Thursday, March 6, 2014

Matahari

Aku rindu menjadi bulanmu, yang kau pandangi tak habis-habis, yang bulat sempurna seperti cintamu. Tapi matahari dan bulan tidak pernah ditakdirkan bersama ya? Mereka terpisah jarak dan waktu, meskipun sama-sama punya langit, tapi tidak dengan kebersamaan. Matahari dan bulan tidak bisa saling menggenggam, karena bersatu berarti membuat semesta hancur. Bumi hancur, langit hancur, orbit hancur, mimpi, harapan, semuanya....

Aku rindu menjadi bulanmu, yang kau puji tiada ujung, yang kau jaga dengan doa dari jauh. Tapi matahari selalu menjadi terbukanya mata, sedang bulan adalah terpejamnya. Lalu bagaimanakah kedua mata dapat menyaksikannya sekaligus? Sudah kubilang, tak ada kata satu bagi matahari dan bulan. Matahari hanya berjanji akan selalu ada, ya dia memang ada, tapi tidak untuk bulan. Mereka tidak satu orbit. Matahari akan selalu ada bagi siapapun, kecuali bulan. Dan pada akhirnya, bulan lebih rela dia berada di dekat bumi.

Aku rindu menjadi bulanmu, yang kau culik dalam mimpimu. Sebagaimana tiap lelap bercerita, tentang dongeng matahari dan bulan yang berjodoh. Sayang, bangun....

Aku rindu menjadi bulanmu, matahariku.




No comments:

Post a Comment