Sunday, December 28, 2014

Lari

Tuhan, maafkan hari ini aku memaki keadaan. Hujan taklagi menenangkan bagiku, bahkan mengantarku pada cemas, sedang masalahku adalah gerbangnya. Pada akhirnya aku hanyalah aku yang tanpaMu bak debu yang hilang dalam sekali tiupan. Aku tak bisa berkata-kata, tak mampu mendengar kejujuran, tak sanggup melihat kenyataan.

Jika danau hijau itu adalah aku, maka saat ini dasarnyalah yang tampak di permukaan. Kerontang, dan tak ada lagi yang menggenang, sudah tak ada air mata yang bermuara. Dikuras habis oleh masa, hingga aku lesu, lelah menggugu.

Aku tak lagi berkawan dengan tawa lepas di sore hari saat minum teh ataupun dengan kehangatan di sela selimut saat musim dingin bergelayut manja di atap rumah dan turun di pangkuan, aku sendirian. Lalu dengan takut-takut aku bersembunyi di balik kotak kayu, kesedihan dan kehilangan itu berebut ingin memelukku. Dan parahnya, saat ini kalut melamarku menjadi pasangan hidup. Aku menolak, kini kabur dari resepsi.

Lalu aku berlari menuju gelap malam berharap bisa menghilang dibalik kabut. Tapi malam terlalu terang karena lampu jalan. Kemudian kuputuskan untuk berlari hingga pagi, berharap aku bisa melebur bersama kokok ayam. Tapi awan mendung menyamarkan matahari, dan bunda lupa memukul lesung padi saat subuh tiba. Mungkin aku memang tidak ditakdirkan lari dari semua masalah ini ya, Tuhan?

Saturday, November 15, 2014

Toko Kain di Minggu Kedua November


Saya melihat anda disitu, tepat dibawah gulungan-gulungan kain sifon yang terjajar rapi di rak. Anda berdiri dengan tangan diletakkan ke dalam saku celana jeans. Perlu beberapa detik untuk menguasai diri, mengenali anda, dan memahami maksud Tuhan mempertemukan kita saat ini. 1…2…entah berapa hitungan lagi kita sejenak beradu pandang sampai akhirnya anda membuang muka. Saya bingung hendak menyapa atau tidak, nama anda tercekat tepat di tengah-tengah. Saya seperti kehabisan tenaga meski hanya tiga suku kata.

Lalu momen kita berlalu begitu saja. Dan langkah kaki anda terdengar begitu menyedihkan bagi saya. Seakan tapak-tapak itu mengejek saya,
"Bagaimana rasanya saya tinggal pergi?” begitu katanya.
Saya mengutuki diri sendiri. Tidak, anda yang salah! Kenapa harus datang dua tahun lalu? Andai kejadian itu terulang kembali saat ini, saya tak ambil pusing untuk menerima. Anda seharusnya paham, penerimaan beriringan dengan kesiapan. Dan waktu itu? Waktu tiba-tiba anda berdiri di depan rumah dengan ibu? Saya masih belum mengerti apa-apa soal hidup bersama. Ah sudahlah, saya juga seharusnya tahu diri, orang baik tidak akan datang dua kali.

 Brakk. Tanpa sengaja gulungan kain sifon yang saya turunkan dari rak terjatuh dan menghantam lantai cukup keras. Barangkali itu sanggup membuat anda kembali menoleh ke belakang—sekedar berlari dan menolong saya mengangkat gulungan kain itu. Tapi tetap saja, anda melangkah dengan tegas ke depan. Mungkin semenyakitkan itu penolakan saya tempo hari.
 Seperti Rangga pada Cinta : Saya minta maaf.

Teman Berlari

Gadis ini masih berlari di bawah langit sore. Mengikuti alur sembari mengatur nafas, menjaga ritme agar kecepatannya selalu konstan. 1…2…3… 1…2…3…

Ada yang ditunggunya seperti sore-sore yang lalu—seseorang disisinya. Yang selalu menjaga langkahnya, yang selalu ada membawakan minum, yang selalu mengingatkannya untuk istirahat atau malah menyemangati untuk terus berlari. Ada yang ditunggunya; yang enggan beranjak dari sisinya seperti sore-sore yang lalu.

Tapi dia tidak ada.

Gadis ini terus konsentrasi pada ayunan kakinya. Meminta tubuhnya terus berlari agar menemukan. Siapa tahu dia ada di depan sana?

Tapi seketika dia berhenti. Bagaimana jika dia ternyata tertinggal di belakang? Bagaimana jika dia sudah terlewatkan?

Gadis ini diam sambil menunggu bahkan hingga langit menghitam. Mana? Sosok itu tidak ada. Dalam perasaan kalut dia memutuskan untuk tetap berada disitu, mengelilingi jalan setapak yang biasa mereka tempuh, berharap sosok itu tetiba hadir. Seketika dia sadar, menunggu itu menyakitkan.
Apa sebaiknya dia berhenti? Tapi bukannya itu juga sama-sama menyakitkan? Bagaimana jika saat dia memutuskan untuk berhenti, sosok itu ternyata ada di depan sana? Dan menjadi perkara—tak ada pertemuan—karena ia menghentikan langkah.

Kini ia sadar : menunggu ataupun berhenti adalah dua hal yang sama-sama menyakitkan.
Tapi bukannya menjadi lebih sakit ketika ia tidak tahu kapan ia harus menunggu dan kapan ia harus berhenti?

Saturday, November 8, 2014

Sudah Hujan



http://s-lane1114-dc.blogspot.com/2012/02/dandad-design-is-about-doing-rain_22.html


Lama tak kutuliskan bait berderet menyirat namamu
Lalu kini, setelah hilang bulan-bulan dalam kemarau, aku kembali
Mengekangmu dalam gemulai sajakku
Karena hujan kembali membanjiriku dengan rindu dan rindu dan rindu dan rindu
Hingga mual

Sudah hujan.
Sudah terhapus kerontang panjang
Sudah hujan.
Sudahlah percuma
 kau juga sudah pergi

Puisi tetaplah puisi
Sesudah hujan tak ada yang kembali
Meski aromamu selalu tinggal bersama payung warna-warni yang kau beri
Puisi tetaplah puisi
Tak bisa mengundangmu datang menggenggamku lagi
Lalu kita berlarian menyibak rinai yang berebut membasahi bumi

Plap! Itu hanya mimpi

Sudah hujan.
Hujan air mata.


Friday, October 31, 2014


Dekat

Hari ini saya belajar banyak, dari cerita teman-teman dan mungkin saya sendiri. Ketika kita mengusahakan seseorang atau sesuatu yang baik menurut kita, lalu Allah menjauhkannya, ada tiga kemungkinan; kita tak cukup baik, ternyata dia tak sebaik itu, atau ini hanya masalah sabar dan waktu—pada akhirnya kita akan didekatkan kembali.

Apapun itu, semoga kita selalu khusnudzan kepada Allah. Bahwa ada banyak caraNya menyayangi makhluk. Ada rencana besar dibalik semua ketetapan Allah. Mari kita jalani sebaik yang kita bisa, innallaha ma’ana :)

Mabuk

Aku pernah menyukai seorang laki-laki yang rupawan. Sikapnya baik, tentu saja, kalau dia tak baik aku tidak mungkin suka. Dan aku dibuat mabuk karenanya, setiap malam kuteguk beragam cara mendapat perhatiannya lalu dengan langkah yang melenggok-lenggok tak lurus aku tertawa sendiri; dia sudah sedikit meresponku. Kupikir dia juga menyukaiku, hanya saja dia malu-malu.
Sudah kukatakan, laki-laki yang baik ini tipeku, ketika dia takbanyak merayu justru aku sudah jatuh dalam rayuannya. Dengan diamnya hatiku malah ramai menyebutnya, dengan sikap dinginnya aku merasa hangat.

Tapi kian hari aku kian sadar, mabuk juga tidak baik bagi kesehatan. Kepalaku suka pusing memikirkan ujung perkara ini. Jantungku sering taktentu detaknya, terkadang mendadak cepat karena cemburu taktentu, alaaaah apalah ini sok memiliki. Belum lagi kakiku suka lemas akibat takkutemui cara lagi mendekatinya.

Kuputuskan aku pergi pada panti rehabilitasi. Dan aku sembuh sejak teman satu rehabku yang agak sakit jiwanya, akibat terlalu banyak lari dari cinta, menceritakan kisahnya padaku. Sebut saja namanya Mawar.

