Wednesday, December 18, 2013

Jangan Jatuh Cinta Padaku

Kamu akan kesusahan bila jatuh hati padaku. Bagaimana bisa? Seperti yang kau tahu, aku tidak cantikhal itu yang banyak dikhawatirkan para perempuan. Aku kurus, hitam, berkacamata, kulitku kering. Maaf, aku sudah dengan beraninya mencintaimu. Memang siapa aku? Mungkin bila orang lain melihatku berjalan di sampingmu mereka akan bilang, 
"Suaminya ganteng, sayang sekali ya istrinya jelek." Kamu harus sering-sering menguatkan hatimu. Nanti kamu malu saat ke undangan sahabat-sahabatmu dan membawaku serta kesana.

Kamu juga akan kesusahan bila nantinya menghabiskan waktu bersamaku. Aku tidak mau bekerja di kantor, seperti perempuan-perempuan lain. Aku hanya ingin menjadi ibu rumah tangga, lalu kubuka usaha milikku sendiri. Pasti kamu bingung dari mana mencari uang untuk modal istrimu ini yang belum tentu juga usahanya akan berjalan lancar. Nanti kamu kerepotan, sudah susah memikirkan pekerjaanmu, masih saja ikut pusing memikirkan usaha istrimu.

Aku cerewet sayang, kamu akan kesusahan. Kamu bakal sering menutup kedua telingamu mendengarku mengabsen barang bawaanmu, mengingatkan ibadahmu, mengomelimu karena terlambat makan atau terlalu keras bekerja, serius kamu akan lelah sendiri mendengarnya. Belum lagi kamu kewalahan mendengarku bercerita macam-macam tentang hidup atau mengajakmu berdiskusi di pagi hari bahkan sebelum tidur. Aku bukan perempuan anggun yang pendiam dan tenang. Belum lagi aku suka panik, sayang. Panik saat kudengar sedikit saja kamu sakit, atau saat masakanku terlalu asin, atau nantinya saat kamu tidak pulang-pulang. Pasti kamu sebal HPmu kubombardir pesan menanyakan kamu ada dimana.
 
Sayang, aku bukan perempuan yang kuat seperti yang kamu kira. Dibalik aku yang terlihat kuat, kamu akan sering menemukan aku yang diam-diam menangis sesenggukan sendiri. Kamu pasti akan kesusahan menenangkanku, waktumu tersita hanya untuk memberikan pundakmu saat aku butuh.  Aku cengeng, sayang. Saat marah saja, aku lebih suka menangis daripada meluapkannya. Aku tidak mau kamu menyesal jika kamu tahu ternyata aku serapuh itu.

Tuesday, December 17, 2013

Al Fatihah Ayat Lima

iyyaa ka na’budu wa iyyaa ka nasta’in (QS Al Fatihah 05)
Satu hari aku menghabiskan waktuku dengan ayah, seperti biasanya di dalam mobil dengan lagu easy listening sebagai pengiring perjalanan kami pulang. Beliau bercerita tentang banyak hal. Satu yang paling kuingat, tentang Al-fatihah ayat lima. Tentang maknanya yang begitu dalam jika dijabarkan.
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.
Aku memaknainya, Allah selalu ada dan selalu bisa menjadi tempatku bersandar ketika aku sedang butuh. Allah selalu ada.

Tapi ayah tidak seperti itu memandang ayat ini.

Menyembah lebih dahulu disebutkan daripada memohon pertolongan. Itu artinya, jangan menuntut hak terlebih dahulu sebelum kamu memenuhi kewajiban, begitu katanya. Aku tersenyum sendiri mendengar kata-kata ayah yang dalam dan selalu mengarah pada bijaknya, menertawai diriku yang masih sempit. Aku terlalu menomersatukan hakku pada Allah, sedang kewajiban masih sering kutunda-tunda. Untungnya Allah itu Maha Segala-galanya, jadi dia tidak suka menunda memberikan pertolonganNya kepadaku. :)

Sudahkah kamu penuhi semua kewajibanmu pada Tuhan? Selamat pagi!

Saturday, December 14, 2013

tumpah

aku gagal, tadi malam aku gagal.
pertahananku roboh dan kapilaritas ini naik ke permukaan.
aku terlalu lelah untuk berpura-pura kuat.
Malam menjadi begitu jujur soal menerka rindu.

semua yang telah kutata rapi berantakan, kamu tidak mengacak-acaknya.
hanya aku saja yang lupa mengunci kotak kenangan kita.
hingga saat kusenggol sedikit, semuanya tumpah ruah.
Sepi selalu menemukan jawaban atas siapa yang selama ini aku coba pergikan jauh.

Kamu.

adakah disana sama berantakannya denganku?
Semoga tidak kau temukan juga obat rindumu itu.
(kuberitahu cara terbaik meredam rindu, ialah mendoakan)
hingga pada akhirnya kita saling mendoakan.

Friday, December 13, 2013

Tuhan Punya Rencana

Kekasih adakah gerangan
Kau bertahan dengan janjimu
Sedari senja menggulir malam
Berapa lama waktu ku tempuh

Ku masih menunggu
Ku masih menunggunya
Senyum aku dibalik nelangsa

Dulu kita punya satu rencana
Tentang dunia kita
Seolah begitu mudah percaya
Berujung indah
Manisnya janji-janji

Seiring fajar melepas malam
Sembari hari mengikat janji
Setulus hatimu yang ku tahu
Temukan aku tuk kau berlabuh

Ku masih menunggu
Ku masih menunggunya
Senyum aku dibalik nelangsa

Dulu kita punya satu rencana (Janji- Maliq & D'Essentials)

palsu

semua bersembunyi dibalik topeng. mengaduh tapi sebenarnya tak menderita.
kepal kepul asap rokok. asapnya berteman, hatinya tidak. hanya formalitas.
jabatan tangan di depan, tapi menusuk di belakang.
itu namanya kawan?

bukannya semua hanya mengejar jabatan, kekuasaan, kongkow-kongkow hedonisme, dunia?
baginya surgawi itu nomor sekian, yang penting bahagia.
jadi baik itu terakhir, yang penting jadi jagoan.
curang itu dimaafkan, asal teraihlah tujuan.
Mau saling mematikan, menyikut, melempar tuduhan, ah itu mah wajar. bukannya manusia memang seperti itu? sudah biasa.

lama-lama aku......mati.
dalam negosiasi dan politik praktis.
atau hidup....... tapi dalam kepalsuan.

dekat

aku adalah bagian dari kesalahan, yang kamu sembunyikan. cepat.
aku adalah masa lalu yang selalu ingin kamu telan. bulat.
asal kau tahu, hati kita sudah terpaut. lekat.
makan saja semua rindu itu. lumat.

pergilah sejauh kamu bisa, toh kamu tak akan bisa jauh-jauh. berat.
kecuali kamu sudah takpunya perasaan. atau barangkali aku lupa kamu sudah jadi...jahat.

Thursday, December 5, 2013

merantau

“Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, engkau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah berjuang.”
(Imam Syafi’i)

hanya mimpi kecil, yang belum pernah mencapai kata : boleh 
someday, i'll. AS SOON!

