Hari ini adalah hari yang
ditunggu-tunggu oleh Pras. Dia menanti matahari ke pangkuan bundanya, berharap
lekas diganti bulan yang menawan. Ya, Pras menunggu malam tiba. Sedari tadi dia
cemas bukan kepalang, menghitungi waktu yang dirasa lamban sekali. Ah
dia lupa, semua terasa lamban bila dinanti, dan akan terasa cepat bila
dinikmati. Tapi tetap saja, Pras benci menikmati penantiannya, ia terlalu
tergesa-gesa—tipikal
ambisius.
Sebenarnya
tidak ada yang spesial hari ini, masih tetap bersekolah seperti hari lain.
Masih tetap mencari-cari alasan untuk sekedar lewat ke depan kelas XII IPA 3,
lalu mencuri pandang ke bangku kedua dari depan, deret paling kanan. Ada
seorang perempuan yang indahnya seperti bunga mawar. Mempesona tapi berduri,
maka dari itu Pras tak berani mendekat. Ialah Rosa, si bunga mawar yang berkali
ingin Pras petik.
Rosa
pula yang menyebabkan Pras begitu gencar menunggu malam. Apalagi malam nanti
akan purnama, saatnya membuat ramuan cinta! Ya Tuhan, kalau bukan karena jiwa
muda anak seumurannya, lantas apa lagi yang menjadi sebab dia menjadi gila? Si Pras
sedang terinspirasi sebuah ensiklopedi perpustakaan beberapa minggu lalu.
Dibacanya sebuah kisah tentang teratai dan sepertinya ini adalah salah satu
cara menghilangkan duri si bunga mawar. Pras
akan dengan mudah memetiknya, mendapatkan Rosa.
Dahulu
kala, di zaman angka romawi menjadi alat berhitung para ksatria, hiduplah
seorang peri air yang konon cantik jelita. Kulitnya putih langsat, setiap
inchinya adalah keindahan bagi siapa-siapa yang melihat. Namun tidak bagi
Hercules, ksatria gagah ini entah mengapa sudah terlanjur jatuh pada hati
seorang gadis dan baginya karena hanya ada satu hati maka juga hanya ada satu
cinta, tak bisa lagi dibagi-bagi—maka
tidak diliriklah peri air itu. Seberapa keras peri air berusaha, hati Hercules
juga semakin keras. Sudah bulat hati ini untuk Megara.
Kegigihan
seorang Hercules makin membuat peri air leleh, perempuan mana yang tidak
tertarik pada tegapnya, sikapnya yang baik, tutur katanya yang bijak, hingga
segala A-Z Hercules menjadi potongan-potongan cerita yang ia koleksi. Peri air
semakin gila dengan perasaannya, meluap hingga ia takmampu lagi menahannya.
Padahal bukan cinta namanya bila ia tak baik. Pras hanya tak sadar ini namanya ambisi,
bukan cinta. Hanya ambisi yang merasa dua perasaan harus saling memiliki, ambisi
pula yang dengan bodohnya sok menjadi pahlawan dengan perasaan yang harus
segera diutarakan, sedangkan cinta? Walaupun tidak bersamapun bukankah namanya
tetap cinta? Walau tidak diungkapkan cinta juga tetap cinta kan? Sudah kubilang
cinta itu baik. Mendoakan saja sudah dihitung cinta, melihat diam-diam juga
tetap cinta, melindunginya dari jauh—semua
orang juga tahu itu cinta.
Sepertinya
peri air sudah terjebak dalam ambisinya sendiri yang dia pikir cinta, maka
ketika Hercules kian berlari kencang, peri air makin berusaha berlari
mengejarnya meski itu artinya meninggalkan perairan yang menjadikannya hidup. Pada
akhirnya peri air sesak sendiri. Ia kalang kabut karena pergi terlalu jauh dari
air. Suhu badannya meninggi, ia kepanasan belum lagi hatinya, yang kian panas
saat tangan Megara berada di genggaman laki-lakinya—Hercules! Peri air tidak tahan lagi, dia
menyerah, diseretnya tubuh putih yang kian pasi itu mencari air. Dilema, antara
lebih baik mati atau mengakhiri perih yang sedang menghukum tubuhnya lewat
mencari air dengan lekas.
Dimana air? Ternyata peri air
tidak tahan lagi.
Lalu
dilihatnya satu danau kecil, peri air bergegas menujunya, tapi terlambat dia
keburu kehabisan detak nadi. Peri air cantik ini kehilangan nyawanya. Tapi semesta
berkata lain, ia mengasihani peri air yang lembut nan ringkih ini, direngkuhnya
badan lunglai milik peri air. Ternyata, sebelum ketulusan berubah menjadi
ambisi, peri air menyimpan begitu banyak doa dan senyum untuk Hercules, itu
satu-satunya yang masih menyisa dalam hati peri air. Ialah cinta yang
menjadikan jiwanya tetap hidup, dan ialah ambisi yang menjadi sebab dirinya
mati seperti ini. Semesta tersentuh lagi, atas musyawarah diubahnya peri air
menjadi sebuah bunga yang bisa membuat siapa-siapa terperangah. Membuat yang
melihatnya jatuh cinta pada doa diam-diam miliknnya yang dikirim untuk Hercules.
Adalah
teratai namanya, yang mekar tiada bandingan, meskipun di air keruh.
Doa diam-diam ternyata hebat juga, menjadikan
jiwa hidup meski cinta masih tak punya tempat untuk bermuara. Di bawah purnama,
peri air kini berubah menjadi teratai wangi yang indah, siapapun yang
memetiknya bisa membuat ramuan untuk menaklukkan hati. Ya, tapi itu konon.
Konon katanya, teratai di bawah purnama adalah obat bagi siapa-siapa yang ingin
menaklukkan hati seseorang—dengan
menggunakan doa diam-diam peri air.
Pras bahagia tiba-tiba, senja mulai memantulkan
cahaya oren. Berarti setelah ini malam! Dia bisa membuat ramuan penakluk. Tanpa
tunggu aba-aba, Pras bergegas mencari kolam teratai agar dipetiknya satu untuk
dijadikan pelengkap rencananya.