"Kau tahu Dandelion, kenapa aku pergi kesini? Aku ingin sembunyi."
“Dari siapa?” Tanyaku
“Dari Kumbang yang mengejarku, suah kupasang duri, sudah ku runcingkan daunku, tapi tetap saja dia mengikuti kemanapun aku pergi—kecuali kemari.”
“Kenapa dengan Kumbang itu? Kenapa dia begitu menyukaimu?”
“Aku tidak tahu. Padahal sudah kujauhi sebisaku, kutolak berkali-kali dengan halus. Dia hanya tersenyum dan bercerita pada Melati, sahabatku. Katanya begini : Kau tahu Mel, ternyata menaklukkan mawar itu tidak mudah. Semakin kuyakin dia layak kuperjuangkan.”
Lalu aku, Dandelion kecil semakin rapuh ditiup angin. Aku hanya sanggup memeluk diriku sendiri meski semua terlanjur berantakan, betapa mudahnya aku didapat.
Seketika aku memutuskan berhenti mabuk-mabukan.
***

Nasib

Kemarin malam, saya menangis sejadi-jadinya, menangisi hal-hal yang terjadi di kehidupan saya akhir-akhir ini. Saya merasa berantakan; kuliah saya, kegiatan sosial saya, mimpi-mimpi saya, organisasi, ah entahlah apa yang terjadi. Lalu tepat kemarin bertubi-tubi cobaan datang menerpa saya mulai dari masalah keluarga hingga ponsel saya yang baru saya beli tiga bulan silam pecah berkeping-keping layarnya dan harga ganti layar adalah separuh lebih dari harga ponsel itu…..tabungan saya habis.

Tidak berhenti sampai situ. Sewaktu pulang dari kampus ke rumah, saya ditabrak dari belakang, brakk, untungnya saya berhasil menjaga keseimbangan motor saya, hanya kaki kiri yang terbentur bagian depan motor cukup keras. Awalnya saya merasa baik-baik saja, tetapi sesampainya di rumah saya tidak tega bilang ke ibu saya dan selepas saya bercerita, saya masuk kamar.
Saya curhat sama Allah dan menangis sejadi-jadinya. Ya Tuhan, saya kok sial sekali, nasib saya kok begini… lalu dengan kalapnya saya mendikte Tuhan. Ya Tuhan, saya sudah melakukan ini, ini, ini,ini, tapi kenapa kok malah hal seperti ini yang saya dapatkan? Kenapa waktu hamba salah sedikit saja Engkau langsung menghukum hamba seperti ini? Lalu kembali, saya menangis, lagi.
Maha Benar Allah atas segala firmanNya….
Saya menangis lagi, bukan karena protes pada Allah kali ini, bukan. Tapi saking terharunya. Allah menjawab hal-hal yang berkelebat di kepala saya dengan cepat,
"Nasibmu ada pada Allah, (bukan kami yang menjadi sebab) tetapi kamu adalah kaum yang sedang diuji." QS An Naml 47.
adalah jawaban Nabi Saleh saat kaum Samud menyalahkannya soal nasib buruk yang menimpa mereka.

Sekejap Mata

Kami sudah terbiasa duduk berdampingan dalam kelas ini, di bangku barisan depan di pojok kanan persis di seberang meja dosen. Laki-laki di sebelahku ini memang sengaja duduk disitu, beda denganku yang didudukkan oleh keadaan; aku selalu terlambat datang dan hanya bangku itu yang tersisa.
Aku belum tahu namanya siapa, saat dosenku mengabsen nama—aku masih di luar kelas hingga pada suatu saat aku berinisiatif untuk datang lebih awal, hanya untuk sekedar tahu siapa namanya. Rifaldy Pratama, begitu dosenku memanggilnya. Jadi itu namanya…nama orang yang selalu kuhujani pertanyaan yang sama,
"Mas, sudah mulai sejak lama ya kelasnya?"
Jika kau membayangkan Rifaldy adalah laki-laki dengan penampilan rapi dan konvensional, maka kau salah besar. Aku jatuh cinta pada selera berpakaiannya, casual yang tidak membosankan, tapi favoritku masih tetap—Polo warna tosca yang dikenakannya tempo hari dengan buku catatan yang ia biarkan terbuka. Di dalamnya tertulis mind map versinya sendiri dan tangan kanannya memegang bolpoin yang biasa dia ketukkan di meja.
Percakapan kami hanya sekejap mata, hanya sebatas mengomentari teman-teman yang sedang presentasi di depan, atau melempar celetukan soal statement audiens yang berusaha membantai penyaji. Dia partner yang cukup seru,
"Forecasting itu beda dengan anggaran." ujarnya tidak setuju saat audiens menyanggah
"Intinya anggaran itu harus direalisasikan, kan? Forecasting hanya sebatas peramalan, prediksi." aku menimpali.
"Iya, anggaran terikat tanggung jawab." Katanya, aku mengangguk tanda setuju. Kami biasanya sepakat, atau jika tidak aku memintanya berbisik-bisik menjelaskan. Selalu begitu.
"Kamu tidak bertanya?" Aku menjawab dengan gelengan kepala.
"Ini aku ada pertanyaan lagi , kalau-kalau kamu mau menambah poin keaktifan." lalu dia tertawa kecil, menahan agar suaranya tidak keluar.
Percakapan kami seringkali berakhir tiba-tiba, saat dosen sudah mengakhiri kelas ini, saat itu juga tanpa persetujuanku momen kami berakhir, selalu begitu setiap minggu. Hanya 3 SKS waktu kami berinteraksi. Dari enam kali tatap muka di kelas, aku menemukan sebuah fakta bahwa ternyata dia mahasiswa ekstensi, sebelumnya dia sudah kuliah D3 STAN dan meneruskan S1 disini. Pantas saja kedewasaan berpikirnya jauh di atas rata-rata mahasiswa semester lima.
Dan sudah tiga minggu ini aku kehilangan partnerku. Tidak ada yang kuajak mengomentari ekspresi penyaji saat audiens mendebat pernyataan. Tidak ada juga yang selalu menyisakan bahan pertanyaan untukku hingga aku harus lebih keras lagi berpikir. Tidak ada juga yang suka mengetuk-ketukkan bolpoinnya di atas meja dan berhenti saat aku bilang,
"Mas, suara ketukanmu…."

Monday, August 25, 2014

Friendzone

Tidak ada yang salah dengan jatuh cinta. Mungkin kita hanya berada di keadaan yang salah, di waktu yang salah, dan dengan orang yang salah. Atau cara kita yang salah?
The number one rule of love; you can never be just friends with someone that you’re in love with. anonim
Mencintai sahabat sendiri kadangkala menjadi sebuah dilema untuk masing-masing hati. Barangkali lebih baik diam dan mengelak dari perasaan—alasannya sederhana; pada akhirnya cinta hanya akan merusak. Merusak siapa-siapa yang tidak siap pada kenyataan, bahwa kita bisa jatuh cinta pada siapa saja.

Kita bisa saja terjatuh ditengah kebaikan hatinya, kerelaan waktunya, humor renyahnya, tingkah usilnya, pundak dan telinganya, cerewet dan tingkah annoyingnya. Kita bisa saja terjatuh ditengah sesi nongkrong bareng, sharing knowledge seputar keprofesian, debat-debat kecil, chat-chat tidak penting, dan rutinitas sederhana tiap harinya.

Kita bisa saja terjatuh ditengah keadaan "persahabatan lebih penting dari perasaan yang penuh omong kosong ini" atau "aku tidak ingin merusak persahabatan kita". Kita bisa saja terjatuh di tengah-tengah janji yang kita ucapkan sendiri, "kita bakal sahabatan sampai tua nanti. No matter what." Bisa.

Dan sampailah kita di satu titik pada diam memendam perasaan atau malah mengungkapkannya tapi saling menolak. Pada akhirnya kita terjebak diantara pikiran-pikiran kita sendiri. Membuat garis patah-patah yang membatasi perasaan bahwa mencintai sahabat sendiri adalah sebuah kesalahan, adalah sebuah larangan, adalah sesuatu yang tabu. Padahal? Ah siapa yang bisa memutuskan untuk tidak mencintai ketika hati sudah terlanjur memilih?

Saturday, August 23, 2014

Memperjuangkan Seseorang

Ada orang yang dengan bertahan saja dia sudah bahagia, tapi bagi sebagian orang ada kalanya berjuang adalah kebahagiaan tersendiri.***

Saya sedang berfikir akhir-akhir ini, pertanyaan dari ibu saya membuat saya sebenarnya mencari jawaban dengan keras. Hingga akhirnya di sharing kecil bersama sahabat saya, saya menemukan jawabannya.

Ada seseorang yang begitu baik kepada saya, kepada orang lainpun juga. Dia juga berlatarbelakang baik, agamanya insyaAllah cukup, pintar juga iya, mapan juga sudah lumayan, tapi entah kenapa saya juga belum “klik”. Berkali-kali ibu saya berkata bagi seorang perempuan cukup dengan dicintai, saya sudah merasa dicintai, tapi saya merasa belum cukup. Saya merasa ada yang kurang cocok. Hingga ibu menanyakan entah untuk ke berapa kalinya,

                “Apa sih yang kurang dari dia?”

Saya hanya mengangkat bahu sambil berkata, “Tidak tahu bu, saya hanya kurang sreg.”