Tuesday, December 3, 2013

Semester tiga

"Nilaiku di semester ini secara IP memang jatuh, tapi aku nggak menyesal karena banyak ilmu yang nggak semua orang bisa dapatkan di semester ini. Bukan mentolerir, cukup satu semester ini saja untuk pelajaran, semester depan semuanya terbalaskan insyaAllah." Azmul Fauzi
Perbincangan seru sama sahabatku dan partner di kepanitiaan yang akhir-akhir ini menyita pikiran dan waktu. Penat yang berujung curhat colongan. Hahaha, kamu bener mul, semseter depan kita bayar semuanya ya :D

karena beriman saja tak cukup

Fenomena menarik, ah entah kenapa. Bukan maksud menjelekkan, bukan. Hanya saja kita perlu mengambil hikmah dari apa yang terjadi selama ini, menjadikan motivasi dan semangat untuk perbaikan.

Ini tentang beberapa orang disekitarku, keislaman mereka bagus, ibadah mereka jos, mereka tergabung dalam rohis, tapi sayang kepekaan mereka terhadap sekitarnya kurang. Seharusnya yang menjadi perbedaan antara orang yang paham agama dengan orang awam adalah tingkah laku dan cara mereka bermasyarakat. Tapi ini yang banyak dilupa. Habluminallah bagus, tapi habluminannasnya kurang sekali. Padahal kita berinteraksi di masyarakat, dan interaksi itulah yang bisa kita angkat sebagai poin-poin ibadah kita.

Di dua kelas, aku bersama teman-teman yang paham agama ini, mereka laki-laki. Dan aku paling tidak suka lelaki yang tidak tanggap dan tidak peka terhadap apa yang terjadi di sekitarnya, kenapa bagiku nggak banget? Karena laki-laki adalah imam, bagaimana bisa disebut imam yang baik bila gerakpun mereka enggan. Suka gemes sendiri liatnya. Membetulkan proyektor, menarik layar LCD, pun sekedar mengambil penghapus di depannya saja tidak tergerak, apalagi ikut kepanitiaan :)

Ya Rabb, Islam tidak mengajarkan seperti ini dan jangan sampai orang-orang malah melihat dan mengecap buruk Islam lewat orang-orang yang lebih paham agama seperti mereka. Ayolah berbenah, Bukalah sedikit mata dan hatimu dengan ciptaan Tuhan lainnya, jangan melulu fokus pada diri sediri saja. Bukankah hakikatnya Islam adalah rahmatan lil alamin dan kalian itu khalifatullah?
Semoga bisa lebih baik ya! Dan satu lagi, jangan menutup diri hanya sebatas berteman dengan mereka-mereka saja, jangan mengeksklusifkan meski pada akhirnya di masyarakat kita akan terbagi menjadi kubu-kubu.

Saturday, November 30, 2013

Ksatria Baja Hitam!

"Siapapun nanti, dia harus seorang ksatria" ayah.***

Sebenarnya umurku masih 19 tahun, nggak papa kan ya aku membicarakan ini? Mmm, apapun jawabannya aku sudah sering membicarakannya, dengan diriku sendiri. Tentag dia yang akan datang di masa depan, tentang teori mencintai, dan tentang perbaikan diri.

pain makes people change-niswah. Yes, it is.

Pernahkah kamu mencintai seseorang sebegitunya, sampai kamu melakukan hal-hal yang nggak bakal kamu lakukan di kondisi normal seperti mengucapkan "Selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam, bahkan selamat tidur, atau selamat makan!". Kamu disulap seperti resepsionis hotel yang menyambut calon tamunya. Atau disaat kamu bingung memilihkan dia kado apa di hari ulang tahunnya, bahkan kamu membuatnya sendiri! Padahal....belum tentu juga dia suka. Yang paling menjengkelkan adalah, semua isi tulisanmu, folder foto di HPmu, atau halaman-halaman di diarymu isinya tentang dia! Pernah? Berarti aku tidak sendirian di dunia ini.

Lalu pernahkah kamu menangis sejadi-jadinya sampai matamu sembab karena ditinggal pergi, bahkan kamu susah-susah search di internet : cara menghilangkan bekas menangis, atau cara menghilangkan kantung mata. AHA! lalu kamu kompres matamu dengan air dingin, teh, sendok, dan semacamnya. hahahaha. Sakit hati itu memang indah.

sejak "pain" yang satu itu aku jadi merapatkan barisan, dan malas membukanya lagi. Tidak sembarang orang bisa masuk! Enak saja main obrak-abrik hati orang, ups please come back later, if you don't have anything to impress me.

maaf, agak galak ya. maaf. Tapi gimanapun, itu jadi semangat diri sendiri juga untuk terus memperbaiki diri. Pada hakikatnya cinta itu membawa pada kebaikan. Jadi, kadang nonsense gitu kalau mencintai apa adanya, pasti kamu cinta karena ada apanya. Dan bahaya kalo kamu asal cinta apa adanya, tiba-tiba cinta gitu....mmm cintanya jangka pendek mungkin bukan yang jangka panjang.  cuma buat seneng-seneng aja atau buat pacaran, dijalanin aja pacarannya urusan nikah belakangan. Kalau aku sih nikah dulu, urusan pacaran belakangan, bener gitu nggak sih? :) hahaha

ayah pernah bilang, "nanti yang datang itu harus seorang ksatria, yang bermanfaat bagi sekitarnya. Yang bantu kamu mendidik anak-anakmu dengan baik. Cari itu sosok pemimpin, yang bisa mimpin kamu dan keluargamu. dan nantinya, kamu juga harus jadi perempuan yang hebat, yang bisa melengkapi dan meredam ksatriamu itu. Jangan jadi perempuan yang suka menyulut emosi." 

kalo kata ibu, "cari yang paling penting yang agama dan moralnya bagus. Dari situ nanti bakal ada orang-orang yang setia, mapan. Semuanya bermuara dari agama dan moral. Cari yang bisa ngemomong kamu."

Tuh ayah aja bilangnya cari ksatria, bukan cari siapa aja yang kamu cintai apa adanya. ibu juga ngeluarin syarat kan! Ke-apa-ada-annya itu malah nanti disalah artikan dengan nggak mau berprogress, malah bikin males. nggak, nggak gitu, jangan. Kalau dari diskusi sama temen-temen, cari orang yang kamu cinta itu yang bisa membuat kamu juga berproses, membuat kamu lebih dan lebih ingin memantaskan diri terus menerus, cari yang take and give. Jangan kamu yang melulu memberi, memberi, dan memberi, tapi kamu nggak pernah ambil sesuatu dari dia. Harus berimbang karena dia nanti yang bakal jadi partner seiya sekata, sehidup semati *cie *guling-guling

cari yang suamiable gitu lho! (sampai sekarang takaran suamiable sendiri masih blur, biasanya sih cari yang aktivis, IPnya oke, dan agamanya baik)

Sembari nyari, sembari nunggu, sembari terus berdoa, sembari terus mengalami perbaikan.

