saja rumah sederhana yang tidak besar tapi cukup untuk anak-anakku bermain petak umpet, cukup untuk suamiku nyaman di ruang manapun, cukup untuk kami sekeluarga membuat kue lebaran bersama di malam takbiran, cukup untuk keluarga kecilku berkumpul bersama. Nanti, ruang tamu saja yang sedikit besar. Aku suka kedatangan tamu, jadi kami selalu termotivasi untuk bersilaturrahmi dan menggambarkan begitu senangnya keluarga kecilku menyambut tamu-tamu. Oh ya, tidak lupa dengan taman kecil di depannya—biar nanti anak-anakku bisa tahu fase-fase kehidupan makhluk lain, biar mereka belajar. Tumbuhan saja diciptakan diam tetapi membantu nafas kami, maka jagoan kecilku, yang diciptakan bisa bergerak berlarian kesana-kemari harus bisa membantu nafas-nafas banyak orang.
Oh ya terkait jurusan yang aku tekuni saat ini, Akuntansi. Jujur saja aku tidak ingin menjadi seorang akuntan melaporkan keuangan ini itu, mencatat dengan rapi, tidak. Aku bukan orang teknis. Aku ini pelupa dan gampang sekali bosan. Ayah ibuku tahu hal ini, jadi aku harap mereka maklum atas apa-apa yang terjadi kemudian kalau aku tidak menyempatkan diriku mencicipi dunia akuntansi. Ma-ti bo-san. Lalu jadi apa? Haha, masih dengan kenaifan dan mimpi kecilku yang meluap-luap, aku ingin menikmati bangku kuliah di psikologi. Agar bisa mengamati banya hal, mempelajari kejiwaan, dan mengobati jiwaku sendiri : yang rindunya suka tidak tertata, yang terlalu sering berpura-pura kuat, yang cepat merasa cemas, yang suka menakutkan banyak hal. Lalu aku bisa membantu orang lain, mendengarkan ceritanya, bersama-sama memetakan jalan keluar, ah pasti seru. Aku punya banyak objek untuk diamati setiap harinya. Sudah kubilang aku bukan orang teknis, jiwaku lebih suka bertualang.
Mimpi kecilku lagi adalah memiliki TK di dekat rumah atau asrama bagi mereka-mereka yang mau belajar tetapi tidak mampu. Tidak usah terlalu besar dan banyak murid, yang paling penting bisa mendidik tiap-tiap kepalanya, lalu mencetak khalifah-khalifah yang bisa bermanfaat bagi orang lain, yang rahmatan lil alamin. Jadi dengan seperti itu, akan jadi efek domino dimana aku membagikan ilmu pada anak didikku, lalu mereka membagikannya pada orang lain, dan yang lain membagikan lagi, lagi, lagi, dan begitu seterusnya. Meluaslah banyak kebaikan. Tidak akan mengambil banhyak keuntungan dari bidang ini. Bukan kaya lagi tujuan hidupku, tetapi hidup diantara orang-orang yang saling mengingatkan untuk berbuat kebaikan, saling meredam bila sudah mendekati marah dan takabur. Saling menebar keikhlasan. Cukup seperti itu.
Sekali lagi, aku tidak ingin kaya, hidup mewah, rumah besar, mobil banyak, dan gadget segudang. aku ingin hidupku dipenuhi dengan kasih sayang banyak orang, saling mengasihi, Aku ingin hidupku penuh rona bahagia, sekalipun ada lara maka aku harap orang-orang disampingku adalah orang yang senantiasa menguatkan, Aku ingin berada di tengah suami yang bertakwa, hingga mencintai Tuhan adalah utamanya, dengan itu dia bisa begitu sabar dan setia pula memerlakukanku. Aku ingin suamiku kelak adalah orang yang membangunkanku di sepertiga malam, lalu bersama-sama kami ramaikan rumah dengan menggoyangkan kaki anak-anak untuk ikut bangun bersembahyang dengan kami. Memenuhi rumah ini dengan asmaNya. Ah, dekat dengan Tuhan itu indaaaah sekali, walaupun tak jarang ada masalah, tapi semoga kami selalu ingat bahwa ini caraNya mendewasakan, bahwa Dia tidak akan membebankan segala masalah ini melebihi kadar kesanggupan. Masalah adalah alasan untuk kami lebih dekat dengan Sang Pencipta.
Semoga hidupku penuh dengan kesederhanaan dan kecukupan, sekalipun banyak titipan harta, maka harus banyak juga kata berbagi, bermakna, dan bermanfaat, Hidup ini sementara bukan? Semoga menjadi perantara yang baik, untuk akhirat kelak.
18 Februari 2014
No comments:
Post a Comment