Hingga saya tahu, ke-kurang sreg-an itu adalah saya yang merasa tidak berjuang untuk dia. Saya tidak ada usaha untuk mau mempertahankan atau melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Kami hanya bisa berhubungan baik, itu saja. Semoga saya bukan orang yang kurang bersyukur, hanya saja masih banyak orang lain di luar sana yang kemungkinan bisa membahagiakan dan dibahagiakan oleh dia, pun untuk saya.

Saya tahu, naluri seorang ibu untuk memilihkan anaknya seseorang yang baik dan bisa diandalkan untuk menemani di sisa hidup. Saya tahu ibu juga sedang mencari yang bisa membantu mengingatkan anaknya untuk merapikan rumah, membuat anaknya bersemangat untuk memasakkan sup atau membuatkan teh, menjaga anaknya dengan penuh tanggung jawab, mengantarkan anaknya pergi berbelanja, mencarikan anaknya lengan untuk digandeng saat berjalan, memilihkan pundak dan telinga terbaik untuk anaknya yang cerewet dan suka bercerita, dan sebagainya, tapi bu anakmu ini juga masih berusaha mencari.

Mungkin ada kalanya ibu bertemu dengan seseorang yang dicintai kekasihnya, dimanjakan, dan itu terlihat sempurna. Seseorang itu hanya cukup bertahan dan meneruskan bagaimana rasanya dicintai lalu dia bisa mencintai “dia”nya itu. Tapi bagi saya, ketika saya juga memperjuangkan dia, saya mencoba menghebatkan dia, saya mencoba mengerti dan menaklukkan dia, itu adalah bentuk cinta tersendiri bagi orang seperti saya. Saya ingin menghabiskan hidup dengan seseorang yang saya perjuangkan. Saya yakin Allah tidak diam dengan mengirim seseorang yang juga memperjuangkan saya meski tampaknya cuek, meski tampaknya dingin, meski saya jarang dimanjakan, saya yakin Allah tidak tidur.

Thursday, July 31, 2014

Kopi

sebuah monolog
 
Ada yang selalu menemaniku, dengan kopi panas beserta asap yang masih suka hinggap sedikit-sedikit di ujung hidungnya. Lalu dengan kepayahan, dia memegang ujung-ujung cangkir sembari meniupinya. Sesekali dia sodorkan cangkirnya itu, menawariku meski aku takkan pernah mau menyeruputnya. Aku tak suka kopi, aku hanya suka membuatkan kopi.

Ada yang selalu menemani benakku, ialah wujud asa yang taksampai—-pecinta kopi yang lain. Dulu aku sering membuatkannya, lalu menemaninya membunuh waktu dengan duduk manis dan bertukar cerita. Tapi itu dulu, kini telah ia temukan pembuat kopi yang lain. Konon kopinya lebih nikmat dari milikku, ditambah lagi dia juga pecinta kopi, jadi bukankah lebih baik baginya menyeruput kopi bersama dengan penggemar kopi lainnya?

Pada awalnya, aku tetap bersikukuh menawarkan kopi buatanku. Membuatkannya, meski hanya berakhir menjadi secangkir kopi dingin, sesekali terpaksa menyeruput sambil kepahitan,
“Ini aku bodoh atau setia?”.
Kemudian, aku bertemu dengan dia yang selalu menemaniku itu. Menerimaku dengan ketidaksukaanku pada kopi, bahkan tetap duduk di sebelahku saat cangkir buatanku masih tertuju pada orang lain. Dia bilang sudah cukup bersyukur saat aku membiarkannya duduk disitu, disebelahku.

Pada akhirnya perempuan mana yang tidak takluk pada kesungguhan lelakinya? Meski hingga sekarang (jujur) aku masih lebih suka membuatkan kopi untuk orang lain. Tapi pilihan ini sudah terlanjur jatuh pada dia yang selalu berkata padaku,
“Kopimu enak, tapi sebenarnya aku lebih menyukai kehadiranmu, meski tanpa kopi.”
Ya, kata ibu, lebih baik bersama dia yang mencintaimu. Karena bagi seorang perempuan belajar mencintai lebih mudah ketimbang berusaha dicintai.

Wednesday, July 23, 2014

Ada

Ada kalanya kamu merasa, tahan tangis lebih menyesakkan daripada tahan nafas. Seakan dada ini sudah penuh dan siap menjatuhkan bulir demi bulir yang kau gantungkan dengan simpul kuat sedemikian rupa agar tidak jatuh.

Ada kalanya kamu merasa, tiba-tiba butuh sandaran karena kaki-kakimu takkuat lagi menopang semua kepura-puraanmu, ke-sok-kuatan, dan ketegaran palsu yang selama ini kamu dengungkan.

Ada kalanya kamu merasa, buku-buku jarimu dingin hingga merambat membekukan semua kata-kata yang ingin kaulontarkan serta deret kata yang ingin kausampaikan,

Ada kalanya kamu merasa, hanya kamu yang sanggup memeluk dirimu sendiri saat ini, karena semua orang—-entah mengapa acuh dan tidak sanggup memahami risau yang sedang menari-nari dalam dekapmu.

Ada kalanya kamu merasa, hanya kepada Tuhan kamu sanggup menangis, bersandar, mengatakan semua, dan menceritakan hati yang sedang risau tak tahu arah.

Thursday, July 17, 2014

Jangan Dibutakan Perasaan Kecewa

Saya sedang menyesali lisan ini, apa kabar ia nanti di akhirat? Masya Allah dihukum seperti apa setelah ia angkat bicara, bersaksi atas apa-apa yang telah saya katakan di dunia.

Hati-hati dengan perasaan kecewa. Karena ia bisa menjadi peluru, yang membuat kaliber dapat melepas tembakan. Saya pernah dikecewakan, ya mungkin layaknya anak muda kebanyakan—-jatuh hati lalu demikian dijatuhkan di sembarang tempat hingga pecah porak poranda. Entah apapun alasan dibalik dia yang tiba-tiba menghilang, sepertinya itu lebih baik untuk kami berdua.

Saya menuliskannya bukan untuk ajang curhat kali ini, lebih ke berbagi cerita agar banyak orang bisa lebih baik lagi, tidak seperti saya di masa lalu. Singkat cerita saya sempat lama susah menerima perubahan yang ada di sekitar kami. Saya sering menyalahkan kondisi, perkuliahannya, lingkungannya, ah semua saya salah-salahkan, semua yang saya anggap merubah dia. Ya, saya masih belum terima saja dulu, waktu dia yang saya kenal mendadak berubah begitu alim dan sholeh.

Ini saya cemburu sama yang menciptakan hati dan perasaan ya ceritanya?
Sebenarnya saya sudah faham saya bukan yang paling benar (even saya yang ditinggalkan, tapi alasannya kalau dianya mau menjaga hati memang tidak bisa diganggu gugat hahaha) , tapi saya masih mencari celah pembenaran. Begitulah manusia :)

Saya kadang menganggapnya ekstrimislah, tidak punya hatilah, lalu saya curhat dengan teman saya perihal begini begitu kemudian menyulutlah perasaan kecewa itu yang membuat saya bicara macam-macam yang lebih jelek lagi. Karena jujur, bukannya seru ketika kita curhat, membuka aib orang, lalu orang lain mendukung kita? Setan itu punya banyak cara menyenangkan hati manusia. hahaha

Friday, July 11, 2014

Perkara Cinta dan...