Selangkah!

picture by : hijab alila
Selangkah anak perempuan keluar dari rumah tanpa menutup aurat, maka selangkah juga ayahnya itu hampir ke neraka. Selangkah seorang isteri keluar rumah tanpa menutup aurat, maka selangkah juga suaminya itu hampir ke neraka - HR Bukhari dan Muslim

 Ada cerita yag tidak pernah hilang dari ingatanku soal hadist ini. Satu saat, aku hanya bercanda kepada ibuku, aku bilang aku akan memakai jilbab dengan hanya disampirkan dan tidak menutup sebatas dada. Lalu ibuku menimpali dengan candaan, 
"Ya sudah, sana keluar sana." aku hanya tertawa sambil kubenarkan jilbabku.
"Aku masih sayang sama abah kok mi." kataku. Lalu abahku lewat...
"Lha apa hubungannya?" abah kebingungan.
"Katanya, kalau anak gadis keluar auratnya nggak nutup, ayahnya ikutan mampir ke neraka bah." jawabku, ekspresi abah langsung berubah. Lalu dengan sigap beliau mengecek jilbabku, dilanjutkan berlari ke ruang makan tempat adik perempuanku sarapan sebelum berangkat sekolah.
beliau mengecek satu persatu anak gadisnya. 
"Mbak, pakai kerudungnya yang benar ya, nggak kasian abah? abah kan juga nggak mau masuk neraka." aku tertawa saat mendengar abah mengatakan seperti itu dengan ekspresinya yang kebingungan, lalu lega setelah melihat adikku juga sama menutup auratnya. ***
Cerita di atas jangan terlalu diambil hati, diambil hikmahnya aja hahaha. Bagaimanapun tujuan semua aturan itu untuk kebaikan, namanya juga aturan kan? Untuk mengatur---supaya tertata. Percaya aja deh, pasti ada kebaikannya. Nggak banyak yang mikir negatif, nggak suka digodain, dan lain-lain, kalau aku sih lebih ke merasa aman dan nyaman aja. Selebihnya bahkan masih banyak hikmahnya yang bakal jadi berlembar-lembar kalau diulas satu persatu.

Friday, November 29, 2013

Ya, boleh.

Kalau aku boleh memilih mencintai siapa saja, maka aku akan mencintai bulan. Kalau aku boleh memilih menunggu siapa saja, aku akan menunggu senja. Kalau aku boleh memilih merindu siapa saja, aku akan merindu embun. Dan kalau aku boleh memilih melupakan siapa saja, aku pilih kamu.

Thursday, November 28, 2013

Diam-diam Aku....

Awan menggantung beringsut turun, menghitam separuh sedang sisanya penuh pendar bintang yang luruh. Terselip satu tanya pada dia yang duduk dibawah temaram lampu. Hei hei kau sudah tau namaku belum?

Dalam kabut yang singgah di dua pertiga malam, menggigillah separuh jiwa. Menggulung luka dalam sajaknya. Aku terpojok dalam pasrah : kamu tidak menyapa.

Embun menari di pinggiran pelupuk yang berbaris, sayup kucium aroma pagi merintih. Ah, aku lihai dalam menipu tiup-tiup angin. Hingga kusembunyikan bisikam rasa ini, padahal ia sudah memaki, mencari hati yang tersepih sebagiandalam kamu yang diam sedari tadi.

Tidak bisakah sejenak menatapku? Biar kuamati lekat-lekat, biar kusapa dekat, biar kupeluk erat.

Tuhan.


Sejak lahir, aku sudah dikenalkan dengan Tuhan lewat doktrin kedua orang tuaku. Saat pertama kali aku menangis, ada adzan di telinga kananku yang datang dari bahagianya ayah menyambutku. Aku sudah dikenalkan dari dulu dengan Tuhan. Pertanyaannya, benarkah aku sudah mengenalnya dalam? Sudahkah aku benar-benar bertemu dengannya? Atau perkenalanku dengan Tuhan 19 tahun silam hanya sekedar kutahu namaMu sedang tidak dengan adaMu?
               Ketika aku disuruh berlari mencari Tuhan, maka aku bingung kemana semua berujung, dimana titik finish aku menemukannya, atau mana ada papan petunjuk arah di jalan-jalan yang menunjukkan menuju Tuhan kurang berapa kilometer lagi? Tidak ada. Lalu sejatinya haruskah aku berhenti? Bahkan seharusnya aku tidak perlu memulainya.
               Tuhan sudah ada sejak aku lahir. Bahkan sebelum aku lahir, sebelum orangtuaku lahir, sebelum apa-apa lahir, Dia sudah ada terlebih dahulu. Temanku pernah mempertanyakan tentang konsep Tuhan, dia menganggap semua ini terjadi karena....memang begitu adanya. Pun nadi yang selalu berdetak, hewan, manusia, hujan, semuanya terbentuk karena siklus, karena kerja partikel, bukan kerja Tuhan. Lantas bagaimana aku bisa bilang Tuhan ada?
               Ah aku terlalu banyak bertanya. Persis seperti kata ayahku, aku hanya terus bertanya padahal jika aku mencari, aku akan menemukan jawabannya. Tidak begitu, menurutku aku akan bertanya ketika aku sudah kesusahan mencari jawabannya. Begitu pula dengan mencari Tuhan. Aku terus bertanya pada diriku sendiri, menanyakan pada angin, hujan, senja, semuanya. Karena jika aku memilih bertanya pada manusia, maka jawabannya tidak bisa memenuhi maksud pertanyaanku. Aku bertanya dimana Tuhan, bukan, bukan jawaban “Tuhan tidak terlihat” yang aku butuhkan. Aku hanya bertanya, sejatinya Tuhan ada dimana. jangan dijawab tekstual.
               Maka aku terus bertanya pada diriku sendiri. Kenapa aku bergerak? Kenapa tujuan hidupku seperti itu? Kenapa aku mau memilih surga? Kenapa aku...kenapa. Masih kuamati manusia yang tidak berhenti berlalu lalang, lalu ada suara mobil dengan klaksonnya yang tidak berhenti, atau awan yang mendung akhir-akhir ini. semua itu...benarkah terjadi karena siklus?
               Aku ingat, beberapa hari yang lalu aku menangis sejadi-jadinya karena kuliahku, karena aku yang kehilangan passion, karena semuanya mendadak berputar-putar, karena tugas, aduh hanya aku saja yang terlalu berlebihan, semua mahasiswa juga begini. Ini juga siklus? Aku menangis karena aku yang ingin, lalu penyebabku menangis, itu juga siklus?
               Ada satu perkataan Rasulullah yang menegurku, Barang siapa yang mencari Tuhan keluar dari dirinya sendiri, maka dia akan tersesat semakin jauh. Aku harap aku tidak melangkah terlalu jauh. Ayo, ayo. Kita kembali ke diri sendiri. Mempertanyakan sudah benar bertemu atau belum dengan Tuhan.

