Monday, March 10, 2014

Teratai



Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Pras. Dia menanti matahari ke pangkuan bundanya, berharap lekas diganti bulan yang menawan. Ya, Pras menunggu malam tiba. Sedari tadi dia cemas bukan kepalang, menghitungi waktu yang dirasa lamban sekali. Ah dia lupa, semua terasa lamban bila dinanti, dan akan terasa cepat bila dinikmati. Tapi tetap saja, Pras benci menikmati penantiannya, ia terlalu tergesa-gesatipikal ambisius.

                Sebenarnya tidak ada yang spesial hari ini, masih tetap bersekolah seperti hari lain. Masih tetap mencari-cari alasan untuk sekedar lewat ke depan kelas XII IPA 3, lalu mencuri pandang ke bangku kedua dari depan, deret paling kanan. Ada seorang perempuan yang indahnya seperti bunga mawar. Mempesona tapi berduri, maka dari itu Pras tak berani mendekat. Ialah Rosa, si bunga mawar yang berkali ingin Pras petik. 

                Rosa pula yang menyebabkan Pras begitu gencar menunggu malam. Apalagi malam nanti akan purnama, saatnya membuat ramuan cinta! Ya Tuhan, kalau bukan karena jiwa muda anak seumurannya, lantas apa lagi yang menjadi sebab dia menjadi gila? Si Pras sedang terinspirasi sebuah ensiklopedi perpustakaan beberapa minggu lalu. Dibacanya sebuah kisah tentang teratai dan sepertinya ini adalah salah satu cara menghilangkan duri si bunga mawar.  Pras akan dengan mudah memetiknya, mendapatkan Rosa.

                Dahulu kala, di zaman angka romawi menjadi alat berhitung para ksatria, hiduplah seorang peri air yang konon cantik jelita. Kulitnya putih langsat, setiap inchinya adalah keindahan bagi siapa-siapa yang melihat. Namun tidak bagi Hercules, ksatria gagah ini entah mengapa sudah terlanjur jatuh pada hati seorang gadis dan baginya karena hanya ada satu hati maka juga hanya ada satu cinta, tak bisa lagi dibagi-bagimaka tidak diliriklah peri air itu. Seberapa keras peri air berusaha, hati Hercules juga semakin keras. Sudah bulat hati ini untuk Megara.

                Kegigihan seorang Hercules makin membuat peri air leleh, perempuan mana yang tidak tertarik pada tegapnya, sikapnya yang baik, tutur katanya yang bijak, hingga segala A-Z Hercules menjadi potongan-potongan cerita yang ia koleksi. Peri air semakin gila dengan perasaannya, meluap hingga ia takmampu lagi menahannya. Padahal bukan cinta namanya bila ia tak baik. Pras hanya tak sadar ini namanya ambisi, bukan cinta. Hanya ambisi yang merasa dua perasaan harus saling memiliki, ambisi pula yang dengan bodohnya sok menjadi pahlawan dengan perasaan yang harus segera diutarakan, sedangkan cinta? Walaupun tidak bersamapun bukankah namanya tetap cinta? Walau tidak diungkapkan cinta juga tetap cinta kan? Sudah kubilang cinta itu baik. Mendoakan saja sudah dihitung cinta, melihat diam-diam juga tetap cinta, melindunginya dari jauhsemua orang juga tahu itu cinta.

                Sepertinya peri air sudah terjebak dalam ambisinya sendiri yang dia pikir cinta, maka ketika Hercules kian berlari kencang, peri air makin berusaha berlari mengejarnya meski itu artinya meninggalkan perairan yang menjadikannya hidup. Pada akhirnya peri air sesak sendiri. Ia kalang kabut karena pergi terlalu jauh dari air. Suhu badannya meninggi, ia kepanasan belum lagi hatinya, yang kian panas saat tangan Megara berada di genggaman laki-lakinyaHercules! Peri air tidak tahan lagi, dia menyerah, diseretnya tubuh putih yang kian pasi itu mencari air. Dilema, antara lebih baik mati atau mengakhiri perih yang sedang menghukum tubuhnya lewat mencari air dengan lekas.

    Dimana air? Ternyata peri air tidak tahan lagi.