Sebelas tahun silam, saat duduk di bangku sekolah dasar, aku selalu bertanya kepada diriku sendiri “Mengapa orang dewasa selalu membelit-belitkan masalah mereka? Apa memang cinta menjadi sebuah perkara yang sebegitunya?” dan itu adalah detik-detik dimana kedua orang tuaku bercerai. Kini aku tahu persis, mengapa masalah mereka selalu menjadi serumit itu, mengapacinta menjadi perkara serumit itu, mengapa...mengapa...***
Malam menjadi pukulan keras seperti kulit bedug yang dipukuli magrib tadi. Dug, dug, dug. Lalu berubah menjadi malam sunyi dengan suara detak jam dinding yang terdengar nyaring di telinga. Tik tok tik tok. Aku memejam, ditengah mata yang tidak ingin terpejam. Memaksa tidur saat jiwa ini tidak mau tertidur. Sudah kubilang ini malam yang keras dan sepi.
Isakku terdengar seperti teriakan dan aku sanggup memeluk diriku sendiri malam ini. Menggugu sejadi-jadinya dan entah tak bisa kujelaskan secara rinci apa yang aku rasakan, ini sebelas dua belas dengan patah hati. Sebenarnya, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mengoyak hatiku yang sedang dalam masa penyembuhan, bahkan beberapa bulan terakhir ini aku tidak lagi berusaha memikirkannya. Tapi, malam menjadi begitu agresif menggerakkanku untuk mencari serpihan masa lalu. Maafkan malam, aku berkali menyalahkanmu. Ah sudah, sudah akui saja kau salah tetap membuatku terjaga seperti tadi.
Karena kepo setitik, rusak move on sebelanga. Social media bilang, beberapa hari lagi laki-laki yang dulunya selalu bermimpi melingkarkan cincin di jari manisku kini sudah bersiap melingkarkannya di jemari perempuan lain. Mereka akan menyebar undangannya. Dan rasanya, setiap menit kepalaku diajak berputar-putar mengelilingi kenangan. Mengingat kembali senyumnya, hari-hari yang penuh dengan tatapannya, dan jangan salahkan aku bila kini aku kerepotan mengkompres kedua bola mataku. Bengkaknya tidak kunjung mengempis.
Dulu saat dia tiba-tiba menghilang—kita memang tidak ada hubungan apa-apa, entahlah mungkin sedikit berkomitmen, aku perempuan yang takut pada komitmen—dia bilang ada seseorang yang membuatnya seakan jatuh cinta setiap hari, sedang bersamaku dia hanya merasa nyaman. Lalu aku meraung-raung tapi mencoba mengikhlaskan karena memang kami tidak ada hubungan apa-apa—dan aku sedikit menyesal kenapa aku takut pada komitmen, tidak, banyak.***
 Pagi,
Dan aku dicegat saat hendak memasuki tempat kerjaku. Bola mata cokelat itu, yang membuatku susah terpejam, menahanku berpalig. Aku seperti membeku, ini pertama kalinya sejak lima bulan lalu dia menghilang,. Kami bertemu.
“Aulia.” katanya
Hanya mataku yang berbicara.
“Aku mau mengajakmu bicara sebentar,”
“Kamu menyita waktuku,”
“Kantormu bahkan belum buka.” Dia tahu saja, aku memang selalu datang sebelum kantor resmi buka, hanya memastikan hariku akan  baik jika aku mempersiapkan semuanya dengan baik. Tapi dia datang membuatnya berantakan, aku benci segala sesuatu yang tidak dipersiapkan dengan baik, termasuk pertemuan.
 “baik, waktumu tidak banyak.”
“Tidak bisakah kita duduk?”
“Sudah kubilang waktumu tidak banyak.” Aku menyembunyikan kaki-kakiku yang lemas.
“Baiklah, aku minta maaf sebelumnya. Aku minta maaf  karena tiba-tiba meninggalkanmu, juga atas kata-kata dan tindakanku setelah itu yang menyakitimu. Tapi kita memang tidak ada hubungan apa-apa sebelumnya. Aku bersama Naila, perempuan yang awalnya aku fikir bakal membuatku lebih berkembang ketimbang bersamamu, karena dia yang pintar, visioner, penuh pesona, ya aku akui aku serasa jatuh cinta setiap hari dengannya. Tapi itu hanya perasaanku saja, akhirnya aku sadar aku hanya mengaguminya. Aku tidak bisa bertingkah konyol bersamanya atau menjadi diriku sendiri seperti saat aku bersamamu. Aku tidak bisa mengupload foto-foto bodoh, atau mengajaknya jajan di pinggir jalan. Kami memang terlihat seperti pasangan yang saling melengkapi, terlihat hebat.”
“Bukannya kau bilang sendiri, tujuan orang menikah adalah jika dua pribadi disatukan bakal  menjadi satu kesatuan yang lebih baik?”
“Tapi aku sadar, ketenangan dan kenyamanan lebih penting. Kebaikan bakal datang dengan sendirinya.”
Aku masih menyimak, sembari kebingungan menebak apa maksud percakapan ini.
“Aku sadar aku kehilangan perasaanku saat dia menjadi pribadi yang menyebalkan. Aku rindu padamu Ul.”
Laki-laki memang makhluk paling tidak konsisten yang pernah kukenal.

Tuesday, July 8, 2014

(not really) Good Bye

Hal yang paling menyakitkan dari mencintai seseorang adalah ketika orang yang kamu cintai bukan lagi dia yang kamu kenal dulu

Bukan Kenangannya

Terkadang kita harus dengan rela menyadari bahwa kita mencintai kenangan, bukan orangnya. Dunia berputar, waktupun tanggal, seseorang bisa berubah dengan cepat. Apa yang kamu pikir selama ini, belum tentu benar, belum tentu jika kamu dihadapkan dengan dia-mu-lagi kamu bakal tetap mencintai dia dengan segala kesederhanaanmu.

Cintailah ia dengan benar, dengan bijak, dan dengan sabar.
Cintai orangnya, bukan kenanyannya.

:)

Wednesday, July 2, 2014

Saku Jaket

Orang bilang, ada tangan yang kau genggam
di  balik saku jaketmu

bolehkah aku menjadi kepingan?
Setidaknya kau bisa memungutnya
lalu kau simpan, di saku jaketmu

Aku Rindu

Apa isyaratku sudah sampai
memencet bel rumahmu
mengetuk pintumu
membuka jendelamu

tepat satu senti di depan wajahmu?
Lalu berbisik
dari bibir ke bibir
mata ke mata
telinga ke telinga


Ay,

(1)
Kau tahu rasanya pura-pura melupa,
padahal kenangannya selalu tidur di sebelahmu?

(2)
Kau tahu rasanya diam-diam menahan rindu,
padahal peluknya selalu ramai di pikiranmu?

(3)
Kau tahu rasanya ingin membenci,
padahal tanpa diminta selalu kau sebut namanya dalam doamu?

(4)
Kau tahu rasanya membohongi diri sendiri,
padahal cinta selalu jujur dalam hidumu?

(5)
Rasanya...............................................

Lelaki, Gadis, Layang-layang

Ucapkan selamat tidur pada peri-peri kecil di pangkuan bintang
Ucapkan selamat malam pada kunang-kunang di sela rumput ilalang

Ucapkan salam rindu pada lelaki yang tiba-tiba menghilang
Ucapkan mantra sadar pada gadis malang yang cintanya di tarik ulur seperti layang-layang

karena seseorang yang sayang itu tak mesti yang menjanjikanmu macam-macam
dia hanya perlu datang dan memberanikan diri membawamu pergi lalu menjagamu setengah mati.


Sabar

Siang hari di bulan Ramadhan, siang yang ramai, yang sibuk, dan penuh lalu lalang. Entah mengapa meski terik, aku tidak merasa lapar sama sekali, tidak juga merasa panas. Mungkin karena aku berada di Masjid sehingga teduh menyelimuti. Tapi ada perasaan yang sedikit kacau, di hati sini sedang sepi dan kerontang.
"Assalamu'alaikum, cah ayu."
"Wa'alaikumussalam, ibuuuuuuuu." Kucium tangan ustadzahku
"Gimana kabarnya? Baik?"
"Ya begitulah bu," Aku memeluknya, dan air mataku malu-malu untuk keluar.
"Kenapa lagi nduk?"
"Kadang saya berfikir, kenapa Allah tidak kunjung mengabulkan doa."
"Jangan pernah berhenti berdoa, masalahmu pasti ada ujungnya. Itu artinya disuruh sabar sama Allah. Kamu ingat? Cara Allah mengabulkan doa itu ada tiga. Yang pertama dikabulkan langsung saat itu juga, yang kedua di kabulkan nanti semasa hidup, yang ketiga dikabulkan di akhirat."
Aku hanya diam.
"Barangkali kalau doamu dikabulkan langsung, kamu bakal takabbur. Sabar saja, percaya sama kekuatan sabar dan tawakkal. Insya Allah semuanya lapang."

Thursday, June 19, 2014

Wednesday, June 18, 2014

Sebenarnya

Aku butuh kamu sebenarnya, aku butuh kamu di saat-saat genting seperti ini. Di saat-saat aku harus mengambil sebuah keputusan, setidaknya aku butuh mengetahui responmu saat aku condong ke keputusan A ketimbang B atau sebaliknya. Meskipun saat kamu bilang seharusnya aku pilih A, tidak selalu aku akan memilih A. Tapi toh pada akhirnya, kamu tetap merelakan pundak, telinga, tisu, pulsa, gara-gara penyesalan atau kesalahanku.

Aku butuh kamu sebenarnya, aku butuh tempat cerita meskipun kadang kamu tidak tahu apa duduk perkaranya. Aku butuh teman berpikir sekaligus yang mengetahui sebenarnya apa isi hati dan kepala ini. Aku butuh kamu untuk sekedar mendengar, meskipun pada akhirnya kamu kebingungan harus berkata apa. Tapi setidaknya, kamu mengerti apa yang sedang aku alami.

Aku butuh kamu sebenarnya, bukan untuk membenarkan kesalahan yang sudah aku buat. Aku butuh kata-kata “semua akan baik-baik saja” khas milikmu, meskipun terkadang aku melaluinya dengan tidak baik. Tapi, ya, kamu selalu benar. Pada akhirnya semua akan baik-baik saja.
Aku butuh kamu sebenarnya, Tapi yaaah… semua akan baik-baik saja kan? Ada atau tanpa kamu.