Monday, November 25, 2013

sepotong cokelat

pekat ini manis, seperti katamu
cerita kita haruslah selengket cokelat yang leleh

kucium harum aromanya, wangi kakao
meski aku taktahu pasti bagaimana sebenarnya aroma kakao itu---tapi aku yakin ini wangi kakao.
karena aku percaya kamu, endorfinku meningkat sesaat kucium wanginya, persis seperti katamu
"wangi kakao itu tingkatkan endorfin, membuat suasana hatimu menjadi lebih baik."
benar saja, kurasakan itu saat kubenamkan wajahku di sela-sela jaketmu

sejenak memejam, lalu....
ya, pekat ini memang manis. seperti katamu.

pelan dan dekat.



maaf random......

sudah nggak jaman mencintai dengan bodoh, cintailah seseorang dengan cerdas!
masuk syurga aja ada prasyarat kok, masa cinta enggak hahaha
cinta emang nggak pake prasyarat---katanya. tapi  bagiku sih tetep aja bersyarat
semenjak aku trauma mencintai orang dengan bodohnya. yang mau-mau aja gitu dibikin nangis-nangis.
sekalipun menurutmu totalitas tanpa batas, cinta ya cinta aja, atau nggak bersyarat......
membangun masa depannya itu loh yang penuh syarat.

selanjutnya? tinggal dikembalikan ke kamu, orientasimu apa? sama yang asal main suka-sukaan aja mumpung masih muda, atau nyaman sama seadanya aja, atau gimana?

kalau aku sih, sakinah-mawaddah-wa rahmah oriented. jadi....mending single ya.
cari yang usaha, cari yang bisa berkembang.
jangan cari dia yang menghambat apalagi mematikan.
cari yang kamu nggak hanya take-take-take or give-give-give
tapi cari partner yang take and give, karena kamu bakal sama dia seterusnya :) 

jendela dan barisan hujan

kulirik jendela, masih hujan.
lalu dengan bebasnya kupeluk dingin, aku menangis di pundaknya---saat kutahu rinduku taksampai padamu
hujan berkhianat, dia lebih memilih bungkam ditemani mendung yang sendu
tak ada waktu untuk merintik rasaku ini dan memaketkannya hingga sampai ke ujung-ujung jemarimu...

hangat, harusnya kau rasa hangat.
tapi tak ada ya?
di sela basah itu, harusnya ada rinduku yang telah sampai di ambang pintumu, menelusup jendela, merangkak ke dipan
namun nyatanya, tak ada hangat, kini kau menggigil di tengah terpaan rinai-rinai deras itu

aku dan kamu hanya seperti jendela dan barisan hujan
ditakdirkan saling jatuh cinta, tapi tidak bisa jatuh bersama.

Friday, November 8, 2013

Ibu

ibu adalah pundak yang paling nyaman untuk bersandar, sekedar mengeluh manja dan menangis. Beliau itu malaikatku,

Malam ini, aku lihat ibu tertidur pulas. Sangat pulas hingga takgeser sedikitpun dari posisi tidurnya. Aku bisa melihat kerut-keru di dahinya yang makin menumpuk. Aku menatap dia yang kian hari kian bertambah umurnya. Hanya satu yang kutakutkan, lebih lebih. Aku takut ibu hilang, Aku takut berpisah dengan ibu. Aku belum siap.

Ibu jadi yang pertama mendengar cerita tentang hari-hariku, Tentang kuliahku yang begitu menguras otak, lalu kuhaturkan beribu maaf saat kudapati nilai jelek. Beliau selalu jadi yang pertama menenangkan, katanya nilai bagus itu tak penting. Lantas bagaimana aku bisa membuat bahagiamu bu kalau nilaiku jatuh?

Ibu jadi yang pertama tahu soal sakit hatiku. Meski aku terlambat memberi tahu. Beliau sudah tahu soal aku yang menangis semalam, atau soal aku yang tiba-tiba menjadi begitu dingin. Ibu jadi yang pertama menepuk pundakku dan berkata semuanya bakal baik-baik saja. Bahwa aku akan mendapatkan dia yang terbaik bagiku. Ibu bilang, laki-laki yang baik bakal datang nantinya dan saat itu tiba, ibu akan jadi orang di garis depan. Memastikan bahwa laki-laki itu bukan orang yang salah. Memastikan anak perempuannya tidak salah memilih, memastikan anak perempuannya tidak menangis lagi semalaman..........

Ibu yang paling tahu semua kebutuhanku. Beliau yang rela tiba-tiba menjadi kesusahan untuk menolongku. Masih kuingat betul beliau menerobos hujann hanya untuk membelikanku sepatu. Lalu diletakkannya di dalam kotak dan diberikan padaku sebagai kado ulangtahun,
"Mbak, ini umi belikan sepatu. Umi pergi hujan-hujan lho untuk kasih kamu ini". dan beliau tidak tahu, aku di kamar menangis mengadu pada Allah. Merasa bodoh tak kubeli sendiri sepatuku. Bahkan detik ini saat aku menulisnya aku masih menangis mengingatnya sembari membayangkan ibu hujan-hujan dengan motor dan jas hujannya.

amanah tak pernah salah memilih pundak

periode ini adalah masa dimana amanah dipertaruhkan, dimana janji diobral, dan realisasi dituntut jalan.
periode ini adalah masa dimana semuanya memiliki kepetingan, dimana ada ego, ada ambisi, ada letupan-letupan emosi, ada pikiran-pikiran kotor saling menjatuhkan
dan aku terlanjur masuk dalam 'periode ini'

ini masih lingkup fakultas. belum yang lebih besar.

Allah, tolong lindungi kami dari celah untuk menciderai amanah. Lindungi kami dari sandung menyandung, sikut menyikut, dan tarik menarik. Lindungi kami dari omongan yang tidak bisa dipegang. Lindungi kami dari niat-niat buruk. Aku tahu, Engkau mengawasi apa-apa yang terlihat maupun yang tersembunyi dalam hati :)

pemilihan umum, jadilah pemilih cerdas.
Jangan biarkan amanah salah memilih pundak. #forbetterpemilwa #PemilwaSatuJiwaFEB :)
bismillah.

:)

atas nama rindu yang tertahan, atas nama perjumpaan yang tertunda, atas nama jarak yang terbentang
atas aku yang diam tidak tahu harus apa

Thursday, November 7, 2013

Tuhan, boleh aku memelukmu?

aku hanya berlari, dan yang aku tahu aku hanya berlari
tanpa peduli berapa banyak agenda yang menodongku
aku hanya berlari.

aku hanya berlari, dan yang aku tahu aku hanya berlari
tanpa menyapa siapa-siapa yang aku temui
aku hanya berlari.

aku hanya berlari, dan yang aku tahu aku hanya berlari
tanpa mengingat beban apa saja yang ada di pundakku
aku hanya berlari.

detik itu, kucari tempat sujud.
aku tidak tahu tempat mana lagi untuk meneduh
tempat mana lagi untuk bersandar

detik itu, aku menangis sejadi-jadinya
bahuku terguncang, hatiku apalagi
lututku sudah tak sanggup menahan
aku ambruk di tempat sujudku
di surau kecil fakultas, aku mengadu pada Tuhanku

Monday, November 4, 2013

sorry

tulisan boleh galau, orang? nggak doong :)

resolusi tahun baru 1435

Ini adalah satu tahun berselang, dan aku masih terpaku. Pada keadaan yang tidakpernah terbayang, pada situasi yang diluar kehendak, pada cerita yang tidak bisa menebak ending, dan pada takdir yang sengaja digariskan. Aku tidak percaya.