                Lalu dilihatnya satu danau kecil, peri air bergegas menujunya, tapi terlambat dia keburu kehabisan detak nadi. Peri air cantik ini kehilangan nyawanya. Tapi semesta berkata lain, ia mengasihani peri air yang lembut nan ringkih ini, direngkuhnya badan lunglai milik peri air. Ternyata, sebelum ketulusan berubah menjadi ambisi, peri air menyimpan begitu banyak doa dan senyum untuk Hercules, itu satu-satunya yang masih menyisa dalam hati peri air. Ialah cinta yang menjadikan jiwanya tetap hidup, dan ialah ambisi yang menjadi sebab dirinya mati seperti ini. Semesta tersentuh lagi, atas musyawarah diubahnya peri air menjadi sebuah bunga yang bisa membuat siapa-siapa terperangah. Membuat yang melihatnya jatuh cinta pada doa diam-diam miliknnya yang dikirim untuk Hercules.
              
             Adalah teratai namanya, yang mekar tiada bandingan, meskipun di air keruh.

 Doa diam-diam ternyata hebat juga, menjadikan jiwa hidup meski cinta masih tak punya tempat untuk bermuara. Di bawah purnama, peri air kini berubah menjadi teratai wangi yang indah, siapapun yang memetiknya bisa membuat ramuan untuk menaklukkan hati. Ya, tapi itu konon. Konon katanya, teratai di bawah purnama adalah obat bagi siapa-siapa yang ingin menaklukkan hati seseorangdengan menggunakan doa diam-diam peri air.
           
             Pras  bahagia tiba-tiba, senja mulai memantulkan cahaya oren. Berarti setelah ini malam! Dia bisa membuat ramuan penakluk. Tanpa tunggu aba-aba, Pras bergegas mencari kolam teratai agar dipetiknya satu untuk dijadikan pelengkap rencananya.
           

             Setibanya pada kolam jernih tempat teratai mengadu nasib, Tuhan selalu punya cara terbaiknya. Kali ini Pras dapat melihat cerminan dirinya sendiri. Berpikir keras sebelum memetik doa peri air. Pras memandang wajahnya dalam cerminan dirinya yang terlihat begitu lemah karena cinta, eh bukan, maksudnya ambisi. Cinta tidak melemahkan, justru menguatkan bukan? Pras memikirkannya lagi, menatap potret dirinya yang begitu bodoh itu. Seakan terasuki peri air, Pras bicara sendiri pada cerminan dirinya di kolam
             

 “Heh kau, masih nekat saja memetik teratai? Memang dengan kamu memetik teratai lalu membuat ramuan penakluk, Rosa bakal terpikat denganmu? Ini bukan dongeng Yunani kuno. Doa-doa peri air tak sama dengan doamu.”
“ Pras, memenangkan hati perempuan itu sangat mudah,” kata bisian peri air.

             Pras berhenti sejenak, dipikirnya lagi....memangnya bagaimana cara menaklukkan perempuan? Lagi, Pras seakan terasuki peri air.

“Mudah saja menaklukkan hati perempuan. Perempuan itu senang sekali diperjuangkan, maka berjuanglah.” 
“Lalu aku harus bagaimana?”tanya Pras

“Kau mau mati tertangkap ambisi sepertiku? Cinta tidak pernah bodoh, dia selalu belajar. Gunakan pikiran jernihmu. Jadilah raja yang menguasai perasaanmu sendiri, jangan mengatasnamakan ambisi dengan cinta. Keduanya jauh berbeda. Berjuanglah karena cinta, bukan ambisi. Dan cinta selalu menghargai, pun hanya diam dan mendoakan, dia sudah berterima kasih.”

Pras terdiam, peri air berucap satu lagi sebelum dia pergi.

“Kau tahu pras? Perempuan itu layaknya air, sekali kau keruhi, susah sekali menjadi jernih. Jangan pernah merusaknya, air yang layak diteguk adalah yang masih jernih.  Jika menjauh adalah menjaga, maka itu lebih baik. Hampiri saat kau sudah pantas meneguknya.”

Aih, betapa luasnya hati, sedemikian rumitnya perasaan.

Pras lemas, peri air seakan keluar dari dirinya.
            
             Apa yang barusan dia lakukan? Apa? Mau membuat ramuan cinta? Dasar konyol.

“ Entahlah, kulepas saja, kumuarakan pada penciptaNya. Satu saat akan kuhampiri tanpa membuatnya keruh dengan perilaku bodohku. Tidak akan ada ramuan-ramuan cinta lagi, yang ada doa.”

                Baik-baiklah,
Rosa, tetap sayapkan duri-durimu itu. Pria ambisius tak hanya satu. Bisa jadi milikku sudah habis, tapi punya yang lain? Semoga kau baik-baik disana, tunggu aku datang sebagai Hercules pada Megara.

No comments:

Post a Comment