Friday, May 30, 2014

Jika Kau Maka Aku


Jika kau suka pada rintangan, maka akulah tebing curammu. Akan kubuat pijakan-pijakanmu licin dan terjal supaya kau terus tenggelam dalam rasa penasaran. Lalu jika kau jatuh, aku akan segera menjadi tumpukan kapas yang akan menangkapmu dengan selamat.

Jika kau tak pernah lelah dalam pendakian, maka aku akan menjadi gunung tertinggi yang bakal susah payah kau taklukkan, biar saja kau kelelahan. Lalu seketika aku akan menjadi pohon rindang dan ranu kecil dengan air-air yang jernih. Jika kau merasa sudah takkuat meneruskan perjalanan, kau bisa beristirahat sejenak meluruskan kaki dan menegukku.

Jika kau suka makanan pedas, aku bakal menjadi bakso granat, sambal hijau, mi setan, nasi goreng kaplokmu, dan menu-menu menyiksa perut lainnya. Setelah mukamu memerah dan rasa ingin meledak sudah mampir, aku akan berusaha menjadi segelas air putih dan teh hangat yang bisa kau teguk dengan cepat.

Jika kau penggila buku-buku, aku akan menjadi perpustakaanmu. Lalu jalan-jalan sepanjang kakimu melangkah didalamnya, akan kusulap menjadi sebuah lorong labirin dengan buku sastra, ensiklopedi, kumpulan esai, lembaran nonfiksi, biografi, dan novel-novel favoritmu. Setelah kau merasa matamu mulai berat, aku akan menjadi meja tempatmu menelungkupkan kepala dengan nyaman atau bahkan kasur empuk dengan musik klasik guna melepas penatmu.

Wednesday, May 28, 2014

Mungkin Bukan Mendung

Cer(super)pen

Hari ini langit masih sayu, dia mulai meredakan tangisnya dan kini matahari dibiarkan perlahan ikut campur. Mendung mulai terusir dengan sendirinya. Bau hujan masih menyisa dimana-mana. Aku mulai berani duduk di bawah halaman terbuka, sembari menghabiskan waktu menunggu moodku datang untuk membelikan ayam goreng pesanan Ibu tiba.

Sesosok laki-laki mulai tampak beberapa meter di depanku. Aku yang taksiap berhadapan dengannya lebih baik membuang muka dan berlindung di balik novelku.
"Hei, Sarah!" Ck, dia menyapa dan berhasil membuatku tampak berantakan.
"Eh?"
"Kok sendirian? Nggak pulang?" tanyanya.
"Engga van, enakan disini dulu." Sial ini jawaban macam apa.
"Yaudah, aku duluan ya. Assalamu'alaikum."
Mau kemana? adalah kata-kata yang tidak sempat terucap dan tertahan begitu saja.
Baru saja aku menata kembali hati dan penampilanku, Alifa (perempuan yang selalu aku cemburui karena tingkah laku, keanggunan, dan pesonanya) lewat dan berhenti di depanku.
"Lihat Ipang?"
"Iya, barusan aja lewat sini. Ke arah sana." Jawabku sambil menunjuk ke arah Ivan pergi.
"Oh, makasih."
Ipang? Aissshh itu panggilan unyu kalian?

Terakhir kudengar kabar burung, setelah wisuda nanti Ivan akan menikah. Dan pasangan yang didengung-dengungkan adalah Alifa. Tidak adakah yang mau mendengungkan namaku? Aku yang mengenal Ivan lebih dahulu, dan barangkali tidak ada yang percaya dulunya kami pernah saling kenal begitu dalam. Ya, orang sealim dan sebaik Ivan mana mungkin bisa bersanding denganku? Yang kata orang jilbabnya masih gaya-gayaan, yang tutur katanya masih bercampur dengan logat Malang yang asal ceplos begitu saja?

Aih dan akulah awan mendung itu, Ivan Langit dan Alifa sang matahari. Langit dan matahari tampak begitu serasi  dan mau tidak mau aku terusir pergi.

Aku mengagumi Ivan jauh sebelum kita pernah dekat dulu, lalu rasanya begitu singkat saat kami merasa saling membutuhkan, dan setelah itu meskipun Ivan meniadakan ketersalingannya, aku masih tetap kagum meski kini artinya kekagumanku itu harus dibalut dengan kata diam-diam. Alasan kami berpisah cukup sederhana, klasik, mungkin tidak hanya aku yang mengalaminya. Banyak orang di luar sana yang terlanjur basah mencintai orang yang tiba-tiba berubah. Aku, gadis biasa, mencintai akhi-akhi.
"Kita ini apa sih? Pacaran bukan, sahabat juga tidak mungkin sedekat ini." ini adalah asal muasal percakapan terakhir dengan Ivan-ku (yang hingga detik ini aku berusaha melupakannya tapi sama sekali tidak terhapus dari ingatanku).
Aku hanya diam, sambil menghela nafas. Aku tahu kemana arah pembicaraan ini. Jadi kubiarkan dia memegang kemudi karena aku juga tidak sanggup mengendalikannya.
"Rah, kamu tahu kan aku diamanahi apa tahun ini?"
 "Kadep SDM sama entah bagian apalah itu namanya di organisasi ekstrakampusmu."
"Aku juga ngerasa kita udah kelewat Rah."
Aku mendongak ke arahnya, kelewat katanya? Bahkan kami jalan berduapun tidak pernah. Inipun kami bertemu tanpa sengaja di depan dekanat dan dia mengajakku duduk sejenak di tepi halaman parkir.
"Kita nggak mau pacaran kan, tapi hubungan kita ini apa? Aku malu sama diriku sendiri, aku seperti memakan omonganku. Aku menyetujui dan meyakini tidak ada yang namanya pacaran, tapi kita ini apa? Bagaimana caraku menyampaikan kepada teman-temanku? Aku malu Rah. Bagaimana nanti kuceritakan posisimu saat ada yang menanyakan?"
"Aku temanmu. Jawab saja begitu Van."
Kami terdiam. Sama-sama faham arti dari pembicaraan ini, tapi...tidak ada yang berani berkata, "sudahi saja."
"Jawab saja  begitu Van. Aku hanya temanmu." Kataku sembari berdiri, dan beranjak pergi.
Setelah itu, masing-masing dari kami tidak saling berkirim pesan kecuali soal organisasi atau kuliah. Tidak juga tiba-tiba membuka obrolan di facebook atau twitter. Seakan dua tahun ke belakang tidak ada yang terjadi diantara kami. Diamlah yang lebih banyak bicara. Dan di hatiku, diam-diam aku menangisi langkahnya yang pergi secepat itu. Menahan rindu dan perasaan ingin mengulang semuanya kembali.

Friday, May 23, 2014

Hujan

Suara merdu
Turun menenangkan
Membasahi hati
Menghapus kelelahan
Menumbuhkan keyakinan

Desir rintik
Sore hari
Mengelus jiwa
Membuang luka
Memasang asa

Ini hujan

Bukan hujan bulan Juni
Bukan juga hujan bulan ini
Ini hujan di dalam diri
Ini hujan yang membersihkan hati

Wednesday, April 30, 2014

Begitulah Rinduku


Sehening embun yang diam-diam takluk pada daun
Seanggun sinar mentari yang malu-malu kala pagi
begitulah rinduku.

Serapi aksara yang berbaris dalam tulisanmu
Semerdu harmoni prosa yang menjemputmu dalam rima dan diksi
begitulah rinduku.

Waktu bisa apa?
Dalam henti ataupun berjalan, rindu ini masih diam-diam, malu-malu, berbaris, menjemputmu.
begitulah rinduku.

Monday, April 28, 2014

Orang Ketiga

Sebuah Cer(super)pen

Semua orang menyalahkanku. Teman-temanmu, teman-temannya, adik tingkatmu, kakak tingkatmu, teman seangkatanku, rasanya hampir semua orang yang mengenalmu dan mengetahui hubungan kita, menyalahkanku.

Sesaat setelah kamu upload foto kita berdua di instagram, aku tahu mata-mata yang tidak mengetahui cerita kita secara lengkap pasti akan mencaci makiku sedemikian rupa.

Mereka hanya tahu, ceritamu dan dia dulunya begitu bahagia. Hingga aku datang.

Padahal mereka tidak tahu, siapa yang sebenarnya datang. Mereka juga tidak tahu siapa yang ditinggal pergi dan menunggu begitu lama. Mereka tidak tahu siapa yang bertahan dan menjadi sok kuat atas cerita bahagia itu. Mereka hanya tidak tahu, aku yang mengenalmu lebih dahulu, dan aku yang ada di dekatmu jauh-jauh hari sebelum dia datang.

Lalu apa tidak boleh sekarang giliranku? Waktuku membawamu kembali? Waktuku menjadi tempatmu pulang?