Tahun baru hijriah biasanya berselimut tawa dan resolusi kita, aku dan kamu. Sederhana, hanya perayaan kecil dengan notes dan pulpen. Kamu tuliskan apa inginmu, begitu pula aku. Tapi tahun ini berbeda.
1434.
"Semoga kali ini aku bisa membuat buku."
"Mmm, kalau aku semoga aku bisa membeli lebih banyak buku." Begitu katamu. Lalu kita berdebat sebelum sempat menulis detil resolusi. Aku memperdebatkan alasanmu, memaksa agar kamu juga suka menulis. Sedang katamu, membaca lebih baik dari pada menulis.
"Menulis itu mempertajam ingatan." Kataku, memperjuangkan argumenku. Lalu kamu dengan santainya menyergah,
"Ingat apa kata Allah, Iqra'. Bacalah." Dan aku terdiam, menelan ludah. Kamu membawa ayat Quran, kredibilitas argumenku turun drastis menyentuh tanah. 
"Ah, sudah ayo ditulis saja. Lalu kita buka resolusinya tahun depan ya. Kamu koreksi punyaku, aku koreksi punyamu!" Omelku sambil mendikte. Kamu selalu begitu, diam sambil tersenyum melihat tingkahku. Mengangguk sabar seraya menenangkanku dengan tatapan teduhnya. Mungkin dengan tingkahmu yang pendiam dan dingin itu, satu-satunya cara membuatku berhenti mengomel. Hihi
Dan tahun ini adalah tahun dimana harusnya baik aku maupun kamu membuka resolusi yang sudah ditulis tahun lalu. Saling menegur dan mengingatkan apa-apa yang belum sempat tercapai. Harusnya tahun ini kita membuat resolusi lagi, terus hingga tahun-tahun berikutnya. Tapi sekarang resolusiku tahun kemarin entah dimana, aku tidak mau mencarinya. Sekarang aku sendirian. Dan aku akan membuat resolusiku sendiri, tahun ini.

Saturday, November 2, 2013

Kalau Kerudungku Nggak Lebar-Lebar Amat…

from my beloved mbak nurul's blog :) 
Butterfly 4
Kalau kerudungku nggak lebar-lebar amat, aku pasti masih bisa jadi tim tae kwon do kuliah  ini…
Kalau kerudungku nggak lebar-lebar amat, aku pasti bisa ngirit beli kerudung yang sedikit lebih tipis…
Kalau kerudungku nggak lebar-lebar amat, aku pasti udah cantik berhijab ribet kayak orang-orang…
Kalau kerudungku nggak lebar-lebar amat, aku pasti udah dapet cowok…
Kalau kerudungku nggak lebar-lebar amat, aku pasti gampang dapet kerjaan nanti kalau udah lulus kuliah…
Kalau kerudungku nggak lebar-lebar amat, aku pasti cuek mau orang bilang kok kerudungmu tambah pendek, bajumu tambah ketat and tambah tipis sekarang…
Tapi….

halo dinding

apa kabar kamu yang selalu kutulis tapi aku tak pernah menjadi satu katapun yang kau baca?
apa kabar kamu yang selalu ingin aku dengar kabarnya, tapi kamu selalu menyumpal kupingku dengan kapas?
apa kabar kamu yang menjadi orang yang pertama ingin kutemui sejak aku bangun tidur, tapi kamu selalu berdoa agar aku tak kunjung membuka mata?

apa kabar?
aku baik-baik saja.
baik dalam menyimpan rinduku.
baik dalam pura-pura tegar.
baik dalam menyembunyikan tangisku.

aku sesak semalam, ditindih perasaan ingin bertemu.
pada dinding yang yang tak merespon, bernama kamu.


kamu tahu cara menghargai kenangan?

cukup menulisnya, lalu mengenang untuk sekali...dua kali. Namanya juga kenangan, bukan ulangan kan? Jadi jangan berharap untuk mengulang semuanya sekali lagi. Waktu diciptakan tidak bisa diputar kembali untuk kamu hargai, agar kamu belajar dari masa lalu.

bukan melulu berharap tinggal di dalamnya. Jika ingin menetap, lama-lama kamu akan habis. Dimakan waktu.

habis gelap, terbitlah kamu

Aku tersenyum, sepertinya manis. Bagiku, senyumku asal alasannya kamu adalah senyum paling manis. Kamu selalu bilang bukan, senyumku seperti bulan sabit. Melengkung sederhana secara sempurna. Aku selalu malas mengakuinya, setahuku aku tidak bisa memasang muka manis.***
"Kaya bulan? Aku bopeng dong." Sergahku sembari mengalihkan pembicaraan. Aku sudah mulai salting dan itu artinya akan ada serentetan hal yang memalukan bakal terjadi.
"Kamu satu-satunya bulan yang nggak bopeng."
"Apadeh, jangan ngaco."
"Kamu itu paling nggak bisa diajak romantis." Lalu dia memalingkan muka. Mendaratkan pandangannya pada sudut lain, sudah bukan aku.
Hihi, ngambekan.
Padahal, di dalam sini aku meleleh setengah mati.

Namanya Rio, Satrio Azizi. Dia pengamat langit malam, dan aku penikmat ocehannya tentang gugus-gugus bintang dan segala rasi atau apalah itu yang tidak bisa kuhafal satu persatu, aku hanya suka caranya memaparkan rahasia-rahasia langit. Yang aku tangkap dari serentetan penjelasannya paling hanya kalimat-kalimat kesimpulan, seperti.......dia yang selalu mau seperti bintang. Yang sabar dan betah menunggu hasil kerja keras. Katanya, bintang itu terus bereaksi fusi dan mengalami pembakaran walaupun sinarnya sampai setelah bertahun-tahun kemudian. Walaupun aku takpaham apa itu reaksi fusi, aku iyakan saja.

Rio kelihatan ganteng bila sudah berbicara tentang astronomi, karena dia selalu bahagia bila memaparkannya. Kadang aku cemburu pada langit, kapan aku diceritakan pada orang lain sebegitu senangnya?

Friday, November 1, 2013

Tulus - Teman Hidup :)

Dia indah meretas gundah
Dia yang selama ini ku nanti
Membawa sejuk, memanja rasa
Dia yang selalu ada untukku

Di dekatnya aku lebih tenang
Bersamanya jalan lebih terang

Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku ku milikmu kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu
Kau milikku, ku milikmu
Kau milikku, ku milikmu

Di dekatnya aku lebih tenang
Bersamanya jalan lebih terang

Thursday, October 31, 2013

Itu Saja.

mereka bilang,
"Kamu tidak bisa selamanya hidup di masa lalu. You will face your future, not past. come on, just move on honey"
Lalu bagaimana dengan aku? Aku yang tidak sedetikpun ingin beranjak dari kenangan yang sekarang menjadi pecah belah. Aku malah sibuk memunguti serpihannya, menata kemudian menjadikannya utuh lagi. Meski tak seindah dulu. Aku dengan idealisku yang menuntut semuanya pasti bisa kembali, dan mendefinisikan diriku sendiri dengan : si bodoh yang terus menunggu. Apa aku saja yang terlalu militan mencintaimu? Ah, siapa saja tolong uraikan isi kepalaku lalu benahi semuanya agar berjalan dengan normal tanpa alih-alih "the girl who can not be moved".

