Siang ini terik sedang
menjadi-jadi. Mungkin tiga jam saja menari di bawah sinar matahari, mukamu
sudah belang. Banyak orang memakai masker saking panasnya, sebagian yang lain
malas bergerak dan memilih meneduh di ruang berAC. Tapi tak begitu dengan Amirah,
ia memberanikan diri dipanggang matahari. Dia santai saja, sambil beberapa kali
menggumam pada diri sendiri melihat recent
update di berbagai social media
tentang betapa panasnya hari ini, manusia
itu aneh diberi hujan mengeluh diberi panas pun sama.
Sebenarnya ada hal yang begitu
penting hari ini, hingga ia rela sedikit menghitam. Amirah ada janji dengan
Baha. Janji pukul satu siang. Tapi berkali Amirah melirik jam tangan,
sahabatnya itu belum juga muncul. Amirah duduk menunggu di kursi dekat
bundaran, meluruskan kaki setelah
berjalan lumayan jauh. Dua puluh menit berselang, city car milik Baha akhirnya tampak di pelupuk mata. Dihentikannya mobil
silver itu tepat di depan Amirah.
“Masuk tuan putri.” Baha membukakan pintu.
“Untung aku tuan putri baik hati, kalau tidak, kuadukan kamu pada paduka raja. Ini jam berapa hey...”
“Maaf tadi dosennya belum keluar-keluar. Mau kemana kita?” Tanya Baha penasaran, karena sampai detik ini Amirah belum memberi tahunya tentang tujuan mereka.
“Aku mau bakar-bakar.” Ujar Amirah.
“Bakar apa? Lemak?” Baha terkekeh sendiri, Amirah melengos.
“Ya kali. Mau bakar kenangan!” Baha tertawa lagi, namun tampaknya tidak lucu karena sedikitpun Amirah tidak ikut tertawa.
“Kamu serius?”
Amirah mengangguk.
Setelah setengah jam mencari
tempat, akhirnya mereka sampai juga di samping tanah lapang luas yang
sebagian besar dipenuhi rumput liar. Baha menghentikan mobilnya. Ada bekas bakar-bakar
sampah di sudut kiri dan plang “Dijual” di tengah-tengah tanah yang luasnya sekitar
500 meter persegi ini. Disini memang kompleks perumah baru yang masih sepi,
jadi mereka berdua sepertinya dapat dengan bebas membakar kenangan. Apa katanya
tadi? Membakar kenangan? Ya, membakar kenangan....
“Terus mana yang mau kamu bakar?” Tanya Baha.
Amirah mengeluarkan satu kotak
seukuran 30x15cm dari tas kresek bawaannya. Sambil menunggu, Baha mengambil minyak tanah yang barusan mereka beli dari bagasinya.
“Yakin mau dibakar?” Seketika Baha merasa pertanyaannya salah, karena beberapa saat setelah itu mata Amirah dipenuhi air yang berebut turun. Ia berkaca-kaca. Tapi tetap dikuatkannya untuk mengangguk.
Dari
kotak merah marun itu, Amirah mengeluarkan surat-surat, beberapa foto, gantungan
kunci, dan benda-benda lainnya. Api
menyala di atas kenangan itu. Amirah hanya tersenyum.
“Lega ya?” tanya Baha —“When one door closses, another opens. You gonna get your new bright memmories. Promise me, nggak ada nangis-nangis lagi ya?” lanjutnya.
Amirah mengangguk.
“Iya! Janji! Eh tapi kalau berhenti nangisin dia, terus nangisin orang lain lagi gimana?”
“Bzzzzzz, ya makanya tuan putri hatinya dijaga. Jangan asal diberi sama orang yang ngaku-ngaku pangeran. Dikasihnya sama yang beneran serius naik kereta kuda sama bapak-ibunya dan tiba-tiba ngetuk pintu istana terus izin ke paduka raja mau bawa kamu ke istananya.”
“Hahahaha, setujuuuuu!”
“Yah, dia udah ketawa aja, inget tadi nangis liatin kenangan yang dilalap api.” Goda Baha, Amira hanya tertawa, sedetik kemudian dia mendaratkan cubitan mendarat di lengan Baha. ***
Terkadang, kita harus bisa memilih dan
memilah mana yang harus disimpan dan mana yang harus dibakar. Kenangan hanya untuk
dikenang, bukan untuk diratapi dan bukan juga sebagai penghambat kita untuk
melangkah. Tuhan menciptakan potongan-potongan cerita untuk disusun menjadi
satu pribadi yang bijak dan kuat. Bukan kenangan indah namanya kalau malah
membuatmu susah melangkah. Jika semua itu melemahkan, buat apa terus disimpan? Jika semua
malah membuatmu kian berantakan, buat apa dirapikan? Bakar saja. Biar semua menjadi ingatan yang akan tertumpuk dengan ingatan-ingatan
indah yang baru.
Biarkan kenangan menjadi abu, yang hilang ditiupi angin-angin yang
sarat janji masa depan. Selamat membakar kenangan!
No comments:
Post a Comment