Mereka hanya tidak tahu…
Aku ada, aku selalu ada buat kamu.
"Mirnaaa, pinjem catetaaaan. Aku mau nyalin tugas ya."
"Mir, ayo nonton The Avengers."
"Mir, 10 menit kamu ga keluar dari rumah, aku bakal teror rumah kamu."
"Mir, aku suka sama Anggun."
"Mir, aku berantem sama dia."
"Mir, aku bingung mau kasih Anggun kado apa"
"Mir, tadi aku kenalan sama orangtuanya Anggun."
"Mir, aku mau curhat."
"Mir, aku bingung nih mau magang dimana"
"Mir, udah tidur? telponinin nomernya Anggun dooong aktif apa engga. Aku daritadi hubungin dia nggak bisa."
"Mirna happy birthday! Semoga masa aktif jomblonya segera habis. hahaha"
"Mir, kamu mau aku bawain oleh-oleh apa?"
"Mir, besok main yuuk."
"Mir, aku putus."
Mereka hanya tidak tahu bagaimana perasaanku sudah dibuat campur aduk selama ini.

Orang ketiga tidak selalu seorang pengganggu, terkadang dia hanya hadir karena sudut pandang yang salah. Bisa jadi, orang ketiga bagimu sebenarnya adalah orang pertama yang terlewatkan. Orang yang sedari dulu sudah ada, hanya saja tidak ada yang mau mengintip berbagai perasaan dibalik senyum palsunya.

Saturday, April 26, 2014

Mbak Ai's day

"Satu saat kamu bakal ketemu sama seseorang yang nggak menuntut kamu buat mengemis-ngemis cinta. Meskipun dia bukan orang yang ada di masala lalumu, tapi kamu harus menghargai dia dengan ketulusannya" Mbak Ai
Ya,  dan dia sudah menemukan orang itu.
 She's married now.

Dan waktu aku diundang, aaaa!! Betapa excitednya, sampai tangan dingin hihihi
Orang pasti bakal ngatain aku---waktu aku bilang temenku nikah, terus ditanya,
"temen apa? SMA? SMP? Kuliah?"
dan aku terus menerus geleng-geleng sambil bilang,
"temen blog."
"Gila kamu!" kata banyak orang.
Biarin, akhirnya aku ke Cilacap juga, dan for the first time in forever aku lihat dan peluk Mbak Ai secara langsung. Barakallahu mbak Ai :) Semoga menjadi keluarga yang bermanfaat buat semesta, yang inspiratif, dan sakinah mawaddah wa rahmah.


Tuesday, April 22, 2014

Kamu Hanya Tak Sadar


Sebuah Cer(super)pen

Aku membuka Line-ku kemarin siang, seorang laki-laki berkulit sawo matang sedang mengganti Profil Picture-nya. Kamu. Iya kamu yang sedang memakai jas almamater yang nampak fit di pundak, sembari melihat ke depan dengan tajam, tapi tidak ke kamera.
Waktu itu, aku tahu benar. Kamu sedang serius dalam diskusi. Dan waktu itu, aku faham benar kamu tidak mungkin memerhatikan detail-detail kecil seperti aku yang mengambil gambarmu diam-diam seperti ini.
Kamu hanya tak sadar.
Dan betapa bahagianya aku, saat kamu menyukai gambar itu.  Menggantinya di seluruh media sosial. Jelas saja kamu suka, kamu menawan sekali disana. Ah tapi percayalah, di kehidupan nyata, kamu lebih bisa menggenggam hati siapa-siapa yang mengamatimu selekat aku.
Kamu hanya tak sadar.
Dalam diam aku berbunga-bunga persis seperti mekarnya kuncup-kuncup teratai air, meski kamu tidak tahu siapa yang mengambil gambar itu, meski kamu tidak tahu sekencang apa degup gadis ini saat mengambil gambarmu, meski kamu tidak tahu betapa ingin gadis ini ingin masuk sedikit dalam duniamu. 
Kamu hanya tak sadar.
Bahwa ada diseberang sini, dengan atau tanpa lensa kamera yang diam-diam mengamatimu lalu mendoakan, semoga kamu lekas sadar. 

Saturday, April 12, 2014

Untuk Ibu


hari ini, hari ulang tahunnya yang ke 44.
Ibu bilang ibu tidak mau ada kado dan perayaan, apapun.
dan aku akan merayakan untuk diriku sendiri.

teruntuk ibuku, 
 
teruntuk matahari, bulan, bintangku 
Yang mengisi langitku kala aku menangis dan tersenyum
Yang menghadirkannya penuh doa dan penyemangat

teruntuk samudera, ombak, dan buih-buih di lautku
Yang menggulung semua sedih menjadi sebuah pelukan
Yang berlabuh menenangkan

teruntuk senja soreku
ibu tahu apa yang lebih indah dari cahaya oren-oren yang semburat itu?
aku tidak bohong, ialah senyummu yang begitu bahagia 
ialah rona di pipimu saat engkau berlarian dengan ceria

aku sayang sekali padamu

ibu yang susah sekali kuturuti pintanya,
aku tidak bisa menjadi dokter kecilmu, atau menjadi dosen sesuai keinginanmu
aku ingin menjadi yang lain tapi tetap akan berusaha menelponmu saat aku sibuk, yang tetap meluangkan waktu menikmati masakanmu saat ibu rindu
 
ibu yang tak percaya cinta anak juga sebesar gunung jaya wijaya
meskipun cintamu seperti pengunungan everest, meski katamu cinta anak tak ada seperempat dari cinta ibu,

percayalah padaku, seterlihat tidak cintanya aku padamu, aku sudah berusaha mencintaimu, menyebutmu di baris doaku, dan mencoba membuatmu bangga meski kadang aku salah kaprah

teruntuk perempuanku yang paling hebat sedunia,
ibu terkuat yang pernah ada,
percayalah ribuan orang mencintaimu.
percayalah matahari, bulan, bintang itu selalu ingin melihat tawamu
percayalah samudera, ombak, dan buih-buih selalu ingin melautkan pedihmu
percayalah senja sore akan lakukan apa saja untuk menghiburmu
dan percayalah, anakmu ini sedang berusaha mencintai sehebat dirimu, mencipta senyummu, menghapus tangismu, menguatkanmu

Percayalah padaku, ibu adalah wanita paling kuat di dunia
dan Allah akan selalu memeluk dan mengabulkan doamu, meski tak secepat lari Aliya menuju kamarmu.

Selamat berbahagia di sisa hidup bu, anakmu ini memang nakal
tapi sayangnya setengah mati, sampai menggugu waktu menulis surat ini.

Thursday, April 10, 2014

Ada yang Salah (1)


Ada yang salah dengan sistem pendidikan kita. .
Aku memang bukan orang yang mendalami dunia pendidikan sedalam itu, bukan juga orang-orang tipe kajian yang memiliki berbagai data valid lalala yeyeye, aku hanya doyan mengamati lalu menggumam sendri. Nah, ini salah satu dari  bentuk gumamanku, mungkin.
Ingat tidak jaman SMA? Saat sekolah kita habis-habisan menyemangati muridnya agar lulus UAN 100%? atau memberikan reward untuk mereka-mereka yang meraih nilai sempurna dalam UAN? saya masih ingat. Tapi sayang banyak dari mereka (SMA) yang lupa bahwa sebenarnya bukan disitu letak keberhasilan sekolah, bukan mencetak banyak peraih nilai seratus, atau memiliki anak didik yang nilai UANnya paling tinggi se-kota, provinsi, bahkan nasional, tidak. Tujuan sekolah adalah mencetak orang-orang terpelajar. Yang nantinya, bakal menjadi penerus-penerus bangsa ini, seperti kata Pramoedya,
 “Seorang terpelajar harus sudah bersikap adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan”
Kalau boleh saya berpendapat, siswa-siswa seperti itulah yang harus lebih dihargai. Karena secara tidak langsung, kita membentuk mindset para siswa untuk menomer satukan “nilai bagus”. Padahal, bagaimanapun, moral yang nantinya akan dipertanggungjawabkan, bukan nilai di atas kertas. Menurut saya, cobalah sekolah-sekolah memberikan penghargaan untuk siswa paling menginspirasi, siswa paling berjiwa sosial, siswa paling sopan, atau siswa paling rajin, tanpa embel-embel nilai mereka harus sempurna blablablabla. Setidaknya kembalikan pola pikir “akhlak adalah nomer satu”. 
Ingatkah kalian saat jual beli kunci jawaban UAN lagi in? Saya sempat mengalaminya, di SMA saya,  walaupun tidak sebanyak di SMA lain, termasuk SMA yang tidak lepas dari pangsa pasar penjual kunci jawaban. Lalu para siswa yang masih ragu dengan kemampuannya ditambah lagi dengan mindset tidak lulus itu bodoh dan memalukan—-menjadi begitu berusaha mendapatkan kunci jawaban. Strategi urunanpun digelar, lalu briefing menjelang UAN tentang tatacara bagaimana cara mendapatkan kunci hingga menyalin kunci tanpa sepengetahuan pengawas. Mereka takut dicap gagal, tapi sebenarnya mereka yang mengecap diri mereka sendiri seperti itu *maaf*.