Kadang aku berfikir, memang iya kita tidak bisa hidup di 'masa lalu' tapi sebagian dari aku ini masih ingin 'masa lalu' itu tiba-tiba datang dan menjadi dia-yang-akan-hadir-di-masa-depan. Kalau kamu jadi aku, mungkin kamu juga akan melakukan hal yang sama, atau bahkan menjadi lebih bodoh dari ini. Kami melewati masa-masa yang terlalu susah untuk dituliskan, terlalu indah untuk dirasakan, dan terlalu berharga untuk begitu saja dilupakan. Kami, ya aku dan dia, begitu manisnya...dulu. Ah, sebenarnya aku dan masa laluku itu juga tidak ada apa-apa. Hanya dia yang tiba-tiba pergi, itu saja.

dia yang tiba-tiba pergi
dia yang tiba-tiba pergi
dia yang tiba-tiba pergi

Tuesday, October 29, 2013

Celengan Keranjang Hijau dan Karimun Jawa

mimpi itu, butuh realisasi
"Jangan cuma wacana!" ***
Di siang hari yang kenyang dan siang yang malas....dua sahabatku yang keakrabannya dinilai dari berapa kali mereka bisa berdamai ketika bertengkar (saking seringnya mereka tengkar), datang sambil menunjukkan sesuatu : celengan hijau berbentuk keranjang.
"Lihat apa yang kita bawa!" seru Ririn. Nizrut hanya tersenyum di belakangnya sambil memegang barang bawaan mereka.
Aku yang sedang bersama Ida, hanya diam sambil mencerna apa maksud dibalik tingkah mereka itu.
"Ini buat ke Karimun Jawa. Kita harus nabung satu hari seribu!" mereka berdua bersemangat sampai aku lupa siapa yang mengatakan ini lebih dulu, entah Ririn atau Nizrut.

Sunday, October 27, 2013

Surat Untuk Mahar

Assalamu'alaikum, mayonaise keju :)

Apa kabar? Kuharap kamu sudah berhenti menangis. Maafkan aku baru sempat berkirim surat. Aku masih menata diriku, jangan difikir aku disini tidak perlu waktu untuk menenangkan hatiku.

Mahar, aku baru belajar sesuatu, Mencintai seseorang itu butuh waktu, waktu yang tepat. Itu kenapa perempuan betah menunggu, karena laki-laki diciptakan unuk bersiap kemudian datang. Tunggulah dengan manis sembari menjaga diri dan apa-apa yang kamu lakukan.

Mahar, aku tahu aku terlambataku sudah terlanjur menjanjikanmu macam-macam dulu. Tapi bagiku tidak ada kata terlambat untuk berubah menjadi lebih baik. Kamu tahu? Mencintaimu itu berat bagiku, andai saja menggandeng tanganmu takperlu harus dimintai pertanggung jawaban dan kesungguhan untuk menjagamu seumur hidup, mungkin dengan mudah saat ini kugenggam tanganmutak akan kulepas. Andai saja menatapmu takperlu kusiapkan diriku berhadapan dengan Tuhan dan orangtuamu, aku akan terus bermain dengan dua bola mata coklatmu itu. Mahar, kita tidak bisa main-main dengan separuh agama kita bukan? Bersabarlah Mahar.

Tunggulah aku kalau kau mau. Tunggu sampai aku datang dengan pundak yang sudah siap menjadi sandaranmu. Tunggu sampai aku datang dengan janji yang takmain-main karena nanti pada waktunya, aku meminta Tuhan yang menjadi saksiku―bahwa benar aku akan menjagamu seumur hidupku. Tunggu sampai hati kecil ini siap menjadi besar untuk memuat kamu dan keluarga kecil kita. Tunggu hingga jemari ini sudah berani melingkarkan kesetiaan di jari manismu. Tunggu sampai aku pantas, Mahar.

Agar semua terasa cepat, maknailah : Mencintai bukan perkara menunggu, tapi memantaskan. Bukan perkara tiba-tiba datang, tapi mencari yang tepat. Mahar, aku akan datag jika aku sudah siap dan tetaplah menjadi kamu yang selalu tepat. Jangan cuma menungguku, tapi berbenahlah agar kamu tidak lelah. Tapi satu hal Mahar, jika kamu sudah menemukan yang lebih pantas dan leih cepat datang, aku tidak memaksamu untuk terus menungguku. Kamu berhak memilih, dan aku juga berhak menyesal―kehilangan mayonnaise kejuku. 

Sampai jumpa di waktu yang tepat, Mahar. berhentilah menangis.

Semangkuk Salad Buah kesukaanmu. 27 Oktober 2013.***

Saturday, October 26, 2013

Pagi!


sebermula saat waktu seakan berhenti.lalu yang aku temukan hanya tatapan itu, yang teduh sarat detik-detik masa depan...aku kehilangan kuasaku untuk berpaling. jangankan hati, mukakupun ikut kaku tak mau menoleh pada lain fokus. hanya kamu. 
lalu perasaan merajai setiap perjumpaan kita pada esok hari, dan hari-hari setelahnya. ***



"Pagi." Aku berkali melatih ucapanku di depan cermin. Tapi, saat aku mencobanya didepanmu, tak ada satu hurufpun yang mampu kueja. Lalu kucoba hal-hal yang lebih sederhana saja, bagaimana kalau menyunggingkan senyumku yang paling manis?
Kembali aku berlatih, di depan cermin tempo hari. Namun sekali lagi yang kudapati dalam nyata hanya sunggingan kecut yang mampu aku lingkarkan. Ini namanya bukan tersenyum, hanya bibir yang bergerak tak tahu arah. Aku gagal lagi. Mungkin bila cermin di depanku ini mampu bicara, dia sudah menjerit bosan diajak berlatih setiap harinya.
"Kenapa berbicara kepadamu menjadi sesulit ini? Padahal aku harus bicara. Mau tidak mau harus ada sesuatu yang diungkapkan kepadamu kepadamu. Tidak usah muluk-muluk mengutarakan perasaanku, minimal kusapa saja kamu dengan ramah!" Aku protes. Ngambek pada diriku sendiri. Aku balik badan, kuhadapkan cermin pada punggungku sedang aku menghadapkan diriku pada esok, bersiap mengalun sapaan, semoga lidah ini tidak tiba-tiba kelu.***
Pagi ini cerah seperti biasanya, musim penghujan masih mampir di belahan bumi yang lain. Koridor kelas masih sepi, di waktu sepagi ini hanya sedikit yang sudah sampai di sekolah. Aku memperpagi berangkatku hari ini. Rabu pagi, dia selalu datang lebih awal untuk sekedar meletakkan buku-buku di meja, lalu pergi entah kemana. Dia bakal kembali lagi saat semua berdoa dan siap untuk ditempa ilmu seharian. Aku berusaha datang lebih pagi darinya, berharap ada jeda waktu yang memberikanku luang untuk menyapanya.
Benar saja, belum kulihat buku yang ditata rapi di atas mejanya atau tanda-tanda keberadaannya. Sekeliling masih sepi, tidak ada satu taspun di kelas. Rupanya aku orang pertama yang datang di kelas. Daripada mati bosan, kurapikan saja kerah baju dan ikat rambutku, seraya melatih “Pagi” dan senyum manisku. Aih, gempa bumi pribadi seketika menyerang bagian dalam diriku, dag dig dug yang tak menentu. Menunggu memang menyebalkan, detik seakan menjadi begitu sinis.
Sebagian dariku siap menyambut lelakiku itu di pagi hari, sisanya pasrah dan tidak mau berharap lebih. Paling-paling hanya selamat pagi dalam hati sajaNah apa kubilang, batinku saja tak mendukung. Aku menenangkan diriku sendiri. Hela demi hela nafasku mulai beraksi satu persatu, menenangkan diri sembari menunggu kedatangannya. Hentakan kaki membuat irama tersendiri yang mengalun di ruangan kelas, hanya ada hentakan kakiku ini pertanda bosan. Tap tap tap tap tap tap tap....kakiku mendadak enggan menghentak. Kali ini justru jantung yang tiba-tiba membuat irama tersendiri dag dig dug dag dig dug..dia datang!