Monday, April 7, 2014

semoga tak salah memilih pundak!



semoga apik selalu dijaga semangat dan kontribusinya, semuanya juga ya!
TANGGAP TANGGON TRENGGINAS :)

europe or aussy!

next studies, i wish!

Jomblo, eh single maksud saya

Yang jomblo, single maksudku, tinggal yang di tengah 

yang jomblo, lagi-lagi maksudku single, tinggal 2 kerudung ungu


ngga ngerti, cuma pengen ngepost gini aja.
hahaha ngga penting ya?

kalau gampang, emang bukan prinsip namanya. SEMANGAT!
maapin, aku ngga bakal kasih traktiran gara-gara aku jadian, traktiranku aku akumulasiin ntar pas di resepsi ya.
kalian bisa makan sepuasnya disana hahaha

semoga selalu bisa menjaga diri ya sahabat-sahabatku :)


Sunday, April 6, 2014

Memetakan Mimpi (1)

Impian adalah baik bagi setiap orang, karena berhenti bermimpi seakan tak ada gunanya hidup. Flat, hanya let it flow. Terkadang we have to make our own wave! Not just follow the flow. Semua orang harus punya mimpi, seperti sebuah atau beberapa destinasi-destinasi yang akan kita tuju sewaktu kita mengayuh sepeda. Kamu punya? Aku punya, banyak. Hingga rasanya kadang aku terlalu banyak bermimpi hingga bingung bagaimana harus memulai untuk meraihnya.

Beberapa pekan ini aku hilang arah, hidup hanya sekedar mengayuh-mengayuh-dan mengayuh. Aku lupa dimana saja aku harus berhenti dan dimana aku tidak boleh berhenti. Aku lupa beristirahat, dan aku lupa kemana sebenarnya tujuan terbesarku. Melelahkan bukan? Bisa kamu bayangkan? Ini sama saja membuang-buang waktumu percuma.

Lalu harus bagaimana? ITU PERTANYAANNYA.

Tuesday, April 1, 2014

Friday, March 28, 2014

dicari : future husband yang kaya gini hahaha

Jangan Cintai Aku Apa Adanya- Tulus

Tak sulit mendapatkan mu
Karena sejak lama kau pun mengincarku

Tak perlu lama-lama
Tak perlu banyak tenaga
Ini terasa mudah
Kau terima semua kurangku
Kau tak pernah marah bila ku salah
Kau selalu memuji apapun hasil tanganku
Yang tidak jarang payah

Reff:
Jangan cintai aku
Apa adanya
Jangan
Tuntutlah sesuatu
Biar kita jalan
ke depan

Kampanye dan Dangdut

hai, apik lagi uring-uringan nih habis lihat foto-foto kampanye parpol. Lama-lama sistem pemilu seperti ini udah nggak baik lagi ya. Bukannya mendidik, malah merusak. Bukannya bersaing sehat, malah saling menjatuhkan. Bila di kancah pemilihan saja sudah seperti itu, gimana waktu di pemerintahan nanti?


Yap kampanyeee, kampanye. Sebenernya apik ngga mempermasalahkan dangdutnya hanya sifat mempopulerkan dangdut yang tidak elegan (baca:seronok) dan timingnya berada di masa-masa kampanye itu yang kurang nyaman di hati. Memang sih kampanye itu merupakan salah satu upaya marketing, marketing is blood of a company. Tapi coba deh dipikir, kalau menawarkan suatu produk dengan cara yang "tidak elegan" menurut kalian apa produknya bagus? Apa produknya berkualitas? hehehe. Kembali lagi ke kampanye yah.... Kampanye memang merupakan upaya menggiring sebanyak-banyaknya masa ke bilik suara. Rogers dan Storey (1987) mendefinisikan kampanye sebagai “serangkaian tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan untuk menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu” (Venus, 2004:7). See? berkelanjutan. Kalau secara berkelanjutan dijejelin hal-hal yang tidak elegan seperti ini ya... 

"mau dikataaaaaaa....kan apalagiiiii (raisa)" hahaha

Tujuan kampanye sendiri menurut Pfau dan Parrot merupakan upaya perubahan yang dikaukan terkait aspek pengetahuan, sikap, dan perilaku (Pfau dan Parrot, 1993:10). Nah tiga aspek itu kemudian oleh para ahli dianggap mesti dicapai untuk sinergi dan menciptakan perubahan.

Menjadi wakil rakyat, ataupun menjadi kepala mulai daerah hingga negara tentunya bukan orang biasa. Mereka seharusnya luar biasa dan juga cerdas. Harapannya, bisa melakukan perubahan dan upaya pencerdasan. Well, pada akhirnya kampanye yang seperti ini hanya membuat masyarakat kita berpikiran sempit. Mendengarkan janji-janji, lalu nyanyi, njoget, dangdutan, saweran, Ya Tuhan. Mau dibawa kemana Indonesia?

Kampanye seharusnya menghadirkan terobosan-terobosan untuk membangun, sehingga pada akhirnya orang berlomba-lomba untuk mengerjakan kebaikan. Kampanye sebagai ladang amal, baik yang berkampanye maupun objek kampanye. Para petinggi parpol sudah lebih taulaaah cara-cara yang membangun kan semuanya orang hebat dan pinter-pinter. Gencarin aja pembangunan-pembangunan! bangun jalan, infrastruktur, bina desa, seminar-seminar masyarakat desa yang dikemas seru, dll. Sehingga dana yang diberikan negara nantinya akan jadi dana bergulir untuk membangun dan bersifat jangka panjang dan pada akhirnya negara tidak perlu bekerja dua kali karena sudah sinergi dengan parpol. 


tagline beritanya : ****** mulai kampanye, dangdut menjadi senjata utamanya :((

tagline beritanya : Goyangan Hot penyanyi dangdut menjadi daya tarik kampanye
Please! hahaha

Gimanapun kayanya susah gitu yaa menerapkan kampanye-kampanye yang sehat dan mendidik, tapi come on kita harus berpikiran maju dan jangan melulu kuno dengan seneng dengan model promosinya parpol yang seperti itu. Mungkin kalau masyarakat cerdas dan nggak suka sama tipe kampanye yang seperti itu, parpol juga pelan-pelan merubah gaya kampanyenya.

Maaf ini cuma pendapat dari anak kecil yang masih belum tahu soal seluk beluk politik. Cuma iseng aja ngomong, cuma punya doa dan menaruh harap untuk negrinya yang butuh orang-orang yang mengubah menjadi lebih baik lagi! Indonesia harus terdidik! Jangan malah dangdutan, joget, sawer, yang ujung-ujungnya mendidik pornografi, ngga takut semesta marah? hehehe

Tau nggak kenapa dulu Romawi, Portugis, dan Spanyol jatuh? Karena mereka kalah di bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan. Tahu nggak kenapa sekarang Singapura menjadi negara maju? Karena bapak Lee Kuan Yew itu orang hebat yang ingin Singapur menjadi negara yang disiplin, bermoral, dan beradab. See? Ketika negara-negara lain sudah mendewasakan diri dan berupaya menjadi bijak dengan menjadi negara terdidik, Indonesia masih betah dan nyaman dengan suasana yang seperti ini. Yuk buka mata, hati, telinga. Dan berbenah, bukan saling nyinyir dan mengutuk lho ya....sama aja dong ngga kelar-kelar. hehe

 SEMANGAT BERUBAH, INDONESIAKU!

Thursday, March 27, 2014

Caraku, Cara Waktu

Hujan saja faham, bagaimana aku merindumu. Dia rintikkan rinai-rinai yang separuh seperti bisikmu. Sayup tapi syahdu. Begitulah cara waktu menguji rindu.

Lewat senja sore, kutitipkan sebaris salam hangat. Semoga di belahan bumi lain ada pahlawan kecilku yang menatapnya malu-malu. Kamu ikhlas kan, senja?

Kuatur hela nafasku, sedikit terengah-engah saat aku ingat laluku. Yang begitu asin saat ternyata ada luka yang menganga begitu lebar. Pe-rih.

Tapi tetap saja, aku yang bodoh ini masih mendoakanmu diam-diam. Tidak mau berharap macam-macam, tidak menunggu, tidak pula duduk manis di bangku tempo hari bermimpi kamu datang.

Hanya sekedar meminta pada Tuhan agar dia menjagamu. Karena kesempatanku telah habis beberapa waktu lalu. 


Membakar Kenangan


Siang ini terik sedang menjadi-jadi. Mungkin tiga jam saja menari di bawah sinar matahari, mukamu sudah belang. Banyak orang memakai masker saking panasnya, sebagian yang lain malas bergerak dan memilih meneduh di ruang berAC. Tapi tak begitu dengan Amirah, ia memberanikan diri dipanggang matahari. Dia santai saja, sambil beberapa kali menggumam pada diri sendiri melihat recent update di berbagai social media tentang betapa panasnya hari ini, manusia itu aneh diberi hujan mengeluh diberi panas pun sama.
Sebenarnya ada hal yang begitu penting hari ini, hingga ia rela sedikit menghitam. Amirah ada janji dengan Baha. Janji pukul satu siang. Tapi berkali Amirah melirik jam tangan, sahabatnya itu belum juga muncul. Amirah duduk menunggu di kursi dekat bundaran, meluruskan kaki setelah  berjalan lumayan jauh. Dua puluh menit berselang, city car milik Baha akhirnya tampak di pelupuk mata. Dihentikannya mobil silver itu tepat di depan Amirah.
“Masuk tuan putri.” Baha membukakan pintu.
“Untung aku tuan putri baik hati, kalau tidak, kuadukan kamu pada paduka raja. Ini jam berapa hey...”
“Maaf tadi dosennya belum keluar-keluar. Mau kemana kita?” Tanya Baha penasaran, karena sampai detik ini Amirah belum memberi tahunya tentang tujuan mereka.
“Aku mau bakar-bakar.” Ujar Amirah.
“Bakar apa? Lemak?” Baha terkekeh sendiri, Amirah melengos.
“Ya kali. Mau bakar kenangan!” Baha tertawa lagi, namun tampaknya tidak lucu karena sedikitpun Amirah tidak ikut tertawa.
“Kamu serius?”
Amirah mengangguk.
Setelah setengah jam mencari tempat, akhirnya mereka sampai juga di samping tanah lapang luas yang sebagian besar dipenuhi rumput liar. Baha menghentikan mobilnya. Ada bekas bakar-bakar sampah di sudut kiri dan plang “Dijual” di tengah-tengah tanah yang luasnya sekitar 500 meter persegi ini. Disini memang kompleks perumah baru yang masih sepi, jadi mereka berdua sepertinya dapat dengan bebas membakar kenangan. Apa katanya tadi? Membakar kenangan? Ya, membakar kenangan....
“Terus mana yang mau kamu bakar?” Tanya Baha.
Amirah mengeluarkan satu kotak seukuran 30x15cm dari tas kresek bawaannya. Sambil menunggu, Baha mengambil minyak tanah yang barusan mereka beli dari bagasinya.
“Yakin mau dibakar?” Seketika Baha merasa pertanyaannya salah, karena beberapa saat setelah itu mata Amirah dipenuhi air yang berebut turun. Ia berkaca-kaca. Tapi tetap dikuatkannya untuk mengangguk.
            Dari kotak merah marun itu, Amirah mengeluarkan surat-surat, beberapa foto, gantungan kunci,  dan benda-benda lainnya. Api menyala di atas kenangan itu. Amirah hanya tersenyum.
“Lega ya?” tanya Baha When one door closses, another opens. You gonna get your new bright memmories. Promise me, nggak ada nangis-nangis lagi ya?” lanjutnya.
 Amirah mengangguk.
“Iya! Janji! Eh tapi kalau berhenti nangisin dia, terus nangisin orang lain lagi gimana?”
“Bzzzzzz, ya makanya tuan putri hatinya dijaga. Jangan asal diberi sama orang yang ngaku-ngaku pangeran. Dikasihnya sama yang beneran serius naik kereta kuda sama bapak-ibunya dan tiba-tiba ngetuk pintu istana terus izin ke paduka raja mau bawa kamu ke istananya.”
“Hahahaha, setujuuuuu!”
“Yah, dia udah ketawa aja, inget tadi nangis liatin kenangan yang dilalap api.” Goda Baha, Amira hanya tertawa, sedetik kemudian dia mendaratkan cubitan mendarat di lengan Baha. ***

Tuesday, March 25, 2014

Selamat pagi sayang!


Jika aku adalah terbenamnya matahari, maka engkau adalah siluet senjaku
Dimana tidak ada waktu untuk menatapmu lekat, terlalu pekat dalam tenggelamku

Jika masing-masing dari kita bertanya, dimana sanggup jarak terkikis
Maka, entah dimana letak jawaban tersembunyi

Jika kau terpejamku, maka antara aku dan kamu hanya sebatas kedipan mata
Begitulah sebuah siklus, dalam nyata aku sendiri, dalam mimpi aku berdua

Percayakah Tuhan menguatkan perasaan seseorang meski hanya dari bunga tidur?
Aku percaya, seminggu ini dalam lelap kita bertemu, dalam terang benderangnya pagi aku mengucap rindu

Sunday, March 23, 2014

puasa


ini hanya sepotong dari seloyang rindu, yang tiada habis kau gigit
teruntuk pecinta nastar, nissin waffer, dan makanan pedas :
ada berjuta rasa saat kamu hilang, ada serangkaian lapar datang menghadang.
aku ingin makan, mencicipi lagi rasanya kau cintai sebaliknya.

tapi tak boleh, sabar sayang
akan indah saat buka tepat pada waktunya

Saturday, March 22, 2014

Ima !



 Kali ini curhat sedikit tentang Ima, iya, ima yang kapan hari sempat saya post. Yang kerudungnya selalu hijau dan pinter ngaji.
Seneeng banget dia sudah lebih atraktif dan terbuka. Nggak melulu diem dan pemalu kaya biasanya. Yang nggak mau pisah sama Isa dan cuma bisa geleng, angguk, dan gigit jari. Alhamdulillaaah Ima sekarang sudah banyak ngomongnya, nggak cuma pas kebelet pipis aja. Bahkan dia ngajak saya foto! hihi Ima keciiiil, dan lihaaat pinter kan dia maju ke depan kelas waktu ditanya cita-citanya mau jadi apa?

Ima kecil mau jadi guru ternyata :)
belajar yang pinter ya sayaang!
jadi anak sholihah kebanggaan ayah ibu!





Friday, March 21, 2014

Cinta (dari) Kata Orang

Pernah kamu jatuh hati pada seseorang hanya dari kata orang?
konon dia begini, dia begitu

Pernah kamu mendoakan seseorang meski yang didoakan hanya ada dalam kata orang?
Hanya "katanya" tapi tak tahu bagaimana nyatanya
Entah ada, entah tidak ada

Pernah?
Ternyata jatuh hati tidak perlu muluk-muluk
cukup dari Kata Orang.

Hai, kapan kamu jadi "kataku" ?
:)

Bertubi-tubi Sun Sayang


Maret adalah agenda bertiga, biasanya…2 tahun silam. Sebelum masing-masing puya kehidupan perkuliahan sendiri-sendiri.
hari ini adalah hari tengah-tengah, antara ulang tahun ima (paling kanan) kemarin, dan ulangtahun annisa (kiri) besok.
Sekarang udah gede gini makin kerasa, yang penting bukan surprisenya. Tapi doanya.
Selamat berproses sahabat-sahabatku! Semoga bertambahnya umur kian menjadi cerminan untuk kian bertambahnya kedekatan pada Yang Maha Baik.



Afifah dan Annisa

yang kamu temukan di saku seragam biru putihmu
 
Hai ima, apa kabar?
Jangan tanya soal berapa banyak rindu yang menumpuk, karena sudah tidak terhitung satu-satu.

Kamu nggak tahu, gimana kangennya kita berdua sama sesi nginep bareng, main unoterus yang kalah dikasih bedak. Kamu juga nggak tahu, tiap lewat lorong-lorong di pasar betapa pengennya buat sekedar ngelilingin seantero pasar bertiga, cengeng satu, cengeng dua, dan cengeng tiga. Kamu nggak tahu kan?

Kamu nggak tahu kita berdua kadang diem sendiri waktu jalan cuma berdua, soalnya ada yang biasanya ayun-ayunin tangan-tangan kita. Nggak tahu kan kamu? Kita berdua kangen tauuuuuk! Kangen sama duduk-duduk bertiga di tribun, atau kita ngetok-ngetokin pintu kelasmu gara-gara kamu yang masih sibuk sendiri, jalan-jalan bareng, hunting foto, nggosip, muterin botol buat truth or dare, wisata kuliner, pulang ngangkot bareng, dan blablabla....

kita masih remaja kah im? Apa sudah dewasa? Kok mendadak jadi anak kecil yang matanya berkaca-kaca?

Hari ini harusnya, kalau masih sekota, kalau makassar-malang kaya dari MAN 3 ke Surabi Imut, pasti kita sudah kasih surprise sedemikian rupa meskipun suka gagal atau suka kamu usir dari rumah. Yah mungkin jarak bisa membuat kita sama-sama memberi ruang untuk berfikir, betapa mahalnya kebersamaan, betapa mahalnya peluk kamu. Kangen tauuuuk!

Selamat ulangtahun sahabatku, semoga semakin dekat dengan Yang Sudah Kasih Tahun ke-19. Baik-baik ya anak rantau, jangan lupa makan. Meskipun kamu jauh disana, jangan pernah merasa sendirian, ada doa-doa kita.



jaman masih bisa peluk-peluk ima :"