Friday, October 25, 2013

Tangan-tangan Kecil

Semalam tadi, aku lihat dia dengan tangantangan kecilnya
Masih mencoba meraba dunia, dia masih sibuk
Entah apa yang dia lakukan ditengah kertas-kertas yang berserakan
Deadline?
Aku ingin menyapa, tapi dia terlalu sibuk.
Ya sudah, aku akan bicara padanya esok pagi

Pagi tadi,
Aku memberi jeda pada diriku sendiri untuk berfikir, aku terlambat bangun
Tangan-tangan kecil itu sudah pergi sekolah
Aku tidak sempat menyapanya

Lalu aku pergi meraih koneksi
Mencoba meniti jalan menuju tangan-tangan kecil itu lewat dunia yang berbeda---maya
Tertulis kamu ulangtahun di facebook.
Tertera mention dari berbagai kepala tentang kamu yang bertambah umur dalam twitter
Maya sudah menyapamu lebih dahulu daripada aku
Gadis dengan tangan-tangan kecil itu sudah beranjak dewasa
Tidak mungil lagi seperti dulu dimana aku bisa mencubit atau sekedar mengacak-acak rambutnya

Ah, tapi bagiku dia tetaplah gadis dengan tangan-tangan kecil itu

Selamat ulang tahun adikku,
Maaf aku terlambat bangun untuk menjadi pertama yang mengucap doa di hari istimewamu ini
Semoga Dia senantiasa mendekapmu dalam cinta
Bersyukurlah, karena dengan itu kamu merasa bahagia setiap harinya

Monday, October 21, 2013

Tuhan bilang

Tuhan bilang, kamu bakal datang.
aku percaya, aku menunggu sampai Tuhan bilang,
"itu dia sudah di depan rumahmu"
lalu aku bingung, dan bertanya pada Tuhan,
"Untuk apa Ya Rabb?"
"Memintamu dari kedua orangtuamu, dengan cara Islam."
baiklah, aku akan menunggu...beberapa tahun lagi :)

Jogja, Hujan, dan Kamu


alun-alun kidul, daerah istimewa Jogjakarta
 Sabtu, 19 Oktober 2013
ditemani rintik hujan, dan basah yang ramah

Aku menikmati detik yang kupeluk erat
enggan kulepas saat kutahu ini akan berlalu begitu cepat
Kutahan, saat aku tahu yang ada disampingku ini adalah kamu
Ya. Kamu.
Pada akhirnya kita bertemu, setelah beberapa kali perasaan ingin ini, selalu tidak bermuara pada pertemuan

Tuhan turunkan hujan bersama kamu yang dipaketkan dengan rinai-rinai dan petrichornya
Di sudut kota Jogja, ditepian alun-alun kidul kita meneduh, kurasa itu tempat yang paling nyaman―saat kutahu tatapan yang tak kalah teduh itu sedang membayang, menatapku....dalam

Sunday, October 13, 2013

pagi yang pekat

pagi yang pekat,
masih hitam selegam bola matamu
lama aku tidak melihat
dua bola matayang berlarian mengikuti gerakku

aku tertegun atas nama keadaan
masih tak percaya situasi sesengit ini
benar saja, tidak ada yang bisa menebaknya

kini, sebatas meminta senyummu cuma-cuma saja harus berbayar
kamu memungut tarif untuk itu
air mataku harus jatuh terlebih dahulu

aku takpunya air mata lagi untuk kutangisi
sudah kering dimakan waktu, dan sekarang yang aku bisa
hanya memandang pagi yang masih pekat itu dari balik jendelaku
sembari membayang pada ingatan akan dua bola mata
yang hitam, legam, dan manis

Monday, October 7, 2013

kepada

kepada yang saling menjaga, meskipun terpisah jarak
kepada mereka-mereka yang saling berdoa, meski tidak bisa menebak dimana semua ini bermuara
kepada yang tercinta, diujung cerita yang takpernah satu kata

aku lepas dalam ingatan hampa,
apa itu masih kamu? atau ini masih aku?
kepada siapa-siapa yang katanya saling menyimpan rasa
masih adakah? atau sudah terselip di hati orang?

Thursday, October 3, 2013

“Ya Allah, Saya Mau Uang Dua Juta”


Dalam rangka memenuhi tugas Ekonomi Syari'ah
 Dua minggu yang lalu, saat Pak Ubaidillah menyarankan untuk bersyukur setiap bangun pagi saya mulai berpikir lagi, Iya ya..bangun pagi adalah nikmat yang luar biasa sederhana meskipun sering kita lupa. Ada banyak yang terjadi saat membuka mata, sibuk memikirkan kegiatan apa selanjutnya tapi lupa bersyukur atas nikmat yang sudah diberikan Allah. Ah, manusia itu pelupa ya, tidak seperti Tuhan yang Maha Ingat. Maha Baik dan pengabul doa. Betapa tidak? Allah itu terlalu baik sampai sering sekali mengabulkan doa, meski kita juga kurang usaha untuk mencapai keinginan di doa itu.
Doa itu kekuatannya bisa sampai menghadirkan nyata. Guru saya dulu pernah bilang sama saya, “Pernah nggak kamu berpikir apa yang kamu rasakan sekarang adalah hasil dari doa dan keinginan yang kamu harapkan dulu?” Setelah itu  saya manggut-manggut sembari mengingat apakah saya cerminan dari keinginan masa lalu saya? Sebagian besar iya. Hahaha
Ketika Pak Ubaid menugaskan untuk berdoa secara spesifik dan mengingat-ingat apa yang akan terjadi dua minggu kemudianapakah doa tersebut terkabul atau tidakmembuat saya semangat. Jarang sekali ada tugas seperti ini. Kami diberi waktu dua minggu untuk mengamati keberhasilan doa kami, apa Tuhan sudah mengabulkan atau belum. dan jawabannya adalah......
Jengjeng! Ada baiknya kita mengetahui doaku sebelum dua minggu. Saat aku bangun pagi, aku bersyukur lantas berdoa, “Ya Allah, terimakasih sudah diberi nikmat bangun pagi. Ya Rabb, hambaMu ini minta uang dua jutaaa saja. Boleh ya?” begitu saja selama dua minggu. Saya sebenarnya juga pesimis bisa atau tidak dapat uang segitu besar. Tapi namanya juga doa.

Sunday, September 29, 2013

Semalam Tadi

Malam ini, adikku meraung minta diajak jalan-jalan. Sedang kutahu ayah dan ibu tidak ada uang dan waktu lebih untuk meladeni mereka. Ibu selalu berusaha melengkapi waktu ayah yang disita setumpuk pekerjaan dan ayah melengkapi ibu dengan jerih payahnya hingga nanti dapat menjawab pinta anak-anaknya bila menunjuk ini-itu. kinda perfect couple.

Aku yang sekarang menjadi sedikit lebih berhati-hati dalam meminta. Kalau tidak butuh sekali, aku berusaha tidak meminta. Ayah dan ibuku itu, aku tahu mereka terkadang terlalu tidak sempat untuk berkata lelah bila dihadapkan soal : demi anak-anaknya. Aku tahu mereka akan mencari jawaban seperti apapun saat anaknya berebut bertanya "liburan ini kita bakal kemana?" atau "Umi, abah, nggak mau belikan aku ini baru-itu baru?" "Blablabla"

Menjadi hal yang sangat mengetuk hatiku, tidak bahkan ini mendobraknya ketika melihat langsung di kedua mata, orang tua sedang bekerja keras demi anak-anaknya. Pernah seperti itu? Kini aku setiap Jumat merasakannya. Jumat pagi di akhir minggu menjadi satu refleksi tersendiri bagi batinku. Menata kembali semangat yang sayup-sayup hadir, tapi kemudian sering dia redup dimakan kesibukan dan kepenatan perkuliahan atau agenda yang merapat tanpa jeda.

Jumat pagi, aku bisa melihat langsung ayah berdiri demi anak-anaknya, mencari nafkah lewat menebar ilmu. Ayahku itu, beliau dosen di tempatku kuliah, dan kini tiap Jumat aku memasuki kelasnya. Ketika aku mulai malas di Senin hingga Kamis, tidak bisa begitu di hari Jumat. Ayah yang anti-absen dalam mengajar membuatku menyalakan kembali semangatku. Beliau selalu dengan semangatnya mengajar 3 SKS penuh tanpa pernah memelankan suaranya atau  bermalas-malasan dengan gaya dosen kebanyakan yang masuk asal mengajar. Ayahku bukan tipe seperti itu. Ayah pekerja keras.

Sesampai di rumah pasti ibu bertanya, "Nak bagaimana tadi diajar ayah?". Aku hanya meringis sambil menjawab, "Ya begitu bu." Lalu ibu tersenyum sambil ku tahu beliau mengamini doaku dalam hati semoga ayah selalu diberi kesehatan dalam mencari nafkah. Jumat malam selalu tidak lepas dengan ibu yang berusaha menghilangkan peluh ayah, beliau sering sekali memijat ayah hingga ayah ketiduran. Seakan berusaha menjadi lelah ayah, ibuku itu tak pernah absen dalam sholat malamnya dan aku tahu beliau tidak akan pernah lupa mendoakan suami dan anak-anaknya.

Saturday, September 28, 2013

sampaikan


 
sampaikan pada ilalang yang ujungnya menyentuh jemarimu
sampaikan pada laut biru yang ombaknya menggulung kenanganmu
sampaikan pada remah-remah roti yang tak bisa puaskanmu
sampaikan selamat tinggal atas cinta yang tak kuasa menjadi kita
sampaikan salam hangat pada pertemuan yang selalu menyisa kehilangan

sampaikan..sampaikan apapun..selain kabarku.

pulang

aku lelah jadi hantumu, yang takkasatmata tapi mengikuti kemanapun kamu pergi
aku lelah jadi udara yang kau hirup, pada akhirnya kau hembuskan lagi
kalau sedari dulu aku betah terkantung-kantung
kini aku sudah lelah
aku..........................
pulang. ke rumahku. tanpamu. pun aku sanggup.

ALLAH

Allah, apik mau cerita :'(

Thursday, September 26, 2013

10 September

Aku menikmati kenangan yang menyisa rasa tak karuan
Sedang menerka "mereka" menjadi secangkir kopi atau teh?
dua-duanya sama-sama candu

Kunikmati lagi, kuseruput perlahan-lahan
barangkali aku menemukan jawaban dibalik kesabaranku meneguk pelan-pelan
masih takbisa kutebak, rasanya..um...
semipahit semimanis
lalu apa ini?

baru aku sadar, cinta memang pahit-manis

Orang Asing

Kita hanya berjumpa pada senyum simpul yang berakhir di tiap-tiap punggung kala bertemu
Aku dan kamu hanya sebatas " Aku tahu namamu sedang kau tidak"
Dan kita adalah dua orang asing yang bertemu atas nama ketidak sengajaan

Ya, jatuh cinta menjadi sederhana ini
semudah aku melihatmu berbicara dari jauh
semudah aku bebas menatapmu
dan semudah itu pula aku berdoa waktu memihak padaku :
agar sering-sering mencipta ketidaksengajaan

Sore Kita

dimulai dengan semangkuk kenangan hangat
satu suap, dua suap, tiga....empat...
aku menikmatinya, sesekali dengan sengaja aku melirikmu
hai lelaki yang dengan lahapnya menyantap! kamu lucu sekali sih :)

bagaimana rasanya?
kamu hanya tertawa sembari menyuruhku tetap makan
aku yang polos ini, yang ketagihan ini, mau-mau saja menyuap lagi dan lagi
bagaimanapun isi mangkuk ini tentang aku dan kamu juga kan?

tetiba suapanku berhenti
saat kamu berujar,

Saturday, September 14, 2013

randomisasi konspirasi hati

kemarikan pundakmu, biar kuguncangkan seraya berkata "kamu kenapa?"
habisnya kamu diam saja
kupancing pertanyaan, umpanku hanya kau lihat saja

Wednesday, September 4, 2013

ibu, boleh kupinjam sebentar suamimu?

Ijinkan aku menculiknya, menculik cintanya. Menyembunyikan kesetiaannya dibalik saku bajukudia yang tidak menyertakan nama lain sekain ibu dalam hidupnya

Mendekap perhatiannya yang hangat berpendar, lalu menyimpannya di toples-toples kacakesabarannya untuk tetap berada di sisi ibu meski sedang susah

ibu, boleh kupinjam sebentar suamimu?
kepalaku sedang butuh tempat untuk disandarkan, badanku butuh ditopang

Senja

Senja tak melulu berbicara romansa
Senja juga bisa menyuara nestapa
Saat bocah-bocah dekil itu bergoyang di bawah sinar oren kehitaman
Menyanyi, meski sudah setengah hari lebih mereka berdiri di tepian

"Syukuri apa yang ada...hidup adalah anugerah...tetap jalani hidup ini...melakukan yang terbaik"
Lalu mereka berhenti bernyanyi saat koin-koin kebahagiaan jatuh dari jendela harapan

Meski senja, mereka tetap meminta, bahkan mungkin hingga malam tiba
Meski senja sanggup membuat terperanjatsiapa-siapa yang mengamati goresan langitnyatapi tidak untuk mereka
Tidak ada waktu untuk mengelokkan senja yang semburat khidmat
Tidak ada dongakan mengarah kesana, tidak perlu
Toh senja tidak bisa turunkan koin-koin bahagia seperti jendela-jendela mobil ini

Senja tak melulu jadi objek. Kali ini, ia hanya latar

kedatanganmu

Tepat malam ini kamu muncul
Dengan senyum termanismu di sela-sela peluh
Aku hanya terdiam, sembari menata hatiku

bahkan dalam mimpipun aku tampak begitu kikuktidak bisa kusembunyikan kagumku yang menggebu 

Sesaat ita tanpa suara, hanya ada sayup-sayup degupan jantungku yang berantakan
Sedang kamu? Tenang dalam dudukmu lalu tersenyum
Dan aku? Sekali lagi hanya terdiam lalu bangun

Bahkan dalam mimpipun kamu tak bisa lepas dari pesona, pangeranku